Mereka Tidak Tahu Aku Kaya

Mereka Tidak Tahu Aku Kaya
Bima mulai curiga


__ADS_3

.


.


.


💕💕 HAPPY READING 💕💕


Rani pulang disaat matahari sudah terbenam. Dengan santainya dia turun dari mobil Yanto dan melangkah masuk kepekarangan rumahnya. Iya, Rani memang diantar pulang Yanto dengan mobilnya. Rani kesulitan membuka pintu rumah karena ditangannya penuh dengan barang belanjaan. Namun tanpa diminta ternyata Bima membukakan pintu untuk Rani.


" Dari mana kamu, Rani !!!."Tanya Bima dengan lantang langsung mengintrogasi Rani.


Tatapan mata Bima mengarah ke arah papper bag yang di tenteng oleh Rani. Ada sebanyak 5 papper bag yang Rani bawa dengan tulisan produk-produk yang terkenal yang tentunya harganya juga lumayan.


" Apaan sih? Bisa tidak bertanya itu yang baik tidak perlu pakai teriak begitu. Aku ini capek habis belanja, tidak lihat apa aku bawa banyak belanjaan segini banyak."Ucap Rani sama sekali tidak merasa bersalah.


" Dapat uang darimana kamu bisa belanja sebanyak itu? Itu barang mahal, Rani? Dapat uang darimana kamu?."Tanya Bima terus meminta Rani untuk memberitahunya.


Bukannya menjawab pertanyaan Bima, Rani justru melenggang menuju ke kamarnya. Tingkah Rani itu justru membuat Bima menjadi semakin marah. Bima mengikuti langkah kaki Rani dengan cepat, saat Rani hendak membuka pintu kamar Bima langsung menarik tangan Rani sampai barang belanjaan yang Rani bawa jatuh berantakan.


Brruuukkk


Barang belanjaan itupun isinya keluar dari paper bagnya. Melihat tas, sepatu dan baju barunya berserakan membuat Rani meradang.


" Mas Bima !! Kamu itu apa-apaan sih ? Kalau sampai barang-barang itu sampai rusak, kamu tidak bisa untuk menggantinya. Bahkan gaji kamu sebulan saja tidak akan cukup untuk mengganti itu semua."Teriak Rani dengan keras.


" Sekali lagi aku tanya, dapat uang darimana kamu untuk membeli barang-barang itu Rani? Ohhh atau jangan-jangan kamu sudah menjual tubuhmu dengan hidung belang? Iya kan?."Tanya Bima tidak kalah keras bicara dengan Rani.

__ADS_1


Rani terdiam, dia lebih memilih memunguti barang belanjaanya yang berantakan di lantai. Melihat sikap Rani yang nampak cuek, membuat Bima yakin jika ada yang tidak beres dengan Rani.


Mendengar pertengkaran Bima dan Rani membuat ibu Darti yang sedang masak di dapur pun berlalu ke arah kamar Rani untuk melihat pertengkaran Rani dan Bima. Dalam hati ibu Darti, dia takut jika Bima tahu hubungan Rani dan Yanto lalu Bima marah dan sampai menceraikan Rani. Mau tinggal dimana mereka jika sampai Bima menceraikan Rani.


" Itu bukan urusanmu mas. Yang penting aku tidak minta duit sama kamu."Seru Rani dengan kesal.


" Rani, Bima sudah jangan ribut. Malu didengar sama tetangga, suara kalian itu pasti terdengar sampai luar."Ucap Ibu Darti meminta Rani dan Bima menghentikan pertengkaran mereka.


" Bu, Rani capek. Oh iya ini Rani belikan baju untuk ibu, itu mahal bu. Sudah ya, ibu masak saja dan jika sudah selesai semua panggil Rani."Seru Rani lalu masuk kekamar.


Dengan mata berbinar, Ibu Darti menerima paper bag yang diberikan oleh Rani. Setelah itu dia kembali lagi ke dapur untuk menyelesaikan memasaknya.


Hhuuuffftttt


Terdengar helaan nafas penuh emosi menguasai diri Bima. Merasa Rani sudah mengabaikannya dan sudah benar-benar tidak menghargainya, membuat Bima semakin yakin untuk menceraikan Rani.


Bima masuk ke kamar, terdengar suara gemercik air dari dalam kamar mandi. Artinya jika Rani saat ini sedang mandi. Sekitar 5 menit, Rani sudah keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai handuk diatas lutut. Dulu saat melihat Rani bernampilan seperti itu pasti Bima akan segera menyergapnya, namun tidak dengan sekarang. Justru Bima tidak bern4fsu melihat Rani.


Mata Bima menangkap tanda merah di leher Rani dan diatas d4d4 Rani. Tanda merah itu terlihat dengan jelas, kedua tangan Bima mengepal. Ingin sekali saat ini juga dia mentalak Rani, tapi dia ingin tahu lebih yakin lagi apa yang dilakukan Rani diluaran sana.


* Kurangajar !! Jadi benar, Rani sudah tidur dengan pria lain diluaran sana. Aku memang sudah berniat untuk menceraikannya,tapi bukan berarti aku membiarkan Rani untuk berzin4 seperti ini. Apalagi saat ini dia masih menjadi istri sahku.*Gumam Bima dalam hatinya.


" Kenapa dengan lehermu, Ran? Kok merah seperti itu?."Tanya Bima mencoba mencari tahu alasan apa yang akan dipakai Rani untuk menjelaskan kepada dirinya.


" Ohh.. Emmh., itu mas. Emm.. Tadi digigit semut, iya di gigit semut merah yang besar itu loh mas. Sakit dan gatal banget terus aku garuk-garuk malah jadi seperti ini."Jawab Rani terbata-bata dan memang sengaja berbohong.


" Oh kirain kena apa. Ya sudah kamu obati saja biar cepat hilang itu merahnya. Malu kalau dilihat orang dikiranya itu hasil dari perbuatanku."Seru Bima sambil mengulas senyum kecut kearah Rani. Rani terlihat gugup dan salah tingkah.

__ADS_1


" Iya mas."Jawab Rani singkat sambil menganggukkan kepalanya.


Bima memilih keluar dari kamar, dia duduk di ruang tamu sembari menghidupkan sebatang rokok. Hanya rokok yang bisa membuat fikirannya sedikit tenang.


" Besok aku akan melayangkan gugatan cerai untuk Rani. Aku sudah jijik dengan nya, maafkan aku Ran. Aku sudah tidak mau meneruskan rumah tangga ini, kita memang sudah tidak cocok dan sudah tidak sejalan lagi. Perceraian memang dibenci Tuhan, tapi dengan perceraian ini semoga kita sama-sama mempunyai kehidupan yang lebih baik."Ucap Bima bermonolog pada dirinya sendiri.


Sementara itu di tempat lain, pak Santo sedang memarahi Serli. Karena Serli sudah berulah dirumah Ratu sampai-sampai membuat Arya dan Ratu marah.


" Apa kamu kira, hidupnya Arya itu hanya untuk mengurusi dirimu saja? Apa ot4k kamu itu tidak bisa berfungsi dengan baik? Seeanaknya saja kamu datang kerumah Ratu dan meminta kakakmu untuk menanggung hidupmu? Sudah bapak bilang jangan pernah menggangguk kebahagiaan Arya dan istrinya lagi."Ucap pak Santo memarahi dengan kesal.


Pak Santo mendengar sendiri saat Serli bercerita kepada ibunya perihal kedatangannya tadi siang kerumah Arya untuk meminya Arya menanggung biaya hidupnya dan anak yang saat ini masih ada dalam kandungannya. Jika Arya masih bujangan mungkin pak Santo bisa sedikit memaklumi nya, tetapi sekarang Arya sudah punya istri dan dia menjadi kepala keluarga. Ada Ratu yang harus dia nafkahi, ada tabungan yang harus dia isi untuk kebutuhan masa depan anaknya kelak.


" Kalau bukan Arya siapa lagi pak?." Tanya Ibu Marni dengan kesal.


" Bapak ! Bapak akan berusaha untuk menafkahi Serli dan anaknya. Anak mu itu memang bodoh bu, seenak jidatnya saja dia menikah dan cerai. Sekarang bingung mau meminta nafkah sama siapa? Di sekolahan tinggi-tinggi biar jadi orang yang sukses tapi justru bikin malu keluarga saja."Seru pak Santo masih tetap marah.


Huuuuhhh


Serli dan ibu Marni sama-sama mendengus dengan kesal. Bisa-bisanya pak Santo bicara seperti itu, seharusnya dia bisa mendukung apa yang sudah dilakukan Serli. Dengan begitu dia tidak akan repot-repot untuk menafkahi Serli, punya anak dan menantu kaya tapi tidak mau dimanfaatkan. Begitulah kira-kira yang saat ini ada difikiran Bu Marni dan Serli.


" Apa Harsa tidak mau sedikitpun tanggung jawab atas anak dalam kandunganmu itu?."Tanya pak Santo mulai melembutkan suaranya.


" Tidak tahu pak. Tapi Harsa pernah bilang jika dia ada uang akan membantu biaya persalinannya nanti. Cuma itu saja yang Harsa bilang, tidak kurang dan juga tidak lebih."Jawab Serli dengan jujur.


" Syukurlah kalau Harsa masih mau membantu biaya persalinanmu. Setidaknya dia ada niat untuk ikut bertanggung jawab, sudah sana masuk kamar. Istirahatlah, jangan keluyuran tidak jelas. Kamu itu sedang hamil, seharusnya kamu bisa jaga itu kandungan dengan baik dan sudahi minuman yang beralkohol."Ucap pak Santo menasehati Serli.


Meskipun Serli tidak bilang, pak Santo tahu jika Serli suka meminum - minuman haram itu. Pak Santo diam bukan berarti dia tidak tahu apa-apa, sebab pak Santo pernah melihat botol minuman di plastik sampah yang dibuang oleh Serli.

__ADS_1


* Bapak ini apa-apaan sih? Kolot banget jadi orang, ini itu serba tidak boleh semuanya.*Gumam Serli dalam hatinya.


*************


__ADS_2