Mereka Tidak Tahu Aku Kaya

Mereka Tidak Tahu Aku Kaya
Kelakuan ibu Marni


__ADS_3

.


.


.


💕💕 HAPPY READING 💕💕


" Apa Ratu hamil?."Seru ibu Marni seakan tidak suka dengan kabar kehamilan Ratu.


Saat ini Arya dan Ratu berada di rumah pak Santo, Arya memberitahu kabar bahagia kehamilan Ratu. Di rumah juga ada Serli yang tentunya dia juga mendengar kabar kehamilan Ratu.


Pak Santo ikut bahagia dengan kehamilan Ratu, dia berharap semoga Ratu dan bayi akan selalu sehat-sehat saja sampai lahiran nanti.


" Apa ibu tidak suka dengan kabar kehamilan Ratu?."Tanya pak Santo.


" Kenapa bapak bisa menyimpulkan seperti itu?." Tanya balik ibu Marni, meskipun dia memang tidak suka tapi dia tidak mau dibilang tidak suka seperti itu.


" Karena ibu tidak memberikan selamat kepada Ratu."Seru pak Santo.


Ciihhhhhh


Bu Marni berdercih dengan malas sambil mencebikkan bibirnya. Tidak tahu kenapa dari dulu sampai saat ini ibu Marni masih saja tidak suka dengan Ratu.


Dulu tidak suka dan dihina karena Ratu miskin dan tidak berpendidikan. Namun sekarang setelah dia tahu Ratu kaya dan berpendidikan tetap saja tidak suka. Ratu sendiri terkadang sampai bingung mau bagaimana lagi bersikap dengan ibu mertuanya itu.


Meskipun ibu Marni bukan ibu kandung dari Arya, Ratu tetap berusaha baik dan sopan dengan ibu Marni.


" Bu, kenapa seperti itu?."Tanya pak Santo menegur ibu Marni.


" Sudah pak, tidak perlu di perpanjang lagi. Ratu tidak masalah kok kalau ibu tidak memberikan selamat, yang penting bapak dan ibu sudah tahu jika saat ini Ratu sedang hamil."Ucap Ratu menengahi agar tidak terjadi keributan.


" Maafin ibu mertua kamu ya Ratu. Bapak sudah bingung menghadapi ibu mertuamu, dinasehati sampai mulut bapak keringpun percuma. Dia tidak akan pernah mau merubah sikapnya."Ucap pak Santo merasa tidak enak dengan Ratu.


" Sudah tidak apa-apa pak, Bapak tidak perlu meminta maaf. Oh iya Serli, bagaimana kabar kamu dan kandungan kamu? Sehat-sehat saja kan?."Tanya Ratu beralih memandang kearah Serli yang sedari tadi dia diam memainkan ponselnya.

__ADS_1


Serli hanya melirik Ratu sekilas lalu mulutnya komat-kamit seperti orang baca mantra saja. Serli merasa iri dengan Ratu, dia hamil mempunyai segalanya dan kehamilannya disambut bahagia oleh Pak Santo. Sedangkan dia, bukan pak Santo tidak bahagia dengan kehamilan Serli. Tapi apa yang sudah Serli lakukan itu perbuatan yang salah.


" Apa mbak Ratu berharap kandunganku kenapa-kenapa? Mbak senangkan kalau sampau kandunganku ini keguguran?." Tanya Serli dengan ketus.


" Astaghfirullahaladzim, ya Allah Serli ! Kenapa kamu punya fikiran seburuk itu sama mbak? Apa selama ini mbak memperlakukan kamu dengan buruk dan jelek? Tidak kan? Bisa-bisanya kamu menuduh mbak seperti itu? Jangan sembarangab berucap Serli, ucapan itu adalah doa loh. Bisa jadi apa yang kamu ucapkan itu akan jadi kenyataan. Apalagi kamu itu sebentar lagi akan menjadi seorang ibu, jagalah ucapabn kamu, Serli."Seru Ratu menasehati adik iparnya yang semakin salah arah.


" Tuh kan, mbak sepertinya memang senang kalau aku dan anak ku kenapa-kenapa."Seru Derli semakin membuat suasana menjadi runyam.


" Serli !!."Seru Arya membentak Serli.


Arya tidak habis fikir dengan adiknya itu, bukannya merubah sikap tapi malah semakin memperburuk sikapnya. Kesalahan demi kesalahan bukannya membuat dia intropeksi diri, tapi makin kesini Serli semakin tidak tahu diri.


Bentakan Arya tadi membuat Serli marah dan diapun bangkit meninggalkan ruang keluarga tanpa sepatah katapun.


" Gara-gara kamu anak saya jadi seperti itu."Seru Ibu Marni memarahi Ratu.


" Kenapa jadi Ratu yang disalahkan bu?."Tanya Ratu masih bersikap sopan dengan ibu Marni.


" Ahh.. Sudahlah, bikin emosi saja bicara sama kamu. Oh iya Arya, jangan lupa awal bulan transfer uang bulanan ibu. Harus kamu lebihkan karena sekarang dirumah ada Serli, jadi semua kebutuhan juga dobel."Ucap ibu Marni dengan seenaknya meminta uang bulanan tambahan.


" Loh kok kamu sendirian? Mana Rani, Bim? Ibu kangen loh sama menantu ibu yang baik itu."Ucap ibu Marni sambil melirik kearah Ratu.


" Bima datang sendirian bu. Rani lagi mengantar ibunya pulang kampung."Jawab Bima sengaja sekali dia berbohong agar ibunya tidak banyak pertanyaan lagi.


" Oh lagi mengantar ibunya. Sudah berapa hari? Semenjak kalian pindah, ibu belum ketemu Rani lagi. Apa Rani sudah hamil, Bim?." Tanya ibu Marni sepertinya memang sengaja agar Ratu panas.


Hhuuufff


Bima m3nd3s4h dengan pelan sambil menggelengkan kepalanya. Mana mungkin Rani hamil jika ternyata selama ini Rani menunda kehamilannya. Rani tidak mau punya anak kalau belum punya rumah, mobil dan uang banyak. Sekarang lebih tidak mungkin lagi, karena sekarang mereka masih proses perceraian.


" Padahal ibu sangat ingin sekali menggendong cucu dari kalian. Tapi ya sudah, mungkin memang belum saatnya kalian punya anak."Ucap ibu Marni sambil mengusap punggung Bima dengan lembut.


Ratu dan Arya saling beradu pandang, mereka heran kenapa Bima merahasiakan soal perceraiannya dengan Rani. Padahal hal seperti ini tidak perlu di rahasiakan agar tidak ada kesalah pahaman dikemudian hari.


" Arya, Ratu kalian sudah dari tadi?." Tanya Bima.

__ADS_1


" Belum sih mas, mungkin baru sekitar 30 menit yang lalu. Mas Bima sendiri darimana?."Tanya Arya berbasa-basi.


" Oh tidak dari mana-mana, dari kontrakan saja kok. Serli mana bu?."Tanya Bima mencari keberadaan adik perempuannya yang tidak ikut bergabung dengan mereka.


" Ada di kamarnya. Tadi sih dia juga ada disini, tapi karena mulut kurangajar Ratu itu sudah menyinggung adikmu jadi dia marah dan masuk kamar. Punya saudara ipar kok mulutnya tajam sekali, apa dia itu tidak punya hati."Seru ibu Marni bicara sambil memandang Ratu dengan sinis.


Ketiga pria yang ada di ruangan itu hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan dan mendengar kata-kata pedas ibu Marni. Arya tidak mau berlama-lama, agar istrinya tidak terus di hina oleh ibunya sehingga dia mengajak Ratu untuk cepat pulang.


Di perjalanan pulang Ratu banyak bercerita tentang rencana-rencananya saat anaknya sudah lahir nanti.


" Oh iya dek, kamu sudah kasih tahu kak Raja dan Mama Papa soal kehamilan kamu?."Tanya Arya mengingatkan Ratu.


" Belum mas, nanti saja kalau sudah sampai rumah. Nanti aku mau video call sama mama papa, tidak tahu kapan mereka pulang. Senang banget mereka ada di Jerman, apa tidak kangen gitu sama anaknya yang cantik ini."Ucap Ratu sambil terkekeh.


" Iya sih yang cantik. Oh iya dek, kapan-kapan kita kerumah kakek dan nenek kamu yuk. Selama menikah mas baru 2 kali loh bertemu dengan mereka, kapan ada waktu kita kesana ya."Ucap Arya ingat dengan kakek dan nenek Ratu.


Yang dimaksud kakek dan nenek adalah pak Karim dan ibu Rahayu. Selama menikah Ratu dan Arya memang jarang sekali berkunjung kerumah mereka, jika dihitung-hitung selama menikah baru 2 kali saja mereka berkunjung.


" Iya mas mau, aku juga kangen sama mereka. Huhh.. Aku kangen makan masakan nenek."Ucap Ratu.


" Ya sudah nanti kita atur waktu yang tepat untuk berkunjung kesana. Yang pasti kita juga harus menginap loh, disana kalau cuma sebentar tidak akan enak."Jawab Arya.


" Iya mas."Jawab Ratu singkat.


Mata Ratu terpejam, sepertinya dia memang sangat lelah dan mengantuk. Sehingga saat masih mengobrol pun matanya sudah tidak kuat melek lagi.


" Mas, aku tidur ya."Seru Ratu dengan mata terpejam.


" Iya dek, tidur saja. Nanti kalau sudah sampai rumah mas bangunkan."Jawab Arya dengan lembut.


Heeemmm


Ratu hanya menjawab dengan berdehem saja, tidak perlu menunggu lama, Ratu sudah terlelap dan terdengar suara dengkuran lembutnya. Arya mengendarai mobil dengan sangat hati-hati, dia tidak mau membuat tidur istrinya tidak nyaman.


**************

__ADS_1


__ADS_2