
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
Ratu sudah mulai sibuk di butiknya, meskipun bukan sekolah lulusan designer, Ratu pandai membuat rancangan baju yang diminati banyak wanita. Dan di butik inilah Ratu menuangkan ide-idenya, dia mulai membuat rancangan baju-baju yang cantik dan indah.
" Non Ratu sepertinya sangat berbakat sekali ya membuat rancangan baju-baju ini. Sepertinya cuma coret-coret tapi hasilnya wah. Emm.. baru juga 3 jam di butik sudah menghasilkan 2 gambar baju yang super duper keren."Seru Lisa mengagumi rancangan Ratu.
" Ahh.. Kak Lisa bisa saja. Saya juga masih banyak belajar ini, ini juga Ratu asal buat saja mbak. Kak Lisa terlalu berlebihan, tapi kira-kira nanti penjahitnya kesuaahan tidak ya mbak menjahit seperti yang aku gambar ini?." Tanya Ratu sedikit ragu.
" Penjahit kita itu profesional semua Non, sudah punya sertifikat profesional juga. Kalau Non Ratu ragu, nanti saat menyerahkan gambar ini bisa konsultasi sama pihak penjahitnya. "Ucap Lisa.
" Emm.. Ide kak Lisa boleh juga. Oh iya, kok kak Lisa panggil nya berubah Nona lagi sih? Aku ini tidak nyaman di panggil Nona, seperti Nona besar saja "Ucap Ratu memprotes panggilan Lisa.
Ratu dan Lisa usianya terpaut sekitar 4 tahun, tua Lisa 4 tahun. Sehingga Ratu memanggil Lisa dengan panggilan Kak. Dan Ratu meminta Lisa untuk memanggilnya nama saja namun tetap memanggil Nona.
" Mana mungkin aku memanggil bos ku dengan panggilan nama, ya tidak sopan. Lagi pula panggilan Nona itu lebih bagus kok. Oh iya Non, ini laporan keuangan bulan ini."Ucap Lisa yang memang datang ke ruangan Ratu untuk mengantarkan laporan keuangan.
" Iya kak terima kasih. Oh iya kak, jumlah semua pekerja yang ada di butik ini ada berapa ya ?"Tanya Ratu ingin tahu semua julah pekerja yang ada di butiknya.
" Didalam butik ini ada 8 orang, dan 2 di antaranya sebagai kasir. Terus penjahit ada 3 orang dan Satpam juga ada 2 orang. Jadi totalnya sekitar ada 13 orang, ehh ada 14 orang berikut saya."Jawaban Lisa sangat mendetail.
Ratu terlihat menganggukkan kepalanya. Ratu sengaja menanyakan jumlah pekerja nya sebab dia akan memberikan bonus untuk para karyawan butiknya. Untuk bonus Ratu akan memberikan sama rata, namun jika Gaji mereka sudah pasti berbeda-beda.
" Oh sekitar 16 ya. Terima kasih ya kak, sekarang kak Lisa sudah boleh kembali keruangan kak Lisa. Nanti kalau ada yang ingin saya tanyakan, Ratu panggil kak Lisa."Ucap Ratu bicara dengan sopan.
" Iya Non. Kalau begitu saya kembali keruangan saya."Seru Lisa lalu dia bangkit dan berjalan keluar dari ruangan Ratu.
__ADS_1
Ratu kembali sibuk dengan kertas-kertasnya yang ada di atas meja. Namun tiba-tiba dia teringat dengan adik iparnya, Serli.
" Kenapa aku jadi keingat Serli? Bagaimana ya kabar dia, terus kehamilannya dia bagaimana. Ya Allah, apa aku ikut berdosa jikaaku terus merahasiakan kehamilan Serli. Sepertinya aku harus membicarakan masalah Serli sama mas Arya. Kasihan juga Serli, aku juga khawatir Serli nekat menghilangkan bayinya."Ucap Ratu bermonolog sendiri.
Sementara itu, saat ini Bima dan istrinya serta ibu Darti sudah sampai di rumah pak Santo. Rumah dalam keadaan sepi, pak Santo sendiri saat ini pasti ada di toko. Untuk Serli dan ibu Marni tidak tahu mereka ada dimana.
" Pintunya tidak di kunci mas, pasti ibu main tempat tetangga."Seru Rani sambil membuka pintu.
" Bima, kamu bawa masuk koper-koper ibu itu kedalam. Kamu letakkan saja di depan kamar yang biasa ibu tempati nanti biar ibu yang membawanya masuk kekamar. Ibu mau istirahat dulu, capek banget."Seru ibu Darti seenaknya meminta Bima membawa dua kopernya yang besar-besar.
Ibu Darti membawa barang-barang yang banyak dan semuanya ada 2 koper besar. Belum lagi tas besar yang sudah dia bawa masuk ke kamar. Rani sendiri langsung melenggang masuk kekamar tanpa membantu Bima membawakan koper ibunya.
" Huuhh... Pasti rumah ini akan semakin kacau. Sepertinya aku harus segera cari kontrakan saja, agar Ibu mertuaku tidak ikut tinggal disini. Aku malu sama bapak." Ucap Bima pada dirinya sendiri.
" Loh Bima kamu sudah pulang? Dan ini koper siapa besar-besar begini?."Tanya ibu Marni yang tiba-tiba sudah menghampiri Bima yang memang masih ada di teras rumah.
" Ehh.. Ibu, ibu darimana? Ini koper punya ibu Darti, rumahnya di sita rentenir dan beliau ikut tinggal disini bu. Maaf bu aku tidak izin dulu sama bapak maupun ibu."Seru Bima merasa bersalah.
" Ibu tidak keberatan ibu mertua kamu ikut tinggal disini. Malah ibu senang di rumah ada teman ngobrolnya jadi ibu tidak jenuh. Ya sudag sana masuk, ini koper yang satu biar ibu bantu bawa."Seru ibu Marni.
" Iya bu."Jawab Bima singkat.
Bima tidak mau berdebat, karena saat ini dia sangat lelah dan ingin sekali cepat-cepat merebahkan tubuhnya di kasur. Dua koper ibu Darti sudah berada didepan kamarnya sesuai dengan permintaanya tadi.
" Bapak sama Serli mana bu?."Tanya Bima menanyakan keberadaan Serli dan pak Santo yang sedari tadi tidak kelihatan.
" Bapak mu seperti biasa ada di tokonya itu. Kalau Serli, dia ada dikamarnya. Kuliah dia kan libur, dan dia juga sudah 2 hari ini tidak bekerja. Sepertinya dia sakit, tapi dari semalam dia tidak keluar kamar sama sekali. Ibu suruh makan juga tidak ada jawaban."Jawab ibu Marni.
Hahhhh...
Bima kaget mendengar jawaban dari ibunya, dari semalam Serli tidak keluar kamar tapi ibunya biasa saja. Tidak ada rasa khawatirnya sama sekali.
__ADS_1
" Bu, kalau Serli sakit kenapa dia malah tidak makan? Apa ibu tidak takur sakitnya Serli tambah parah? Bangunkan Serli suruh dia makan bu."Seru Bima sebagai seorang kakak tentunya dia khawatir dengan adik perempuannya.
" Iya Bim, Kok ibu tidak kefikiran sampai situ ya?."Seru ibu Marni.
Ibu Marni membangunkan Serli namun tidak ada sahutan dari dalam kamar Serli. Pintu kamar Serli juga terkunci dari dalam.
" Serli, Serli. Buka pintunya Serli, kamu dari semalam belum makan dan sekarang sudah siang. Kalau kamu sakit, nanti sakit mu tambah parah."Seru ibu Marni.
" Ibu cari kunci cadangan kamar Serli ini, Bima curiga terjadi sesuatu dengan Serli."Ucap Bima mulai khawatir.
Ibu Marni tidak membantah, dia pun segera berlari kekamarnya untuk mengambil kunci cadangan. Tidak sampai 3 menit, ibu Marni sudah kembali dengan membawa kunci cadangannya.
" Ini Bim, cepat buka Bim."Seru ibu Marni dengan buru-buru.
Bima menerima kuncinya dan segera membuka pintu kamar Serli. Dan tidak menunggu lama, pintu kamar Serli pun berhasil dibuka.
" Serli !!!."Teriak ibu Marni saat mendapati Serli tergeletak di lantai kamarnya.
" Bu, Serli sepertinya habis minum obat ini bu. Ini obat apa ya bu?." Seru Bima sambil menunjukan botol obat yang masih dalam genggaman Serli.
" Ibu tidak tahu Bima. Huu huuu Serli bangun, kamu kenapa Serli."Seru ibu Marni menangis tersedu-sedu.
" Kita bawa Serli kerumah sakit bu. Sepertinya Serli harus ditangani dokter."Ucap Bima.
Bima mengangkat tubuh Serli dan membawanya keluar. Sampai dia lupa tidak memesan taksi online lebih dulu.
" Mau naik apa Bim."Ucap Ibu Marni dengan masih saja menangis.
" Bima juga lupa tidak pesan taksi online. Itu ada motor, ada motor juga tidak mungkin kita bawa Serli naik motor bu. Ibu minta bantuan tetangga saja, itu mereka yang punya mobil. Anaknya pak Rt, tidak apa-apa mobil angkot."Seru Bima yang ingat jika anak pak Rt punya angkot.
Bima dan ibunya sedang khawatir dan sibuk dengan Serli. Rani dan ibu Darti sama sekali tidak keluar dari kamar, seperti nya mereka tidur dengan nyenyak.
__ADS_1
*********