Mereka Tidak Tahu Aku Kaya

Mereka Tidak Tahu Aku Kaya
Kebohongan Rani


__ADS_3

.


.


.


💕 HAPPY READING 💕


Ratu kini sudah duduk di ruang keluarga bersama ibu Marni dan pak Santo. Tatapan mata ibu Marni masih nampak tidak bersahabat dengan Ratu. Meskipun dia sudah tahu Ratu orang kaya tapi dia tetap saja tidak menyukai Ratu. Ratu sendiri terlihat cuek dan masa bodoh, dia tidak peduli dengan tatapan mata ibu mertuanya.


Dari arah depan, Rani masuk dan ikut bergabung dengan mereka. Sepertinya Rani memang sengaja bergabung, dia taku seandainya Ratu membuka rahasianya soal uang tabungannya.


" Jadi mertua kamu yang sombong itu sudah pulang? Bagus deh kalau mereka sudah pulang, jangan mentang-mentang orang kaya mau bersikap seenaknya saja. Biarpun ibu ini tidak sekaya mertua kamu, ibu tetap besannya dan harus dihargai. Dikasih oleh-oleh emas atau tas branded gitu, ehh malah diajak ribut. Kaya tapi sombong dan pelit."Cibir ibu Marni masih saja bicara dengan ketus dan seenaknya.


" Bu, sudah jangan membahas masalah itu lagi. Apa ibu ini tidak malu bicara seperti itu, ada Ratu disini bu."Ucap pak Santo meminta istrinya untuk bisa bicara yang baik.


" Heleh ada Ratu juga kenapa? Memang orang tuanya sombong dan pelit kan? Sama tuh sama anaknya, pelitnya tidak karuan."Ucap Ibu Marni dengan sinis memandang Ratu.


Hhhuuuffff


Arya membuang nafas dengan kasar. Kedatangannya kesini memang untuk bertemu dengan ibunya, untuk memberikan uang bulanannya. Jika bukan karena Ratu, Arya malas memberikan uang bulanan lagi.


" Bu, Arya datang kesini mau memberikan uang bulanan untuk ibu. Ini terimalah bu, dan tolong jangan pernah menghina atau memarahi Ratu lagi."Ucap Arya sambil meletakkan amplop berwarna cokelat diatas meja.


Mata ibu Marni langsung berbinar, jika urusan soal uang tentunya ibu Marni nomor satu dan bisa lupa segalanya. Bukan hanya ibu Marni saja yang senang, Rani pun ikut senang sebab dia berharap ikut kecipratan rezeki juga.


Uang dalam amplop itu memang terlihat lebih tebal. Atas saran dari Ratu, Arya menambah jatah bulanan ibu Marni yang tadinya 1 juta jadi 1 juta lima ratus ribu. Uang dalam amplop itu pecahan 50 ribu semua sehingga terlihat lebih tebal.

__ADS_1


" Wahhh ibu dapat jatah bulanan, buat aku mana Arya?." Tanya Rani tidak tahu malu.


Arya dan Ratu mengernyitkan keningnya, kenapa Rani minta uang juga? Padahal Rani hanya sebatas istri dari kakaknya saja. Kalau Serli yang minta masih masuk logika. Bicara soal Serli, sebenarnya sedari tadi Ratu penasaran ada dimana adik iparnya itu,kenapa tidak kelihatan ada dirumah.


" Apa mbak Rani tidak salah minta uang bulanan sama suamiku? Mbak itu istrinya mas Bima loh, kenapa mbak minta sama mas Arya. Mintalah sama suami mbak, dan bukannya mas Bima juga sudah gajian kan?." Ucap Ratu dengan tatapan tajam.


Ratu mendengus dengan kesal, padahal dia sudah berharap kecipratan gaji Arya yang diperkirakan sampai 30 juta itu, seenak jidatnya saja Rani menghitung gaji suami orang.


" Haahhhh !!! Ini apa? Kenapa cuma ada 1 juta 500 ribu, yang lainnya mana?." Tanya ibu Marni menjerit dengan lantang.


" Maksud ibu yang lainnya mana? Itu sudah lebih 500 ribu loh bu, biasanya kan Arya kasih ibu 1 juta. Oh mungkin yang ibu maksud uang kebutuhan rumah, maaf ya bu karena Arya dan Ratu sudah tidak tinggal disini lagi, jadi Arya tidak bisa memberikan uang kebutuhan rumah. Ada mas Bima kan? Ibu minta saja sama mas Bima, masih beruntung Arya kasih ibu uang."Ucap Arya dengan tegas.


Ucapan Arya barusan berhasil membuat menyulut amarah ibu Marni dan menuduh Ratu yang sudah mempengaruhi fikiran Arya. Ibu Marni tidak terima dan tidak mau Ratu menguasai uang gaji Arya.


" Hehh Arya !! Kamu itu seorang direktur dan punya gaji besar, kenapa kamu cuma kasih ibu segini? Ini pasti karena ulah istrimu ini kan? Dia itu sudah kaya dan banyak uangnya, jadi tidak perlu lagi kamu kasih uang. Pokoknya ibu mau 10 juta setiap bulannya. Dan kamu Ratu, jangan mempengaruhi fikiran anakku !!."Seru ibu Marni dengan marah.


" Kenapa Ratu lagi sih bu yang disalahkan?."Tanya Ratu selalu merasa disalahkan terus menerus.


" Oh jadi karena tadi mbak Rani mau pinjam uang sama aku, dan tidak aku kasih mbak Rani mengatakan aku pelit? Wajar dong tidak aku kasih, 150 juta itu banyak loh mbak. Katanya mbak punya banyak tabungan masa iya mau pinjam uang."Ucap Ratu sengaja bicara seperti itu agar Rani terdiam.


Semua yang ada di ruangan itu kaget saat Ratu mengatakan jika Rani mau pinjam uang. Terutama ibu Marni, dia tidak langsung percaya begitu saja. Untuk apa Rani pinjam uang, sedangkan tabungan nya saja sudah banyak.


Wajah Rani langsung memucat, dan dia terlihat mengepalkan kedua tangannya.


" Apa benar kamu mau pinjam uang Ratu 150 juta, Ran?." Tanya ibu Marni.


" Emm tidak bu ! Dia pasti berbohong, aku mana ada pinjam uang sama dia. Aku kan punya uang sendiri, tabungan ku dan mas Bima juga banyak. Bahkan mas Bima sudah mau beli rumah dalam waktu dekat ini."Jawabab Rani terbata-bata.

__ADS_1


" Oh.. Begitu. Bukannya mbak tadi beralasan kalau ibu mbak Rani mau operasi dan butuh 150 juta? Tapi sayangnya aku tidak percaya tuh, uang itu pasti mau untuk beli rumah? Iya kan, Mbak? Ngaku saja mbak, tidak perlu ditutupi lagi. Soalnya uang tabungan mbak mas Bima yang dipegang mbak Rani ini sudah habis bu. Bagaimana tidak habis kalau setiap bulan dikirimkan ke orang tua mbak Rani, buat renovasi rumah, buat beli motor baru. Asal ibu tahu, orang tua mbak Rani sekarang ini sudah bangkrut dan hanya mengandalkan uang kiriman mbak Rani yang dia ambil dari gaji mas Bima."Seru Ratu bicara dengan cukup menyakinkan.


Deeggghhh


Ibu Marni menatap tajam Rani, seakan menuntut Rani untuk menjelaskan apa yang dikatakan Ratu. Meskipun dia meragukan apa yang dikatakan Ratu, namun hati kecilnya merasa jika Ratu bicara jujur. Tapi darimana Ratu tahu? Pertanyaan itu juga yang saat ini ada di kepalanya.


" Jangan fitnah kamu, Ratu !! Mentang-mentang orang kaya kamu mau memfitnahku untuk mencari simpati ibu. Ratu, Ratu picik sekali sih pikiran kamu. Aku tidak menyangka orang kaya seperti mu, bisa bersikap kampungan seperti ini. Atau memang kamu kampungan, karena memang berasal dari kampung."Seru Rani mencoba membela diri.


" Rani, jaga bicara kamu. Jika memang apa yang dikatakan Ratu tidak benar, untuk apa kamu marah? Kalau marah berarti memang benar dong. Sebenarnya bapak juga sudah lama curiga sama kamu, karena setiap kali Bima mau cari rumah kamu selalu menghalanginya."Ucap pak Santo ikut bicara.


" Bapak kenapa marah sama Rani sih? Ibu yakin Rani tidak seperti itu, pasti ini hanya fitnahan Ratu saja. Tadi kita tidak bahas soal Rani, kenapa sekarang jadi bahas Rani? Pasti ini cara Ratu untuk mengalihkan pembicaraan tentang uang bulanan tadi."Ucap ibu Marni masih membela Rani.


* Hemm Oke ibu mertua ku yang terhormat, aku akan memberikan bukti agar anda syok. Lebih baik aku tunjukan bukti yang aku punya biar aku tidak dibilang fitnah.*Gumam Ratu dalam hati.


Ratu mengambil ponsel yang ada didalam tas slempang nya. Dia mulai membuka aplikasi perekam suara di ponselnya dan memutar rekaman suara yang pernah dia ambil saat Rani dan ibunya di supermarket.


" Ibu bisa dengarkan baik-baik rekaman ini."Seru Ratu sambil memutar rekaman suara di ponselnya.


Semua yang ada di situ memasang telinganya benar-benar, begitupun dengan Rani. Dia juga tidak kalah penasaran dengan rekaman yang dimaksud Ratu.


Ddeeggghh


Jantung Rani tiba-tiba seakan berhenti berdetak saat mengetahui suara siapa yang ada dalam rekaman itu. Wajahnya semakin pucat dan tubuhnya keluar keringat dingin.


* Darimana Ratu dapat rekaman pembicaraan ku dan ibu. Bukannya itu pembicaraan ku dan ibu saat ada di supermarket? Atau jangan-jangan Ratu waktu itu juga ada disana.*Gumam Rani dalam hati.


" Rani, bisa kamu jelaskan rekaman ini?." Tanya pak Santo dengan tegas.

__ADS_1


Sedangkan ibu Marni masih terdiam, dia terlihat bingung mau mempercayai Ratu atau Rani. Arya terlihat memijit keningnya, dia pusing dengan masalah yang dibuat oleh Rani. Arya tetap kasihan dengan kakaknya, Bima. Selama 3 tahun uang gaji dipercayakan istrinya justru dipakai untuk menghidupi orang tua istrinya.


**********


__ADS_2