
.
.
.
💕💕 HAPPY READING 💕💕
Serli pulang kerumah orang tuanya, ibu Marni kaget melihat kedatangan Serli yang secara tiba-tiba serta dia membawa barang-barang miliknya. Di rumah hanya ada ibu Marni saja, pak Santo ada di toko.
" Serli, kenapa kamu bawa semua barang-barang kamu? Memangnya kamu mau pindah kesini?."Tanya Ibu Marni dengan heran.
" Diamlah bu !! Semua ini juga gara-gara ibu, karena ibu yang memaksa untuk datang ke rumah istrinya mas Harsa. Mas Harsa marah dan dia justru menceraikan Serli, bu."Seru Serli dengan marah.
Duuuaarrrrr
Seketika ibu Marni syok dan kaget. Bagaimana bisa anaknya menjadi janda di usia yang masih muda dan usia pernikahan belum genap 1 bulan. Ibu Marni langsung lemas, dia tertunduk di lantai ruang keluarga.
" Kamu menjadi janda, Serli? Bagaimana jika para tetangga tahu kamu jadi janda dan sekarang kamu juga sedang hamil." Ucap ibu Marni lebih mementingkan rasa malunya.
" Ibu juga yang bodoh !! Kalau ibu tidak kegabah, Harsa tidak akan menceraikan ku. Serli juga sudah bilangkan, kalau semua harta yang dimiliki harta itu milik istrinya tetapi ibu justru tetep ngotot ingin datang ke sana dan memperjuangkan haknya Serli. Serli tidak punya hak atas harta yang dimiliki istrinya Harsa, Ibu. Ookoknya sekarang Serli tidak mau tahu, hidup Serli menjadi tanggung jawab ibu dan bapak lagi."Ucap Serli terlihat jika dia sangat kesal dengan ibunya.
" Kok kamu main menyalakan Ibu saja si Ser, Ibu seperti itu juga demi kamu. Ibu mau hidup kamu lebih baik dan hidupmu berkecukupan. Ibu tidak terima istri pertama Harsa bergelimang harta, sedangkan kamu hidup serba pas-pasan. Dasarnya saja si Harsa yang bodoh mau-maunya saja dia ditindas oleh istrinya sendiri."Ucap ibu Marni membela diri.
Serli tidak mau berdebat lagi dengan ibunya, dia sudah pusing dengan masalahnya yang ada dan tidak mau dibuat pusing lagi oleh ibunya. Bukannya solusi yang didapat, tapi justru perdebatan yang ada. Serli masuk kamarnya dan membanting kopernya ke sembarang.
Menjadi seorang janda tidak pernah Serli bayangkan, terlebih menjanda dengan kondisi hamil muda. Pernikahan yang belum genap 1 bulan harus kandas karena keegoisan ibunya sendiri.
" Bagaimana nasib ku dan anak dalam kandunganku ini? Jika aku kerja, kerjaan apa yanv bisa aku kerjakan? Mau lanjut kuliah juga pasti Mas Arya dan bapak tidak mau membiayai nya lagi. Arrrgghhh.... Pusing !! Semua ini gara-gara bayi si4l4n ini !! Coba saja aku tidak hamil, hidupku pasti tidak akan seperti ini. Belum lagi cibiran dari para tetangga."Seru Serli sambil membuang bantal gulingnya ke sembarang arah.
Hiikkss Hikkss Hikkksss
Serli menangis sesunggukan didalam kamarnya. Dia tidak menghiraukan ketukan pintu dan teriakan ibunya dari luar kamarnya. Saat ini dia hanya ingin menangis menumpahkan kekesalannya.
__ADS_1
" Serli, Serli buka pintu nya nak."Ucap ibu Marni terus mengetuk pintu sambil memanggil-manggil Serli.
" Bu, ada apa ini? Apa Serli pulang?."Tanya pak Santo yang baru saja pulang dari toko.
Ibu Marni langsung mendekati suaminya dan menceritakan apa yang sudah terjadi dengan Serli. Sebagai seorang ayah, tentunya hati pak Santo juga sakit mengetahui Harsa menceraikan Serli dalam keadaan hamil sepertinya.
Namun pak Santo juga ingin tahu apa alasan Harsa yang membuat menceraikan Serli secara tiba-tiba.
" Masalah apa yang terjadi sampai Harsa menceraikan Serli?." Tanya pak Santo penuh selidik.
Ibu Marni pun hanya bisa menundukkan kepalanya. Dia tidak berani menatap wajah pak Santo, jika sudah seperti ini, pak Santo tahu pasti istrinya pun ikut andil dalam masalah perceraian Serli dan Harsa.
" Ibu hanya meminta istri pertama Harsa untuk memberikan haknya Serli. Sebab Serli saja hidup pas-pasan, tapi istri pertama Harsa hidup bergelimbangan dengan Harta. Apa ibu salah jika menuntut Hak nya Serli, Pak?."Tanya ibu Marni mencari pembelaan.
" Salah !! Ibu jelas salah !! Harsa itu tidak punya apa-apa, semua milik istri dan anak-anakknya. Hak apa yang ingin ibu tuntut?."Tanya pak Santo.
" Bapak sudah tahu kalau Harsa itu miskin?." Tanya Ibu Marni.
Setelah bicara sepeeti itu pak Santo pun meninggalkan istrinya. Dia menuju belakang rumah untuk melihat ayam peliharaannya, lebih baik bermain dengan ayam-ayam daripada harus berdebat dengan istrinya.
* Anakku menjadi janda *."Gumam ibu Marni.
*********
Di rumah kontrakannya, Rani dan ibu Darti uring-uringan karena Bima tidak mau memberikan uang untuk jalan-jalan. Semenjak mereka pindah baru sekali saja mereka jalan-jalan dan itu saat menerima uang bulanan dari Bima.
" Bu, Rani bosan setiap hari di rumah seperti ini. Mas Bima sekarang sudah tidak mau mempercayakan uangnya sama Rani lagi. Semua ini gara-gara ibu juga sih, coba saja kalau dulu ibu tidak punya ide untuk memakai uang gajinya mas Bima, pasti sekarang Rani masih pegang uang banyak."Seru Rani dengan wajah yang cemberut.
Hhuuufffff
Ibu Darti membuang nafas dengan kasar, awal mula ide memakai uang gaji Bima untuk kebutuhan hidupnya memang dari dirinya. Tapi, Ibu Darti juga tidak mau disalahkan sepenuhnya. Seandainya Rani menolak juga dia tidak akan memaksanya. Dia dan Rani sama-sama salah juga.
" Jangan menyalahkan ibu saja dong, kamu juga salah. Coba kalau kamu tidak setuju pasti ibu juga tidak akan memaksa. Lagian untuk apa juga sih disesali, semua sudah terjadi. Sekarang lebih baik kamu jadi istri yang baik dan rayu suami kamu agar dia mau kasih uang lebih untuk kita belanja."Ucap ibu Darti.
__ADS_1
" Jadi istri yang baik? Maksud ibu aku harus memasak, mencuci, beres-beres rumah? Ogah !! Bisa rusak kuku-kuku ku bu, lagian disini juga ada ibu. Ibu dong yang harus mengerjakan semua itu, ibu juga tidak ada kerjaan. Anggap saja sebagai ganti rugi atas nasib si4l Rani."Ucap Rani membuat ibu Darti tercengang.
Jika semua dikerjakan bu Darti sama saja dia menjadi pembantu gratisan di rumah anak dan menantunya. Ibu Darti juga ogah melakukan semua itu, mencuci pakaiannya sendiri saja sudah membuat tangannya pegal-pegal apalagi mau ditambah pakaian Bima dan Rani.
Perbincangan mereka berhenti karena terdengar suara motor Bima memasuki halaman rumah kontrakan. Mendengar suaminya pulang, bukannya menghampiri suaminya atau membuatkan minuman. Rani justru tetap santai dengan ponsel ditangannya.
Brrrukkkkk
Bima melempar bungkusan pakaian yang baru saja dia ambil dari laundry. Ya, Rani memang tidak mau mencuci dan menyetrika sehingga pakaiannya dan suaminya dibawa ke laundry.
" Mas, apa-apaan sih? Beruntung tidak mengenai ku." Seru Rani dengan kesal.
" Tahu gitu tadi aku lempar ke wajah kamu. Suami pulang bukannya dibuatkan minuman, malah sibuk dengan ponselnya. Kamu ini seharian ngapain saja sih? Malas banget jadi istri, mulai besok kamu cuci gosok sendiri. Aku tidak mau pakai jasa laundry, kalau kamu mau pakai laundry kamu bayar pakai uang kamu sendiri."Ucap Bima dengan kesal.
" Kok kamu tega si mas ? Kalau aku nyuci sendiro kuku ku bisa pada rusak dan patah dong. Terus jariku juga nanti bakalan kering-kering dan aku tidak cantik lagi."Seru Rani bicara dengan dibuat manja.
" Jangan bersikap seperti orang kaya kamu, Ran. Kita ini orang tidak punya, jangan apa-apa mau pakai uang terus. Gunanya kamu jadi istri itu apa?."Seru Bima sudah mulai kesal dan jenuh menghadapi Rani.
Melihat Bima dan Rani sedang berdebat, ibu Darti memilih menjauh agar dia tidak kena semprot juga. Masuk ke kamar adalah cara yang paling aman untuk menyelamatkan diri. Kini ibu Darti sudah ada di dalam kamarnya,dia mendengarkan perdebatan Rani dan Bima daro dalam kamar.
" Aku selama ini sudah cukup diam menghadapi kamu, Ran. Sampai uang tabunganku habis karena ulahmu pun aku masih diam. Kesabaran ku juga ada batasnya, tidak selamanya aku harus bersabar menghadapi sikap kamu yang seenaknya ini. Jika kamu terus seperti ini jangan salahkan aku kalau sampai aku mencari wanita lain yang lebih bisa menghormati ku dan mengurusku dengan baik."Seru Bima serius.
Ddeegghh
Rani langsung langsung mendongakkan kepalanya dan meletakkan ponsel yang sedari tadi dia genggam. Rani tahu jika Bima ini sangat mencintainya dan terlalu bucin dengannya. Tapi kenapa kali ini dia bicara sampai seperti ini dan terdengar serius.
" Kamu mau meninggalkan aku mas? Apa kamu sudah punya wanita lain? Kamu selingkuh mas?." Tanya Rani secara beruntun dan justru menuduh Bima yang tidak-tidak.
Sejauh ini, Bima tidak sedang dekat dengan wanita lain. Tapi tidak menutup kemungkinan dia akan berpaling jika Rani terus bersikap semaunya.
*Aku tidak selingkuh, Rani. Tapi jika kamu terus seperti ini, aku bisa saja meninggalkan kamu. Karina? Tapi beberapa hari ini aku sangat ingin bertemu dengan Karina. Tapi aku tidak tahu dimana alamat rumahnya, datang ke tempat kerjanya juga selalu tidak ketemu.*Gumam Bima dalam hatinya.
***********
__ADS_1