
.
.
.
💕💕 HAPPY READING 💕💕
Setelah berjuang hampir 1 jam, akhirnya Karina berhasil melahirkan seorang bayi yang cantik dan mungil. Wajahnya cantik dan mirip sekali dengan Karina, 10 menit sebelum bayinya lahir Bima sudah sampai rumah sakit dan sempat menemani Karina melalui proses bersalin yang cukup membuat Bima ikut merasakan sakit.
Didepan matanya sendiri, Bima melihat perjuangan Karina saat melahirkan buah hati mereka. Bima jadi tahu, jika wanita melahirkan itu nyata bertaruh dengan nyawa.
" Sayang, anak kita cantik seperti kamu."Seru Bima sambil menggendong anaknya dan mendekatkan di samping Karina.
" Iya mas, dia kan perempuan pastinya cantik dong. Masa iya perempuan tampan? Sudah mas Adzani kan?."Seru Karina sambil tersenyum bahagia.
" Sudah sayang. Ini nanti pasti akan jadi primadona, sama seperti mamanya."Ucap Bima lalu tertawa kecil.
Tok tok tok
Pintu kamar rawat Karina diketuk dari luar, Bima pun mempersilahkan orang yang berada di luar sana untuk masuk. Ternyata yang datang kedua orang tua Karina, dan di belakangnya ada Serli dan Yusuf.
" Sayang, selamat ya akhirnya kalian berdua resmi menjadi orang tua."Ucap mama Karina sambil memeluk Karina yang berbaring di ranjangnya.
" Iya ma, terima kasih. Cucu mama perempuan, dia cantik seperti Karina."Seru Karina sangat bangga anaknya mirip dengannya.
" Mama ikut bahagia atas kelahiran anak kalian, yang namanya wanita pasti cantik dong mama nya saja juga cantik kok. Ehh mau gendong cucu mama dulu, ehh tapi mama cuci tangan dulu ya."Seru mamanya Karina langsung menuju ke wastafel dan mencuci tangannya.
Kedua orang tua Karina kini sedang bersama cucu nya. Sementara itu, Bima dan Yusuf mengobrol berdua dan Karina bersama Serli. Pak Santo memang belum tahu jika Karina sudah melahirkan, tadi dari toko Serli dan Yusuf dikabari Ratu dan mereka pun langsung ke rumah sakit.
" Mbak Karina, dedek bayinya mau dikasih nama siapa?."Tanya Serli kepo ingin tahu nama keponakan barunya.
" Rahasia dong, heheeee mas Bima yang sudah menyiapkan namanya, Ser. Nanti juga kamu pasti tahu."Jawab Karina masih merahasiakan nama anaknya.
" Yah.. Kalau mas Bima sudah memberitahu pasti semua orang juga tahu mbak."Seru Serli dengan mulut mengerucut.
__ADS_1
Huuuffff...
Karina nampak menggelengkan kepalanya, dia merasa jika akhir-akhir ini Serli sensitif efek dari kehamilannya. Karina bisa memakluminya, wanita hamil memang moodnya suka berubah-ubah.
" Mbak, tahu gak kalau kemarin lusa dan hari ini aku tuh ketemu mantan suami pertamaku mbak. Awalnya aku kaget, aku kembali merasakan yang namanya sakit hati dan penyesalan. Dan aku juga takut dia kembali membawa pengaruh buruk, lalu mas Yusuf akan marah. Tapi ternyata dugaanku salah mbak, Om Harsa sudah berubah. Dia sempat meminta maaf kepadaku, dan mas Yusuf pun tidak marah dia justru menasehati aku agar melupakan masalalu dan memaafkan om Harsa."Ucap Serli mengalir begitu saja dia menceritakan soal Harsa.
Karina sendiri hanya tahu namanya saja, Harsa orang nya yang mana Karina tidak tahu. Karina memang tidak mengenal Harsa, dia masuk di keluarga itupun jauh sebelum Karina menjadi istri Bima. Karina mendengarkan cerita Serli dengan mengangguk-anggukan kepalanya.
" Lantas kamu apa masih punya sedikit rasa tertinggal untuk dia?."Tanya Karina ingin tahu perasaan adik iparnya itu. Karina khawatir jika Serli akan kembali lagi dengan mantan suami pertamanya itu.
" Idihh siapa juga yang masih menyimpan perasaan sama dia mbak. Aku menghargai dia karena dia itu lebih tua dari aku, dan sekarang aku juga punya mas Yusuf. Pria sederhana tapi mempunyai hati yang kaya raya."Jawab Serli dengan yakin.
Melihat Serli dan Karina yang mengobrol terlihat serius, membuat Bima penasaran apa yang dibicarakan oleh Istri dan adiknya itu. Bima dan Yusuf mendekati ranjang dimana Karina berbaring disana.
" Kalian lagi ngobrolin apaan sih? Kelihatannya serius banget?."Tanya Bima ingin segera tahu.
" Biasa mas, urusan wanita. Laki-laki tidak perlu tahu."Jawab Serli dengan cepat.
Bukan dia tidak mau memberitahu kakaknya, namun Serli menjaga perasaan suaminya. Dia tidak mau Yusuf merasa tersinggung jika dia kembali membicarakan soal Harsa. Bagaimanapun sekarang dirinya sudah menjadi istri dari laki-laki yang bernama Yusuf.
Dengan sigap Bima memeriksa ponsel yang ada di dalam kantong celananya. Di sana tidak ada pesan ataupun telepon dari Ratu. Bima melirik ponsel yang ada di atas nakas, dia heran kenapa Karina menanyakan Ratu menghubunginya atau tidak? Sedangkan ponsel Karina saja ada di atas nakas, dan itupun tadi Bima yang meletakkannya .
" Heemm.. Tidak ada sayang. Memang kamu nitip apa?."Tanya Bima.
" Itu mas, Itu aku nitip Asi booster. Ratu kan sudah paham soal itu jadi tadi aku nitip belikan Asi booster sama dia."Jawab Karina sedikit terbata-bata.
Sebenarnya Karina tidak ada nitip apapun sama Ratu, dia memang sengaja hanya mengalihkan pembicaraan saja. Sebab dia tahu jika Serli menjaga perasaan suaminya.
" Ohh begitu, tunggu saja mungkin nanti Ratu akan segera datang. Tadi dia memang bilang akan datang lagi kok."Ucap Bima lagi.
" Iya mas."Jawab Karina cepat.
Sementara itu di tempat lain, Ratu sedang bersama kedua anaknya menunggu suaminya pulang dari kantor. Ratu memang membiasakan diri mengajak kedua anaknya untuk menyambut kepulangan papanya. Kecuali saat Arya pulang dan sikembar tidur, Ratu tidak mungkin juga membawanya untuk menyambut Ratu.
" Duh dua jagoan papa sudah ganteng-ganteng semua. Maaf ya, papa tidak bisa cium atau menggendong kalian. Cukup papa menyapa kalian dulu ya, papa baru pulang kerja sayang. Nanti setelah mandi main sama papa ya."Seru Arya sambil melambaikan tangannya di depan sikembar yang sedang duduk di kerera bayinya masing-masing.
__ADS_1
" Iya papa."Jawab Ratu menirukan suara anak kecil.
" Sini Ma, satu nya biar papa yang dorong. Mama pasti susah kalau mendorong dua-duanya secara bersamaan."Ucap Arya lalu meraih satu kereta bayi dari tangan Ratu.
Saat di hadapan kedua anaknya, baik Arya maupun Ratu membiasakan diri memanggil satu sama lain mama dan papa agar anak-anaknya juga memanggilnya dengan panggilan yang sama.
" Iya pa"Jawab Ratu sambil mengulas senyum manisnya.
Arya dan Ratu berjalan masuk rumah dengan beriringan sembari mendorong kereta bayi. Sesampainya di ruang keluarga, Arya pamit ke kamar untuk mandi agar bisa cepat bermain dengan kedua jagoan kecilnya.
Setelah 10 menit, Arya sudah kembali dengan penampilan yang sudah wangi dan fresh.
" Kenapa mama memandangi papa seperti itu? Papa tampan ya?."Tanya Arya dengan sengaja menggoda istrinya.
" Lihatlah sayang, papa kalian terlalu percaya diri sekali. Padahal mama loh tidak memandangi papa, papa mu saja yang kegeeran sayang. Masih juga tampan kalian berdua ya, Nak."Ucap Ratu sengaja mengelak.
Padahal dirinya kagum dengan ketampanan suaminya yang semakin hari semakin terpancar aura ketampanannya. Padahal sudah mempunyai anak dua dan usia pun tidak lagi muda, tapi semakin hari Arya justru semakin tampan dan mempesona.
" Halahhh ngeles nih ye."Seru Arya yang kini sudah membawa Revan dalam pangkuannya.
" Idihhh terlalu percaya diri sekali sih kamu, Pa. Apanya juga yang ngeles? Memangnya lagi ngeles matematika?."Seru Ratu lagi-lagi membuat dirinya terkekeh sendiri.
" Mama kamu itu tidak bisa berbohong sayang, lihatlah kalau dia bohong pasti hidungnya membesar."Seru Arya semakin menggoda Ratu.
" Siapa bilang aku tidak bisa bohong? Buktinya papa loh dulu tidak tahu siapa mama? Lagian hidung mancung begini kok dibilang besar, awas kamu pa. Mama skors seminggu tidur di luar."Seru Ratu mengancam.
Gleeekkk
Arya pun menelan salivanya sendiri, mana bisa dia seminggu tidur terpisah dengan istrinya. Tidur pisah semalam saja dua susah tidur, apa lagi sampai seminggu. Tubuh Ratu sudah menjadi guling bagi Arya, jika tidur tidak memeluk Ratu berasa ada yang kurang.
" Jangan dong Ma, Papa cuma bercanda loh."Seru Arya memohon sambil meringis.
" Kan tidak sanggup kalau suruh tidur di luar. Heee Heheeee." Ratu terkekeh geli melihat perubahan sikap suaminya yang langsung mati kutu saat di ancam untuk tidur di luar.
Arya menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil senyum-senyum.
__ADS_1
**************