
.
.
.
💕💕 HAPPY READING 💕💕
Usia kehamilan Rani dan Ratu sama-sama sudah 7 bulan. Rani yang sekarang di rumah sendirian merasakan perutnya yang kram, dia mencoba menghubungi Yanto untuk mengantarnya ke rumah sakit namun Yanto sama sekali tidak mengangkat telepon dari Rani. Padahal ada 20 kali Rani menelpon dan mengirimi Yanto pesan, sepertinya Yanto sedang asik dengan dunianya.
" Aduhh sakit sekali perutku ini, masa iya sudah mau melahirkan? Tidak mungkin, usia kandunganku baru 7 bulan. Masih ada 2 bulan lagi jika dia mau lahir, aduh ini sakit sekali."Seru Rani sambil mengusap-usap perut nya yang besar.
Rani membaringkan tubuhnya di sofa ruang tamu sembari menarik nafas dan membuang nafas secara pelan-pelan. Rasa sakitnya berangsur menghilang sedikit demi sedikit.
" Lumayan enakan, apa ini yang dinamakan dengan kontraksi palsu?."Seru Rani bertanya pada dirinya sendiri.
Perut Rani sudah tidak seberapa sakit lagi, dia mengambil ponselnya untuk kembali menghubungi Yanto. Namun tiba-tiba ada pesan masuk, Rani mengira jika itu pesan balasan dari Yanto. Dengan cepat Rani membuka pesan itu, namun saat pesan itu sudah di buka mata Rani langsung membulat dan perutnya terasa mual.
Ternyata pesan itu dari ibu Marni, ibu Marni mengirimkan foto serta video dimana dia sedang memu4skan milik Yanto. Meskipun Rani bukan wanita baik-baik, dia tidak mau mengekpose apa yang dia lakukan kepada orang lain. Ibu Marni tidak berfikir panjang, jika Rani mau dia bisa menyebarkan foto dan video itu di sosial medianya agar ramai dan viral.
[ Bagaimana? Kamu sudah lihat video yang aku kirimkan? Kamu bisa melihat eksperesi wajah Yanto yang pu4s dan menikmati permainanku kan? Sekarang kamu kalah dari ku Rani, Yanto sudah tergila-gila dengan permainanku.]
Pesan yang di kirim ibu Marni membuat Rani hanya bisa menggelengkan kepalanya. Wanita tua itu ternyata tidak mau kalah darinya, dia secara terang-terangan mengajak Rani untuk berlomba-lomba memu4skan Yanto dan mendapatkan simpatik Yanto.
[ Silahkan kamu ambil dan kamu pu4skan Yanto. ] Balas Rani singkat.
Rani sudah tidak perduli dengan ibu Marni, terserah dia mau melakukan apa saja dengan Yanto. Rani bertahan dengan Yanto pun hanya mengharapkan uangnya saja, apa lagi perutnya sudah besar tidak mungkin dia akan bekerja untuk menafkahi dirinya sendiri.
" Aku tidak bisa hidup seperti ini terus. Yanto bukanlah pria yang baik, aku juga butuh status yang jelas. Aku juga ingin bahagia dengan pasanganku yang benar-benar mencintaiku bukan karena sekedar main-main begini? Apa masih ada laki-laki yang bisa menerima segala kekuranganku ini."Ucap Rani bicara pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Rani sudah mulai bosan dengan kehidupannya yang terus bergantung kepada Yanto dan hidupnya pun tidak ada perubahan. Tidak ada baiknya sama sekali, akhir-akhir ini Rani sering menangisi jalan kehidupannya sendiri.
" Apa aku pulang saja ke kampung ya? Tapi apa yang akan aku katakan sama ibu jika aku hamil namun Yanto tidak mau menikahiku. Selama ini ibu tahunya aku dan Yanto sudah menikah siri. Terus hidupku di kampung siapa yang mau menanggungnya? Tidak mungkin aku meminta Andi adik angkat ku itu untuk menanggung semua kebutuhanku. Aku kasihan anak itu, dia sudah menanggung hidup ibu juga."Ucap Rani merasa bosan dengan kehidupannya yang tidak ada perubahan nya.
Hhhuufff
Rani menghela nafas dengan berat, dia pusing memikirkan jalan kehidupannya yang tidak ada masa depan nya. Masa depannya suram, bahkan dia sendiri tidak tahu mau dibawa kemana jalan kehidupannya.
" Aku harus berubah, aku tidak mungkin seperti ini terus. Aku ingin hidup bahagia, aku harus memperbaiki diriku. Akan aku tinggalkan duni ku yang tidak tahu arah tujuannya ini. Iya, aku akan bicara baik-baik dengan Yanto. Biar dia fokus dengan ibu Marni saja, yang penting dia biayai hidupku sampai aku melahirkan."Ucap Rani lagi-lagi fikiran sehatnya berjalan dengan normal dan singkron dengan ot4knya.
Rani memainkan ponselnya, dan dia pun melihat ada pembaruan status dari Bima. Bima memasang foto, dimana mereka berfoto dengan sepasang pengantin.
[ Selamat menempuh hidup baru adikku, Serli dam suami.] Caption yang ditulis Bima.
" Serli menikah ? Kenapa aku baru tahu, dan sepertinya mereka juga tidak mengundang ibu Marni? Mengundang ibu Marni juga akan membuat mereka malu."Seru Rani tersenyum kecut.
[ Selamat atas pernikahan nya Serli ya mas. Semoga menjadi keluarga yang bahagia.] Tulis Rani.
*****
Pesta pernikahan Rani yang di gelar secara sederhana sudah berakhir dua hari yang lalu. Dan hari ini, Serli dan Yusuf sudah bertolak ke Bali untuk honey moon. Sebenarnya mereka sama sekali tidak merencanakan honeymoon, akan tetapi tiket pesawat dan hotel sudah di pesan dari beberapa hari yang lalu oleh Dinda sebagai kado pernikahan untuk Serli dan Yusuf.
Toko pak Santo belum buka, pak Santo sendiri masih mengistirahatkan dirinya di rumah. Rasanya tidak pantas jika baru dua hari menggelar hajatan sudah harus buka toko.
" Santo ! Serli !! Keluar kalian !!."Teriak seorang wanita dari luar rumah.
Pak Santo hafal betul siapa pemilik suara yang sedang berteriak-teriak itu. Ibu Marni, iya orang itu adalah ibu Marni. Untuk apa ibu Marni datang kerumahnya, padahal saat ini mereka sudah resmi bercerai. Dua hari sebelum pernikahan Serli, pengadilan sudah mengeluarkan surat cerai mereka. Dan saat ini mereka sudah sah dan resmi bercerai.
" Ada apa ? Kenapa kamu datang kesini dengan berteriak-teriak begitu? Apa kamu merasa jika kamu yang punya mulut sendiri?."Tanya pak Santo.
__ADS_1
" Hehh.. Santo !! Maksud kamu apa menikahkan Serli tanpa memberitahu ku? Apa kalian itu sudah tidak menganggap ku lagi?."Seru ibu Marni langsung marah-marah.
" Memangnya kamu siapa? Bukannya kamu sendiri yang sudah tidak mau menganggap mereka anak-anakmu? Jadi jangan salahkan kami kalau kami tidak memberitahu kamu."Seru pak Santo dengan tegas.
Ibu Marni langsung terdiam, apa yang dikatakan pak Santo memang ada benarnya juga. Dia sendiri yang sudah tidak menganggap anak-anaknya lagi. Tapi ibu Marni tidak mau di salahkan, dia tetap merasa dirinya paling benar dan pak Santo salah.
" Tapi aku ini ibunya dan aku juga masih hidup !!."Teriak ibu Marni dengan lantang sehingga suaranya mengundang para tetangga berdatangan.
Tiga ibu-ibu kepo dan tukang gosip pun tidak mau ketinggalan. Mereka datang paling cepat agar tidak ketinggalan informasi yang akurat.
" Ibu Marni marah-marah karena dia tidak di undang saat pernikahan Serli kemarin. Wajar donh dia marah, karena bagaimanapun ibu Marni juga ibu kandungnya Serli."Seru ibu Pinah berkomentar.
" Lihatlah, ibu-ibu saja tahu jika tindakan kalian itu salah. Bisa-bisanya anakku menikah kamu tidak mengundangku. Beginilah ibu-ibu, kelakuan mantan suamiku. Dia itu masih belum terima aku ceraikan, makanya dia itu dendam dengan ku."Seru ibu Marni mencoba membela dirinya.
Pak Santo cukup mendengarkan saja dulu, jika mulut ibu Marni sudah keterlaluan baru dia akan bertindak. Yang menceraikan saja pak Santo, kenapa juga dia harus dendam. Bukan tipe pak Santo dendam dengan orang lain.
" Masa sih pak Santo dendam?."Tanya ibu Ani ikut bersuara.
" Kalau bukan dendam apa dong? Masa gara-gara aku menggugat cerai dia memusuhi ku dan dia meminta anak-anak untuk memusuhiku juga. Nah, kalau seperti itu Bapak macam apa itu?."Seru ibu Marni semakin kurangajar.
" Apa belum cukup mulut berbisa mu itu menjelek-jelekkan aku? Apa kamu mau aku bongkar kebusukan kamu di depan para tetangga disini? Baiklah, aku akan bongkar kebusukanmu karena ini kamu juga yang memulainya."Ucap Pak Santo dengan senyuman kecutnya sembari melirik ibu Marni.
Seketika itu wajah ibu Marni langsung berubah pias, dia terdiam dan mulai ketakutan.
" Asal ibu-ibu tahu, sebenarnya saya sendiri yang sudah menggugat cerai wanita ini. Itu karena dia sudah memfitnah Ratu, dan saya suruh minta maaf dia tidak mau. Bahkan belum resmi bercerai saja dia sudah berz!n4 dengan laki-laki lain, dan saat ini dia sedang hamil. Pria itu juga mantan pacar Serli."Seru pak Santo. Baru pertama kali ini pak Santo mau mengungkapkan 4ib orang lain. Itu juga karena ibu Marni sudah keterlaluan.
Haaahhhh...
Ibu-ibu langsung kaget setelah mendengar fakta baru yang mereka dengar dari mulut pak Santo. Mereka mempercayai apa yang di ucapkan pak Santo, sebab selama ini pak Santo terkenal jujur dengan ucapannya.
__ADS_1
**********