
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
" Ibu mau sampai kapan disini, Ran?." Tanya Bima dengan datar tanpa ada embel-embel sayang.
Rani tercengang dengan pertanyaan suaminya, baru juga tadi sore ibunya datang sudah di tanya sampai kapan dia di rumah itu. Rani sudah pasti merasa tersinggung dengan pertanyaan suaminya, soalah tidak menghargai ibu nya.
" Mas. Ibu ku itu baru datang sore tadi, bahkan makan malam saja belum loh. Apa kamu sadar bertanya seperti itu?." Tanya Rani dengan kesal.
" Aku sadar, dan sadar banget. Aku tidak mau kalau ibu disini terlalu lama. Kamu tahu kan kalau kita disini itu masih numpang di rumah bapak dan makan pun kita banyak numpangnya. Ibu kamu juga kalau makan dari dulu mau nya yang enak-enak, aku malu sama bapak sampai ibu kamu itu menyusahkan."Seru Bima yang memang nampak tidak suka dengan kedatangan ibu mertuanya.
Ibu Darti memang terkenal sombong dan sok kaya, jika makan pun dia mau pakai lauk yang enak. Minimal harus ada ayam dan ikan, Bima sadar jika dia untuk makan saja masih banyak numpang dari orang tuanya. Uang yang dia tabungkan justru habis tidak tersisa karena ulah sang istri.
" Tapi bukan berarti mas bisa bicara seenaknya begitu dong mas. Ibu itu orang tua ku, dia yang sudah melahirkan aku. Ingat mas, kalau bukan karena kebaikan orang tuaku mungkin mas saat ini sudah tidak ada, bahkan jikapun hidup mas itu cacat."Seru Rani mulai mengungkit kebaikan kedua orang tuanya dimasalalu.
" Memang benar orang tua kamu yang sudah meminjamkan ibuku uang untuk biaya rumah sakit tapi itu semua sudah terbayar lunas. Bahkab sudah jauh lebih banyak, bahkan gajiku selama 3 tahun ini pun sudah dinikmati orang tuamu. Lantas apa lagi, masih juga kurang?." Seru Bima terlihat menantang Rani.
Rani langsung terdiam, dia tidak ada kata-kata untuk menjawabnya lagi. Disaat itu juga pintu kamar di ketuk, ibu Marni memanggil Bima dan Rani untuk makan malam.
__ADS_1
" Rani, Bima keluar makan malam dulu. Itu ibu Darti sudah menunggu di meja makan."Seru ibu Marni memanggil dari depan kamar Rani.
" Iya bu."Seru Rani menjawab singkat.
Rani keluar kamar lebih dulu dan diikuti Bima du belakangnya. Malam ini mereka makan malam bersama, tampak Serli dan pak Santo juga sudah ada di sana. Serli makan dengan santainya tanpa memperdulikan ibu Darti yang duduk di sampingnya. Dari dulu Serli memang tidak suka dengan ibu dari kakak iparnya itu, mulutnya terlalu sadis kalau sudah menghina. Sama persis dengan Ibu nya.
" Banyak banget menu nya bu?."Tanya Bima singkat.
Menu makan malam mereka memang sangat banyak macam nya. Ada sate kambing, ayam goreng, sop iga , balado tongkol dan ada tumisan serta masih ada yang lainnya. Yang Bima tahu sebagian itu pasti beli, pasti atas permintaan ibu mertua nya.
" Iya ini sengaja banyak begini untuk menyambut kedatangan ibu besan. Sudah lama loh bu besan ini tidak berkunjung, masa iya cuma mau ibu suguhkan telor dan sayuran saja."Seru ibu Marni dengan bangga.
" Kalau adanya cuma itu ya tidak apa-apa juga bu."Seru pak Santo yang merasa istrinya terlalu berlebihan.
" Terima kasih bu besan, sudah menyiapkan ini semua untuk saya. Saya jadi terharu, kapan-kapan gantian bu besan dan keluarga datang kerumah saya. Nanti akan saya jamu dengan baik, apalagi rumah saya sekarang sudah lebih besar jadi kalian semua pasti betah."Ucap ibu Darti dengan bangga memamerkan rumahnya tanpa malu dia menggunakan uang siapa untuk merenovasi rumahnya itu.
Pak Santo sengaja berdehem untuk menghentikan obrolan agar mereka diam dan menikmati makanannya. Ibu Darti makan dengan lahapnya seperti orang yang tidak pernah makan enak. Bahkan dia sampai sendawa dengan keras dan tidak ada rasa malunya sama sekali.
" Ibu Marni masakannya enak loh. Ini sop iga sama satenya enak banget, sampai saya makan nambah 2 piring. Maaf ya tadi tidak bantuin masak, nanti saya bantuin cuci piring nya."Seru ibu Darti dengan santainya.
" Hehhee iya ibu tidak apa-apa. Tadi ibu pasti capek makanya saya tidak membangunkan ibu. Ini juga sebagian beli kok bu, mana sempat saya masak semuanya."Seru Ibu Marni berkata apa adanya.
" Ibu Marni bisa saja. Nah panggilan nya begini saja ya biar lebih santai, kalau panggil besan kok terlalu formal. Ya sudah mari saya bantu cuci piringnya, masa iya saya mau makan saja. Tidak enak dong kalau cuma makan saja."Seru ibu Darti berbasa-basi.
__ADS_1
" Iya bu, mari bawa kedapur piring-piring kotornya."Seru ibu Marni menanggapi ucapan besannya tadi dengan serius.
Glekkk
Ibu Darti menelan salivanya sendiri, padahal tawarannya tadi hanya berbasa-basi tapi justru di tanggapi dengan serius. Dia sebenarnya ingin sekali rebahan karena perutnya yang terlalu kenyang. Tapi mau tidak mau dia pun membantu ibu Marni mencuci piring.
" Arya sudah lama pindah bu?." Tanya Ibu Darti sambil mencuci piring.
" Kurang lebihnya sebulan ini bu. Arya sekarang itu seorang direktur bu, gajinya sudah puluhan juta. Tapi ya itu, gajinya dikuasai sama istrinya yang kurangajar itu. Dulu saat dia masih tinggal disini, uangnya masih bisa saya kendalikan bahkan kebutuhan rumah semua di tanggung Arya. Sekarang boro-boro, dia kasih uang bulanan saja sedikit banget."Seru ibu Marni dengan penuh semangat membicarakan Arya dan Ratu.
" Direktur? Wah hebat juga si Arya itu bisa jadi direktur dengan gaji yang lumayan besar. Kalau tidak salah, Arya dan Bima itu satu kantor kan bu? Kenapa ibu Marni tidak minta Arya untuk menaikan jabatan Bima. Siapa tahu bisa jadi menejer, Bu. Kok ibu itu mau-maunya kalah sama menantu ibu yang sombong itu. Apa ibu tidak bisa tegas, jangan sampai wanita itu hidup foya-foya dengan uang Arya. Ibu harus bisa kasih pelajaran menantu kurangajar itu. Arya itu lebih berhak memberikan gajinya untuk ibu, karena ibu juga sudah merawat dia dari kecil. Coba kalau bukan karena didikan ibu, Arya tidak akan sesukses sekarang ini."Ucap ibu Darti dengan penuh komporannya yang semakin panas.
Sepertinya ibu Marni terpengaruh dengan ucapan ibu Darti. Mereka berdua itu memang cocok, sama-sama tidak tahu diri dan sama-sama tidak punya rasa malu. Ibu Darti pun berjanji akan membantu Ibu Marni memberikan pelajaran kepada Ratu. Jika ibu Marni dapat uang sudah pasti ibu Dartk juga akan kecipratan.
" Kita lanjut ngobrol di ruang televisi saja yuk bu, sekalian kita nonton televisi. Ada Rani juga tuh disana."Seru ibu Marni.
" Iya bu. Kita buat rencana untuk memberi pelajaran istrinya Arya itu."Ucap ibu Darti dengan semangat.
Kini mereka bertiga sudah ada di ruang televisi, Rani dan kedua ibu-ibu yang super julit dan suka bikin onar. Mereka banyak membahas tentang Ratu dan kejelekan Ratu sampai ibu Marni sendiri lupa dengan kejelekan sang menantu kesayangannya.
" Jadi besok kita kerumahnya saja. Kebetulan kan Arya itu lagi kerja, jadi kita bisa usir saja dia dari rumah itu bu. Dengan begitu ibu bisa menguasai rumah Arya dan ibu jadi nyonya di rumah Arya. Bagaimana bu? Apa ibu setuju dengan ide kita?." Tanya Rani.
" Wahh ide yang bagus tuh. Ibu sudah tidak sabar mengusai dan tinggal di rumah itu. Pokoknya ibu tidak rela jika Ratu yang menguasai rumah itu, jika dia tidak mau pergi kita saja Ran yang tinggal disana. Itu rumah Arya dan ibu berhak ikut tinggal disana, kalian keluarganya juga berhak."Ucap ibu Marni dengan bodohnya.
__ADS_1
* Ternyata ibu masih ada di pihakku, dengan begini aku akan lebih mudah untuk menghancurkan Ratu. Aku tidak rela dia bahagia dan mendapatkan apa yang tidak bisa aku dapatkan. Aku tidak peduli dia orang kaya atau miskin, yang pasti aku mau Ratu tidak bahagia.*Gumam Rani tersenyum sinis.
*********