
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
" Pa, Ma. Maafkan keluarga Arya dan Arya ya. Arya benar-benar tidak enak dengan kejadian kemarin."Ucap Arya benar-benar merasa tidak enak dengan kedua mertuanya.
Hhhhuuufffff
Papa mertuanya terlihat menghela nafas dengan pelan. Papa dan mama mertuanya sama sekali tidak mempermaslahkannya lagi dan juga tidak menyalahkan Arya. Mereka sudah lebih dulu mengalami apa yang dialami anaknya. Sehingga mereka sudah tidak kaget lagi dan tidak mempermasalahkannya. Yang penting Arya bisa bersikap tegas kepada keluarganya, terutama ibu nya.
" Papa maupun mama tidak menyalahkan kamu sama sekali. Yang penting kamu itu tegas terutama pada ibumu itu. Oh iya, bukannya kemarin ibumu minta uang bulanan? Sudah kamu kasih?." Tanya papa mertua Arya.
" Belum pa. Ibu itu bukan ibu kandungku, jadi Arya tidak wajib menafkahinya. Ada anak kandungnya yang lebih berhak. Cukup sudah selama 7 tahun Arya bekerja menjadi sapi perah mereka."Jawaban Arya membuat kedua mertuanya merasa kasihan.
Hari ini Arya memang berangkat lebih siang karena ingin bersama dengan mertuanya lebih dulu. Sebab jam 11 siang nanti mertuanya harus pulang tapi akan langsung terbang ke luar negeri, untuk menemui adiknya yang ada di Jerman.
" Assalamualaikum."Seru seseorang dari luar.
" Waalaikumsalam."Jawab semuanya bersamaan.
" Bapak."Seru Ratu saat tahu jika pak Santo lah yang datang.
Ratu menghampiri bapak mertuanya dan mengajaknya masuk. Papa dan mama Ratu menyalami pak Santo lebih dulu lalu mempersilahkan untuk duduk.
" Pak Santo apa kabar? Maaf ya, kami tidak mampir kerumah bapak. Tapi malah bapak yang menghampiri kami kesini. Soalnya kami juga tidak lama disini pak, nanti jam 11 kami sudah harus ke bandara."Seru Satria merasa tidak enak dengan besannya yang justru menghampirinya lebih dulu.
" Iya tidak apa-apa pak Satria, Bu Dinda. Saya datang kesini hanya mau minta maaf soal kemarin. Pasti pak Satria dan bu Dinda sudah di buat kesal dengan istri saya. Begitulah tabiat istri saya, sampai saya sendiri bingung bagaimana lagi untuk menasehatinya."Ucap pak Santo dengan suara yang terdengar pasrah dengan keadaan.
Mama dan papa Ratu saling melempar pandangan, Satria pun mendekati pak Santo dan duduk di sampingnya.
__ADS_1
" Bapak tidak perlu minta maaf, saya dan istri saya sudah memaafkannya. Dan tolong pak Santo jangan seperti ini, saya sudah tidak mau membahas masalah yang kemarin. Bagi saya yang sudah ya sudah, tidak perlu dibahas lagi."Ucap Satri bicara dengan bijak dan sopan.
" Alhamdulillah, terima kasih pak. Anda sangat baik, dan sam sekali tidak memandang rendah orang miskin seperti kami."Ucap Pak Santo lagi.
Pak Santo merasa bersyukur mempunyai besan sebaik Satria dan Dinda. Meskipun mereka orang kaya akan tetapi tetap rendah hati dan tidak menyombongkan apa yang mereka miliki. Dan mereka juga berhasil mendidik anak-anaknya menjadi anak yang baik, sopan dan sederhana.
Obrolan mereka pun berlanjut, dan akhirnya Arya tidak masuk kantor. Di kantor memang tidal terlalu banyak pekerjaan, meeting pun tidak ada. Waktu semakin berjalan, kedua orang tua Ratu pun sudah menuju bandara dengan diantar Arya,Ratu dan pak Santo.
Setelah selesai mengantar orang tauanya ke bandara, Ratu mengajak pak Santo dan suaminya makan di salah satu restoran.
" Bapak mau makan apa? Bapak pilih sesuai selera bapak saja, ini buku menunya pak."Ucap Ratu sambil membuka buku menu untuk bapak mertuanya.
" Apa saja, kamu yang pilih saja nak. Bapak tidak tahu mana yang enak. Tulisannya saja kecil-kecil semua, bapak tidak pakai kaca mata jadi susah bacanya."Jawab pak Santo sambil terkekeh.
" Hehee.. Iya juga sih. Ya sudah Ratu peseni yang sama seperti punya mas Arya saja ya pak. Kalau yang punya Ratu, bukan nasi."Ucap Ratu sambil terkekeh.
" Kamu memang pesan apa , dek?."Tanya Arya.
" Ramen mas. Aku pengen makan ramen, makanya tadi aku minta mas ke restoran ini soalnya selain menu utama makanan nusantara disini juga menyediakan ramen yang rasanya tidak kalah enak."Jawab Ratu dengan semangat.
********
Selesai makan siang, Ratu dan Arya mengantarkan pak Santo pulang sekaligus untuk memberikan uang bulanan untuk ibu Marni. Ratu tetap meminta Arya untuk memberikan uang bulanan untuk sang ibu, meskipun beliau bukan ibu kandungnya.
Mobil yang di kendarai Arya sudah sampai di halaman rumah pak Santo. Di teras ada Rani yang duduk sendirian sambil memainkan ponselnya dengan wajah yang seperti sedang kebingungan.
" Rani, ada tamu kenapa kamu tidak menyapa?."Tanya Pak Santo sudah tidak kaget lagi dengan kelakuan anak menantunya itu.
" Apaan sih pak? Kalau mau masuk ya biar langsung masuk saja, lagipula dia juga sudah biasa di rumah ini. Tidak lihat apa, aku lagi pusing begini."Ucap Rani dengan kesal.
" Sudahlah pak, kita langsung masuk saja. Percuma mengajarkan adab sama orang seperti dia."Seru Arya lalu mengajak bapaknya masuk ke rumah.
Arya dan pak Santo kini sudah ada didalam rumah, Arya mencari keberadaan ibunya. Sementara itu Ratu masih saja di teras rumah memperhatikan wajah kusut Rani. Ratu yakin jika masalah yang saat ini dihadapi Rani pastilah soal uang.
__ADS_1
" Ada masalah mbak?." Tanya Ratu yang kini sudah duduk di kursi kayu samping Rani.
* Heemm apa aku pinjam uang sama Ratu saja ya. Lagipula ada haknya Arya juga dalam harta Ratu, dan aku sebagai kakak iparnya Arya pasti mudah untuk pinjam uang sama dia. Bilangnya sih pinjam tapi masalah bayar itu urusan belakangan. Tapi apa alasanku pinjam uang sama Ratu?.* Gumam Rani dalam hati.
Rani masih saja diam memikirkan alasan yang tepat untuk bisa dijadikan alasan meminjam uang kepada Ratu.
" Iya ada masalah, ibu ku masuk rumah sakit."Jawab Rani dengan wajah dibuat sedih untuk membohongi Ratu.
" Sakit apa mbak? Kenapa mbak Rani tidak pulang saja kalau ibu mbak masuk rumah sakit? Kan kasihan orang tua mu mbak."Ucap Ratu yang menganggap ucapan Rani itu serius.
" Bagaimana aku mau pulang, kalau aku tidak ada uang untuk pengobatan ibu. Ibu ku harus opersi j4ntung dan perlu dana sekitar 150 juta. Aku dapat uang darimana sebanyak itu? Kamu tahu aku ini pengangguran, dan itu juga karena kamu yang sudah memprovokasi bu Lisa."Seru Rani masih saja menyalahkan Ratu.
Hhuuufffff
Sebenarnya jika sudah seperti ini Ratu merasa kasihan dengan Rani. Tapi Rani tidak bisa dibiarkan saja, semakin dibiarkan dia akan semakin seenaknya saja dan tidak bisa menghargai orang lain terutama Ratu.
" Bukannya tabungan mbak dan mas Bima banyak ya? Pakai saja uang itu mbak, lagipula ini darurat."Seru Ratu.
" Enak saja !! Itu uang untuk beli rumah, seharusnya kamu tuh sebagai saudara yang katanya orang kaya keluarkan uang kamu untuk membantu orang tuaku. hitung-hitung sedekah, atau kalau tidak aku pinjam saja sama kamu. Tidak banyak 150 juta saja."Ucap Rani bicara seenaknya saja. Sudah menghina tapi mau meminjam uang, bicaranya juga tidak ada ramah dan sopannya sama sekali.
" Bukannya aku tidak mau meminjamkan uang, tapi untuk apa aku meminjamkan sama mbak sedangkan mbak sendiri punya tabungan. Kemana tuh tabungan selama 3 tahun yang katanya untuk beli rumah? Jangan-jangan habis di transfer tiap bulan ke orang tua mbak, buat beli motor oh iya buat renovasi rumah juga kan?." Seru Ratu membuat Rani langsung syok.
Bagaimana bisa Ratu tahu semuanya secara detail begitu? Ratu sudah mulai tidak percaya jika orang tua Rani masuk rumah sakit. Diapun baru ingat, jika tadi pak Santo bicara soal Bima yang ingin hidup mandiri. Sudah pasti saat ini dia sedang bingung soal uang tabungan yang sudah tidak ada.
* Kamu pasti kaget kan? Makanya jangan seenaknya kalau bicara. Alasan ibumu masuk rumah sakit, padahal dia sendirinya bingung karena mas Bima mau beli rumah dalam waktu dekat.*Gumam Ratu dalam hati.
" Jangan fitnah kamu Ratu !!."Seru Rani dengan gugup dan wajahnya pun tampak pucat.
Rani tidak pernah menyangka jika Ratu tahu semuanya secara detail seperti itu.
" Jangan bilang kalau aku fitnah mbak. Aku tahu semua rahasiamu, dan siap-siap saja kamu dapat amukan dari mas Bima."Ucap Ratu sedikit berbisik di telinga Rani.
Ratu melambaikan tangannya dengan senyum mengejek lalu masuk ke rumah menyusul suaminya.
__ADS_1
***********