Pendekar Payung Terbang

Pendekar Payung Terbang
Sihir Lawan Sihir


__ADS_3

"Dinda tunggu di sini!"


Adijaya melepaskan pelukannya. Dia melangkah pelan menuju tempat pertarungan. Asmarini memandangi punggung pemuda itu. Rasanya semakin terlihat gagah. Hawa saktinya membuat nyaman ketika dalam pelukan.


Dari tubuhnya Adijaya melepaskan hawa sakti dari ilmu Padmasari. Mulutnya merapalkan mantera yang waktu pertama tadi diucapkan. Kali ini diucapkan berulang-ulang.


Gelombang hawa sakti ditambah mantera terasa menggulung dua puluh pendekar yang sedang halusinasi. Seketika para pendekar ini sadar dengan apa yang menimpa dirinya masing-masing.


Para pendekar diam memandangi dirinya sendiri. Lalu rasa pegal dan lelah menimpa seluruh tubuh mereka. Kesal dan marah, ternyata mereka dipermainkan oleh kakek kurus berpakaian wanita itu.


Melihat ini tentu saja Jerangkong Koneng marah bukan main. Dia menatap tajam kepada Adijaya. Hawa buruk memancar menyerang pemuda itu. Tapi hawa sakti Adijaya lebih kuat membendungnya.


Para pendekar tidak tahan melawan tekanan dua hawa sakti, akhirnya mereka mundur perlahan menjauhi arena. Kini tinggal Adijaya dan Jerangkong Koneng yang berhadap-hadapan.


Jerangkong Koneng yang awalnya menganggap remeh Adijaya menjadi semakin waspada. Sebelumnya dia telah dua kali memusnahkan sihirnya. Dia tidak percaya mendapat tandingan yang masih muda.


Dari dalam benaknya Adijaya mendapat bisikan dari Padmasari, bahwa kakek kurus ini yang membunuh nenek kembar dengan bermaksud mengincar kitab Jagat Pamungkas.


"Siapa kau anak muda?" Suara Jerangkong Koneng terdengar menyeramkan. Dia mempersiapkan segenap ilmu andalannya. Sudah digembleng bertahun-tahun, masa tak bisa mengalahkan pemuda ini?


"Aku adalah jelmaan kitab Jagat Pamungkas, bukankah kau ingin memilikinya?"


Kakek kurus terkejut. Tentu saja karena dia belum pernah mengenal pemuda ini, sedangkan Adijaya tahu apa yang diinginkannya selama ini. Maka dia kerahkan semua hawa sihirnya.


Pendekar biasa akan lemas semua ototnya saat terkena hawa sihir ini. Tapi Adijaya malah tersenyum. Senyum yang membuat Jerangkong Koneng merasa ketakutan. Ini baru pertama kalinya dia merasa takut.


Siapa sebenarnya pemuda ini, benarkah dia jelmaan kitab Jagat Pamungkas?


Jerangkong Koneng memutuskan untuk menyerang secara gaib. Dia akan mempengaruhi jalan pikiran Adijaya. Jika pemuda itu benar jelmaan kitab yang dicarinya, berarti yang tampak di depannya bukan rupa aslinya.


Wutt!


Sinar kuning lembut berbentuk seperti selendang melesat dari tangan kurus si kakek. Sinar ini panjang bergerak mengurung tubuh Adijaya. Dengan sinar ini, Jerangkong Koneng bermaksud menyedot jiwa Adijaya untuk kemudian dimasukan ke dalam tubuhnya.


Dengan demikian seluruh ilmu sihir yang dimiliki Adijaya akan berpindah ke dirinya.


Tetapi pemuda yang kadang serius kadang bercanda ini tetap tenanng. Dia kembali mendapat bisikan untuk membacakan mantera. Maka dia ikuti ucapan mantera dari Padmasari yang ada di dalam tubuhnya.


Jung nu katandasa


Bral nu pralaya

__ADS_1


Der amprok kangewa


Sing malik


Sing malik


Sing malik


Setelah mendengar mantera ini tiba-tiba pandangan kakek kurus ini menjadi buram. Dia melihat benda di depannya seperti bayang-bayang yang tak jelas. Sinar kuning yang dilepaskan juga perlahan memudar lalu lenyap.


Nyatanya malah pikirannya yang terpengaruh mantera lawan. Kakek ini tidak mampu membendung hawa sihir yang merasuk ke otaknya.


Wussssh!


Lalu keluar asap hitam pekat di depannya menghalangi pandangan. Setelah asap hilang, lagi-lagi Jerangkong Koneng dikejutkan dengan kemunculan orang-orang yang telah dibunuhnya.


Ki Ranggasura, Nini Bedul, Nyai Gandalaras, gurunya Sekar Kusuma dan tokoh-tokoh lain yang telah dia bunuh sebelumnya. Semua muncul dengan wajah bengis penuh dendam. Mereka bagaikan raksasa yang hendak menelan si kurus.


"Apa ini, bagaimana mereka bisa hidup lagi?"


Jerangkong Koneng seolah lupa pada dirinya sendiri. Dia diliputi rasa takut yang amat sangat.


Dalam pandangan Jerangkong Koneng orang-orang itu bergerak menyerangnya bersamaan. Mau tak mau kakek kurus ini melayani mereka dengan segenap kekuatannya.


Beberapa lawan berhasil dia lenyapkan dengan tebasan pedang sihirnya. Tapi yang membuatnya aneh, tiba-tiba lawan yang sudah tewas itu hidup dan menyerang lagi.


Nini Bedul berhasil menggebukkan tongkatnya ke bahu. Sangat keras dan mematikan.


Bukk!


Terasa sakit, tapi bukan pada bahunya yang terkena gebukan tongkat. Sakitnya terasa di dalam dada. Karena emosi maka dia membalas serangan Nini Bedul dengan menebas lehernya.


Crass!


Kepala Nini Bedul jatuh menggelinding. Sosoknya ambruk lalu lenyap. Tapi sekejap kemudian nenek bungkuk itu telah berdiri lagi dan siap menyerang.


Sreeb!


Beberapa lawan yang bersenjata pedang berhasil menusukkan senjatanya ke perut dan dada. Rasanya panas dan perih di dalam tubuhnya. Tapi tidak ada tetesan darah. Setelah dicabut lagi. Dia tidak mati tapi sakitnya masih ada.


Si kurus bingung dengan keadaannya sendiri. Amarahnya tak terkendali lagi.

__ADS_1


Begitu seterusnya. Seolah-olah Jerangkong Koneng sedang dikeroyok banyak orang. Dia mampu menghabiskan lawan-lawannya, tapi kemudian lawan-lawannya itu kembali bangkit seolah tidak bisa mati.


Tetapi bagi Adijaya dan yang lainnya yang terlihat Jerangkong Koneng hanya sedang memainkan jurus-jurusnya sendirian melawan angin dengan wajah panik dan ketakutan.


Para pendekar memandang takjub ke arah Adijaya. Ada juga yang merasa ngeri.


"Luar biasa!"


"Sihir dibalas sihir!"


"Aku baru melihat pendekar muda ini."


"Rasanya pernah melihatnya, tapi di mana?"


"Dia kan pemuda yang waktu itu di kedai!"


"Oh, iya!"


"Ternyata dia mempunyai kekuatan yang hebat!"


Arya Sentana, Praba Arum, dan Asmarini bergerak mendekati Adijaya. Hanya Sekar Kusuma yang masih tetap di tempatnya.


Kemudian terlihat Jerangkong Koneng menghentikan gerakannya. Dia berdiri mematung. Heran mendapati dirinya seperti itu. Rupanya Adijaya sudah melenyapkan pengaruh sihirnya.


Lalu terdengar suara tawa melengking dari si kurus. Entah apa yang dia tertawakan. Tawa yang lebih terdengar seperti tangisan menyayat hati.


"Aku merasa ilmu sihir, gendam, pelet, teluh, santet yang aku punya adalah yang terhebat di jagat ini. Tapi nyatanya seorang anak kemarin sore mampu mempermainkanku!"


Jerangkong Koneng bersimpuh. Menangis tersedu-sedu. Semuanya memandang iba. Mereka yakin orang tua kurus itu tidak sedang memainkan sihirnya.


Di sisi lain, salah seorang pendekar menemukan pintu rahasia menuju ruang bawah tanah bangunan itu. Dia segera masuk dan menemukan beberapa wanita yang dijadikan sandera. Segera saja dia membawa tawanan itu keluar.


Sementara Jerangkong Koneng dilanda putus asa dan juga malu. Tiba-tiba dia bangkit. Menatap tajam Adijaya.


"Menjauhlah, Dinda, Paman, Bibi!" Adijaya melihat gelagat yang tidak baik. Paman, bibi dan kekasihnya menuruti perintahnya.


"Aku tidak ingin ada yang menandingi ilmuku. Lebih baik kita mati bersama!"


Jerangkong Koneng melesat ke arah Adijaya dengan kekuatan yang telah dikerahkan seluruhnya. Dia berniat menubruk pemuda itu untuk kemudian tewas bersama.


Namun, ketika satu jengkal lagi tubuh kurus itu menubruk, dua telapak tangan Adijaya sudah menghadangnya dengan ajian Serap Sukma.

__ADS_1


Tep!


__ADS_2