Pendekar Payung Terbang

Pendekar Payung Terbang
Gadis Di Hutan


__ADS_3

Sebuah kereta kuda ukuran sedang tengah melaju di sebuah jalan. Kereta ini ditarik dua ekor kuda bagus. Di bagian badannya menggunakan empat roda kayu. Tempat kusirnya cukup luas bisa memuat tiga orang. Apalagi di ruang dalam.


Ruangan dalam kereta bagaikan sebuah kamar tidur. Beralaskan permadani yang empuk lengkap dengan beberapa bantal. Ada dua buah kotak ukuran sedang di sudut belakang, kiri dan kanan. Kotak ini untuk penyimpanan pakaian dan barang berharga seperti kepeng emas, senjata dan lainnya.


Ruang utama kereta ini bisa diisi paling banyak tiga orang dalam posisi tidur atau berbaring.


Kereta kuda yang cukup mewah ini milik Adijaya. Ini adalah hadiah dari Darma Koswara. Entah apa yang ada di pikiran laki-laki itu sampai memberikan hadiah semewah ini?


Mungkin karena akhirnya bisa bersatu lagi bersama orang yang dicintainya. Jadi, bekas anak buahnya itu pantas mendapatkan hadiah ini.


Sepuluh pengikut Nyi Warsih dijadikan pekerja oleh Darma Koswara. Ada yang ditempatkan di rumah dan sebagian lainnya menjadi buruh tani. Mereka juga dibebaskan jika sudah memiliki calon suami maka akan dinikahkan dan dibiayai oleh Darma Koswara.


Tentu saja tidak mudah untuk mendapatkannya. Mengingat selama jadi pengikut Nyi Warsih, mereka selalu diperintahkan untuk bersikap dingin terhadap laki-laki.


Belum lagi rasa rendah diri mereka akibat sering jadi budak nafsu Ki Reksa. Tapi sepasang suami istri yang jadi majikan mereka selalu memberikan motivasi.


Adijaya mengendalikan dari dalam ruangan utama dengan membukakan pintu lebar-lebar. Sehingga tali kekang yang sengaja dibuat panjang bisa ditarik sampai ke dalam. Kadang mengendalikannya sambil tiduran.


Habis mau bagaimana lagi? Tidak ada orang yang dijadikan kusir. Darma Koswara sudah menyarankan satu orangnya untuk menjadi kusirnya, tapi Adijaya menolaknya. Padahal kepeng emasnya cukup banyak dan mampu membayar orang.


"Apa aku sudah bisa dibilang orang kaya?" pikirnya sambil senyum-senyum sendiri.


Adijaya sedang dalam perjalanan pulang ke padepokan Linggapura. Melihat Darma Koswara menikah membuatnya 'Kabita' ingin segera menikahi Kinasih.


"Apa aku sudah cukup umur?" gumamnya.


Lalu ingat terakhir kali bertemu Kinasih. Hubungan mereka sudah sangat intim. Bahkan melanggar batas. Walaupun sama-sama saling suka dan dalam keadaan sadar melakukannya. Tapi tetap saja dalam sanubari merasa tidak tentram.


"Kalian boleh saling mencintai satu sama lain. Tapi ingat, sebelum resmi terikat dalam satu hubungan bernama pernikahan. Kendalikan nafsu kalian!" begitulah nasihat yang disampaikan Praba Arum alias Pendekar Kipas Perak kepada mereka. Adijaya dan Kinasih.


Tapi apa daya. Di tempat dan suasana yang mendukung, mereka tak dapat mengendalikan birahi. Semua sudah terjadi dan yang tahu hanya Sang Hyang Widi dan mereka saja berdua.


"Sudah sewajarnya kalau aku ingin segera menikahi Kinasih. Agar kami tidak melanggar adat lagi. Bukan soal umur yang masih muda. Tapi kematangan pikiran dan sikap yang dewasa."


Adijaya menghela napas lalu merebahkan badannya. Miring menghadap ke pintu agar bisa tetap melihat keluar.


Sedang enak-enaknya menghayalkan sang pujaan hati, tiba-tiba telinganya yang tajam mendengat suara orang minta tolong. Suara perempuan.


Segera saja dia bangun dan pindah ke tempat kusir. Ternyata dirinya sedang melewati jalan yang di sebelah kanan terdapat ladang dan huma. Di sebelah kiri berupa hutan lebat.


Suara teriakan minta tolong berasal dari hutan. Adijaya hentikan kereta lalu melesat ke dalam hutan. Walaupun bisa meringankan tubuh, tapu dia lebih suka menggunakan payung terbang. Lebih ringan, cepat dan tidak bersuara.


Setelah belasan tombak. Dari atas terlihat seorang gadis tengah dipegang pundaknya kiri dan kanan oleh dua lelaki. Satu orang lelaki lagi sedang menjamahi wajah dan lehernya sambil terbahak-bahak bengis.

__ADS_1


"Tolong! Jangan!" teriak si gadis sambil meronta. Tapi tak mampu melepaskan diri dari pegangan dua lelaki yang begitu kuat.


"Jangan dilewatkan begitu saja, ya, hahaha...!"


Lelaki yang di depan semakin brutal. Tangannya terus meraba sambil tertawa-tawa. Dua lelaki yang memegang juga keluarkan tawanya yang nyaring.


Ketika lelaki yang di depan hendak melucuti pakaian si gadis, saat itulah angin keras menderu menghantamnya hingga terpental jauh.


Wussh!


Desss!


"Uaakh!"


Dua lelaki yang sedang memegang bahu terkejut. Belum hilang terkejutnya tahu-tahu badannya mental ke samping. Pegangannya lepas.


Kejap berikutnya Adijaya sudah berdiri di depan si gadis.


"Ni Sanak tidak apa-apa?"


Sejenak si gadis tampak gugup.


"Terima kasih," ucapnya begitu sadar pemuda tampan dihadapannya adalah sang penolong.


"Mari ikut aku!"


Agak lama untuk sampai ke jalan walaupun dengan setengah berlari. Sebenarnya bisa saja Adijaya menggendong gadis itu sambil terbang. Namun, dia tidak ingin terlihat lebih mencolok.


Sampai di jalan langsung masuk ke kereta. Di dalam kereta si gadis sudah tampak tenang. Kereta melaju agak kencang. Adijaya duduk di dalam menemani gadis itu.


"Bagaimana Ni Sanak bisa sendirian di hutan?" tanya Adijaya.


"Tiga orang itu menculikku!" jawab si gadis agak gemetar.


"Menculik?"


Si gadi tidak segera menjawab. Seperti sedang menyusun kata-kata untuk memgutarakan cerita.


"Aku dan ibuku sedang mengunjungi pamanku yang sedang sakit di desa dekat hutan ini. Aku pernah mendengar di desa itu ada tiga lelaki tukang pemetik bunga..."


"Ni Sanak bukan warga desa itu?" sela Adijaya.


"Bukan,"

__ADS_1


"Biar kutebak, tiga laki-laki mesum itu melihat ada gadis asing di desanya lalu menculik Ni Sanak dibawa ke hutan,"


"Iya,"


Adijaya kerutkan kening. Senyum tipis tersimpul di sudut bibirnya.


"Oh, ya. Aku Adijaya kebetulan lewat sini mendengar suara orang minta tolong. Aku sedang menuju gunung Lingga,"


"Kisanak pasti seorang pendekar, dalam sekali gebrak saja sudah membuat mereka tersungkur,"


"Sedikit, siapa nama Ni sanak?"


Adijaya baru memandang lebih lama gadis itu. Gadis yang lumayan cantik. Wajar kalau tiga orang itu memburunya. Pakaiannya serba putih agak tipis sehingga samar-samar terlihat tubuhnya yang putih mulus. Rambutnya lurus panjang tergerai hingga ke punggung. Wajahnya bulat telur. Si pemuda sempat menelan ludahnya.


"Namaku Pancariti,"


"Kemana aku harus mengantar pulang?"


"Di ujung hutan ini ada sebuah desa. Kakang Adijaya cukup mengantar sampai sana,"


Adijaya sempat tercekat. Lalu dia mengeluarkan beberapa buah-buahan dari dalam kotak.


"Makanlah dulu!"


"Terima kasih banyak, kakang sudah menolongku. Kalau kakang berkenan mampir dulu ke rumah pamanku. Akan aku kenalkan pada paman dan ibuku,"


"Terima Kasih," Adijaya tersenyum canggung. Dia memelankan laju kereta.


Gadis bernama Pancariti itu tengah asyik menikmati buah-buahan yang dihidangkan Adijaya.


Sementara Adijaya beringsut ke depan. Ke tempat kasir sehingga dia memunggungi gadis itu.


Tiba-tiba saja dia merasakan ada hawa membunuh yang sangat dekat.


#####


Apa yang akan terjadi?


Jumpa lagi di petualangan Pendekar Payung Terbang.


Ikuti terus kisahnya!


Jangan sungkan-sungkan memberi vote, rate, like dan jadikan favorite.

__ADS_1


Salam.



__ADS_2