
Ketika yang lain meninggalkan hutan Gintung, Adijaya dan istrinya masih berada di sana hingga senja tiba. Mereka tidak di ruang dalam kereta, tidak juga di tempat kusir. Tapi mereka duduk berdua di atas atap kereta kuda.
Asmarini terbuai dalam pelukan suaminya. Mereka ingin menikmati suasana berdua saja. Menghirup udara hutan yang bersih dan segar. Melihat pemandangan sore yang indah.
"Kita kemana lagi, Kakang?"
"Aku merasakan ada panggilan ke arah barat,"
"Siapa yang memanggil, dua guriang pengikut Kakang?"
"Bukan, mereka sepertinya menikmati urusan mereka sendiri,"
"Lantas siapa?"
Adijaya eratkan pelukannya. Beberapa kejap dia ingat Puspasari dan juga Sekar Kusuma. Puspasari mungkin sudah bersuami sekarang. Atau bahkan sudah punya momongan. Mengingat sudah lama dia meninggalkan gadis itu.
Lalu Sekar Kusuma, apakah gadis itu telah menerima takdirnya? Mau membuka hati kepada lelaki lain? Sebagai lelaki wajar kalau dia menyukai banyak perempuan. Tapi akan terhormat kalau hanya setia kepada Asmarini.
"Panggilan alam, naluri kependekaran merasakan ada sesuatu yang harus diselesaikan di sana,"
"Apa Kakang sudah mempunyai gambaran?"
"Dulu aku terlibat sengketa di padepokan Karang Bolong. Dari permasalahan itu aku mengetahui tentang padepokan aliran hitam Gunung Sindu. Nah, entah kenapa aku merasa ingin berurusan dengan padepokan itu,"
"Aliran hitam?"
"Ya, sebelum ke sana aku ingin membuat Dinda lebih kuat lagi,"
Wajah Asmarini tampak sumringah. Dia merangkulkan tangannya ke leher sang suami. Dia senang atas cara suami melatih, menguatkan dan menambah tenaga dalamnya.
"Dengan cara yang indah, kan?"
"Tentu saja!"
"Aku sungguh bahagia jadi istri Kakang, pendekar terhebat!"
"Bagaimana Dinda bisa berpikiran seperti itu?"
"Yang aku lihat memang seperti itu. Aku ingat gurunya Ki Somara yang langsung kabur ketika melihat Kakang memegang payung. Itukan namanya menyerah sebelum perang,"
"Bisa juga dia sadar diri!"
Butuh beberapa saat sebelum gadis mungil ini tertawa renyah. "Tapi tidak seru kalau kabur duluan!"
__ADS_1
"Dinda tahu siapa dia?"
Asmarini menggeleng pelan. Tatapannya seakan ingin menembus sorot mata sang suami.
"Namanya aku tidak tahu, tapi dia murid padepokan Gunung Sindu,"
Asmarini membuka mulut hendak bicara, tapi keburu tertahan oleh sentuhan lembut bibir suaminya. Si gadis pasrah. Mereka saling memagut beberapa lamanya. Sampai gejolak makin membara, Adijaya membawa istrinya masuk ke ruang dalam.
Di dalam, hanya terdengar napas saling memburu. Kadang-kadang diselingi desahan, lenguhan bahkan pekik kecil. Bukan karena kesakitan. Tapi karena tak mampu menggambarkan keindahan dengan kata-kata.
Sebelumnya Adijaya memang pernah merasakan keindahan bersama wanita lain. Pertama kali dia menikmatinya bersama Kinasih. Waktu itu dia merasakan seolah-olah itulah yang paling indah, karena baru pertama kali.
Lalu saat bersama Santini, gadis pembunuh bayaran yang juga membawa malapetaka baginya. Dengan gadis itu, murni hanya gelora kelelakian yang tak mampu dibendungnya.
Sedangkan Asmarini, gadis yang menjadi istrinya ini ternyata memberikan pelayanan yang lebih. Yang dilakukan dengan sepenuh cinta. Walaupun di awal-awal sempat kaku juga karena si gadis masih perawan.
Dan yang paling indah, mereka sama-sama memainkan peran dengan baik sehingga memperoleh kepuasan bersama-sama. Apalagi ini dipakai sebagai cara menambah tenaga dalam buat Asmarini.
Putaran pertama telah diraih. Sepasang suami istri ini sama-sama terkulai lemas dengan rona wajah bahagia. Mereka saling berpelukan. Udara dingin seakan tidak mau masuk ke dalam ruangan yang terasa panas.
Panas yang nikmat.
...***...
Padepokan Gunung Sindu. Sesuai namanya, letaknya berada di lereng gunung. Gunung yang tersembunyi di antara gunung-gunung lain yang lebih tinggi. Hanya sedikit orang yang mengetahui tempat itu.
"Gentasora, akhirnya tapamu berhasil membangunkan aku!"
Terdengar suara besar yang menggema di dalam goa itu. Suara yang entah dari mana asalnya. Suara yang mampu menggetarkan ruangan goa yang tidak terlalu besar itu.
"Hamba sangat memerlukan bantuan Eyang," ucap Gentasora pelan, berusaha menenangkan dirinya. Karena dalam hatinya berdebar kencang meskipun dia telah memiliki kekuatan besar.
Lalu terdengar suara tawa membahana. "Manusia memang serakah, ketika kekuatan sendiri tidak mampu, maka meminta bantuan kepada mahluk lain, hahaha...!"
Gentasora menunduk. Sepasang telapak tangannya merapat membentuk sembah. Posisinya tetap bersila. Udara di dalam ruangan terasa panas bagaikan dipanggang di atas bara. Kalau tidak menggunakan tenaga dalam sudah pasti tubuhnya akan hangus.
"Akan hamba berikan semua permintaan Eyang,"
"Apa yang kau inginkan?"
"Hamba bercita-cita ingin menjadi yang terkuat di dunia persilatan. Namun, ada seseorang yang menghalangi niat hamba. Namanya Pendekar Payung Terbang...."
"Apa yang kau takutkan darinya?"
__ADS_1
"Hamba tidak takut kepada orangnya, tapi dia mempunyai guriang pendamping..."
"Oh, hohoho.... Jadi kau ingin aku melenyapkan mahluk sebangsaku itu?"
"Benar, Eyang!"
"Hanya itu?"
"Iya, biar orangnya hamba yang menghadapi,"
"Baik, tapi kau harus sanggup memenuhi syaratku!"
"Hamba siap!"
"Bagus, tunggulah aku akan datang lagi meminta syarat!"
Terdengar lagi suara tawa menggelegar Eyang yang ternyata mahluk guriang sebelum lenyap dan suasana dalam goa kembali seperti semula.
Gentasora menarik napas lega. Hatinya senang setelah lama bertapa agar bisa memanggil mahluk guriang akhirnya tercapai juga.
Dulu dia memutuskan mundur ketika melihat Adijaya mengeluarkan Payung Terbang. Sejak saat itu dia ingin sekali mempunyai guriang yang akan membantu cita-citanya.
"Saatnya melanjutkan cita-cita yang sempat terhenti!" Gentasora bangkit dari duduknya lalu meninggalkan goa itu.
...***...
Saking semangatnya, entah sudah berapa kali putaran dalam semalam sepasang suami istri ini memadu cinta yang menggebu-gebu. Sampai keesokan harinya saat Carangcang Tihang mereka baru terbangun.
"Kita cari sungai atau pancuran untuk mandi, Kakang!"
"Baiklah!"
Adijaya beringsut ke tempat kusir, lalu menarik tali kekang. Kereta kuda pun melaju pelan menyusuri pinggiran hutan Gintung ke arah barat. Ternyata di ujung hutan sebelah barat ada sebuah sungai kecil berair jernih.
Sepasang suami istri segera membersihkan diri bersama-sama. Mereka mandi sambil bercanda ria. Tak peduli tubuh mereka polos tanpa sehelai benang. Mereka meluapkan kegembiraan sambil tertawa-tawa.
Di hari yang terang, ternyata tubuh Asmarini begitu terlihat indah. Adijaya menelan ludah beberapa kali. Sebab selama ini dia melihatnya dalam suasana temaram di dalam kereta. Gai rahnya bangkit lagi.
Segera dia tarik gadis itu ke dalam pelukannya dan langsung pasrah. Tapi mereka hentikan pekerjaannya ketika mendengar suara merintih seperti kesakitan.
"Tolong, Ki Sanak berdua, tolong saya!"
Asmarini dan Adijaya mengitarkan pandangan mencari sumber suara.
__ADS_1
"Naiklah, maka kalian akan menemukan saya. Mohon tolong saya!"