Pendekar Payung Terbang

Pendekar Payung Terbang
Kemarahan Rangrang Geni


__ADS_3

Betapa girang tak terkira perasaan Rangrang Geni. Hanya melalui sedikit kesulitan, dia berhasil meraih apa yang diinginkan. Dua mahluk guriang dari golongan atas.


Pemuda ini memandang Padmasari dan Ki Santang yang berdiri mematung tanpa ekspresi. Senyumnya tersungging lebar penuh kemenangan.


"Sekarang kalian menjadi pengikutku, turuti semua perintahku!" Suaranya menekan keras, mengintimidasi.


Mereka tetap terdiam. Rangrang Geni tak peduli. Mungkin mereka perlu menyesuaikan diri dengan pengaruh barunya. Lagi pula dengan buhul saktinya, mereka tak akan bisa melawan. Lalu pemuda ini memeriksa tubuh Adijaya.


"Kau memiliki tubuh istimewa, aku akan merebusmu!" Pemuda ini membayangkan kekuatan besar yang akan dimilikinya setelah meminum rebusan tubuh Adijaya. Senyumnya semakin lebar.


Beralih ke Asmarini, Rangrang Geni lepaskan tali pengikat hanya dengan sekali kibas. Gadis mungil itu juga diam dengan tatapan kosong. Tatapannya menyapu tubuh mungil tapi indah itu dari atas kebawah. Dia menelan ludah.


"Aku suka padamu, kau akan jadi pendampingku!" Seketika tatapan penuh birahi memancar dari matanya.


Kembali tawanya melengking menembus langit. Saat ini dia merasa menjadi orang terkuat. Siapapun tak akan ada yang berani menentangnya. Selain Laskar Rangrang Geni yang berupa pasukan manusia. Dia juga bisa menciptakan pasukan dari kalangan guriang atau siluman.


Tiba-tiba terdengar Ki Santang dan Padmasari berbincang-bincang pelan. Rangrang Geni hentikan tawanya.


"Sudah?"


"Aku kira sudah, kita sudah cukup lama bersandiwara!"


Rangrang Geni tak mengerti pembicaraan mereka. Seperti tidak mempedulikan keberadaannya. Dia hendak bertanya, tapi ada suara lain menyahut.


"Iya, aku juga sudah lelah!"


Kedua mata pemuda ini mendelik ketika Asmarini berbicara seperti tidak dalam pengaruh sihirnya. Wajah yang tadinya pucat kini berseri. Dia juga sama, seolah-olah tidak melihat Rangrang Geni.


"Kita bebas sekarang!" Arya Sentana bangkit.


Orang-orang Laskar Rangrang Geni juga tampak terkejut melihat apa yang terjadi. Mereka sama bingungnya dengan majikan mereka.


Rangrang Geni semakin bingung dengan apa yang dia lihat. Praba Arum, Sekar Kusuma bahkan Adijaya juga bangkit lagi dalam keadaan utuh tanpa satu luka apapun.


"Kita bebas, kita bisa pulang dengan aman!"


Suara Padmasari tiba-tiba berubah. Rangrang Geni menoleh. Dia terkejut bukan main. Padmasari dan Ki Santang kini berubah menjadi Magada dan Pancala. Lalu menoleh lagi ke yang lain.


Semua berubah menjadi guriang-guriang pengikutnya. Perasaan kemenangannya mendadak berubah menjadi kecut. Entah perasaan seperti apa yang melanda hatinya sekarang.


Kejap berikutnya dia baru sadar kalau dirinya telah ditipu mentah-mentah. Siapa yang telah berani kepadanya? Dia sama sekali tidak curiga dengan kemudahan yang dia dapat.

__ADS_1


Ada rasa menyesal juga tidak melibatkan guriang pengikutnya sejak awal. Dia hanya fokus kepada Adijaya agar menyerahkan Ki Santang dan Padmasari.


"Apa ini?"


"Kami bebas, bukan lagi pengikutmu!" jawab Magada.


"Bagaimana bisa?"


Rangrang Geni ucapkan mantera dalam hatinya. Jari-jarinya meraba sesuatu di ikat pinggangnya. Itu adalah mantera pengendali yang berhubungan dengan buhul saktinya.


Tetapi setelah beberapa saat tidak melihat ada reaksi apapun dari guriang-guriang itu. Mereka benar-benar telah lepas dari jeratan buhulnya.


"Sudah kubilang, kami sudah bebas!"


"Siapa yang melakukannya!" Amarah Rangrang Geni langsung memuncak.


"Tentu saja Santang dan Padmasari!" Pancala menjawab. "Mereka menjanjikan kebebasan bagi kami jika mau membantu sedikit pekerjaannya,"


"Sekarang kau tak bisa melakukan apa-apa lagi terhadap kami. Bahkan kalau kami mau, kau bisa saja kami siksa di alam kami selamanya dan tak bisa kembali lagi ke alammu!"


"Tapi pemuda bernama Adijaya itu sangat baik hati, dia memberimu kesempatan bertobat!"


Setelah itu semua guriang yang malih rupa itu menghilang dalam sekejap kembali ke alam mereka. Tinggal Rangrang Geni yang tampak bergetar hebat karena amarahnya memuncak.


Jika sebelumnya Rangrang Geni tertawa sepuas-puasnya sekarang dia menjerit sekencang-kencangnya hingga mengguncangkan tempat itu. Dua ratus pengikutnya yang tergabung dalam Laskar Rangrang Geni seketika berkumpul di hadapannya sambil berlutut.


"Keluarkan seluruh kemampuan kalian, kita akan menyerbu padepokan Linggapura dan padepokan-padepokan lain di sekitarnya. Adijaya harus menerima balasan yang lebih mengerikan!"


Bukannya jera karena ternyata tidak mampu menyingkirkan Adijaya. Malah dendam setinggi langit sedalam lautan begitu mudah merasuki dirinya. Pada dasarnya sulit mengubah hati yang sudah tenggelam dalam ilmu hitam.


Rangrang Geni yakin, walaupun sudah tidak didukung mahluk alam lain dia masih bisa mengandalkan laskarnya. Orang-orang yang tergabung dalam laskarnya kebanyakan pendekar tangguh.


Sebenarnya dia masih bisa mencari siluman atau guriang lain untuk dijerat dengan buhul saktinya. Namun, menemukan mahluk itu sangat sulit dan belum tentu dalam waktu singkat bisa mengumpulkan banyak.


Sekarang tujuan utamanya menghancurkan padepokan Linggapura sebelum Adijaya sampai ke sana. Maka malam ini juga Laskar Rangrang Geni langsung bergerak.


...***...


"Kenapa kau senyum-senyum sendiri?" tanya Padmasari ketika melihat Ki Santang.


"Aku sedang membayangkan bagaimana raut muka semut rangrang itu,"

__ADS_1


Lalu mereka tertawa bersama. Tawa yang hanya bisa didengar Adijaya.


"Aku kira kau sedang menghayati kecantikanku!"


"Weh, kalau itu beda lagi senyumnya!"


"Seperti apa?"


Lalu Ki Santang menunjukan senyum lelaki yang penuh kasmaran. Padmasari sempat terpana melihatnya. Lalu segera dia menepuk pipi lelaki itu.


"Aduh, kamu kenapa?"


"Sudah, aku percaya padamu. Ada hal lain yang harus juragan kita ketahui!"


"Apa lagi?"


"Rangrang Geni tidak kapok, malah menjadi dendam kesumat!"


"Tidak aneh, hanya juragan kita yang terlalu baik. Rangrang Geni yang kejahatannya sudah menyakiti kaum kita juga, masih diberi kesempatan. Kalau aku, sudah kukurung sukmanya di penjara alam kita!"


"Apa yang dia rencanakan?" tanya Adijaya.


"Dia akan menyerang padepokan. Dia mempunyai pasukan yang bernama Laskar Rangrang Geni. Jumlahnya sudah mencapai dua ratus orang dan kemungkinan akan bertambah dengan menaklukan padepokan-padepokan kecil,"


"Juragan harus cepat sampai ke padepokan!"


"Iya, pergerakan mereka sangat cepat!"


"Bagaimana caranya agar bisa cepat sampai?" tanya Adijaya lagi.


"Mau tidak mau, harus pake cara kami!" jawab Padmasari.


Adijaya yang menurut pandangan manusia terlihat sedang tertidur menyandar ke pohon. Asmarini terbaring di pangkuannya. Tapi di alam lain sedang bercakap-cakap dengan Ki Santang dan Padmasari.


"Juragan harus melewati Jalur Lorong Waktu, maka dalam waktu sangat cepat sudah sampai di padepokan," jawab Ki Santang.


"Jalur Lorong Waktu?"


"Nanti kalau mereka sudah bangun, Juragan bawa mereka ke jalan yang sudah aku siapkan."


Keesokan harinya ketika semuanya sudah siap melanjutkan perjalanan. Adijaya berjalan paling depan bersama Asmarini. Ketika memasuki jalan yang sudah ditandai Padmasari, Arya Sentana berkomentar.

__ADS_1


"Rasanya itu bukan jalan menuju pulang!"


__ADS_2