
"Pendekar Cambuk Api diuntungkan oleh senjatanya yang mampu menjangkau lebih jauh," Adijaya berpendapat. "Si Cakar Hitam akan kesusahan mendekati lawan. Karena kelebihan dia adalah bertarung dalam jarak dekat."
"Kau sudah menebak siapa yang akan menang?" tanya Puspasari.
"Tak membutuhkan waktu lama, Si Cakar Hitam kalah!"
Benar juga kata Adijaya, karena keadaan yang menguntungkan bagi Pendekar Cambuk Api. Akhirnya senjata itu memakan korban, sabetannya yang cepat disertai hembusan angin yang kuat berhasil mengenai punggung lawan.
Akibatnya Si Cakar Hitam mencelat ke luar panggung dan jatuh bergulingan di tanah. Beruntung tidak menggelinding ke bawah akibat tanah yang miring.
Si Cakar Hitam bangkit lalu mencari tempat untuk menyembuhkan lukanya.
Di atas panggung Pendekar Cambuk Rotan tersenyum puas atas kemenangannya. Dia menunggu siapa yang akan jadi lawan berikutnya.
Jlekk!
Satu orang sudah berdiri di panggung. Dia membawa sebuah tongkat yang panjangnya setinggi tubuhnya terbuat dari perak.
"Pendekar Tongkat Perak!"
Beberapa orang menyebut nama lelaki tinggi kurus berpakaian serba ungu itu.
Bagaikan sudah ada aba-aba sebelumnya, dua pendekar ini mulai tunjukan jurus-jurus andalannya. Dua senjata mereka sama-sama bisa menjangkau jarak yang jauh.
Setiap sambaran cambuk bisa dimentahkan oleh tangkisan tongkat, dan setiap sodokan tongkat bisa dikibaskan oleh cambuk. Begitu terus sampai sepuluh jurus berlalu. Diantara mereka belum ada yang terkena amukan senjata masing-masing.
"Hanya yang lebih cepat dan kuat akan memenangkan pertandingan." ujar Adijaya.
"Senjata cambuk terlihat lebih luwes dan cepat sementara tongkat itu kelihatan kaku atau memang karena penguasaan jurusnya yang belum sempurna?" timpal Puspasari.
Kembali ke panggung. Masih seperti tadi saling menyabetkan senjata masing-masing. Tapi kali ini Pendekar Cambuk Api membuat gerakan berbeda. Dia menyabetkan cambuknya dari arah samping seperti menebas pohon.
Dan sudah diduga Pendekar Tongkat Perak akan menahan dengan tongkatnya tapi dia tertipu. Saat beradu, kalau sebelumnya cambuk itu akan mental kembali tapi kali ini ternyata cambuk itu malah melilit tongkatnya.
Dalam terkejut segera dia tarik tongkat melepaskan dari lilitan cambuk. Tapi apa yang terjadi? Tenaganya tak mampu mempertahankan senjatanya. Cambuk itu berhasil menarik lepas tongkat di tangannya. Lalu Pendekar Cambuk Api memutar senjata sangat cepat kemudian disabetkan ke tubuh lawan.
Wuuuk!
Breet!
Takk!
Brukk!
__ADS_1
Pendekar Tongkat Perak yang terkena sabetan cambuk ditambah hantaman tongkatnya sendiri karena senjata itu masih terlilit di ujungnya terpental hingga tersuruk berguling-guling di tanah miring.
Untung menghantam pohon, kalau tidak mungkin badannya akan terus menggelinding ke bawah. Orang ini segera duduk mengatur pernapasan. Badannya terasa remuk dan terluka di bagian dalam.
Dua orang telah kalah. Pendekar Cambuk Api semakin lebar senyumnya. Orang-orang terdengar berbicara tak jelas karena suasana menjadi ramai.
"Hebat juga Pendekar Cambuk Api," puji Puspasari.
"Siapa lagi yang akan maju?" teriak lelaki kurus berbaju hijau di antara kerumunan orang.
Lalu majulah orang tinggi besar yang membawa golok besar dan panjang.
"Si Golok Buta!"
Seru salah seorang, buta disini bukan berarti tak bisa melihat. Tapi Buta yang artinya Raksasa atau Denawa. Seperti sosoknya yang tinggi besar. Wajah seram berewokan persis seperti raksasa. Ditambah senjatanya juga sebuah golok ukuran besar.
"Kali ini Pendekar Cambuk Api mendapat lawan tangguh." kata Adijaya.
"Sepertinya akan kalah." ujar Puspasari.
Pertandingan pun dimulai. Si Golok Buta sesuai namanya dia memiliki tenaga yang besar juga sehingga Pendekar Cambuk Api cukup susah menghadapinya. Cambuknya sering tertangkap oleh tangan besar lawannya, dan harus keluar tenaga besar untuk melepaskannya
Akibatnya tenaganya jadi berkurang walau sudah dilapis dengan tenaga dalamnya tetap saja tak mampu mengimbangi.
Pemenang baru di atas panggung. Si Golok Buta. Melihat sosoknya yang seperti raksasa belum ada lagi yang berani maju menantang.
Cukup lama menunggu siapa penantang selanjutnya. Puspasari bertanya kepada sahabatnya. "Apa kau tidak hendak naik panggung?"
"Belum saatnya,"
"Belum saatnya? Ini tugas dari Nini Bedul, bukan?"
"Ya, tapi aku masih curiga kepada orang itu,"
"Siapa?"
"Yang mengusulkan sayembara ini,"
"Lelaki kurus berbaju hijau itu?"
Adijaya mengangguk. "Kita lihat sampai akhir, aku akan memberitahu sesuatu padamu!"
Hari sudah beranjak siang. Walaupun cahaya matahari memancar menembus lereng gunung, tapi udara masih terasa dingin. Waktu berlalu, sudah sembilan orang tak mampu mengalahkan Si Golok Buta.
__ADS_1
Sampai tengah hari tiba, sudah tak ada lagi yang maju melawan si raksasa itu. Begitu pula Adijaya, tidak segera maju menunaikan tugas gurunya. Tapi kali ini Puspasari tak bertanya lagi.
"Jika tidak ada lagi yang mau maju, maka saya tetapkan Si Golok Buta pemenangnya!" teriak si kurus berbaju hijau.
Si Golok Buta tertawa lebar merasa puas menjadi pemenang. Lalu dia mendekati batu yang tertancap pedang. Dia meletakan goloknya lalu tangan kanannya mencabut pedang pusaka itu.
Alangkah kagetnya ketika tangannya tak mampu menarik pedang itu. Bahkan oleh dua tangannya yang besar sekaligus tetap tak mampu. Pedang itu bergeming di tempatnya. Sampai dia berteriak dan keringat bercucuran tetap tak ada perubahan.
"Golok Buta, kau telah dibohongi!" teriak seseorang. Suara wanita. Ternyata Puspasari.
Semua orang memandang ke arah gadis jangkung ini. Seperti bertanya apa maksudnya.
"Kalian semua telah dipermainkan orang itu!" Puspasari menunjuk lelaki kurus berbaju hijau.
"Apa maksudmu?" sentak si kurus wajahnya mendongak karena si gadis lebih tinggi darinya.
"Pedang pusaka itu hanya bisa dicabut oleh orang yang berjodoh dengannya," Puspasari menerangkan.
"Dusta, tahu apa kau soal pedang itu?" bentak si kurus lagi.
"Akan aku buktikan, Ki Sanak dan Ni Sanak semua bisa mencoba mencabut pedang itu secara bergiliran..."
"Jangan percaya pada omongan busuknya, Golok Buta, pedang itu milikmu silakan bawa!"
"Tapi aku benar-benar tak bisa mencabutnya," sahut Si Golok Buta di sebelah sana kelelahan bermandikan keringat.
Orang-orang bergumam banyak yang membenarkan perkataan Puspasari.
"Gadis ini mungkin benar, kita coba saja sarannya!" kata salah seorang.
"Ya..ya..betul!"
Si kurus jadi merah wajahnya kebingungan apa yang mau dilakukan.
Akhirnya satu persatu orang-orang yang hadir mencoba mencabut Pedang Guntur dari batu itu. Sampai orang terakhir kecuali tiga orang: Adijaya, Puspasari dan si kurus. Semuanya tak ada yang bisa mencabutnya.
"Ni Sanak mau mencobanya?" saran salah seorang kepada Puspasari.
"Aku!" Adijaya maju langsung mendekati batu berpedang. Tanpa ragu pemuda ini langsung mencabutnya, dan...
Sring!
Semua orang melongo tak terkecuali si kurus karena sebenarnya dia tahu pedang itu tak bisa dicabut sembarang orang.
__ADS_1