
Suatu siang di sebuah kedai.
Seorang lelaki setengah baya sedang menikmati makanannya. Sebenarnya dia sedang menunggu seseorang yang dijanjikan akan menemuinya hari itu. Namun, sudah hampir habis makanannya orang itu belum menunjukkan batang hidungnya.
Baru setelah tak bersisa lagi karena perutnya lapar juga, seseorang menghampiri langsung duduk di sebelahnya.
Seorang kakek.
Kakek ini menunjukan sebuah pisau kecil sebagai tanda pengenal.
"Aku mempunyai tugas untukmu," kata kakek itu.
Si lelaki yang baru selesai makan tak bertanya. Dia lebih baik menunggu si kakek melanjutkan bicaranya.
"Antarkan surat ini ke Tuan Besar," si kakek menyerahkan sebuah gulungan rontal kecil.
Lelaki setengah baya ini langsung menerimanya sambil menundukkan kepala.
"Segera kembali setelah tugas selesai!"
Si kakek ini berdiri lalu beranjak pergi.
***
Begitulah cerita Adijaya ketika berpura-pura menjadi komplotan para penguntitnya.
"Bagaimana kau bisa mengetahui dia bagian dari komplotan?" tanya Cakra Diwangsa.
"Diam-diam aku selalu mengintai pergerakan mereka. Mereka selalu bertemu di sebuah kedai, dan tentu saja tidak mencurigaiku yang berpenampilan pengemis,"
Selain itu karena pendengaran Adijaya yang sangat tajam, jadi tahu orang-orang yang sedang membicarakannya.
"Selanjutnya bagaimana?"
"Kita tetap menyamar. Gantian kita yang menguntit sampai ke tempat mereka."
***
Padepokan Sanca Wulung.
Ki Sanca tampak marah-marah kepada dua orang murid pentolannya. Wirat dan Soka. Mereka berdua yang memimpin murid-murid lain untuk menggagalkan rencana Cakra Diwangsa dan Adijaya.
"Kenapa kalian malah kembali? Belegug, sia!" damprat Ki Sanca.
"Mereka sudah kehilangan jejak, sudah tersesat," kilah Wirat.
__ADS_1
"Justru kalian yang kehilangan jejak! Iya, kan?"
Wirat dan Soka tak menjawab. Mereka menunduk. Wirat berkata demikian karena semua orang yang mengetahui tentang padepokan Sanca Wulung telah dilenyapkan. Mereka tidak tahu, salah satu dari dua wanita Lembah Kupu-kupu masih selamat, yaitu Miranti. Karena hanya dua wanita itu yang tahu.
Padepokan Sanca Wulung sengaja tidak memperkenalkan diri ke dunia luar. Karena murid-muridnya dididik untuk menjadi pendekar bayaran. Hanya orang-orang tertentu saja yang mengetahuinya.
Itulah kenapa mereka selalu berusaha mencegah Adijaya dan Cakra Diwangsa menyambangi padepokan itu.
Awalnya mereka mendapatkan keterangan dari 'Tuan Besar' -dalam hal ini orang yang membayar mereka- bahwa Cakra Diwangsa sedang mencari Jaladipa dan Singgih.
Sayangnya murid yang menyusup ke Lembah Kupu-kupu berlaku ceroboh. Membunuh dengan senjata yang menjadi lambang padepokan.
Makanya Wirat dan komplotannya melenyapkan orang-orang yang tahu tentang lambang itu. Untuk itu dia segera melaporkan kepada Ki Sanca. Ternyata malah marah-marah.
"Kalian terkecoh! Sangat belegug! Pemuda yang berjuluk Pendekar Payung Terbang itu banyak akalnya,"
"Kalau mereka kemari, tinggal lawan saja, siapa takut?" sesumbar Soka.
"Kau pikir aku takut!" sentak Ki Sanca lebih keras lagi membuat badan Soka jadi mengkerut. "Bukan itu masalahnya!"
Seorang murid muncul menghampiri mereka. Sepertinya hendak menyampaikan sesuatu.
"Ada tamu, guru," katanya.
"Ayo, sekarang kita lihat!"
"Astaga!" Wirat terkejut.
"Apa aku bilang?" sahut Ki Sanca.
"Dua kakek pengemis itu sering aku lihat di jalan. Tapi mereka selalu jalan berjauhan. Rupanya...." Wirat menggantung kata-katanya.
"Salah satunya yang memberikanku surat untuk Tuan Besar," kata Soka juga.
"Aku tidak mempunyai murid yang sudah bangkotan!"
"Kukira sedang menyamar." batin Soka karena takut didamprat lagi.
Dua orang murid Ki Sanca ini tampak mendesah seperti menyesali sesuatu. Tapi pada dasarnya mereka tak terpikirkan ke arah situ. Mereka hanya menjalankan tugas.
Ki Sanca maju satu langkah sambil bersuara yang mengandung tenaga dalam.
"Sudahlah, tidak perlu menyamar lagi!"
Dua orang di pintu gerbang melepaskan rambut, kumis dan jenggot palsunya. Juga baju yang penuh tambalan. Sekarang nampak sosok aslinya, Adijaya dan Cakra Diwangsa.
__ADS_1
"Kami hanya ingin membawa Jaladipa dan Singgih ke kota raja!" balas Adijaya dengan suara bertenaga dalam juga.
"Lakukanlah secara pendekar!" tantang Ki Sanca.
Karena Ki Sanca juga ingin menjajal kehebatan Adijaya yang konon kabar yang dia dengar telah mempecundangi Ki Rampal dan murid-muridnya.
"Tidak masalah, asal tepati janji!"
"Kau akan melakukan secara cepat atau lambat?" tanya Cakra Diwangsa. Yakin kalau pertarungan akan dimenangkan Adijaya.
"Saya belum banyak pengalaman bertarung, Raden. Saya ingin mengetahui ilmu-ilmu silat lebih banyak lagi,"
"Aku yakin, kau pasti menang!"
Adijaya tersenyum lalu melangkah masuk ke halaman padepokan di mana Ki Sanca sudah berdiri di tengah-tengah. Dalam jarak dua tombak Adijaya berhenti. Berhadap-hadapan dengan penantangnya yang baru kenal dan pertama kali bertemu.
Ki Sanca memiliki tubuh gemuk tapi tidak pendek. Kulitnya agak hitam. Rambutnya yang sudah dua warna digelung. Tapi kumis tebalnya yang melintang bagai golok melengkung masih berwarna hitam. Wajahnya lebih seram lagi karena memiliki kedua mata cekung. Kalau melihat sekilas seperti rongga kosong saja.
Adijaya ambil kuda-kuda duluan. Kuda-kuda ciptaannya yang tampak biasa saja. Padahal dia telah menghimpun tenaga dalamnya. Hawa saktinya memancar membuat Ki Sanca terpana.
Tentu saja karena dengan begitu, pimpinan padepokan Sanca Wulung ini bisa mengukur kekuatan lawan.
"Sukar dipercaya kalau tidak melihat sendiri, anak ini sungguh luar biasa." batin Ki Sanca.
Kali ini Adijaya mulai bergerak menyerang lebih dulu. Dia ingin melihat seperti apa sambutan yang diberikan lawan. Adijaya melepaskan sebuah tinju dari pola jurus Pukulan Dewa Tunggal milik padepokan Linggapura. Tentu saja dia bisa menguasainya walau tidak belajar langsung.
Ki Sanca mengenal jurus ini. Dengan tenang dia menanti pukulan itu datang. Satu jengkal sebelum mengenai wajahnya yang jadi sasaran, Ki Sanca miringkan kepala.
Wuk!
Pukulan lewat di samping mengenai angin. Tapi sambaran anginnya begitu kuat.
Adijaya mengirim serangan susulan. Empat sampai lima gerakan dalam sekejap. Ki Sanca masih dengan gerakan menghindar saja. Sama cepatnya. Sepertinya dia ingin melihat seberapa kuat jurus yang dimainkan lawan.
"Sempurna." batin Ki Sanca. "Pendekar Tinju Dewa saja tidak sesempurna ini."
Pendekar Payung Terbang terus mencecar Ki Sanca dengan jurusnya. Sementara orang tua itu masih leluasa bergerak meliuk-liuk bagai ular berhasil menghindari semua serangan lawan. Sampai sepuluh jurus Ki Sanca belum tersentuh lawan.
Adijaya sebenarnya sengaja. Dia bisa melihat gerakan menghindar lawannya pasti merupakan sebuah jurus. Seperti ular. Lalu dia ingat nama lawannya. Mungkin itu hanya nama julukan saja karena jurus-jurusnya yang seperti ular.
Lewat tiga jurus berikutnya tempo gerakan Adijaya lebih cepat lagi. Pemuda ini hanya mengulang-ulang jurus Pukulan Dewa Tunggal. Hawa sakti yang menyertai gerakan jurusnya semakin tebal. Ki Sanca mulai terdesak.
Guru besar padepokan Sanca Wulung mulai menggunakan tangannya untuk menangkis atau memapas serangan. Lebih parahnya dia harus melapisi dengan tenaga dalam lagi.
#mohon maaf baru update, soalnya sibuk "ngobeng" di rumah saudara yang mau nikahan.
__ADS_1
Simak terus kisah ini, biar semangat kasih rate, like dan juga vote.
Sampurasun.