Pendekar Payung Terbang

Pendekar Payung Terbang
Pembalasan Ki Somara


__ADS_3

Ki Somara berniat membawa pulang anaknya. Dia akan meminta gurunya untuk mengobati sebisa mungkin agar sembuh seperti sedia kala. Hatinya sangat terpukul mendapati nasib yang menimpa anaknya.


"Kupra!" panggil Ki Somara.


"Saya, Juragan!"


Kupra adalah pemimpin anak buahnya. Dia paling sakti ilmunya dan sangat dipercaya Ki Somara maupun Raksana karena kesetiaannya. Kupra sudah mengabdi sejak Raksana masih kecil.


"Aku ingin bicara empat mata!"


Ki Somara mengajak Kupra masuk ke kamar lain yang tidak ditempati.


"Rahasiakan kepergianku, jangan sampai anak buahmu tahu apalagi warga desa!" pesannya. Dia takut ada gejolak yang tak diinginkan seandainya warga tahu dia dan anaknya tidak ada.


"Baik, Juragan!"


Kemudian pagi-pagi buta saat hari masih gelap. Ki Somara melesat cepat di jalanan sepi sambil menggendong putranya. Dia menuju ke rumahnya yang berada di desa tetangga.


Saat ini di rumahnya hanya ada sepasang suami istri yang sudah paruh baya yang menjadi pembantunya. Dan satu orang lagi yang selalu bersemedi di kamar khusus, yaitu guru mereka.


Waktu carangcang tihang, Ki Somara telah sampai. Dia langsung masuk ke kamar khusus gurunya.


"Mohon ampun, Guru. Anakku dalam bahaya. Bisakah Guru menolongnya?" pintanya dengan suara sehalus mungkin agar gurunya tidak terganggu atau tersinggung.


Seorang kakek berpakaian kelabu yang duduk bersila sambil memejamkan matanya hanya mengangguk pelan. Kemudian Ki Somara membaringkan Raksana di depan si kakek.


Setelah membungkuk hormat, Ki Somara undur diri. Tak mau mengganggu lebih lama. Gurunya sedang memantapkan ilmunya. Bila berhasil, maka dia juga akan mewarisinya. Tapi perasaan hampa menyelimuti dirinya.


Dia mengkhawatirkan Raksana. Melihat luka anaknya, rasanya begitu menyayat hati. Entah masih ada harapan atau tidak sama sekali. Dia berjanji akan mencincang orang yang telah mencelakakan anaknya.


Kemungkinannya hanya satu, yaitu gadis bertubuh mungil itu. Sungguh tidak disangka. Belum satu hari penuh anaknya menguasai desa tetangga, sudah mengalami nasib sial.


Apakah karena terburu-buru mengambil tindakan? Siapa gadis mungil itu? Siapa juga pemuda yang dijumpai anak buahnya? Apakah mereka mempunyai kerabat di desa itu?


Tidak mungkin hanya kebetulan lewat, terus ikut campur urusannya. Dari mana mereka tahu masalah ini? Lalu Ki Somara teringat pada dua anak Ki Wardana yang masih diluar desa.

__ADS_1


Tiba-tiba telinganya mendengar suara halus memanggilnya.


"Guru!" desisnya sembari melangkah menuju kamarnya.


Kakek yang rambut, kumis dan jenggot yang agak tebal berwarna sama dengan bajunya sudah membuka kedua matanya. Rambutnya riap-riapan tergerai. Wajahnya keriput menonjolkan tulang pipi dan lingkaran mata yang cekung.


"Organ pentingnya hancur, tidak ada satu ilmupun yang mampu menyembuhkannya. Dia masih bisa hidup, tapi tidak ada harapan memiliki keturunan,"


Ki Somara rapatkan gigi, kepalkan tangan begitu mendengar penjelasan gurunya. Kematian terlalu enak bagi yang telah membuat anaknya menderita seumur hidup.


"Dia sebenarnya bukan tandinganmu, tapi suaminya yang lebih berbahaya. Aku belum mampu mendapatkan keterangan banyak tentang dia,"


"Apa yang harus aku lakukan?"


"Lakukan dengan cara yang sama. Dia menyiksa anakmu tanpa kau ketahui langsung. Begitu juga kau, balaskan dendammu tapi jangan sampai semuanya tahu, kecuali dia sudah hancur!"


Ki Somara menahan napasnya. Kedua matanya agak menyipit. Ini berarti dia harus menjauhkan perempuan itu dari suaminya terlebih dahulu. Dia akan mengandalkan anak buahnya sebisa mungkin.


"Bagaimana kalau suaminya menuntut balas?" tanya Ki Somara kemudian.


Mendengar jawaban ini Ki Somara tampak puas. Lalu dia memanggul anaknya lagi. Dia menyuruh sepasang pembantunya untuk merawat Raksana. Sepasang suami istri yang ditemukan terlunta-lunta di jalan. Sepertinya mereka telah kehilangan semua miliknya yang berharga, sehingga hidup di jalanan tanpa arah.


Kemudian Ki Somara kembali ke desa Rancawangi. Kali ini dia berjalan kaki saja. Maksudnya sambil mencari keberadaan Asmarini yang katanya ada di dekat kedai pinggir jalan.


Namun, setelah sampai di sana, kedai itu tampak sepi. Ki Somara langsung menemui pemilik kedai. Mereka tampak ketakutan begitu melihatnya.


"Tidak perlu takut!" seru Ki Somara. "Sampaikan kepada gadis yang telah mencelakai anakku, kalau dia berani jangan tanggung-tanggung!"


Lelaki paruh baya itu keluar lagi meninggalkan kedai. Dia tahu pemilik kedai akan berusaha menyampaikan pesannya. Walaupun tidak diancam, tapi tahu akibatmya nanti.


Sampai di rumah Ki Wardana disambut keterkejutan anak buahnya karena mereka yang tahu majikannya ada di dalam tiba-tiba datang dari luar.


"Kalian tidak usah terkejut, sekarang kumpulkan semua warga di alun-alun desa!"


Serentak semua anak buahnya bergerak ke sana kemari mendatangi setiap rumah penduduk dan memaksa mereka keluar. Disuruh kumpul di alun-alun.

__ADS_1


Butuh waktu lama untuk mengumpulkan warga karena desa ini wilayahnya cukup luas. Setelah tengah hari baru terkumpul.


Ki Somara berdiri di sebuah podium di depan para warga. Anak buahnya berjaga-jaga di segala penjuru. Dengan suara lantang dia mulai bicara.


"Mulai hari ini, kebun, ladang dan huma juga hewan ternak yang kalian punya semuanya menjadi milikku. Jadi hasilnya juga diserahkan kepadaku. Kalian hanya buruh paksa yang hanya akan diberi makan secukupnya!"


Terdengar gumaman tak jelas dari warga desa yang intinya jelas tidak terima. Ini namanya perampokan dan perampasan hak milik orang lain.


"Diam!"


Seketika semuanya diam.


"Siapa yang berani membantah, nyawa sebagai gantinya!" Ki Somara yakin para penduduk masih sayang nyawanya, maka mereka akan menuruti semua perintahnya.


"Dan satu lagi, jangan coba-coba ada yang berani melapor kepada kerajaan!"


Penduduk desa benar-benar ketakutan. Mereka kehilangan semangat. Masa depan mereka kini hanyalah mimpi. Bahkan ada yang menyalahkan keluarga Ki Wardana. Bukankah semua ini terjadi karena Parwati yang menolak perjodohan?


Ki Somara yang samar-samar mendengar hal itu tersenyum lebar sambil mendongakkan wajahnya ke langit.


"Betul, ini memang karena ulah pemimpin kalian. Yang berani berutang tapi tidak mampu membayar. Beginilah akibatnya, kalian dikorbankan untuk membayar utang-utangnya!"


Semakin panas hati warga setelah dikompori Ki Somara. Sementara dia semakin puas.


Walaupun kini sebagian besar warga mulai membenci keluarga Ki Wardana, tapi tetap tidak akan menghilangkan penderitaan yang kini mereka alami.


"Sebagai cicilan pertama," lanjut Ki Somara. "Sekarang kalian pulang ke rumah masing-masing, serahkan semua harta simpanan kalian kepada anak buahku yang akan mengunjungi rumah kalian.


"Kalian ini tidak ubahnya budak, tidak boleh memiliki harta sepeserpun. Hanya makanan yang sudah dijatah masing-masing."


Rasanya semakin lemas persendian warga desa setalah mendengar yang terakhir ini.


"Bubar, bubar!"


"Siapkan apa yang diminta Juragan!"

__ADS_1


Sementara Ki Somara tertawa puas. Baginya penderitaan yang akan dialami para warga masih tidak cukup untuk membalas penderitaan anaknya. Dia mempunyai rencana lain yang lebih keji.


__ADS_2