
Waktu 'Kongkorongok Hayam', di saat hampir semua penduduk desa masih terlelap. Adijaya bangun. Tanpa mengeluarkan suara sedikitpun, dengan langkah tenang Adijaya keluar dari rumah Darma Koswara.
Sampai di halaman depan, pemuda ini meloncat lalu melayang menggunakan payung terbangnya. Mau kemana dia?
Di desa ini hanya ada tiga rumah yang terbilang besar dan bagus. Rumah Darma Koswara, Ki Lurah dan Nyi Warsih. Adijaya dapat membedakan antara rumah Ki Lurah dan Nyi Warsih. Adijaya hendak ke rumah Nyi Warsih.
Keadaan desa masih sepi. Udara sangat dingin sisa-sisa hujan semalam. Bisa dihitung rumah yang sudah menyalakan damar. Sebagian besarnya masih gelap. Udara dingin sehabis hujan memang bikin malas bergerak walaupun sudah terdengar Kokok ayam.
Adijaya mendarat di depan gapura rumah besar -tapi masih lebih besar rumah Darma Koswara dan Ki Lurah-. Keadaan rumah masih gelap gulita. Tapi Adijaya merasakan sudah ada manusia yang sedang melakukan sesuatu.
Menurut Darma Koswara, Nyi Warsih memiliki sepuluh anak buah. Jika dihitung maka jumlahnya sebelas dengan Nyi Warsih. Tapi Adijaya merasakan ada dua belas detak jantung. Satu detak jantung laki-laki.
Setelah menyimpan payung ke alam gaib, perlahan Adijaya memasuki halaman rumah yang cukup luas. Dari keadaan tanahnya yang padat dan keras, halaman ini dipastikan sering dipakai untuk latihan silat. Diguyur hujan semalam tanah ini tetap kering tidak becek. Berbeda dengan tanah di halaman rumah Darma Koswara, becek dan berlumpur jika kena guyuran hujan.
Semakin masuk semakin jelas detak jantung laki-laki yang tersirap. Terdengar sangat cepat seperti memburu sesuatu berpadu dengan detak jantung lainnya. Detak jantung perempuan!
Adijaya mencium gelagat yang aneh di salah satu kamar rumah ini. Lalu dia dikejutkan oleh seorang wanita muda. Bukan muda masih gadis, tapi kira-kira berumur awal tiga puluhan. Wanita ini menghadang Adijaya dengan sorot mata permusuhan. Jelas saja, di pagi buta seperti ini ada orang tak dikenal hendak menyusup ke rumah.
"Orang asing, pasti bertujuan tidak baik!" seru Wanita itu.
"Saya..."
Belum selesai bicara Adijaya keburu mendapati dirinya di serang. Bukan cuma satu wanita di depannya, tapi dua dari arah belakang juga menyerang berbarengan. Ketiga wanita itu hanya mengandalkan tangan kosong.
Karena nalurinya yang tinggi, Adijaya dapat menghindari ketiga serangan itu. Selanjutnya terjadilah pertukaran jurus satu lawan tiga. Adijaya diserang dari tiga arah.
__ADS_1
Bukan sesuatu yang sulit baginya. Dia pernah menghadapi empat pelatih padepokan Linggapura. Juga pernah menghadapi Lima Beruang Merah. Ada satu yang membedakan, tiga wanita ini memusatkan sebagian besar tenaga dalam ke telapak tangan.
"Ajian Tapak Wisa!" gumam Adijaya dalam hati.
Cukup kompak juga gerakan tiga wanita ini. Formasi jurusnya rapat hampir tanpa celah. Namun, Adijaya walaupun sedikit pengalaman tapi mampu berpikir cepat menemukan celah dan membuat pemecahan.
Memang, mungkin sebenarnya dengan sekali mengibaskan tangan saja bisa membuat tiga wanita itu terlontar jauh. Tetapi pemuda ini tidak melakukannya. Karena ingin banyak pengalaman menghadapi berbagai macam jurus, ilmu, dan juga ajian.
Lewat dua puluh jurus, belum sekalipun serangan tiga anak buah Nyi Warsih bisa menyentuh lawan. Napas mereka terdengar berat. Mungkin karena banyak mengeluarkan tenaga dalam.
Udara dingin di sekitar tempat pertarungan menjadi terasa panas akibat hawa sakti yang terpancar dari ke empat orang yang terlibat adu jurus itu.
Hal ini membuat penghuni lain di rumah itu terbangun lalu segera melihat apa yang terjadi. Termasuk Nyi Warsih sendiri.
Nyi Warsih dan tujuh anak buahnya sudah berdiri di teras rumah menyaksikan pertarungan yang cukup sengit. Adijaya menyadari kehadiran mereka. Tapi kenapa satu orang lagi tidak menampakan diri?
"Kepandaian pemuda itu sangat tinggi. Aku bisa merasakan hawa saktinya yang kuat. Sebenarnya dia bisa menjatuhkan tiga anak buahku dalam sekali gebrak. Tapi sepertinya dia menunggu sesuatu. Apa tujuannya?"
Yang dilihat Nyi Warsih, ketiga anak buahnya ini sedang dipermainkan lawannya. Mereka sebenarnya sudah kelelahan, tapi semangat mereka masih menggebu-gebu. Meski sampai saat ini mereka belum bisa melukai lawan.
Terlihat ada beberapa anak buah lain yang hendak turun membantu. Tapi Nyi Warsih melarangnya dengan isyarat.
"Minggir!" teriak Nyi Warsih sambil melesat ke tempat pertarungan.
Tiga anak buahnya segera menjauhi Adijaya. Lalu mengatur napas dan memulihkan tenaga yang sudah terkuras. Keringat mereka bercucuran di dahi.
__ADS_1
Sementara Nyi Warsih langsung menyerang Adijaya dengan mengerahkan ajian Tapa Wisa dengan kekuatan penuh.
Adijaya melihat dua telapak tangan Nyi Warsih berwarna merah. Gerakannya lebih mantap daripada anak buahnya jadi. Tentu saja karena Nyi Warsih paling tinggi ilmunya. Bagi Adijaya, satu orang Nyi Warsih ini setara dengan lima anak buahnya.
Penampilan Nyi Warsih tampak lebih muda dari umur sebenarnya. Wajah cantiknya seperti masih gadis remaja. Tubuhnya juga terlihat sintal dan indah. Adijaya menebak, selain merawat diri dengan baik tentunya karena ilmunya yang sudah mendalam.
Lewat sepuluh jurus pertarungan masih berimbang. Nyi Warsih kagum dengan tenaga yang dimiliki Adijaya. Sudah bertarung lama melawan anak buahnya, kini melawan dirinya. Pemuda itu seperti tak pernah kelelahan. Bahkan tak telihat sama sekali dahi atau kening yang basah.
Saat beradu tangkisan tangan, Nyi Warsih bisa menduga anak muda ini masih memiliki cadangan tenaga yang lebih. Sedangkan dia yang baru turun menggempurnya sudah mengerahkan setengah kekuatannya.
Sampai akhirnya batas kesabaran Nyi Warsih menipis. Dia ingin segera mengakhiri pertarungan ini. Dia lipat gandakan lagi tenaga dalamnya terutama disalurkan ke telapak tangan. Kini terlihat dua telapak tangan itu seperti membara.
Udara di sekitarnya bertambah panas. Nyi Waduh bergerak cepat melepaskan salah satu hantaman telapak tangannya. Anehnya Adijaya seolah-olah menunggu serangan datang. Bibirnya sedikit tersenyum. Lalu...
Wutt!
Desss!
Dada kanan Adijaya terkena hantaman telapak tangan yang mengandung ajian Tapak Wisa. Tubuh Adijaya terlempar hingga lima tombak lalu jatuh bergulingan.
Brukk!
Nyi Warsih berdiri mengatur napas dan mengendalikan tenaga dalamnya. Telapak tangannya sudah tidak membara lagi. Telapak tangan perempuan biasa yang lembut dan putih.
Untuk beberapa saat Adijaya tak bergerak. Tergeletak menelungkup di tanah. Dua orang anak buah Nyi Warsih mendekati hendak memeriksa. Tapi mereka terkejut melihat sosok Adijaya bangkit dan berdiri tegak dengan sedikit senyum di wajahnya.
__ADS_1
Semuanya melongo tak percaya. Pemuda itu seolah tidak merasakan apa-apa. Padahal tidak ada seorang pun yang selamat dari pukulan ajian Tapak Wisa. Tapi dia, jangankan mati, sedikitpun tak terlihat kesakitan.
#kongkorongok hayam : satu jam sebelum subuh