
Lelaki bertopeng yang menggenggam tombak bermata pedang tidak menjawab. Melainkan langsung maju sambil memutar tombaknya di atas kepala.
Wuk! Wuk! Wuk!
Tombak yang panjang itu mampu menjangkau sasaran. Yang di arah langsung leher Adijaya. Pendekar Payung Terbang hanya menekuk tubuh ke belakang.
Wuss!
Mata pedang pendek di ujung tombak lewat di atas wajahnya. Tapi tombak berputar sangat cepat. Kali ini sasarannya perut. Adijaya membungkukkan tubuh.
Wuss!
Hanya angin yang menghempas perutnya. Posisi Adijaya belum berubah di tempatnya walaupun sudah puluhan kali tombak bermata pedang itu menusuk mengancam nyawanya.
Penyerang bertopeng tingkatkan kecepatan dan merubah jurus dengan yang lebih ganas. Sementara Adijaya melayani dengan jurus tak bernama seperti biasanya. Dia sudah lupa nama jurus ketika digunakan melawan Lima Beruang Merah.
Jurus lawan yang semakin ganas memaksa kakinya bertindak mundur. Hebatnya, berkat kekuatan baru dari bunga melati biru membuat gerakannya sangat cepat. Bahkan lebih cepat dari lawannya.
Sampai sejauh ini Adijaya belum sempat membalas serangan. Belum menyerang balik karena dengan tangan kosong jaraknya masih kurang terjangkau, sedangkan lawan menggunakan senjata yang panjang.
Jadi dia hanya menghindar dengan gerakan lincah, indah dan cepat bagaikan bayangan. Sehingga lelaki bertopeng ini setiap menusukkan tombaknya seperti mengenai bayangan. Terlihat tapi tak bisa disentuh. Dia seperti hanya melawan angin.
Lebih cepat serangan si topeng, lebih cepat lagi gerakan Adijaya.
Adijaya menemukan dirinya kembali. Seperti ketika mendapat kekuatan dahsyat dari lumut ungu. Sekarang didapat dari Melati Tunjung Sampurna. Jika dirasakan mungkin kekuatannya setara, bedanya hawa saktinya menebarkan aroma wangi.
Aroma melati ini semakin banyak bergerak semakin pekat juga mempengaruhi kondisi lawan. Dengan menghirup wangi melati secara tidak sengaja membuat kepalanya pusing. Seperti mabuk dalam perjalanan.
Aroma wangi yang cukup membantu, seperti bau harum yang terpancar dari Pedang Bunga milik Asmarini.
Pandangan si topeng mulai buram, mengakibatkan gerakannya tak beraturan. Asal memutar, asal menebas. Tubuhnya juga mulai limbung.
Trak!
Entah apa yang terjadi, tahu-tahu tombaknya patah. Lebih terkejut lagi, patahan tombak bagian atas yang ada pedangnya kini telah digenggam Adijaya.
Tubuhnya mematung, ujung pedang telah siap memenggal lehernya. Pada saat itu penglihatannya kembali normal. Dengan putus asa lelaki bertopeng ini jatuhkan tombaknya yang patah. Pertanda menyerah.
__ADS_1
Adijaya melemparkan patahan tombak yang berpedang itu. Tanpa sepatah kata pun lelaki bertopeng berbalik lalu pergi. Dia tahu Pendekar Payung Terbang tak pernah membunuh lawannya. Dia sangat kagum dengan jiwa besar Adijaya.
Kembali Adijaya duduk di batu besar pinggir sungai itu. Belum terpikirkan rencananya mau kemana. Apakah kembali ke padepokan Linggapura?
Apakah nantinya dia akan kuat melihat Kinasih bersama suaminya? Apakah kehadirannya juga tidak akan mengganggu mereka?
Mungkin kembali ke bukit Gajah Depa akan lebih baik. Menempati rumahnya sambil berkebun. Selain menanam buah atau sayuran untuk kebutuhan hidup. Juga membudidayakan tumbuh-tumbuhan ajaib untuk meningkatkan tenaga dalam.
Sedang terhanyut dalam rencana yang timbul di pikirannya, tiba-tiba pendengarannya dikejutkan oleh suara bentakan dari kejauhan.
Suara perkelahian!
Adijaya tajamkan pendengaran. Suara orang sedang bertarung. Jauh di seberang sungai. Penasaran, lalu dia berkelebat menyeberangi sungai. Tidak sekaligus dalam sekali lompatan karena sungai itu cukup lebar.
Kaki Adijaya sempat menjejak permukaan air sungai sekali untuk mendapatkan lompatan berikutnya. Barulah sampai di seberang sungai.
Dia lupa, kalau menggunakan Payung Terbang akan lebih mudah. Kemudian pemuda ini berjalan cepat menuju arah sumber suara.
Beberapa saat kemudian Adijaya menghentikan langkah. Bersembunyi di balik rimbunnya semak-semak. Menatap jauh ke depan. Memperhatikan dengan seksama.
Si gadis tampak lebih mendominasi. Sementara si pemuda seperti melawan dengan terpaksa karena ketakutan. Dari segi ilmu silat juga, si pemuda tampak lebih rendah.
Karena jarak lumayan jauh, walaupun masih siang, tapi Adijaya tidak bisa melihat dengan jelas kedua wajah yang sedang bertarung itu.
Adijaya hanya memperhatikan saja. Belum ada niat untuk ikut campur, karena belum tahu mana yang salah atau yang benar.
Si pemuda semakin menjadi bulan-bulanan si gadis. Terdengar sesekali seruan si pemuda meminta ampunan. Tapi si gadis tak perduli. Sinar matanya terus memancarkan kebencian. Dia terus menghajar si pemuda seperti sedang melampiaskan dendam.
Sampai akhirnya si gadis menghunus sebuah pedang pendek dan langsung ditusukkan dalam jarak dekat.
Segera saja Adijaya berkelebat hendak mencegah pembunuhan. Tapi terlambat, si gadis telah menusukkan pedang tepat ke bagian jantung. Si pemuda langsung roboh. Si gadis langsung kabur.
Sampai di sana Adijaya hendak segera menolong si pemuda, tapi tubuh pemuda itu mengeluarkan hawa panas menyengat. Menggelepar. Mulutnya menganga ingin berteriak tapi tak keluar suaranya lalu tubuhnya terkulai tak berkutik lagi.
Dalam jarak tiga langkah agak membungkuk, Adijaya memperhatikan luka bekas tusukan pedang di dada kiri agak bawah. Kulit di sekitar luka tusukan tampak gosong. Hawa panas perlahan berangsur hilang.
"Ganas!" Adijaya menggeleng pelan.
__ADS_1
"Rana!"
Terdengar teriakan menyayat hati. Lalu muncul seorang wanita paruh baya disusul lelaki seumuran di belakangnya.
"Ranaaa...!" wanita ini langsung menghambur ke mayat si pemuda sambil menangis histeris.
"Ternyata benar, Puspasari pelakunya," ujar lelaki yang datang bersama wanita itu. "Lihat, itu bekas tusukan Pedang Ular Hitam,"
"Puspasari, kemanapun kau lari, tak kan bisa lepas dariku!" ancam wanita yang merupakan ibu si pemuda bernama Rana itu. Tangannya mengepal, wajahnya angkuh dengan sorot mata penuh dendam.
"Sejak kapan kau di sini"? tanya si lelaki kepada Adijaya.
"Belum lama,"
"Kau melihat pembunuhnya?"
"Ya, tapi dari jauh. Aku terlambat untuk menolong,"
"Seorang gadis?"
Adijaya mengangguk lalu bertanya "Kenapa Ki Sanak tidak mencurigaiku?"
"Karena aku tahu dari awal, Rana dikejar-kejar oleh Purpasari. Luka tusukan itu juga membuktikan gadis itu pembunuhnya. Pedang Ular Hitam hanya satu pemiliknya, Puspasari!"
Adijaya angguk-angguk kepala. Dia tidak ingin bertanya lebih lanjut lagi. Mungkin itu urusan dendam mereka. Tapi dia juga tidak akan berpangku tangan untuk membantu.
Jasad Rana dipanggul oleh Adijaya di pundaknya, lalu di bawa ke rumahnya hendak dikuburkan.
Rana adalah anak tunggal Nyi Rengganis, ayahnya sudah lama meninggal. Sedangkan lelaki yang bersamanya adalah tetangganya yang bernama Jantaka.
Jantaka-lah yang memberitahu Nyi Rengganis kalau Rana sedang dikejar-kejar Puspasari. Kemudian mereka mengejar. Sayang, Rana keburu tewas ditusuk pedang milik Puspasari.
Kemudia jasad Rana dikuburkan di belakang rumah Nyi Rengganis. Banyak tetangga yang ikut menyaksikan pemakaman putra satu-satunya Nyi Rengganis.
Sejak saat itu berhembuslah kabar Puspasari adalah pembunuh Rana. Banyak yang menduga-duga bahwa Puspasari dendam karena tidak jadi dinikahi oleh Rana.
Benarkah cuma karena urusan cinta? Adijaya jadi penasaran.
__ADS_1