
"Kalau pertarungan di alam lain kenapa mesti keluar, bukankah di dalam juga bisa?" tanya Adijaya. Pada dasarnya dia belum begitu paham tentang ajian Ngaraga Sukma.
"Kita lihat saja!" ujar Padmasari.
Pertarungan dua saudara seperguruan ini tampak sengit. Meski usia mereka terbilang sepuh, tapi gerakannya tetap lincah layaknya pemuda remaja.
Ki Legawa membentuk jari-jarinya seperti cakar. Gerakan jurusnya bagaikan harimau yang mengandalkan cakarnya. Serangannya begitu ganas dan cepat. Mengincar bagian-bagian tubuh yang beresiko tinggi bila terkena cakarannya.
Sementara Ki Rangkas mengimbangi dengan jurus seperti burung. Telapak tangan terbuka. Kadang bergerak seperti pedang menebas, di waktu lain bergerak seperti sayap yang membuka atau mengembang. Gerakannya lincah dan gesit sama seperti lawannya.
Jika mereka sama-sama murid Mahaguru Manguntara, maka setidaknya mereka memiliki tingkatan ilmu yang setara. Pastinya butuh waktu lama untuk melihat siapa yang akan unggul.
"Kalau ingin memenangkan pertandingan ini, harus cepat dan tepat!" ujar Ki Santang menikmati sajian adu tanding mahluk manusia.
"Aku baru tahu, mahluk guriang suka nonton manusia 'gelut'!" ujar Adijaya.
"Jurus-jurus bangsa manusia itu indah, bukankah Juragan merasa sedang menari ketika melumpuhkan orang sekampung?" sahut Padmasari.
Ucapan Padmasari memang benar. Dia begitu menikmati waktu itu.
Kembali ke Ki Legawa dan Ki Rangkas.
Sampai sejauh ini, entah sudah berapa jurus terlewati. Pertarungan dua pimpinan pesanggrahan itu masih berimbang. Keduanya pun masih terlihat lincah dan napas yang teratur.
Mendadak Adijaya garuk-garuk kepala. "Apa yang menggunakan Ngaraga Sukma masih bernapas?" Lalu dia memeriksa dirinya sendiri. Ternyata masih bernapas.
"Itu karena Juragan bangsa manusia, kalau bangsa kami di mana pun berada tidak perlu bernapas!" jelas Ki Santang bisa membaca pikiran Adijaya.
Alam semesta memang begitu luas. Masih banyak hal belum dia ketahui. Bahkan jika semua ditulis dalam kitab, maka ribuan jilid pun masih terlalu sedikit.
Adijaya baru sadar ketika Ki Bontang yang berdiri di sana menatap tajam ke arahnya. Mungkin dia heran karena ada orang lain yang menyaksikan.
__ADS_1
"Apa hanya aku yang terlihat?" tanya Adijaya ketika tatapan Ki Bontang hanya kepadanya.
"Kami beda jenis, jadi tak ada yang bisa melihat kecuali Juragan!"
Tatapan Ki Bontang tentu saja menyiratkan pertanyaan, kenapa ada orang lain yang tahu? Yang lebih penasaran karena Adijaya masih muda tapi sudah bisa Ngaraga Sukma. Mengingat ilmu ini hanya bisa dikuasai pendekar yang sudah sangat tinggi ilmunya.
Bret! Bret!
Adijaya segera menoleh ke arah pertarungan. Dia mengira cakaran Ki Legawa berhasil melukai lawannya. Nyatanya malah Ki Legawa yang terkena sabetan ujung jari Ki Rangkas yang tajam bagai pedang.
Berikutnya Ki Rangkas makin cepat melepaskan serangan tapak. Gerakan Ki Legawa menjadi terganggu akibat sabetan tadi. Hanya sekali dua kali menghindar ke tiga kalinya terpaksa menahan serangan tapak Ki Rangkas dengan dua cakarnya.
Desss!
Blarrr!
Beberapa ledakan terjadi bersamaan di sekeliling mereka. Ledakan yang terjadi sebenarnya bukan di alam ini karena Adijaya tak merasakan dampaknya. Tapi terjadi di alam nyata yang membuat halaman belakang penginapan bergetar keras.
Murid-murid yang menjaga raga gurunya sampai terpental dan jatuh bergulingan. Sekarang baru tahu, bagaimana kalau mereka bertarung di dalam penginapan. Rumah itu bisa runtuh seketika.
Kedua sudah bersiap kembali. Bila Ki Legawa kalah maka dia harus mengakui bahwa dia pemberontak dalam padepokan dan keinginannya mengubah menjadi aliran hitam adalah benar.
Sedangkan kalau Ki Legawa yang menang, maka tuduhan itu akan jatuh kepada Ki Ganjar yang sudah tewas. Sebenarnya kenapa Ki Rangkas begitu gigih menuduh Ki Legawa beraliran hitam? Siapa yang telah menyebarkan kabar itu sehingga sesama murid Mahaguru Manguntara saling bertikai.
Lantas ke mana dan di mana sang Mahaguru Manguntara? Kenapa juga mereka menyelesaikan masalah di tempat ini, bukan di dalam padepokan?
"Mahaguru Manguntara sedang tapa moksa di ruang khusus di padepokan, mereka tidak ingin mengganggu. Jadi dipilihlah tempat ini," jelas Padmasari.
Dan Ki Bontang itu sebenarnya berpihak kepada siapa?
"Juragan akan terlibat dalam masalah mereka," kata Ki Santang.
__ADS_1
"Terlibat? Aku, lama lagi dong nikahnya?" Sebenarnya bukan itu yang hendak Adijaya ucapkan. Maksudnya bagaimana bisa terlibat? Sedangkan ikut campur saja tidak.
"Ikut masuk ke alam ini saja sudah termasuk ikut campur. Keberadaan Juragan akan diperhitungkan. Di antara mereka ada yang menginginkan bantuan, dan ada yang ingin melenyapkan juragan," jelas Ki Santang.
"Apa kalian sengaja menyeret aku ke sini?"
"Tidak, tapi ini akan menjadi pengalaman penting untuk Juragan,"
Adijaya menepuk keningnya. Dia ingat Asmarini, dia tidak mau gadis itu menunggu lebih lama. Kalau begini jadinya lebih baik mengajak dia bersama.
"Kalau Juragan mau, aku bisa menjemput Asmarini." Padmasari menawarkan.
"Nanti saja, aku pikirkan dulu!"
Suara pertarungan kembali terdengar. Ki Legawa dan Ki Rangkas terlihat seimbang lagi. Tapi sepertinya Ki Legawa mengeluarkan tenaga lebih untuk mengimbangi lawannya.
Sementara Adijaya sering melirik ke arah Ki Bontang, karena lelaki sepuh itu juga sering menatapnya tajam. Seolah-olah mengusir keberadaannya.
Ki Legawa mulai kekurangan tenaga, gerakannya tampak berat. Cakarnya tidak sekuat tadi, jari-jari tangannya sering bergetar karena kehabisan tenaga. Dirinya pun sudah menerima beberapa serangan telak mendarat di tubuhnya.
Akhirnya bertubi-tubi dua telapak tangan Ki Rangkas menghujani tubuh Ki Legawa. Walaupun cuma serangan tapak yang tidak tajam, tapi tekanannya mampu melukai tubuh bagian dalam. Orang biasa yang kena serangan ini, kulit dan daging di dalamnya akan pecah.
Sesepuh pesanggrahan Bumi mulai limbung. Raga asli yang ada di alam nyata terlihat bergetar seperti pohon hendak tumbang. Dan akhirnya benar-benar tumbang setelah satu pukulan tapak berhasil menghantam kepalanya.
Desss!
Ketika Ki Legawa roboh, semuanya telah kembali ke alam nyata. Di alam nyata pun raga Ki Legawa terbaring tak berdaya dengan napas tersengal-sengal. Darah merembes dari sudut bibirnya.
Adijaya juga sudah kembali ke raganya. Dia kembali melihat dari jendela.
"Bawa dia ke padepokan untuk mempertanggungjawabkan kesalahannya!" perintah Ki Rangkas kepada murid-muridnya yang langsung dilakukan tanpa menjawab lagi.
__ADS_1
Sementara murid-murid Ki Legawa tak bisa berbuat apa-apa selain ikut kembali ke padepokan, pastinya mereka juga akan menanggung akibatnya. Ki Rangkas dan Ki Bontang sudah melangkah paling depan.
Saat itu Ki Bontang menoleh ke arah jendela kamarnya. Adijaya membiarkan lelaki itu menatapnya. Malah sengaja membalas tatapannya. Satu dugaan muncul dalam benaknya. Dia memang harus ikut campur dalam masalah ini.