Pendekar Payung Terbang

Pendekar Payung Terbang
Ki Jagatapa


__ADS_3

Adijaya berjalan sendirian menelusuri jalan desa yang rumah-rumah nya agak rapat. Desa ini cukup ramai. Orang-orang hanya melihat dia seorang, padahal di belakangnya ada kereta kuda tak kasat mata.


Di desa itu ada sebuah padepokan kecil yang letaknya paling dalam. Agak jauh dari pemukiman warga. Padepokan Jagatapa namanya sesuai dengan pendirinya.


Setelah berjalan jauh akhirnya Adijaya menemukan pintu gerbang kecil berupa gapura terbuat dari susunan bambu yang dibuat sedemikian rupa sehingga terlihat menarik.


Seorang pemuda langsung menyapa ramah. "Silakan, Ki Sanak sudah ditunggu!"


Adijaya tidak terkejut dengan penyambutan ini. Ki Jagatapa adalah saudara seperguruan Ki Manguntara, umur dan kesaktiannya pasti tidak jauh berbeda dengan mahaguru di Karang Bolong.


Begitu masuk ke pekarangan yang cukup luas, seorang sesepuh yang penampilannya mirip Ki Manguntara telah berdiri dengan raut datar. Tidak ada keramahan sama sekali. Beberapa pemuda berdiri di belakangnya.


Lelaki tua itu pasti Ki Jagatapa dan yang berdiri di belakangnya adalah murid-muridnya.


"Utusan Manguntara pasti bukan orang sembarangan. Aku tidak akan menyusahkan murid-muridku untuk mengujimu. Biar aku sendiri yang turun. Kau boleh menjelaskannya bila mampu bertahan sepuluh jurus!"


Sehabis berkata begitu udara di sekitar tempat itu mendadak berat. Hawa sakti yang terpancar dari tubuh Ki Jagatapa begitu kuat. Lebih kuat dari Gentasora. Adijaya segera lindungi diri dengan hawa sakti Melati Tunjung Sampurna.


Ki Jagatapa sejenak terkesiap merasakan hawa ini. Sebelum pemuda itu datang, dia telah mencari keterangan tentang Adijaya. Yang paling mengejutkan ternyata dia orangnya yang mengalahkan Gentasora.


Jadi Ki Jagatapa tidak akan mengeluarkan jurus atau ilmu tingkat rendah. Dia memutar dua tangan di depan dada diakhiri dengan kedua telapak tangan menangkup.


Wussh!


Sebuah gelombang energi keluar dari tubuhnya. Murid-muridnya yang di belakang terdorong hampir jatuh. Sementara di depan sana Adijaya sama sekali tidak goyah sedikitpun.


Adijaya mendadak ingat satu kalimat di dalam kitab Hyang Sajati. Apabila diaplikasikan bukan hanya menghasilkan sebuah jurus, tapi juga menciptakan suatu ilmu yang mengendalikan energi atau tenaga dalam.


Dengan menggunakan hawa sakti Melati Tunjung Sampurna Adijaya membuat suatu pancaran energi untuk menghantam energi lawan. Seketika saja tempat itu seperti dilanda angin topan.


Murid-murid Ki Jagatapa segera menjauh berlindung di tempat aman. Mereka begitu kagum melihat Adijaya, di usia muda, tapi mampu menandingi gurunya.


Ki Jagatapa kembali memutar kedua tangan. Sepertinya ini adalah cara untuk mengendalikan energinya. Sesaat kemudian di atas kepalanya bergulung angin keras yang membentuk kepalan tangan.

__ADS_1


Sementara Adijaya juga melakukan hal sama. Mencoba ilmu yang mendadak diciptakan berdasarkan kitab Hyang Sajati. Di atas kepalanya segelombang angin berbentuk telapak tangan.


Kejap berikutnya baik Adijaya maupun Ki Jagatapa bersamaan menghentakkan dua tangan ke depan.


Wutt! Blaarrr!


Gelombang angin berbentuk telapak dan kepalan tangan beradu di tengah-tengah. Ledakan dahsyat terjadi mengguncang padepokan kecil itu. Gapura di belakang Adijaya sampai roboh terhempas angin.


Pohon-pohon kecil di sekeliling padepokan berderak patah dan tumbang. Atap bangunan padepokan juga hampir terbang. Suasana di sana seperti baru saja diterjang badai.


Ki Jagatapa sampai tersurut dua langkah dari tempatnya. Sementara Adijaya hanya menopangkan satu kaki ke belakang. Dari sini sudah jelas siapa yang lebih unggul.


Di bagian dalam tubuhnya, kedua petarung ini merasakan sesuatu yang menyesakkan dada. Mereka terlihat diam seolah tidak apa-apa, padahal aslinya sedang mengatur napas dan aliran darah yang kacau.


Belum lewat tiga jurus, tapi keadaan sudah seperti ini. Ki Jagatapa berpikir jika diteruskan mungkin dia yang akan kalah. Pemuda ini benar-benar luar biasa. Bagaimana kalau dia mengeluarkan Payung Terbang, lebih dahsyat lagi mungkin.


Akhirnya Ki Jagatapa menunjukkan wajah ramah dengan senyum lembut.


"Silakan masuk!"


Di ruangan pribadi Ki Jagatapa, Adijaya menuturkan semuanya. Dari keinginan Ki Manguntara yang hendak mengajak K Jagatapa bergabung kembali dengan padepokan Karang Bolong.


Juga menjelaskan tentang kitab Hyang Sajati yang isinya kini telah ditulis ulang oleh Ki Manguntara bersama tiga nenek sakti.


"Oh, rupanya di sana sudah menerima murid wanita!"


"Belum lama, Kek!"


"Kebetulan di sini juga ada murid wanitanya,"


Tiba-tiba saja ada seseorang yang menerobos masuk. Seorang pemuda yang cukup diingat Adijaya. Pemuda itu terkejut melihat Adijaya.


"Kau, bagaimana bisa sudah berada di sini lebih dulu?" Pemuda yang tak lain adalah Tajimeta keheranan.

__ADS_1


"Jelas saja karena dia lebih sakti darimu," jawab Ki Jagatapa. "Dia bisa berpindah ke tempat yang jauh dalam sekejap mata!"


"Apa yang telah dia lakukan di sini, Ayah?"


"Menjelaskan kekeliruanmu!"


Tajimeta kerutkan kening semakin bingung.


Kemudian si kakek meminta semuanya keluar. Dia mengumpulkan semua muridnya yang tak lebih dari dua puluh orang. Dia meminta Adijaya menyebutkan satu kalimat dari kitab Hyang Sajati.


Adijaya langsung mengucapkannya. Tajimeta terkejut karena kalimat itu sama seperti yang diucapkan Ki Manguntara.


"Aku tunggu sepeminuman teh, siapa di antara kalian yang mampu mengungkapkan isi kalimat tersebut!"


Setelah waktu yang ditentukan tiba. Salah seorang murid wanita maju ke tengah halaman. Gadis hitam manis berparas cantik dan bermata lentik dengan tubuh sintal menggoda setiap mata lelaki.


Si gadis memperagakan sebuah jurus indah hasil pemikirannya memecahkan kata demi kata dalam satu kalimat tadi.


Semua berdecak kagum setelah gadis itu selesai mengeluarkan jurusnya. Tak terkecuali Adijaya, Ki Jagatapa dan juga Tajimeta.


"Kau lihat!" kata si kakek kepada Tajimeta. "Dia dalam waktu sebentar saja sudah mampu. Nah, kamu sampai diberi tiga hari tidak ada hasil sama sekali,*


Muka Tajimeta memerah karena malu. Dalam hati dia mengakui kebodohannya.


"Baiklah, dengarkan semua murid-muridku!" kata Ki Jagatapa kemudian. "Demi kemajuan ilmu kalian, besok kita akan pindah ke Karang Bolong. Selain ilmu yang lebih tinggi, di sana kalian akan mendapatkan teman-teman yang lebih banyak lagi!"


"Lantas bagaimana denganku, Ayah?" tanya Tajimeta.


"Harus ikut kembali ke sana, dan meminta maaf atas kekeliruanmu!" tegas Ki Jagatapa.


Semula Tajimeta berpikir dirinya akan mendapat pujian karena akhirnya berhasil menemukan ketidakadilan Ki Manguntara yang nantinya akan dibalas oleh ayah angkatnya ini. Ternyata kehadiran Adijaya menghapus semua prasangka itu.


Bahkan akhirnya Ki Jagatapa memutuskan bergabung kembali ke Karang Bolong.

__ADS_1


Sebelum Adijaya pamit, dia mengajukan permintaan agar murid-murid di sini membebaskan gadis-gadis yang dipaksa menjadi wanita penghibur di daerah pesisir pantai selatan. Ki Jagatapa tentu saja menyanggupinya.


Kemudian Adijaya kembali ke kereta kuda dan langsung melakukan perjalanan kembali ke Karang Bolong untuk melaporkan hasil tugasnya.


__ADS_2