
Dalam satu hari ini sudah dua kali Adijaya dan Puspasari menghadiri pemakaman. Pagi tadi penguburan Arum Honje sahabatnya Puspasari. Sekarang Rara Intan.
Walaupun bukan orang yang dikenal keduanya, tapi cara pembunuhan yang dilakukan sama seperti yang menimpa Arum Honje.
Awalnya Puspasari yang mendengar kegegeran itu. Geger karena tidak menyangka, pagi hari Rara Intan pergi ke pasar sendirian. Tetapi pulang dikirim dalam peti mati.
Yang membuat Puspasari penasaran dia mendengar ada luka goresan berbentuk silang di paha korban. Maka segera saja dia pergi ke rumah juragan Gumara.
Dengan memberitahu bahwa kematian Arum Honje sama persis dengan Rara Intan akhirnya Puspasari diperbolehkan melihat dan memeriksa jasad Rara Intan.
Tadinya Adijaya juga ingin melihatnya, tapi sayang sudah keburu dikuburkan. Namun, keterangan dari Puspasari sudah cukup buatnya.
Setelah penguburan selesai, mereka membahas hal itu di sebuah kedai sambil mengisi perut.
"Menurutmu, apakah pelaku yang membunuh Arum Honje dan Rara Intan adalah orang yang sama?" tanya Adijaya meminta pendapat.
"Bisa jadi, mengingat pembunuh sengaja meninggalkan jejak yang sama, goresan tanda silang,"
"Tujuannya tidak cuma balas dendam," Adijaya mulai memikirkan sebuah gagasan. "Tapi kita harus lebih banyak lagi mencari keterangan. Terutama kesamaan antara Arum Honje dan Rara Intan,"
"Bagaimana kalau kita menemui juragan Gumara?"
"Gagasan yang bagus, mari!"
Setelah membayar ke pemilik kedai mereka pergi menuju rumah juragan Gumara. Sampai di sana ternyata banyak petugas kerajaan sedang meminta keterangan.
Terlihat dua penjaga rumah itu sedang menuturkan kesaksiannya. Sementara masih banyak sanak saudara dan tetangga yang berduyun-duyun mengungkapkan belasungkawa.
Adijaya dan Puspasari menyelinap ke samping rumah. Mereka menemukan ibu Rara Intan yang tengah duduk sendirian. Wajahnya masih menyiratkan kesedihan yang mendalam.
Segera saja Puspasari menghampirinya. Ibu ini ingat Puspasari yang ingin melihat jasad anaknya karena ada kemiripan dengan pembunuhan sahabatnya.
"Ibu, aku dan temanku ini ingin membantu menemukan pelaku pembunuh anakmu," Tanpa basa-basi Puspasari langsung menjelaskan maksudnya.
"Sudah ada pihak kerajaan yang menangani," sahut si ibu pelan.
"Kami akan melakukan dengan cara yang lain,"
"Caranya?"
"Tapi kami butuh beberapa keterangan dari ibu,"
Si ibu tampak berpikir sejenak. "Apa yang ingin kalian tanyakan?"
__ADS_1
Puspasari dan Adijaya duduk di dekat ibu itu. Tak lupa Adijaya memperkenalkan diri. Si ibu memandang sepasang pemuda ini dengan tatapan penuh selidik.
"Karena cara kematian Rara Intan sama persis dengan kematian sahabatku, mau tak mau kami harus menyelidiki kematian putri ibu juga," jelas Puspasari.
"Terima kasih untuk niat baik kalian, baiklah aku akan memberikan keterangan yang kalian mau,"
"Kami hanya ingin tahu, siapa orang-orang yang dekat, atau pernah dekat dan juga siapa saja yang membenci Rara Intan?"
Si ibu terdiam lagi mengumpulkan ingatannya tentang putrinya yang malang itu.
"Memang Rara Intan sedikit memilih-milih dalam berteman. Tapi bukan berarti dia bersifat memusuhi kepada orang yang tidak mau ia jadikan teman. Dia tetap baik hanya menjaga jarak saja.
"Jadi kalau siapa saja yang benci kepada Rara, aku tidak bisa memastikan. Karena semua orang selalu bersikap baik di depan keluargaku,"
"Benar, yang membenci juga akan berpura-pura baik di depan kita," sahut Adijaya.
"Oh, iya, biasanya anak perempuan selalu terbuka kepada ibunya," ujar Puspasari. Mendengar ucapan sendiri hatinya terasa sakit. Mengingat dia sebatang kara dari kecil.
"Ya, tentu saja sebagai remaja yang sedang 'berag' dia pernah bercerita tentang kedekatannya dengan beberapa pemuda, bahkan ada yang sempat menjalin tali kasih,"
"Nah, siapa saja mereka?" tanya Adijaya girang seperti menemukan sebongkah berlian.
"Terakhir ada Raden Indrajaya, pejabat yang masih muda itu pernah datang bahwa dalam waktu dekat dia akan meminang Rara..."
"Kenapa, Bu?" tanya Puspasari.
"Aku ingat tadi pagi katanya Rara mau bertemu Raden Indrajaya di pasar. Tapi tidak mungkin dia pelakunya. Bisa saja orang lain,"
Adijaya dan Puspasari saling pandang. Kemudian si ibu melanjutkan.
"Sebelum Raden Indrajaya, pernah dengan pemuda dari kalangan biasa. Tapi dia hanya memberitahukan kepadaku. Dia takut kalau jujur terhadap ayahnya,"
Si ibu terdiam, sepasang pemuda di hadapannya juga memilih menunggu si ibu melanjutkan. Mereka memaklumi perasaan si ibu yang tak menentu.
"Ada Seta Aji, lalu Pranata," lanjut si ibu dengan tatapan menerawang.
Kali ini Puspasari terperanjat. "Lebih dulu yang mana antara Seta Aji atau Pranata?"
Si ibu menatap sejenak wajah gadis itu. Seperti ingin mendalami pikirannya.
"Pranata dulu kemudian Seta Aji dan terakhir Raden Indrajaya,"
Puspasari berpaling ke Adijaya, sorot matanya menyiratkan bahwa dia menemukan sesuatu.
__ADS_1
"Apa yang kau temukan?" tanya pemuda itu.
"Seta Aji juga pernah menjadi kekasih Arum Honje sebelum dilamar Raden Sujiwa," jelasnya, menunjukan ada kesamaan antara Arum Honje dan Rara Intan.
Giliran Adijaya yang tampak menerawang sejenak. "Kau tahu Seta Aji?"
"Tentu saja!"
Puspasari berpaling lagi ke si ibu, dia membelai-belai punggung wanita itu. Memberi dorongan untuk selalu tabah menghadapi musibah ini.
"Terima kasih, Bu. Keterangan yang walau sedikit ini, tapi cukup membantu untuk penyelidikan kami selanjutnya,"
"Aku juga berterima kasih, kalian telah sudi membantu. Semoga kalian berhasil. Dan semoga kalian berjodoh."
Sepasang pemuda ini saling pandang mendengar ucapan si ibu yang terakhir. Lebih-lebih lagi Puspasari tersipu malu dengan pipi bersemu merah.
Kemudian mereka berpamitan. Hari sudah senja. Di ufuk timur mulai diselimuti gelap. Sementara di barat semburat jingga sebentar lagi tenggelam ditelan malam. Rumah juragan Gumara juga mulai sepi.
***
Di sebuah ruangan yang gelap, satu sosok tinggi yang nampak seperti siluet berdiri kaku sambil mendongakan wajah ke atas. Dua tangannya mengepal dan bergetar.
Dia seperti sedang hendak meloncat menerobos atap. Hampir tidak ada cahaya yang menembus ruangan itu. Tapi sosok ini tak peduli keadaan.
Terdengar suara tarikan napasnya yang berat seperti sedang menahan beban. Dia memang sedang menahan gejolaknya yang membuncah di dalam dada.
"Tak kan berhenti pembalasan ini," suaranya menggeram hingga urat di lehernya tertarik kencang.
"Pembalasan selalu lebih kejam, dan sekali tepuk dua lalat dapat. Tunggulah giliran kalian!"
Dua tangan sosok ini mengejang, semakin bergetar. Badannya mengeluarkan hawa panas. Dia menghimpun tenaga dalamnya.
Suaranya semakin menggeram terdengar menggidikkan dan membuat merinding bagi yang mendengarnya. Hawa panas yang memancar dari tubuhnya menggetar seluruh ruangan itu.
Selama kehidupan terus berputar, maka dendam akan terus ada. Dendam tidak akan hilang, karena setelah dendam terbalaskan maka akan lahir dendam baru.
Dendam tidak menjadikan dunia damai.
Siapakah orang ini?
Ikuti terus!
__ADS_1