
Pembacaan kitab itu memerlukan waktu lama, sehingga harus dipotong istirahat beberapa kali. Baru setelah hari hampir gelap, semua isi telah tercatat pada lembaran daun lontar atau bilah bambu tipis dan juga kulit binatang.
Pekerjaan ini cukup melelahkan. Asmarini yang kesepian di rumah kereta akhirnya menyusul sang suami ke tempat itu. Dia langsung menemani Adijaya yang sedang menyantap hidangan.
Kehadiran Asmarini membuat dua wanita lain tampak mengatur perasaan masing-masing. Sementara Citrawati dan Anjasmara tampak semakin akrab.
"Hahaha...!" Tiba-tiba Ki Manguntara tertawa bergelak membuat semua orang keheranan.
"Akhir-akhir ini kau sering tertawa, padahal dulu sikapmu dingin," komentar Nyai Parasuri.
"Sudah mendekati moksa, apa lagi yang harus dipikirkan. Murid untuk menggantikan aku juga sudah ada. Jadi, berbahagialah sebelum ajal tiba. Agar saat mati tidak membawa beban!"
Tidak ada yang membantah perkataan itu. Bahkan ketiga nenek juga berpikiran sama. Malah sepertinya harus meniru sang mahaguru. Seketika tiga nenek ini juga tertawa lepas membuat mereka yang muda-muda hanya geleng-geleng kepala.
"Kalau begitu kami permisi dulu," kata Adijaya berdiri diikuti sang istri. "Katanya wanita hamil jangan sampai kena angin malam."
Adijaya dan Asmarini meninggalkan ruangan setelah menjura hormat pada semuanya. Kepergian mereka diiringi tatapan penuh arti dua wanita yang memendam perasaan.
"Apa kau bisa membuat dia tinggal di sini selamanya?" tanya Nyai Rengganis kepada Ki Manguntara, orang yang dimaksud adalah Adijaya.
"Tadinya aku akan menyerahkan tampuk pimpinan kepadanya, tapi sepertinya dia mendapat akal dengan pekerjaan menyalin barusan. Kata-katanya tidak bisa dibantah ketika bilang dia hanya jembatan ilmu, perantara kitab Hyang Sajati dengan pemimpin padepokan yang sesungguhnya,"
Di kalimat terakhit Ki Manguntara memandang ke arah Anjasmara. Raut wajah pemuda ini seketika menunjukan tanda tanya.
"Benar, Anjasmara!" lanjut mahaguru. "Dia mempercayakan kepadamu!"
Pemuda ini tak bisa berkata apa-apa lagi. Tidak menyangka dengan sifat Adijaya. Meskipun dia pernah lancang menyatakan isi hati kepada Asmarini, tapi Adijaya tidak pernah memusuhinya sama sekali. Bahkan mempercayakan hal yang berat kepadanya.
"Sayang sekali kalau begitu," ujar Nyai Parasuri. "Kita tidak bisa membujuknya agar mengambil selir!"
"Jangan terlalu berambisi," tukas Ki Manguntara. "Tidak perlu menjadi selir, jadi istri resmi juga bisa. Anjasmara sepertinya siap memiliki istri resmi lebih dari satu!"
Anjasmara yang kebetulan sedang minum tersedak sampai batuk-batuk mendengar ucapan gurunya. Mukanya memerah menahan malu. Sementara Citrawati memasang wajah tak senang.
Perkataan mahaguru barusan memaksa Sitaweni dan Wandira memperhatikan sosok Anjasmara walau sebentar. Pemuda itu cukup gagah juga. Wibawa pemimpinnya terpancar jelas.
__ADS_1
Kejap berikutnya ruangan itu dipenuhi gelak tawa dari mereka yang tua-tua.
***
Sebuah kereta kuda mewah beroda empat ditarik sepasang kuda berwarna putih bersih melaju sedang. Jika diperhatikan, badan kereta ini berjalan datar saja tanpa terganggu oleh batu-batu kecil yang mencuat di jalan yang bisa menyebabkan guncangan.
Ternyata keempat roda kereta tidak menempel ke tanah alias melayang, tapi tidak kentara. Juga tidak menjadi masalah karena kereta kuda ini tidak dapat dilihat oleh mata manusia biasa.
Yah, percuma juga naik kereta kuda kalau ditutupi tabir gaib. Mending sekalian tring! Dalam sekejap sudah berpindah di tempat tujuan.
Tapi memang inilah sifat sepasang pendekar muda yang sebentar lagi menjadi ayah dan ibu itu. Kurang apa Adijaya? Harta masih berlimpah dalam peti yang terikat di bawah badan kereta.
Ada dua makhluk guriang yang senantiasa siap membantunya. Tidak beda dengan istrinya yang kini juga mempunyai hewan guriang yang membuat kereta itu tambah istimewa.
"Seharusnya kita sudah tinggal di rumah yang tetap, tapi rasanya aku belum menemukan tempat yang cocok." Adijaya membuka percakapan.
"Kakang tidak betah di padepokan Karang Bolong?"
"Aku selalu digoda agar mengambil selir oleh nenek-nenek itu!"
"Bukannya Kakang senang memiliki banyak istri?" pancing Asmarini.
"Membahagiakan Dinda saja belum sepenuhnya aku bisa, bagaimana harus berbagi sama yang lain?"
Sekali lagi sang istri menatap tepat bagian hitam kedua mata Adijaya. Memastikan bahwa sang suami bukan sekadar membual. Maklum saja, sangat jarang laki-laki yang seperti ini.
Adijaya balas menatap tajam, bahkan sampai memegang kedua belah pipi istrinya lalu mendekatkan wajahnya hingga keningnya beradu. Mereka sama-sama menahan napas.
"Aku percaya Kakang." Asmarini menjauhkan mukanya setelah mengecup bibir sang suami.
"Aku kira dengan banyak istri hanya untuk memuaskan nafsu saja. Mencari sensasi lain yang sebenarnya bisa dilakukan dengan satu istri saja.
"Sedangkan kasih sayang, tidak mungkin bisa berlaku adil. Makanya aku hanya ingin mencurahkan kasih sayang hanya kepada Dinda, dan anak kita nanti!"
Adijaya mengelus-elus perut istrinya. Asmarini pun merebahkan diri ke pangkuan suami.
__ADS_1
Sesuai tugas yang diembankan Ki Manguntara, mereka kini sedang menuju wilayah kaki gunung Salak. Sebelumnya Adijaya memerintahkan Padmasari agar mencari keterangan tentang Tajimeta dan Jagatapa. Apakah kedua orang itu ada keterkaitan satu sama lain?
Mereka sengaja menutupi kereta kuda dengan tabir gaib dari kuda guriang. Mereka tidak ingin terlihat mencolok yang mengundang bahaya, meski sebenarnya bisa dihadapi.
Adijaya hanya ingin istrinya tenang menjalani masa-masa kehamilannya.
Dari kejauhan terlihat ada sebuah kedai di pinggir jalan. Adijaya menyuruh berhenti selagi masih jauh. Lalu sepasang pendekar muda ini turun sehingga sosok mereka bisa dilihat mata biasa.
Dari situ mereka berjalan kaki seolah-olah tidak menaiki kereta sebelumnya. Secara tak kasat mata kereta kuda tetap bergerak mengikuti pemiliknya.
Ternyata kedai itu tidak ada atau belum ada pengunjung. Adijaya dan istrinya mengambil tempat duduk dan memesan makanan.
Agak lama kemudian ketika keduanya sedang menyantap hidangan, di jalan terlihat iring-iringan sebuah rombongan yang cukup mencengangkan sepasang suami istri.
Mereka melihat seorang gadis yang diikat seluruh badannya, diusung di atas tandu yang dipikul oleh empat lelaki berbadan kekar. Di belakangnya ada belasan orang berjalan mengikuti.
Setelah lewat jauh, baru Asmarini menanyakan hal tadi kepada pemilik kedai.
"Itu gadis persembahan untuk Dewi Kalajenget!"
"Persembahan?" Adijaya dan Asmarini saling pandang.
"Desa ini dikuasai oleh wanita setengah siluman Dewi Kalajenget yang setiap purnama meminta gadis persembahan. Karena kalau tidak menuruti permintaannya, maka desa ini akan selalu dilanda bencana,"
"Tidak masuk akal!" gumam Adijaya.
"Terus sudah berapa gadis yang dikorbankan?" tanya Asmarini.
"Ini yang ke dua belas!"
"Waduh!" umpat Adijaya.
Lagi-lagi mereka saling pandang. Bukan tatapan biasa, tapi merupakan bahasa isyarat bahwa mereka harus ikut campur masalah ini. Desa ini harus dibebaskan dari penipuan yang dilakukan Dewi Kalajenget.
______
__ADS_1
Happy reading, nikmati aja.