Pendekar Payung Terbang

Pendekar Payung Terbang
Hati Yang Busuk


__ADS_3

Asmarini bersama murid pelatih wanita yang tadi membawa Sekar Kusuma sedang menunggu di luar. Di dalam, Praba Arum tengah menanyai Sekar Kusuma. Tapi tetap dengan cara lembut.


"Apa ada yang mengganggu pikiranmu?" tanya Praba Arum.


Sekar Kusuma tidak pingsan lama. Beberapa saat setelah dipondong ke ruang khusus, gadis ini langsung sadar. Dia tidak segera menjawab pertanyaan Praba Arum, tapi tatapannya menunjukkan kekecewaan.


"Mohon jelaskan, mungkin aku bisa membantu," bujuk Praba Arum.


"Kenapa dia diberi senjata istimewa?"


Tebakan Praba Arum benar, Sekar Kusuma iri karena senjata. Kemudian istri Arya Sentana yang sedang mengandung anak pertama ini memanggil Asmarini.


"Ada apa, Bibi?" tanya Asmarini begitu di dalam.


"Kau bisa jelaskan dari mana pedang emas itu kau peroleh?" Praba Arum memandang Asmarini.


Asmarini melirik senjatanya sebelum menjawab. "Namanya Pedang Bunga Emas, ini dibuat dan diberi nama oleh Kakang Adijaya,"


Praba Arum menoleh kembali ke Sekar Kusuma. "Sudah jelas, kan?"


Sekar Kusuma mendesah pendek. Dari raut wajah tampaknya dia tidak puas dengan jawabannya. Hatinya semakin panas, dia pikir sudah tidak jalan lagi untuk mendapatkan Adijaya. Diam-diam dia berharap Adijaya tidak pulang lagi ke padepokan.


"Kalau begitu maaf, aku sudah salah sangka!"


Praba Arum tersenyum. "Wajar saja, aku mengerti. Kalau saja Asmarini juga memperlajari jurus-kurus di sini, mungkin aku juga akan menawarkan beberapa senjata seperti yang kulakukan padamu,"


"Baiklah, aku permisi dulu!"


Sekar Kusuma berdiri, menjura, lalu meninggalkan ruangan diiringi tatapan lembut Praba Arum dan juga Asmarini yang kini mengerti perasaan dialami gadis itu.


"Aku merasa bukan cuma soal senjata," ujar Praba Arum setelah Sekar Kusuma tidak ada.

__ADS_1


Asmarini cuma menatap penuh tanya. Dia belum mengerti maksud Praba Arum. Namun, dalam hatinya sudah menduga. Dia sudah melihat sikap Sekar Kusuma ketika dalam perjalanan.


"Dia jatuh cinta kepada Adijaya!" lanjut Praba Arum sebelum melangkah keluar. Dia bermaksud membiarkan Asmarini memikirkan sendiri masalah ini. Dia merasa tidak perlu ikut campur kalau urusan cinta.


Sebaliknya Asmarini tidak begitu peduli tentang semua ini. Dia sudah yakin dengan ketulusan Adijaya. Pemuda itu masih mencintainya walau pernah dipisahkan oleh orang tuanya.


Hari sudah gelap ketika Asmarini kembali ke kereta kuda. Dia berharap Adijaya cepat kembali bersama Ki Brajaseti lalu menikah. Dan dia akan kembali mengajak Adijaya berpetualang ke semua tempat.


"Baru beberapa hari tapi rasanya sudah begitu lama, Kakang cepatlah pulang!" Asmarini memeluk pedang Bunga Emas.


***


Sementara itu di bilik Sekar Kusuma, gadis ini tampak berderai air mata. Tapi tidak ada suara isak tangis. Dia menyesali dirinya. Kenapa tidak bertemu Adijaya lebih dulu sebelum Asmarini?


Asmarini pernah cerita bahwa dia tahu tentang keluarganya. Tentang kakaknya yang meracuni semua anggota keluarga. Bahkan menyelidiki racun yang digunakan kakaknya sampai menemukan sumber masalahnya yaitu ingin menjadi menteri di kerajaan baru.


Semua itu dipecahkan bersama Adijaya. Tapi Sekar Kusuma tidak pernah melihat Adijaya sebelumnya. Dia juga ingat pernah melihat Asmarini di sebuah kedai, tapi bukan bersama Adijaya. Memang, saat itu Adijaya sedang menyamar.


Saat ini Sekar Kusuma hanya berharap Adijaya tidak kembali lagi. Entah itu tewas dibunuh musuh atau perampok atau jatuh ke jurang. Pokoknya jangan sampai mereka jadi menikah.


Sekar Kusuma membayangkan seandainya mereka telah jadi suami istri terus tinggal di padepokan. Setiap harinya dia akan merasa sakit hati melihat kemesraan mereka.


Seketika pikirannya muncul niat buruk. Menghancurkan hubungan mereka dengan segala cara. Tapi apakah nantinya Adijaya akan berpaling padanya?


"Atau kubunuh saja Asmarini, tapi..."


Jika Asmarini mati mungkin akan butuh waktu lama untuk Adijaya melupakan dan menerima wanita lain dalam hidupnya. Pada saat itu dia akan terus memberikan perhatian kepada Adijaya hingga lelaki itu menyadari keberadaannya.


Sekar Kusuma tampak menyeringai sinis. "Tadi, jelas aku mengungguli kepandaiannya. Bahkan pedang emas itu sampai lepas dari tangannya!"


Sebuah rencana terbersit dalam pikirannya.

__ADS_1


***


Di dalam kereta kuda. Asmarini berbaring tapi belum memejamkan kedua matanya. Dia masih memeluk senjatanya. Setiap malam dia peluk pedang itu seakan-akan sedang memeluk Adijaya.


Bletak!


Gadis ini dikagetkan dengan suara pintu kereta yang seperti kena lemparan batu. Asmarini segera waspada. Perlahan dia mendekati pintu sambil tangannya bersiap menarik pedang.


Perlahan dia buka pintu, tapi dirinya berada di samping pintu. Dia buka sampai lebar sehingga ruangan dalam yang terang oleh damar kelihatan dari luar. Dia menunggu di samping, tidak langsung muncul di pintu.


Tidak ada apa-apa. Asmarini mengira akan ada serangan senjata rahasia. Lalu gadis ini merasakan kereta ini bergoyang sedikit. Ini karena kepekaannya yang tinggi. Dia mendongak ke atap.


Asmarini merasakan ada orang di atas atap. Ilmu meringankan tubuh orang ini masih belum seberapa, karena Asmarini bisa merasakan kehadirannya. Dia menunggu, tapi orang itu juga belum bergerak.


Dia ingin menusuk atap dengan pedangnya. Tapi tidak ingin merusak kereta kuda ini. Kalau dia keluar, dia khawatir gerakannya tidak lebih cepat dari orang di atas atap. Saat keluar, bisa saja orang itu dengan cepat menyerangnya.


Tiba-tiba Asmarini merasakan ada hembusan angin lembut menerpa wajahnya. Lalu dia tidak ingat apa-apa lagi.


Orang di atas atap kereta masih siaga menunggu Asmarini keluar. Dia memegang pedang yang siap diayunkan. Dia berpakaian serba hitam dan menutupi sebagian wajahnya dengan kain. Dari lekuk tubuhnya menandakan orang ini wanita.


Pandangan orang ini terus ke arah pintu. Dia melihat gadis yang diincarnya tidak berada tepat di tengah-tengah pintu. Tapi beberapa saat kemudian dia melihat gerakan perlahan. Asmarini hendak keluar dengan cara melompat.


Benar juga, Asmarini melompat. Kesempatan terbuka lebar. Orang di atas atap juga meloncat. Bersalto sekali agar loncatannya bisa mengejar Asmarini. Pedangnya diayunkan cepat.


Creb!


Dia berhasil menusuk punggung Asmarini ketika dua-duanya masih melayang di udara. Dia terus menusukan pedangnya hingga tembus. Di tekan ke bawah hingga Asmarini jatuh telungkup dengan pedang menembus jantungnya dari belakang.


Tidak ada suara pekikan. Sepertinya Asmarini tidak sempat untuk menjerit. Sementara orang ini merasa senang karena melakukannya dengan sangat mudah tanpa ada perlawanan.


Kemudian orang ini bersalto lagi agar bisa mendarat dengan selamat. Setelah memastikan Asmarini tak berkutik lagi, segera dia berkelebat tinggalkan tempat itu.

__ADS_1


***


Kemarin tidak update karena sibuk ngobeng, sepupu nikahan. Mudah-mudahan kedepannya lancar lagi. Terima kasih atas dukungannya.


__ADS_2