
Dari laporan Padmasari ternyata dua orang bertopeng yang hendak membunuh Ki Legawa adalah suruhan Ki Bontang. Guriang cantik itu berhasil membuat Ki Bontang percaya bahwa Ki Legawa telah tewas.
"Sebaiknya Kakek tidak menampakan diri untuk sementara," saran Adijaya.
Namun, Ki Legawa tampaknya belum mengerti maksudnya. "Untuk apa?" tanya si kakek.
"Biarkan orang itu menganggap kakek telah mati,"
"Lalu dua pembunuh itu?" Ki Legawa sempat melihat walaupun dua orang bertopeng itu berhasil dilumpuhkan tapi tidak dibunuh.
"Mereka tidak akan kembali kepada majikannya, dan kalau Kakek ternyata tidak muncul-muncul maka dia akan menganggap Kakek telah mati,"
Ki Legawa berpikir sejenak sebelum akhirnya angguk-angguk kepala.
"Baiklah, aku akan pergi ke suatu tempat untuk bersembunyi sementara waktu. Aku percayakan masalah ini kepadamu, anak muda!"
Malam semakin larut, tapi Adijaya tidak merasa ngantuk lagi. Dia meninggalkan Ki Legawa sendirian di kamar untuk memulihkan kesehatannya.
Suasana tampak sunyi. Tamu yang menyewa kamar di penginapan ini semuanya telah terlelap dalam mimpi. Adijaya duduk sendirian di ruangan luas yang sering dipakai untuk pertemuan.
Menurutnya kemelut yang mendera padepokan Karang Bolong cukup rumit. Serupa perebutan kekuasaan dalam kerajaan. Entah siapa yang benar dan yang salah. Semuanya tidak bisa begitu saja langsung dipercaya.
Hal yang mencolok baginya adalah Ki Bontang yang terlihat pendiam selama pertarungan Ki Legawa melawan Ki Rangkas. Kenapa dia ingin membunuh Ki Legawa?
Pertama, salah satu sesepuh pesangrahan bernama Ki Ganjar telah tewas dibunuh oleh Ki Legawa. Kedua, jika Ki Legawa juga mati, maka murid utama Mahaguru Manguntara tinggal dua orang.
Jika yang menghendaki Ki Legawa mati adalah Ki Bontang, ada kemungkinan pemimpin pesanggrahan Gunung itu juga menginginkan kematian Ki Rangkas.
Ki Bontang bisa menggunakan cara seperti Ki Rangkas terhadap Ki Legawa. Menyingkirkan Ki Rangkas atas tuduhan membunuh Ki Legawa atas nama padepokan.
Cerdik sekali Ki Bontang ini. Jangan-jangan dia yang menyebarkan isu sehingga terjadi bentrok antara Ki Legawa dan Ki Ganjar yang kemudian memicu bentroknya Ki Legawa dengan Ki Rangkas.
Pepatah bilang, diam-diam menghanyutkan. Begitulah kira-kira perumpamaan buat Ki Bontang.
Menurut Ki Legawa, salah satu dari mereka bekerja sama dengan padepokan aliran hitam Gunung Sindu. Bila dikaitkan dengan kejadian-kejadian, Ki Bontang menjadi tersangka utamanya.
__ADS_1
Ki Legawa menyarankan agar dirinya menyelidiki mulai dari padepokan Gunung Sindu. Tapi hatinya seperti menolak. Dia lebih cenderung ingin menyelidiki Ki Bontang terlebih dahulu.
Tiba-tiba Adijaya mendengar suara berisik. Sepertinya dari luar. Di halaman belakang. Adijaya segera menggunakan ajinj Ngaraga Sukma agar lebih cepat melihat apa yang terjadi.
Ternyata mereka murid-murid padepokan Karang Bolong, tapi tidak tahu dari pesanggrahan mana.
"Yang membuat tandu untuk Guru Legawa ada empat orang, di sini tinggal tiga orang semuanya tewas!"
"Guru Legawa juga hilang!"
"Sepertinya ada murid pesanggrahan Langit yang berkhianat dan sekarang telah melarikan Guru Legawa,"
"Tunggu, lihat ini!" teriak seseorang yang agak jauh dari mereka.
"Ada apa?"
Seseorang menemukan pedang yang digunakan pembunuh bertopeng. Satu lagi juga menemukan pedang lainnya. Adijaya ingat dua pedang itu lepas dari tangan orang bertopeng.
"Ternyata mahluk guriang juga kurang rapi," batin Adijaya, tapi langsung dibantah sendiri. Karena bisa saja Padmasari membuat pedang yang palsu tapi serupa.
Mereka tampak bingung. Terlebih Adijaya, karena baru mendengar nama Dewan Kehormatan. Apa lagi itu? Pikirnya.
"Sulit menerka, jika pedang ini hanya satu, kita bisa menebak salah satu dari mereka pasti anggota Dewan Kehormatan yang menyamar jadi murid biasa. Tapi senjata ini ada dua!"
Adijaya ingat, yang membuat tandu untuk Ki Legawa adalah murid-murid Ki Rangkas. Setelah mendengar percakapan mereka, bisa dipastikan mereka juga murid Ki Rangkas.
Kenapa mereka kembali ke sini, tidak bersama Ki Rangkas lagi? Kemana orang itu?
Seperti diceritakan sebelumnya Ki Rangkas menyuruh muridnya berjalan duluan sambil menggiring murid Ki Legawa yang jadi tawanan. Tapi setelah lama berjalan Ki Rangkas tidak juga menyusul.
Akhirnya sebagian dari mereka kembali ke tempat Ki Rangkas berada sebelumnya. Sebagian lain menjaga murid-murid Ki Legawa.
Setelah sampai di sana Ki Rangkas tidak ada. Lalu memutuskan kembali ke halaman belakang penginapan dengan harapan bertemu gurunya, Ki Bontang dan juga Ki Legawa yang ditandu.
Ternyata sampai di sini hanya menemukan tiga teman mereka yang sudah jadi mayat. Seharusnya empat. Jadi wajar mereka menuduh yang satunya sebagai pengkhianat.
__ADS_1
Tapi yang membuat bingung mereka menemukan dua pedang anggota Dewan Kehormatan.
Selagi bingung melanda pikiran mereka, tiba-tiba datang seseorang dengan tergopoh-gopoh.
"Gawat! Gawat!" teriak orang yang baru datang dengan napas terputus-putus.
"Tenang dulu, lalu katakan dengan jelas!"
Setelah kondisinya tenang baru dia melaporkan bahwa guru mereka, Ki Rangkas ditangkap Dewan Kehormatan.
Semuanya terkejut bukan main. Sepertinya Dewan Kehormatan itu sesuatu yang menakutkan bagi mereka, pikir Adijaya.
"Apa salah guru?"
"Katanya telah main hakim sendiri terhadap Guru Legawa dengan membunuhnya!"
"Membunuh!" teriak beberapa orang bersamaan.
Adijaya menyeringai penuh arti. Ini persis seperti dugaannya. Kecurigaannya kepada Ki Bontang semakin kuat. Ki Bontanglah yang ingin mendapatkan posisi pemimpin padepokan, begitulah menurut pandangan Adijaya.
Seketika dia ingat dua murid utama Ki Ranggasura. Arya Sentana dan Komara. Beruntung mereka tidak memiliki ambisi yang menggebu-gebu sehingga tidak terjadi intrik untuk memperebutkan posisi pimpinan.
Lalu dia membandingkan cara mendidik antara Mahaguru Manguntara dengan Ki Ranggasura. Ah, ini tidak boleh dibandingkan! Adijaya menepis pikirannya.
Semua murid itu tampak berdecak heran. Tidak ada satupun yang bersuara. Tadinya murid-murid Ki Legawa yang akan diadili. Sekarang mereka juga terseret.
Sukma Adijaya segera kembali ke raganya karena merasakan sesuatu yang tidak enak. Lalu segera kembali ke kamar karena melihat ada beberapa orang naik ke lantai atas.
Malam-malam begini masih ada tamu? Apa pemilik penginapan ini tidak tidur? Atau memang penginapan ini buka siang malam? Tapi memang begitu seharusnya.
Adijaya terkejut ketika sampai di kamar, Ki Legawa sudah tidak ada di sana. Apa mungkin dia sudah pergi ke suatu tempat seperti yang dikatakan kakek itu sebelumnya. Apa kakek itu tidak melihat raganya yang mematung sendirian?
Ah, biarkan saja kemana pun dia pergi. Yang penting tidak menghilang untuk sementara dari pandangan Ki Bontang.
Dari celah pintu kamar Adijaya berusaha mengintip siapa yang datang. Sepertinya mereka hendak mengadakan pertemuan. Apa tidak ada hari esok, sehingga harus dilakukan sekarang?
__ADS_1
"Hah, mereka lagi!" Adijaya terkejut.