Pendekar Payung Terbang

Pendekar Payung Terbang
Bukan Satu Tapi Empat


__ADS_3

Kembali ke Adijaya.


Kemunculan dan sepak terjang Dewi Kembang Merah telah membikin geger dan resah warga-warga desa di wilayah kekuasaan Indraprahasta. Pihak kerajaan akhirnya menurunkan pasukan khusus untuk menanganinya.


Ada yang membuat Adijaya merasa aneh memikirkannya. Di empat wilayah mulai utara, selatan, timur dan barat Dewi Kembang Kuning menebar keresahan dalam waktu yang hampir bersamaan.


Padahal dari wilayah satu ke yang lainnya jarak tempuhnya jauh dan pasti memakan banyak waktu. Tapi sepertinya sosok Dewi Kembang Kuning ini mampu menempuh perjalanan jauh dalam waktu singkat.


"Jangan-jangan dia juga punya Payung Terbang!" pikir Adijaya.


Adijaya kini berada di sebuah desa di kaki gunung Indrakilla. Suasana desa tampak lengang. Sepi mencekam, padahal masih siang. Kedai pun tak ada yang buka. Terpaksa Adijaya mencari buah-buahan untuk mengganjal perutnya.


Tiba-tiba dia merasakan suatu hawa sakti mendekat. Segera saja dia menyelinap di antara pepohonan yang tumbuh di pinggir jalan. Sebelumnya dia tutupi hawa saktinya agar tidak terendus orang lain.


Dari sebelah kirinya, di jalan desa. Muncul sesorang menaiki kuda yang berjalan agak pelan. Dari perawakannya dia seorang wanita berpakaian serba kuning dan juga wajahnya ditutupi cadar kuning.


"Dewi Kembang Kuning!" desis Adijaya.


Di belakangnya berjalan dua belas lelaki yang semuanya berbadan tegap dan wajahnya ditutupi topeng kayu. Dua orang paling depan membawa dua wanita yang tangannya diikat.


Dugaan Adijaya mereka pasti sudah mengancam kepala desa dan membawa istri serta anaknya untuk dijadikan tawanan.


Hanya saja ada yang beda dari penampilan Dewi Kembang Kuning. Walaupun kedua matanya sama memancarkan sinar kuning. Tapi perawakannya beda dengan Dewi Kembang Kuning yang pernah dia lihat sebelumnya.


Akhirnya dia mengerti sesuatu. Setelah rombongan itu melewatinya, Adijaya berniat membuntuti mereka. Dia ingin tahu di mana mereka bermarkas. Sekalian untuk membuktikan dugaannya.


Adijaya memperhatikan baik Dewi Kembang Kuning atau anak buahnya sama sekali tak pernah bicara ketika sedang berjalan. Gerakan mereka kaku seperti orang tidur berjalan. Istilahnya 'Ngalindur'.


Pantas saja suasana desa begitu sepi. Rupanya telah kedatangan segerombolan orang yang ditakuti semua warga.


Pendekar Payung Terbang menguntit mereka dalam jarak yang agak jauh. Tapi masih bisa terpantau oleh pandangannya. Hingga hari menjelang sore, pasukan kecil Dewi Kembang Kuning ini belum juga berhenti.


Si pemuda ini menyadari sesuatu lagi yang membuatnya semakin penasaran. Memang benar, ilmu yang barusan dia dapatkan berkaitan dengan masalah yang dia hadapi sekarang.


"Berhenti!"

__ADS_1


Seseorang berteriak di depan sana. Rupanya rombongan Dewi Kembang Kuning dihadang oleh tiga orang lelaki yang sepertinya pendekar.


"Dewi Kembang Kuning, kau harus membayar nyawa guru kami!"


Terdengar suara tawa nyaring. Suara tawa yang menguatkan dugaan Adijaya. Tapi juga sedikit terkejut, karena merasa tidak asing dengan suara ini.


"Kalian datang hendak menyusul guru kalian?" Cukup sekali isyarat tangan, sepuluh orang bertopeng sudah mengepung ketiga pendekar itu.


Yang dua lagi tidak ikutan karena harus menjaga tawanan. Walaupun kedua tawanan itu tidak akan mampu melarikan diri, mereka tetap harus dijaga.


Kejap berikutnya terjadilah pertempuran tidak seimbang dalam hal jumlah. Karena nyatanya tiga pendekar yang menuntut balas itu memiliki kepandaian yang tak bisa dianggap sepele.


Sepuluh orang bertopeng itu belum mampu melukai lawan setelah melewati belasan jurus. Tapi mereka tidak pernah menyerah walau sering gagal. Malah sepertinya mereka tidak takut mati.


Sementara tiga pendekar itu juga belum mampu melumpuhkan satupun dari sepuluh lawan mereka itu. Mereka seperti melawan mayat hidup yang tak punya perasaan.


Hal ini juga makin menguatkan dugaan Adijaya. Dia terus memperhatikan jalannya pertempuran. Tiga pendekar mulai terdesak. Di kepung dari berbagai arah membuat ruang gerak mereka semakin sempit.


Adijaya bingung, apakah harus turun tangan menolong mereka atau dibiarkan saja tiga pendekar itu dibantai. Tapi sepertinya dia harus menyelamatkan mereka.


Sosok Adijaya terbang dari arah belakang wanita bercadar kuning itu. Pada saat menyalip karena saking cepatnya, Adijaya melepaskan pukulan jarak jauh sehingga Dewi Kembang Kuning terpental ke samping.


Lalu Adijaya keluarkan ajian Bantai Jagat yang membuat sepulu orang bertopeng terpental berhamburan. Setelah mendarat di dekat tiga pendekar, segara dia tarik tiga tangan mereka dibawa lari.


Setelah jauh dari tempat semula barulah Adijaya menghentikan larinya.


"Untuk sementara ini, mereka belum ada yang bisa menandingi," ujar Adijaya kemudian.


"Tapi tadi aku lihat kau bisa merobohkan mereka!" Salah satunya sudah mengukur kekuatan Adijaya. Dia bernama Wuragil.


"Itu tidak akan berguna, karena mereka angkat bangkit dan kuat lagi!" sanggah Adijaya.


"Lalu harus bagaimana?" tanya yang lainnya yang bernama Wirasoka.


"Kita memang harus menuntut balas," ujar yang satunya lagi bernama Sokananta tampak lebih bijak. "Tapi jangan bertindak gegabah. Dewi Kembang Kuning mampu mengalahkan guru kita, berarti ilmunya lebih tinggi dari guru,"

__ADS_1


Beberapa saat mereka terdiam. Tiba-tiba Adijaya kaget membuat tiga pendekar itu tampak bertanya-tanya.


"Aku harus kembali, sebenarnya aku sedang mengikuti mereka untuk mengetahui markasnya."


Sebelum pergi Adijaya sempat memberikan pepatah, bahwa tak ada gading yang tak retak. Sekuat-kuatnya Dewi Kembang Kuning pasti ada kelemahannya. Maka gunakan sedikit tenaga untuk menghantam kelemahannya.


Jangan keluarkan tenaga besar untuk hal yang sia-sia.


Tiga orang pendekar saling pandang satu sama lain setelah kepergian Adijaya.


Tak butuh waktu lama Adijaya sudah menemukan pasukan kecil Dewi Kembang Kuning. Mereka sudah berjalan seperti semula. Tidak melakukan pengejaran terhadap tiga pendekar tadi.


Perjalanan mereka kini melewati sebuah hutan kecil. Ini memudahkan Adijaya agar lebih aman saat menguntit. Dia meloncat dari pohon ke pohon tanpa menimbulkan suara.


Daerah ini masih termasuk kaki gunung Indrakilla, jadi tidak sedikit pasukan kecil ini melewati jalan yang menanjak atau menurun. Melewati bukit kecil. Dan sekarang tampak mereka memasuki jalan menurun.


Sepertinya menuju lembah.


Menempuh perjalanan cukup jauh ini mereka masih kelihatan segar bugar. Tak satupun di antara mereka yang kelelahan. Mereka berjalan tidak pernah berhenti selain ketika dihadang tiga pendekar tadi.


Sampailah mereka di dasar lembah yang tidak terlalu dalam. Di sana terdapat tanah datar yang luas seperti lapangan. Di tengah-tengahnya berdiri sebuah bangunan.


Bangunan tanpa dinding dan sekat. Hanya sebuah atap yang disangga tiang-tiang saja di setiap sisi, sudut dan beberapa di tengah. Bangunan ini cukup besar. Bisa menampung kira-kira seratus orang lebih.


Di salah satu sisi terdapat sebuah kursi yang memanjang yang mirip singgasana. Di depan kursi itu telah berdiri tiga orang yang berpakaian sama serba kuning dan bercadar kuning.


"Tidak salah dugaanku," gumam Adijaya. "Dewi Kembang Kuning bukan hanya satu.


Dengan datangnya Dewi Kembang Kuning yang barusan, sekarang jadi berempat. Yang baru datang juga langsung berdiri berbaris bersama tiga lainnya.


Tidak ada sepatah katapun ketika yang terakhir tiba. Semuanya diam. Jika masing-masing wanita bercadar kuning itu memiliki dua belas anak buah. Maka jumlah orang bertopeng yang semuanya duduk bersila di lantai sebanyak empat puluh delapan.


Tawanan yang dibawa ditempatkan terpisah dalam keadaan terikat.


Sekarang Adijaya menunggu sesuatu yang menjadi dugaannya juga.

__ADS_1


__ADS_2