
Semakin cepat serangan Adijaya telah memancing amarah Ki Sanca. Yang tadinya cuma menghindar saja seolah menganggap enteng lawan, kini dia juga harus melepaskan serangan.
Tangan Ki Sanca tampak lentur bergerak seperti ular. Sangat lentur tapi kuat. Kadang-kadang bisa memanjang sambil membelit seperti tali.
Adijaya sempat kaget melihat serangan seperti itu. Beruntung gerakannya lebih cepat sehingga belitan tangan lawan yang bagai ular sanca lewat begitu saja.
"Sepertinya aku tidak bisa meniru jurus seperti ini." batin Adijaya. Bahkan dia cukup kesulitan menciptakan jurus pemecah.
Keadaan berbalik, kini Adijaya yang menghindari serangan lawan. Kalau tidak ada kekuatan yang didapat dari lumut ajaib sehingga bisa bergerak sangat cepat. Mungkin tubuhnya sudah bagaikan dibelit ular sanca.
Merasa kurang menguntungkan bertarung jarak dekat, Adijaya perlahan menjauh. Tapi tangan Ki Sanca yang bisa memanjang masih mampu mengirim serangan.
Terdengar suara tawa mengejek Ki Sanca. Kedua matanya yang celong memancarkan sinar menyeramkan. Serangannya semakin mendesak mundur Adijaya.
Sebenarnya Adijaya sedang memikirkan pemecahan jurus dan ilmu lawan yang baru dikenalnya ini. Menurutnya ini jurus aneh yang pertama kali dia hadapi. Ilmu setinggi Birawayaksa atau Ganggasara sekalipun masih tidak seaneh ilmu yang mirip ular ini.
Adijaya semakin menjauh. Ki Sanca semakin tertawa sombong.
"Keluarkan payung terbangmu, anak muda!"
Ki Sanca melepaskan ikat pinggangnya yang mirip kulit ular. Setelah dibentangkan oleh dua tangannya, ternyata ikat pinggang ini sebuah senjata cambuk yang terbuat dari kulit ular sanca. Cambuk ini mengeluarkan cahaya hijau.
Kemudian Ki Sanca memainkan cambuknya. Menyerang Adijaya dari jarak jauh. Seperti tangannya, cambuk ular ini juga bisa memanjang. Menimbulkan hempasan angin yang kuat bahkan ujungnya bisa membuat ledakan kecil tapi mampu membuat kulit pecah.
Tar! Tar! Tar!
Adijaya dibuat kelabakan mengindari deruan cambuk yang begitu cepat. Dia harus berjumpalitan kesana kemari. Memang ledakan-ledakan kecil yang timbul tidak ada pengaruhnya. Tapi dia berpikir jika cambuk itu mengenai tubuhnya pasti lebih bahaya.
Pemuda ini lupa kalau tubuhnya kebal. Dia lupa dulu saat jatuh dari mulut goa karena belum mampu menyeimbangkan tubuh, tak sedikitpun dia merasakan sakit.
Namanya juga manusia pasti ada lupanya.
Tapi beberapa kejap kemudian Adijaya mendapat akal.
Wutt!
Cambuk ular membabat cepat mengarah ke kepala. Adijaya mundurkan kepala lalu...
__ADS_1
Settt!
Payung terlipat muncul. Ujung cambuk membelit payung. Terjadi tarik menarik.
"Hahaha... ini yang kutunggu-tunggu!"
Ki Sanca alirkan tenaga dalam ke cambuknya. Cahaya hijau semakin berkilau. Lalu tangannya menarik, membetot.
Tapi Adijaya bergeming bagai terpaku ke tanah. Kuat tak tergoyahkan. Terpaksa mengeluarkan payung terbang karena belum juga mendapat cara untuk memecahkan ilmu lawan.
Payung digenggam erat. Hawa sakti disalurkan. Lalu payung diputar cepat seperti kincir.
Werr!
Cambuk ikut terputar merambat hingga ke ujung yang dipegang Ki Sanca yang tidak menyangka tenaga putaran payung itu sangat kuat. Tangannya sampai bergetar menerima hantaman balik tenaga dalamnya. Terpaksa dia lepaskan senjatanya, tapi terlambat sedikit.
Duar!
Tarrr! Tarrr!
Bagian dalam tubuhnya terasa panas. Lalu dia buru-buru duduk bersila. Mengatur nafas dan aliran darah yang kacau.
Adijaya sudah berdiri di depannya. Tangannya masih memegang payung.
"Kami tidak akan membawa dua muridmu jika kau memberiku satu keterangan," tawar Adijaya.
"Kalau kau ingin menanyakan tentang Tuan Besar, kami benar-benar tidak tahu," yang menjawab adalah Soka.
"Sudah kutebak," ujar Adijaya. "Kalau begitu kami terpaksa membawa Jaladipa dan Singgih ke Tarumanagara untuk memberikan kesaksian dan memancing Tuan Besar,"
"Kami jamin nyawa mereka, dan juga kerahasiaan padepokan ini," timpal Cakra Diwangsa yang baru saja menghampiri.
Ki Sanca mendesah. "Panggil mereka,"
Lalu Wirat pergi dan balik lagi bersama dua orang yang dicari-cari oleh Cakra Diwangsa.
"Aku percaya padamu Payung Terbang, dan aku puas bertarung denganmu." Ki Sanca tersenyum. Tentu saja sebagai pendekar akan merasa puas jika menghadapi lawan yang seimbang atau lebih kuat. Ini akan melecutkan semangat untuk memperdalam lagi ilmu yang dimilikinya.
__ADS_1
***
Di hadapan Maharaja Wisnuwarman, Jaladipa dan Singgih menuturkan sebagai pendekar bayaran dia mendapat tugas untuk membantu Tuan Besar yang mereka sebut 'Utusan Gusti Prabu'.
Sang utusan ini selalu menutupi wajahnya dengan kain. Mereka menjelaskan bahwa 'Utusan Gusti Prabu' mendapat mandat dari Prabu Satyaguna untuk merekrut prajurit baru. Sementara mereka langsung diangkat menjadi senapati.
Pada saat penangkapan yang kemudian Prabu Satyaguna beserta prajurit baru digiring ke kota raja. Mereka lolos dari pengawalan sesuai arahan 'Utusan Gusti Prabu'. Kemudian mereka menemui sang utusan dan mendapatkan imbalan dan tugas mereka selesai.
Karena jati diri Utusan Gusti Prabu yang belum diketahui dengan jelas. Akhirnya dua murid Ki Sanca diperintahkan untuk memancing agar si Tuan Besar ini menemui mereka.
Sebelumnya ketika Adijaya berpura-pura menjadi murid Ki Sanca dan menyuruh murid lain menyampaikan surat yang isinya bahwa urusan Cakra Diwangsa dan Adijaya telah selesai. Dia mengira orang itu akan mengantarkan langsung. Ternyata menggunakan burung pengantar surat.
Sekarang Jaladipa yang menulis surat atas nama Ki Sanca yang isinya meminta tambahan imbalan. Juga menggunakan merpati pengantar surat.
Jika dipikir-pikir kenapa tidak dari awal saja isi suratnya seperti ini? Alasannya Jaladipa dan Singgih diperlukan kesaksiannya. Walaupun tidak meringankan bagi Prabu Satyaguna tapi tetap menjadi benang merah untuk menghubungkan dengan Tuan Besar.
Sesuai janji Cakra Diwangsa yang hanya mengincar si Tuan Besar, maka padepokan Sanca Wulung tidak akan diseret dalam kasus ini. Jaladipa dan Singgih tidak diperkenankan pulang sebelum Tuan Besar tertangkap. Karena mereka akan dijadikan umpan.
Sesuai perjanjian waktu yang ditulis dalam surat, Jaladipa dan Singgih bertemu Tuan Besar di muara sungai Gomati.
Dari hari gelap dua murid Ki Sanca ini sudah berada tempat perjanjian. Di pinggir sungai. Tentu saja dari tempat tersembunyi mereka tak lepas dari pengawasan Adijaya dan Cakra Diwangsa.
Sementara dua orang yang jadi umpan itu duduk dengan tenang sambil membakar ubi untuk sarapan. Di tempat persembunyian Adijaya mempertajam perasaannya. Dengan hawa saktinya dia memeriksa keadaan sekitar. Dengan hawa saktinya ini dia bisa menyerap ada berapa detak jantung manusia di tempat itu.
Jadi jika ada orang lain selain mereka akan diketahui dengan jelas, juga di mana tempat orang itu berada.
"Mereka sudah hadir sejak tadi malam," Adijaya memberi tahu.
"Mereka?" Cakra Diwangsa terkejut.
"Ya, dua orang. Yang satu memiliki tenaga dalam yang tinggi. Rasanya aku pernah merasakan hawa sakti ini."
"Ada rencana tersembunyi dari si Tuan Besar itu!"
"Bisa saja."
Kembali mereka mengawasi ke tempat Jaladipa dan Singgih berada.
__ADS_1