Pendekar Payung Terbang

Pendekar Payung Terbang
Pagi Hari Di Lembah Jonggrang


__ADS_3

Besok paginya ketika cahaya dari timur baru masih berupa garis putih. Adijaya dan Arya Sentana sudah bersiap-siap. Tak ketinggalan Tunggul Manik juga. Mereka segera keluar dari penginapan.


Begitu di luar langkah mereka terhenti ketika melihat pasukan prajurit Indraprasta berlari menuju lembah Jonggrang.


"Sepertinya keberadaan Dewi Kembang Kuning di lembah Jonggrang sudah terendus pihak kerajaan," kata Tunggul Manik.


"Dan mereka akan menyerang duluan," sahut Adijaya.


"Jadi bagaimana kita?" tanya Tunggul Manik.


"Ikuti dari belakang!" jawab Arya Sentana.


Setelah barisan prajurit paling belakang lewat sejauh beberapa tombak, ketiga orang ini menyusul di belakang. Baru beberapa langkah, muncul pendekar-pendekar lain yang mempunyai tujuan sama juga mengikuti.


Jika Tunggul Manik berbaur dengan yang lain, Adijaya mengajak pamannya memilih terpisah. Tidak melalui jalan utama menuju lembah itu. Tapi menerobos ladang dan kebun yang ada di sekitarnya.


Yang dilakukan Adijaya ini membuat mereka lebih cepat sampai. Maklum saja karena Adijaya pernah ke sana sebelumnya. Jadi dia bisa memperkirakan jalur-jalur singkat menuju lembah.


Di atas sebuah pohon, Adijaya dan pamannya mengintai ke arah lapangan yang terdapat bangunan besar tanpa dinding itu. Jarak mereka ke sana sekitar dua puluh tombak lebih.


Dua ratus prajurit tampak sudah mengepung sekeliling bangunan besar itu. Di dalam bangunan tepatnya di tengah-tengah, berdiri empat Dewi Kembang Kuning saling memunggungi. Bersikap waspada.


Sementara empat puluh depalan orang bertopeng kayu juga berdiri mengelilingi majikannya menghadap keluar dengan golok terhunus. Siap bertempur melawan pasukan khusus kerajaan.


"Sepertinya penguasa lembah membuat jebakan," ujar Adijaya.


Dia sudah menceritakan kepada pamannya, bahwa dalam jarak yang dekat ke pusat lembah sudah terpasang pengaruh sihir yang akan bekerja bila ada penyusup. Seperti yang Adijaya rasakan kemarin.


Tapi sekarang hawa sihir itu tidak terasa, bahkan hilang. Sehingga Adijaya merasa aneh.


Terlihat para pendekar yang jumlahnya sekitar dua puluh orang telah tiba, tapi mereka menjaga jarak. Tidak ikut terjun langsung dengan pasukan yang dipimpin senapati Ajidarma. Sepertinya mereka menunggu waktu yang tepat.


"Serang dan tangkap!" perintah senapati Ajidarma menggema.

__ADS_1


Terlihat kejadian yang aneh. Dua ratus prajurit itu lari di tempat sambil menghunus pedang. Setelah itu mereka memutar-mutar, menebas dan membabatkan pedang seperti sedang bertemour dengan lawan. Padahal di depannya tidak ada siapa-siapa.


Apa yang terjadi?


"Mereka terkena pengaruh sihir, mereka seolah-olah sedang berperang. Dalam pandangannya mereka berhasil membunuh setiap lawannya. Tapi lawannya itu tak pernah habis, selalu bertambah terus. Mereka akan terus seperti itu selama sihirnya belum dimusnahkan," Adijaya menjelaskan.


Begitulah apa yang dilihat, termasuk para pendekar yang menyaksikan di belakang. Kecuali Adijaya dan Arya Sentana. Pemuda itu sudah menyalurkan kekuatan agar pamannya tidak terkena pengaruh sihir.


"Kita harus bagaimana?" tanya Arya Sentana.


Belum sempat menjawab, mereka melihat pasukan bertopeng anak buah Dewi Kembang Kuning bergerak maju. Perlahan tapi pasti, begitu berada dekat dengan prajurit yang paling depan, mereka menebaskan goloknya.


Tak bisa dihindari lagi banyak prajurit yang tumbang dengan begitu mudahnya. Prajurit-prajurit yang meregang nyawa sempat sadar bahwa ternyata mereka hanya berhalusinasi, tapi terlambat nyawanya keburu minggat.


"Celaka!" seru Adijaya, bingung harus melakukan apa.


Kalau begini caranya lama-lama prajurit itu akan habis. Mendadak saja dalam otaknya seperti membaca sesuatu dan langsung memahami dan menguasai. Adijaya satukan telapak tangan di depan dada, pejamkan mata dan mulutnya merapal mantra.


Jurig ngacir


Siluman lumpat


Nyingkir sia


Montong balik deui


Los ngaleos


Begitu terus mantra ini dibaca berulang-ulang. Arya Sentana yang mendengar di dekatnya sempat menahan tawa. Tapi begitu ada hawa aneh keluar dari tubuh Adijaya, tawanya berubah jadi kagum.


Hawa aneh itu terus semakin membesar dan menyebar ke seantero lembah. Merasuk ke semua orang yang ada. Baik pasukan khusus, pasukan bertopeng, empat Dewi Kembang Kuning dan juga para pendekar.


Selain empat wanita bercadar kuning yang sepertinya tak terpengaruh dengan hawa itu, yang lain tampak mulai sadar dari pengaruh sihirnya.

__ADS_1


Jika para pendekar dan pasukan kerajaan sadar dari halusinasinya, maka orang-orang bertopeng sadar dengan keberadaan dirinya yang merasa aneh. Kenapa mereka ada di situ, memakai topeng dan memegang golok.


Namun, kesadaran mereka cuma sebentar karena kejap berikutnya mereka tak bisa menghindar dari serangan prajurit. Ada yang langsung tewas, tapi ada juga yang cuma dilumpuhkan.


Hampir setengahnya orang-orang bertopeng tewas, yang lainnya segera ditawan. Melihat ini, Adijaya menyesalkan para prajurit yang dengan tega membunuhnya.


Sementara itu para pendekar yang sudah sadar segera menyerbu empat wanita bercadar. Kebanyakan dari mereka hendak menuntut balas. Di antara mereka juga ada Wiraganda dan Taji Salira, dua pendekar yang sebelumnya pernah melihat di sebuah kedai.


Dua pendekar itu datang bersama satu orang lagi. Mungkin itu yang namanya Ki Bandawa.


Sedangkan Arya Sentana tampak bingung, tujuannya adalah menyelamatkan istrinya. Tapi sampai sekarang dia belum melihat di mana istrinya di tahan?


Adijaya yang mengerti keresahan pamannya segera memberitahu. "Paman, salah satu dari wanita bercadar itu adalah Bibi Praba Arum!"


Arya Sentana terkejut mendengarnya. Dia belum bisa percaya akan hal itu. Tapi mengingat si dalang yang ada dibalik semua ini menggunakan sihir, dia rasa ucapan Adijaya bukan omong kosong.


"Apa yang harus aku lakukan?"


"Paman maju, ikut menyerang bersama para pendekar itu. Setelah dekat Paman pasti mengenali ciri-ciri Bibi walaupun memakai cadar. Sementara itu saya akan memusnahkan pengaruh sihirnya. Begitu dia terlihat bingung, segera saja bawa lari!"


Arya Sentana mengangguk tanda mengerti. Dia harus mengakui, saat ini Adijaya lebih mengerti keadaan. Jadi dia menurut saja apa yang diperintahkan keponakannya.


Lalu mereka pun melesat ke arah pertempuran. Para prajurit telah meringkus semua orang bertopeng yang tersisa. Kini mereka menonton pertarungan para pendekar.


Walaupun cuma empat orang, ternyata mereka mampu mengimbangi serangan dua puluh pendekar sebelum datangnya Adijaya dan Arya Sentana.


Jika tadi Adijaya mengatakan bahwa salah satu Dewi Kembang Kuning itu adalah Praba Arum, maka sebelumnya dia sudah menduga bahwa Asmarini juga ada di antara mereka.


Keempat wanita bercadar bergerak lincah bagai burung menari dengan gaya indah. Setiap kibasan tangan atau putaran badannya melepaskan angin kencang menghantam lawan. Sehingga sampai saat ini mereka belum tersentuh sama sekali.


Keduapuluh pendekar seperti sedang berlomba-lomba melumpuhkan Dewi Kembang Kuning. Kecuali Arya Sentana dan Adijaya. Mereka mencari wanita yang sedang dicari-carinya.


Arya Sentana tidak bisa mendekat kepada wanita yang sudah sangat hapal ciri-cirinya. Dia yakin itu istrinya. Tapi ada kekuatan besar yang memancar yang membuat dirinya sukar mendekat. Bahkan kekuatan itu mampu mendorong mundur para pendekar.

__ADS_1


__ADS_2