Pendekar Payung Terbang

Pendekar Payung Terbang
Turun Tangan


__ADS_3

Pada saat itulah si cantik mungil istri sang jagoan melayang turun dengan gerakan indah lalu mendarat di depan Hanujara yang hendak membantu rekannya. Aroma harum Pedang Bunga seketika menebar memenuhi udara.


Hanujara urungkan niatnya. Dia tertarik melihat Asmarini. Mulutnya melongo heran. "Sejak kapan Karang Bolong memiliki murid wanita, atau mungkin kau putrinya Manguntara?"


"Terserah padamu, yang pasti aku lawanmu sekarang!" Asmarini todongkan pedangnya ke depan. Tatapannya begitu tajam.


"Kau menganggap remeh aku, atau bertindak konyol?" Hanujara terlihat tenang. Dia berpikir apa yang harus ditakutkan dari perempuan mungil ini. Dia menganggap Asmarini hanya pendekar kemarin sore yang baru menetas.


"Dua-duanya!" jawab Asmarini. "Asal kau tahu, temanmu yang bernama Gardika, akulah yang membunuhnya?"


Kali ini baru Hanujara terkejut, tapi juga tidak percaya. Tempat tewasnya Gardika dan padepokan Karang Bolong sangat jauh. Kenapa dalam waktu singkat pembunuhnya sudah sampai di sini.


Tapi si cantik ini bicara jelas tentang Gardika dan tidak terdengar sedang berdusta sama sekali. Kuntawala bilang suami istri, tapi wanita ini hanya sendirian. Seketika bola matanya berputar-putar mencari sesuatu.


"Kau mencari aku?" Adijaya bersuara. Pendekar muda ini sudah berdiri agak jauh di belakang Asmarini. Sesungging senyum terhias di bibirnya.


"Gelo, dia bisa tahu apa yang kupikirkan!" batin Hanujara. Dia tingkatkan kewaspadaan. Pantas saja murid-murid Karang Bolong berani menunggu kedatangan mereka.


"Bisa kita mulai?" tanya Asmarini masih mengacungkan pedangnya.


Kalau bukan karena pengalaman, mungkin dia tak kan sanggup balas menatap wanita itu..


"Baiklah, selain penasaran sehebat apa kalian ini, juga untuk membalaskan dendam saudaraku!"


"Maaf, kalau yang muda berlaku tidak sopan!" Asmarini mendahului menyerang.


Serangan tusukan yang dia lancarkan pertama kali. Hanujara diam menanti datangnya serangan. Begitu satu jengkal lagi hendak menusuk lehernya, Hanusara miringkan badan.


Kemudian salah satu dedengkot padepokan Gunung Sindu memutar tubuhnya dengan sangat cepat ke depan, mendekati Asmarini. Dalam sekejap dia sudah menarik parangnya langsung di sabetkan ke lawan.


Trang!


Dua senjata beradu, aroma harum semakin pekat. Tidak disangka gerakan Asmarini sangat cepat dalam menarik kembali pedangnya guna menangkis senjata Hanujara.

__ADS_1


Dua-duanya tersurut mundur dua langkah. Hanujara terkejut lagi. Dari benturan senjata ini, dia mendapati tenaga dalam lawan sebanding dengannya.


"Dia pasti putrinya Manguntara!" duga Hanujara dalam hati. Karena biasanya seperti itu. Seorang tokoh sakti mempunyai anak yang berbakat sejak kecil.


Dua manusia berbeda usia kembali terlibat dalam pertarungan sengit. Senjata parang yang digenggam Hanujara tampak menyala seperti bara. Setiap sabetannya meninggalkan percikan api di udara.


Sementara Asmarini seperti biasa mengkombinasikan dua jurus yang sering digunakan. Tarian Japati dan Tarian Rajawali. Gerakannya mantap penuh keyakinan. Lincah bagai burung merpati, juga garang bagai rajawali.


Sampai lewat belasan jurus si mungil masih bertahan dan tetap lincah meski Hanujara bertubi-tubi menggunakan parangnya untuk melukai. Namun, hasilnya nihil.


Hanujara akhirnya terbuka matanya. Si mungil yang menjadi lawannya ternyata tidak boleh dianggap enteng. Menurut cerita Kuntawala, hanya wanita ini sendirian mengalahkan Gardika.


Sendirian saja sudah begini hebatnya. Bagaimana kalau suaminya turun tangan? Pikiran Hanujara jadi kurang fokus karena takut Adijaya menyerang secara membokong.


"Memangnya kalian dari golongan hitam yang suka main curang?" teriak Adijaya sambil sedekap.


"Sial!" umpat Hanujara. Kenapa pemuda itu selalu tahu pikirannya? Dia naikkan lagi tingkatan jurusnya. Tidak perlu merasa malu, menghadapi seorang wanita saja harus dengan nafsu membunuh.


Sementara Asmarini berlanjut melawan Hanujara, Adijaya memperhatikan Anjasmara walau dibantu beberapa murid tetap kewalahan menghadapi Abilawa. Bahkan ada salah satu murid yang sudah terluka.


Karena pada saat itu mereka tak bisa menghindar saat parang Abilawa bergerak membabat.


Wussh!


Abilawa terdorong oleh pukulan tak kasat mata. Kejap berikutnya Adijaya tiba-tiba sudah berada di depannya langsung mengirim serangan susulan.


"Jurusmu bukan dari Karang Bolong, kau bukan murid si Manguntara, bukan?"


"Memang bukan!"


Meski Adijaya menggunakan tangan kosong, tapi serangannya begitu cepat menyasar ke bagian penting. Senjata Abilawa jadi nganggur karena tidak bisa menangkis pukulan lawan.


Memang sebenarnya bisa menangkis atau menahan, tapi bukan dengan parang. Melainkan dengan tangan langsung. Ini karena gerakan Adijaya yang hampir tak terlihat.

__ADS_1


Lama-lama karena justru tangannya yang sering langsung berbenturan, akibatnya sering terasa kebas dan akhirnya tak kuat lagi menggenggam senjatanya sehingga terjatuh ke tanah.


Anjasmara dan murid lainnya telah menjauhi pertarungan. Beberapa saat mereka mengatur napas dan memulihkan tenaga. Lalu mereka memutuskan untuk membantu murid lain menggunakan pola serangan yang sama. Anjasmara sendiri membantu anggota Dewan Kehormatan.


Kini antara Adijaya dan Abilawa tanpa menggunakan senjata lagi. Abilawa tidak tahu kalau Adijaya telah mengalahkan gurunya, sehingga dia merasa yakin saja melawan pendekar muda ini.


Jenis ilmu yang digunakan Abilawa sama seperti ilmunya Gardika. Mengubah tenaga dalam menjadi bara api. Hanya tingkatannya lebih tinggi. Kekuatannya lebih dahsyat.


Adijaya seperti biasa menggunakan ilmu Membalik Langit. Dalam waktu singkat dia bisa memahami inti ilmu lawan. Lalu menciptakan jurus dan ilmu tandinganya.


Jika Abilawa bisa mengeluarkan bara api, maka Adijaya bisa melepaskan bola cahaya putih sedingin salju. Pada saat dua ilmu ini beradu terdengar suara menjius seperti api disiram air.


Wuss! Blabb! Ceesss!


Hutan kecil ini berguncang ketika dua kekuatan beradu. Membuat pertarungan antara Asmarini dengan Hanujara sedikit terganggu.


Hanujara dibuat pusing karena belum juga bisa melukai lawan walau seutas rambut. Asmarini yang terlalu lincah atau dia yang lamban karena faktor usia. Ilmu tinggi, tenaga dalam besar, masa menyalahkan umur?


Bukankah kebanyakan orang sakti, bila semakin sakti maka wujudnya akan seperti orang masih muda walau aslinya sudah sepuh?


Hanujara alirkan tenaga dalam ke bilah parangnya. Lalu di sabetkan dari jarak yang agak jauh. Dari senjatanya ini melesat bara api merah menghantam ke arah Asmarini berada.


Wung!


Si cantik mungil ayunkan pedang menangkis bara api itu sama seperti ketika menghadapi Gardika.


Wutt! Dess!


Bara api terpental balik dengan lemparan lebih cepat. Hanujara hanya mengangkat parang, menerima bara api itu seperti masuk kembali ke dalam senjata.


Asmarini menyeringai paham. Kalau dulu Gardika tidak menggunakan senjata. Jadi bara apinya menghantam dan membakar sendiri. Rupanya Hanujara sudah menyiapkan antisipasinya.


Kini dia fokuskan serangan untuk memisahkan lawan dari senjatanya. Pedang Bunga Emas dialiri lebih banyak lagi tenaga dalam sehingga pendaran harumnya semakin menyengat.

__ADS_1


Asmarini bergerak menyerang, mempersempit jarak. Putaran, ayunan dan sabetan pedangnya mengurung lawan. Bagaikan tidak memberi celah sedikitpun.


__ADS_2