Pendekar Payung Terbang

Pendekar Payung Terbang
Menyamar


__ADS_3

Seorang lelaki berumur kira-kira tiga puluh tahun yang mengenakan pakaian serba hijau tua tampak mengendap-endap dari balik pohon ke pohon lain. Lelaki berambut keriting sebahu dengan ikat kepala yang juga warna hijau ini mengikuti sebuah kereta kuda yang melaju sedang. Di dalam kereta itu ada dua orang penumpang.


Kadang-kadang lelaki berkumis tipis, hidung bangir dan kedua mata agak belo ini harus memanjat pohon lalu melayang dari pohon ke pohon lainnya demi mengikuti kereta kuda di depan, tapi tidak ingin sampai ketahuan.


Ilmu meringankan tubuh orang ini lumayan juga. Gerakannya tidak menimbulkan suara. Walau sebenarnya bisa saja dia bergerak lebih cepat mendahului laju kereta kuda itu. Tapi karena tugasnya menguntit dua orang dalam kereta itu jadi dia selalu berada di belakang.


Kereta itu berhenti di sebuah penginapan ketika hari telah 'sareupna'. Lelaki penguntit ini juga memasuki penginapan setelah menunggu agak lama. Dia melihat dua orang incarannya sudah diantar ke kamar sewaan. Dia pun segera menyewa kamar.


"Mau sewa kamar, Ki Sanak?"


"Iya, masih ada?"


"Ki Sanak beruntung, kebetulan masih ada satu lagi yang kosong."


"Terima kasih!"


Lalu orang yang ternyata pemilik penginapan ini mengantarkan langsung lelaki bermata agak belo itu. Tamu terakhir yang menyewa kamar.


Lelaki serba hijau ini harus menunggu sampai agak malam untuk mengintai dua orang buruannya. Dia harus mengetahui isi pembicaraan mereka. Ada banyak kamar di penginapan ini, tapi dia tidak tahu di kamar mana dua orang incarannya beristirahat karena tadi dia tidak sempat mengikuti.


Akhirnya dia harus melompat ke atas atap untuk memeriksa setiap kamarnya. Si keriting ini bernafas lega saat menemukan dua orang incarannya. Namun, sedikit kecewa karena dua orang itu telah tertidur pulas. Dia tidak sempat mendengar obrolan mereka. Lalu dia kembali ke kamarnya. Masih ada hari esok. Selama dia masih bisa mengikuti mereka, pasti akan mendapat keterangan yang dia buru.


Pagi-pagi saat 'Haneut Moyan' lelaki berpakaian serba hijau ini terkejut mendapati dua orang buruannya sudah tidak ada di kamarnya. Segera dia keluar. Hatinya lega ketika melihat kereta kuda tunggangan mereka masih ada di halaman depan penginapan. Mungkin mereka sedang makan di kedai yang letaknya di sebelah penginapan.


Lagi-lagi dia terkejut ketika orang incarannya tidak terlihat di kedai. Segera dia menghampiri pemilik kedai yang ternyata pemilik penginapan juga.


"Ki Sanak, dua orang yang membawa kereta kuda itu kemana?" tanya si serba hijau sambil menunjuk kereta kuda.


"Sudah pergi tadi waktu 'balebat'," jawab si pemilik penginapan.


"Kenapa keretanya ditinggal?"


"Mereka tidak punya untuk membayar sewa, jadi kereta beserta kudanya sebagai gantinya,"


"Waduh!" si keriting garuk-garuk kepala.

__ADS_1


Segera saja dia membayar sewa kamar kemudian langsung bergegas mencari buruannya.


"Jangan-jangan mereka sudah tahu kalau aku menguntitnya," pikir si hidung bangir. Dia bingung ke arah mana dia harus mencari.


Dari waktu 'Balebat' sampai 'Haneut Moyan' itu cukup lama. Bisa jadi mereka sudah jauh. Orang ini jadi tampak khawatir. Rasa takut seketika melanda hatinya.


Apa yang dikhawatirkan menjadi kenyataan. Dari arah yang tidak diduga melesat senjata rahasia yang tak sempat dilihat.


Crep!


Bluk!


Lelaki berpakaian serba hijau ini ambruk tak bernyawa setelah lehernya tertancap pisau kecil.


"Jika kau kehilangan jejak, maka aku pun sama!" satu suara terdengar penuh amarah.


***


Memang benar. Sejak meninggalkan Ki Rampal dan murid-muridnya, Adijaya merasakan ada yang mengikutinya. Kemudian saat meninggalkan penginapan mereka segera mencari pasar terdekat mumpung hari masih gelap. Sebelumnya telah memastikan bahwa si penguntit masih tertidur.


Cakra Diwangsa dan Adijaya membeli beberapa peralatan di pasar. Dan sekarang mereka telah berupa penampilan, menjadi dua orang kakek pengemis. Menyamar.


Tentu saja untuk mengecoh si penguntit. Karena bisa jadi penguntitnya bukan cuma satu orang.


"Apa dia akan terus mencari kita?" tanya Cakra Diwangsa.


"Bukan dia lagi, tapi penggantinya,"


"Kenapa begitu?"


"Dia telah tewas karena dianggap gagal,"


Cakra Diwangsa tercekat. Menelan ludahnya. Dalam hati dia memuji pemuda itu.


"Terus, penggantinya pasti lebih hebat. Apa dia bisa mengetahui penyamaran kita?"

__ADS_1


"Seharusnya tidak! Semoga!'


Mereka kini hanya berjalan kaki agak terbungkuk-bungkuk sambil memegang tongkat.


"Raden, kita tidak bisa bersama terus. Nanti mudah dikenali si penguntit. Raden jalan duluan di depan kita ambil jarak."


"Baiklah!"


Kakek pengemis samaran Cakra Diwangsa melangkah lebih cepat meninggalkan Adijaya. Dia yakin dengan kekuatan yang dimiliki pemuda itu, dia pasti dalam pengawasan walau berada di jarak yang jauh.


Adijaya yakin si penguntit belum tahu kemana tujuan dia bersama Cakra Diwangsa. Makanya penguntit berusaha mencuri dengar setiap pembicaraan.


Menurut pemikiran Adijaya, kenapa dirinya terus di ikuti? Karena walaupun si pembunuh yang menyelinap ke Lembah Kupu-kupu melaporkan keberhasilan tugasnya, tetap harus berjaga-jaga mencegah agar Adijaya dan Cakra Diwangsa tidak sampai mencari si pembunuh itu.


Mereka telah teledor menggunakan senjata yang menjadi lambang. Padahal tugas mereka hanya melenyapkan orang-orang yang bisa memberikan keterangan.


Jadi tugas mereka sekarang mencegah jangan sampai sasarannya ini mencari tahu tentang senjata pisau yang berbentuk ular itu. Begitulah anggapan Adijaya.


Dan apa yang dipikirkan Adijaya ini benar. Ketika dia melewati sebuah kedai. Telinganya yang sangat peka mendengar sebuah percakapan dari dalam kedai.


"Pemuda bernama Adijaya itu sangat berbahaya, dia mampu mengalahkan Ki Rampal dan murid-muridnya,"


"Ki Rampal itu setara dengan Ki Brajaseti, Ki Ranggasura dan Ki Sanca, siapa yang lebih sakti dari mereka?"


"Kita tidak perlu mencari pendekar yang lebih sakti, tugas kita hanya mencegah jangan sampai mereka mencari tahu tentang lambang kita. Habisi semua orang yang mengetahui lambang kita. Tentunya yang mereka tuju saja!"


Adijaya cukup lega. Kenapa? Karena tidak akan ada orang yang jadi korban karena hendak memberikan keterangan tentang pisau yang menjadi lambang perkumpulan mereka.


Karena tujuannya kini langsung mencari padepokan Sanca Wulung. Dan harus tetap menyamar. Karena kalau membuka jati diri, maka akan terlihat kemana arah tujuan mereka.


Begitulah, di siang hari Cakra Diwangsa dan Adijaya berjauhan. Baru malam harinya bersama. Tapi tidak tidur di penginapan. Mereka numpang tidur di rumah lurah atau kepala kampung yang mereka singgahi.


Cara mereka ini telah membuat penguntitnya merasa kehilangan jejak. Tidak tahu bahwa yang mereka cari telah menyamar menjadi orang lain.


"Apa kau masih merasakan ada yang mengikuti?" tanya Cakra Diwangsa suatu malam ketika hendak tidur.

__ADS_1


"Tidak ada, tapi komplotan mereka ada di mana-mana. Kita harus tetap menyamar sampai menemukan padepokan Sanca Wulung."


__ADS_2