
Asmarini memandang laut biru yang luas dan ujungnya seolah-olah menyambung dengan cakrawala. Beberapa hari yang lalu bersama suami dia menikmati keindahan pantai ini seharian.
Ketika dia meminta waktu penuh kepada Adijaya sebelum berlatih secara tertutup di ruang bawah tanah, malam harinya mereka lewati dengan kemesraan sepuas-puasnya. Lalu esok harinya Adijaya menunaikan janji mengajaknya bermain-main di pantai.
Sekarang si cantik mungil ini kembali ke pantai bukan untuk bermain-main, tapi mencari tempat bersemayamnya Nini Kewuk. Dia sudah berjalan jauh ke arah selatan mencari sebuah goa karang yang letaknya agak jauh dari pantai.
Goa yang tersembunyi di antara gundukan batu karang lainnya. Setelah berjalan cukup lama, akhirnya Asmarini menemukan sebuah bukit kecil tanpa pepohonan karena bukit itu terbuat dari gundukan batu karang.
Di balik bukit itulah katanya ada sebuah goa tempat tinggalnya Nini Kewuk. Asmarini mengitari bukit batu karang itu. Memperhatikan setiap sisinya hingga akhirnya menemukan sebuah lubang besar seukuran tubuh manusia.
Ketika berada di depan mulut goa itu, dia merasakan hawa aneh yang begitu kuat. Hawa yang membuat pikiran tak menentu. Seolah-olah mendadak saja beban hidupnya begitu berat dan ingin bunuh diri untuk lepas dari tekanan beban itu.
Si cantik mungil segera konsentrasi. Dia mendapat bimbingan dari Padmasari yang tak kasat mata agar tidak terpengaruh dengan hawa ini. Dia tarik Pedang Bunga Emas dan membuat gerakan menusuk ke mulut goa.
Wussh!
Serangkum angin yang membawa aroma harum berhembus masuk ke dalam goa. Setelah itu hawa buruk yang memancar dari dalam mendadak hilang.
"Siapa yang berani menggangguku?" teriak seseorang dari dalam.
Suaranya serak, rapi melengking. Terdengar menyeramkan dan menimbulkan getaran kecil. Asmarini sampai tersurut satu langkah.
"Tenaga dalamnya cukup besar, aku kira dia cuma ahli pelet saja. Ternyata punya kanuragan juga!" batin Asmarini.
"Kenapa kau tidak menyambut tamu yang datang berkunjung?" balas teriak Asmarini.
"Tamu dari mana yang datang dengan tidak sopan?"
"Tidak sopan? Bagaimana disebut tidak sopan, sedangkan aku saja belum mengucapkan salam, tapi kau sudah bersuara tinggi!"
Nini Kewuk tertawa melengking panjang. Seandainya terdengar di malam hari, tentu akan membuat merinding bulu kuduk. Asmarini juga merasa ngeri mendengarnya.
__ADS_1
"Dari niatmu saja aku sudah merasakan kau bermaksud tidak baik!"
"Kalau begitu mari selesaikan di luar!"
Terdengar lagi suara tawa menyeramkan itu. "Siapa yang menantang, dia yang mematuhi aturan tuan rumah!"
"Baiklah, tuan rumah memang selalu ingin menang walau dengan cara curang!"
Tanpa ragu lagi Asmarini menerobos masuk ke dalam. Baru tiga langkah dia sudah disambut puluhan anak panah yang melesat cepat. Padmasari menyarankan agar tidak menghiraukannya, karena itu hanya tipuan saja.
Benar saja, puluhan anak panah itu memang menembus badannya, tapi bagaikan bayangan saja. Tidak sampai melukai. Asmarini terus berjalan ke dalam sampai menemukan sebuah ruangan yang cukup besar.
"Nyalimu besar juga, Bocah!" Nini Kewuk berdiri di atas batu yang biasa dia duduki.
Asmarini bergidik beberapa saat begitu melihat tampang nenek ini. Namun, dia mampu menenangkan perasaannya. Si mungil pendarkan hawa sakti untuk melawan tekanan hawa buruk yang memenuhi ruangan goa.
"Ah, cuma nenek jelek ternyata!"
"Hei, Nenek jelek! Buka matamu, keluarlah. Maka kau akan melihat tingginya langit!"
"Sombong, siapa kau sebenarnya?"
"Jangan tutupi jiwa pengecutmu dengan keangkuhan. Kau tidak lihat aku bisa menemukan dan masuk dengan mudah ke tempatmu ini?"
"Apa kau yakin dengan kemampuanmu?" si nenek tak mau kalah walau sebenarnya dalam hatinya berdebar dan bertanya-tanya. Karena tidak sembarang orang apalagi berniat menentangnya, bisa datang ke sini.
"Kenapa tidak, aku adalah orang yang menjadi sasaran dari lelaki yang beberapa hari lalu mengemis bantuanmu!"
Barulah si nenek terkejut. Selama 'karirnya" tak ada satupun yang mengalami kegagalan. Semua yang meminta bantuannya selalu berhasil. Jika sekarang gagal, berarti ilmu perempuan ini lebih tinggi.
"Jadi mau apa kau?"
__ADS_1
"Perbuatanmu telah menjadikan orang sesat tambah sesat, juga membantu ketentraman makhluk di alam lain, aku harus menghentikanmu!"
Nini Kewuk tertawa melengking lagi sambil mengangkat kedua tangan ke atas. "Baiklah, aku ingin tahu apakah kemampuanmu sesuai dengan ucapanmu, hiyaaah...!"
Kejap berikutnya di dalam goa batu karang itu bertiup angin sangat kencang. Arahnya seperti hendak menghempaskan Asmarini. Si mungil kuatkan kedua kakinya dan melintangkan Pedang Bunga di depan.
Ini bukan permainan jurus lagi, tapi kepandaian mengendalikan hawa sakti atau tenaga dalam. Asmarini belum pernah mengalaminya. Yang bisa dia lakukan hanya melindungi diri dengan hawa sakti, sedangkan tenaga dalam dialirkan sebagian besar ke senjatanya.
Werrr!
Asmarini putar-putar pedangnya. Aroma harum begitu menyengat. Tubuhnya tetap di tempatnya. Hempasan angin tak mampu menggesernya sejengkalpun.
Sementara Nini Kewuk juga memutar-mutar kedua tangan. Menciptakan tiupan angin dahsyat. Dia tidak mau menganggap enteng lawannya. Mampu menangkal ajian Semar Mesem saja sudah bikin dia terkejut bukan main.
Pertarungan di dalam goa bukan lagi soal adu kelincahan jurus. Nini Kewuk sadar tidak akan mampu melawan menggunakan peragaan jurus karena dia tidak memiliki satu pun jurus.
Nini Kewuk hanya mengandalkan mantera-mantera dan ajian yang didapatkannya selama hidup. Asmarini bukan orang pertama yang menentangnya. Namun, dia yang terhebat di antara yang lainnya.
"Putar terus pedangnya, Juragan Istri!" bisik Padmasari. "Angin itu hanya tipuan semacam sihir terbentuk dari manteranya. Pedang akan menyerap dan mengumpulkan angin!"
Asmarini langsung mengerti. Dia ingat pertempuran tempo hari ketika melawan Hanujara. Dia memutar pedang guna mengumpulkan bara api. Sekarang dia lakukan lagi untuk menyerap angin buatan ini.
Perlahan si mungil mundur menjauh sambil terus memutar-mutar pedangnya. Rambutnya yang indah berkibar-kibar menambah keanggunan dirinya. Sosoknya terlihat seperti lebih besar.
Perang Bunga Emas yang digenggam semakin lama semakin terasa berat. Ibarat wadah kosong yang semakin terisi penuh. Namun, tangan indah Asmarini tetap kuat memegangnya.
Sementara kini Nini Kewuk dari mulunta terdengar meracau dengan mantera-mantera yang tidak jelas. Bukan hanya kedua tangan, kini seluruh tubuhnya bergerak berputar-putar.
"Ajian Angin Putus Cinta!" teriak si nenek. "Aku merasakan dia tidak sendiri, berarti ada makhluk lain yang mendampinginya. Pantas dia berani dan pantas juga ajian Semar Mesem tak mempan padanya!" batin Nini Kewuk.
Angin semakin besar dan kencang. Asmarini tidak lagi memutar pedangnya. Dia pegang gagangnya dengan dua tangan lalu dilintangkan di depan dada. Rahangnya mengeras, kedua mata menyipit.
__ADS_1
Asmarini beratkan kedua kaki agar tubuhnya dia terhempas. Posisinya tampak doyong ke depan seperti sedang mendorong sesuatu. Hatinya berdebar-debar tidak karuan, meski mendapat bimbingan dari Padmasari.