Pendekar Payung Terbang

Pendekar Payung Terbang
Payung Terbang Beraksi Lagi


__ADS_3

Kita ke pertarungan antara Adijaya yang masih menyamar menjadi Ki Bandawa melawan Ganggasara.


Adijaya tidak mau berlaku sembrono. Dia merasa kekuatannya masih kurang memadai melawan musuhnya ini. Maka tidak tanggung-tanggung dia kerahkan lebih dari setengah tenaga dalam yang ia miliki.


Sosoknya melesat cepat bagai anak panah, tinjunya menyasar bagian tubuh yang penting. Namun, sejengkal lagi serangannya akan sampai, tubuhnya terdorong.


Beruntung Ki Bandawa sigap sehingga tidak sampai terjatuh.


"Hawa sakti yang memancar dari tubuhnya sangat kuat, aku tidak bisa menyentuhnya!" batin Adijaya.


Tapi pemuda berpenampilan tua itu tidak menyerah. Dia mencoba lagi dengan serangan baru.


Wutt!


Ganggasara hanya dengan menggidikkan bahunya, keluar hawa sakti yang membentengi tubuhnya. Sehingga serangan lawan selalu mental sebelum menyentuhnya.


Sedangkan bagi Adijaya tidak mungkin melakukan pertarungan seperti dulu. Pertarungan yang hanya menggunakan hawa sakti. (Baca episode : Pertarungan Dalam Diam)


Juga tidak mungkin menggunakan Payung Terbang. Ini akan membongkar penyamarannya. Belum saatnya menampakkan jati diri.


Berkali-kali Adijaya menyerang selalu tak pernah sampai. Sosoknya kembali terdorong ke belakang. Tapi semangatnya tak pernah kendor. Dia terus menyerang sambil mengolah dan meningkatkan hawa sakti dan tenaga dalam dengan gerakan.


Biasanya dia melakukan itu dengan semedi. Kini dia mengikuti petunjuk yang ada di dalam kitab tentang tenaga dalam yang sudah hapal di kepalanya. Dia menyerang sambil melakukan gerakan-gerakan sesuai petunjuk.


Yang dilihat Ganggasara, lawannya hanya seperti membuat gerakan percuma saja. Karena pada akhirnya tak mampu menyentuh dirinya walau secuil. Tapi dia tidak tahu kalau dirinya hanya sebagai ajang latihan saja.


Sempat terpikirkan bagaimana kalau dia makan saja bunga Melati Tunjung Sampurna? Tapi Adijaya ingin bertahap. Dia terus mengolah hawa sakti yang berasal dari aroma wangi bunga dengan cara sesuai petunjuk dalam kitab.


Semakin lama gerakan Ki Bandawa semakin cepat bagai kilat. Melesat ke berbagai arah kemudian berbalik menyerang lawan yang masih tetap berdiri di tempatnya.


Wuss! Wuss! Wuss!


Desss!


Namun, tetap begitu. Setiap pukulan atau tendangan tak ada yang mampu menyentuh tubuh Ganggasara. Ilmu orang yang sekarang dipanggil resi ini sudah meningkat pesat.


Ganggasara melihat ke arah putranya yang bertarung melawan Jayana. Masih tampak seimbang. Dia yakin putranya bisa mengatasi lawannya.


Suatu ketika Ki Bandawa alias Adijaya menghentikan serangannya. Dia berdiri mengatur napas dan menghimpun kekuatan. Tapi tiba-tiba...


Wuttt!


Desss!

__ADS_1


Bruk!


Ganggasara melepaskan pukulan jarak jauh. Pukulan yang menghasilkan tenaga angin padat menghantam Adijaya sehingga tubuhnya terpental dan menghantam dinding lalu jatuh.


"Sudah lebih sakti, masih saja membokong!" umpat Adijaya dalam hati.


Adijaya harus berguling kembali karena serangan jarak jauh itu datang lagi.


Brak!


Angin padat menghantam dinding. Belum selesai karena serangan itu datang bertubi-tubi. Ki Bandawa harus berjumpalitan menghindarinya. Dinding yang terbuat dari kayu itu banyak yang jebol.


Adijaya menghindar sambil melompat-lompat mendekati lawannya. Terus mendekat sampai akhirnya berjarak hanya satu langkah saja.


Pada saat itu kesempatan terbuka bagi Adijaya. Segera saja dia hantamkan telapak tangan kanannya ke dada lawan sekuat mungkin dengan pengerahan tenaga dalam yang besar.


Desss!


Sungguh tidak disangka oleh Ganggasara. Ternyata kali ini lawan mampu menyentuhnya dengan hantaman telapak tangan. Akibatnya tubuhnya terdorong tiga langkah.


Sementara Adijaya lebih parah lagi. Tubuhnya terpental jauh hingga menghantam dinding. Beruntung masih bisa mengimbangi diri sehingga tidak sampai terjatuh.


Ganggasara terkejut, pukulan lawan berhasil mengacaukan aliran hawa saktinya. Lelaki tinggi besar ini sedang berpikir mengingat-ingat siapa tokoh yang mempunyai pukulan sakti semacam ini?


Setelah memulihkan keadaannya, Adijaya kembali bersiap kini dengan kekuatan penuh. Dia merasa yakin akan kemampuannya. Dia kerahkan tenaga sebagian besar dititik beratkan pada kepalan tangannya.


Lalu kedua kakinya menolak ke lantai. Tubuhnya melesat bagai anak panah lepas dari busurnya.


Wusss!


Ganggasara sudah siap menerima serangan itu. Dia juga yakin karena kekuatannya lebih tinggi dari lawannya.


Sett!


Sosok Ki Bandawa sudah satu jangkauan tangan di depannya. Ganggasara mengangkat tangan bermaksud menghalau pukulan lawan yang mengarah ke wajahnya.


Tapi lelaki tinggi besar ini kecele, setengah jalan pukulan yang dilancarkan Adijaya tiba-tiba berubah arah. Bukan satu lagi, tapi dua tinju menghantam sambungan bahu dan tangan kiri dan kanan.


Deggh! Deggh!


Tubuh Ganggasara terdorong keras. Pada saat terkena pukulan itu dia merasa seperti tersengat petir. Konsentrasinya buyar karena mendadak kepalanya pusing.


Belum selesai sampai di situ, Adijaya sudah mengirim serangan susulan. Bukan dengan tangan lagi. Tapi menggunakan Payung Terbang.

__ADS_1


Ujung payungnya menghantam urat-urat penting di tubuh Ganggasara. Secara cepat dan kuat seperti tak memberi kesempatan lawan untuk membalas.


Karena memang harus seperti itu. Kalau lambat sedikit saja, Ganggasara akan mudah bangkit lagi.


Desss! Dess! Desss!


Ganggasara ambruk dengan jatuh berlutut. Beberapa kali badannya serasa tersengat. Dia kaget bukan main ketika melihat payung yang tak asing baginya.


"Kau!" Suaranya serak.


Adijaya sudah bukan Ki Bandawa lagi. Dia telah membuka samarannya. Pemuda ini berdiri tersenyum sambil memanggul payungnya.


Perasaan marah, benci, dendam, dongkol dan hal serupa lainnya membuncah di dada Ganggasara. Namun, menyesal sekarang dia sudah jadi orang lumpuh.


Ya, kekuatannya yang dahsyat telah lenyap. Bukan tanpa alasan Adijaya menggunakan Payung Terbang untuk melumpuhkan lawan. Karena kepalan tangannya tidak akan kuat.


Pukulan pertama saja yang tadi berhasil mengenai bahu, berakibat kebas malah hampir patah. Beruntung segera dialiri tenaga lagi kemudian memilih payung untuk serangan berikutnya.


"Aku pernah merasakan kehilangan kesaktian akibat cara licikmu," ujar Adijaya. "Sekarang kau rasakan bagaimana jadi orang lumpuh? Tapi aku tidak pakai cara licik!"


"Bunuh... saja... aku," ucap Ganggasara kesusahan saat bicara.


Pada saat seperti ini, mati memang lebih baik daripada menanggung derita.


"Hidup mati bukan aku yang tentukan, itu urusan Sang Hyang Rumuhun!"


Di sisi lain, melihat ayahnya telah kalah. Hanggarasa jadi lengah. Akibatnya dia tak mampu lagi menghindari serangan lawan. Dalam beberapa saat, raja berusia muda ini akhirnya roboh.


Jayana segera menotoknya agar tidak kabur.


Sementara Adijaya ingat Asmarini, segera saja dia menghambur keluar mencari gadis itu. Lalu dia mendapati sang kekasih tengah kewalahan menghadapi patih Munding Wirya.


Segera saja si pemuda melesat sambil memegang payung yang terbuka. Begitu sampai sebelum mendarat dia tutup payung lalu diputar.


Trak!


Payung itu menangkis tombak yang hampir menusuk perut Asmarini. Lebih parah lagi tombak itu patah.


"Pendekar Payung Terbang!" terkejut sang patih.


Adijaya sudah berdiri di samping Asmarini. Kesempatan ini segera digunakan si gadis. Dia melemparkan pedangnya.


Creb!

__ADS_1


Adijaya terkejut sosok patih telah roboh dengan perut tertancap pedang. Dia menatap Asmarini dengan perasaan menyesal.


__ADS_2