
Sebenarnya gejolak cinta mereka bangkit lagi saat sama-sama melihat keindahan tubuh yang begitu menggiurkan di siang hari. Karena begitu jelas indahnya.
Mereka ingin mencoba sensasi baru memadu kasih di dalam sungai. Tapi panggilan minta tolong sepertinya lebih diutamakan. Akhirnya sepasang pendekar muda ini naik ke darat dan mengenakan pakaiannya.
"Sebelah sini!"
Suara itu seolah menuntun mereka. Hingga akhirnya ditemukan. Di pinggir hutan, Adijaya melihat dua ekor kuda yang terjepit di antara dua pohon yang berdekatan.
"Kemarilah, tolong lepaskan kami!"
Adijaya dan Asmarini saling pandang. Mereka mendengar suara itu berasal dari kuda yang terjepit. Kepala kuda itu mengangguk-angguk. Matanya berputar-putar dan ekornya juga bergerak-gerak. Kedua kuda itu berkulit putih semua. Sepasang, jantan dan betina.
"Kau yang bicara?" tanya Adijaya sambil mendekati mereka. Asmarini mengikuti.
"Benar, tolonglah kami tuan." Kuda yang jantan memohon sambil angguk-anggukan kepalanya.
Dalam hati Adijaya memanggil dua guriang pengikutnya. Dalam sekejap Padmasari dan Ki Santang muncul di sebelahnya.
"Kalian tahu mereka?" tanya Adijaya.
"Hewan dari bangsa kami," jawab Padmasari.
"Kenapa tidak menolong mereka?"
"Mereka bernasib sama seperti kami dulu, mendapat hukuman dan hanya golongan manusia yang bisa menyelamatkan,"
"Ah! Rupanya ada mahluk sebangsa juga bersama kalian!" ujar kuda jantan.
"Bagaimana caranya?" tanya Adijaya kepada kuda yang ternyata dari bangsa guriang itu.
"Tebang saja pohon yang menjepit kami," Kuda betina memberi petunjuk.
"Juragan berdua bisa melihat mereka, berarti seperti aku dulu. Juragan adalah takdir mereka sebagai dewa penolong yang membebaskan mereka dari hukuman," kata Ki Santang.
Adijaya menoleh ke istrinya. "Dinda, gunakan Pedang Bunga Emas!"
Sejenak Asmarini ragu sampai kedipan mata sang suami meyakinkannya. Lalu gadis mungil ini mendekati pohon yang menjepit di sebelah kanan.
Crass!
Tanpa terlihat kapan si gadis menarik pedangnya, tahu-tahu pohon itu tiba-tiba tumbang karena tertebas pada bagian yang menjepit badan kuda. Hebatnya, tebasan pedangnya tak melukai hewan itu dan pohonnya roboh ke tempat kosong.
Kedua kuda guriang itu langsung melompat kegirangan. Mereka kibas-kibaskan kepalanya lalu berjalan mendekati Asmarini dan mencium kaki si gadis. Asmarini kaget langsung memeluk suaminya.
"Gusti Putri, sekarang kami adalah abdimu, karena Gusti telah membebaskan hukuman kami!" kata kuda betina.
"Benar, Gusti Putri," timpal yang jantan. "Kami akan mengikuti kemanapun Gusti pergi seperti mereka berdua."
__ADS_1
Asmarini lepaskan pelukannya. Pedangnya telah tersarung kembali. Dia menatap bingung kepada suami yang kini tersenyum lembut padanya. "Dinda mempunyai pengikut juga sekarang," ucapnya lembut.
"Bagaimana cara kalian mengikutiku?" tanya Asmarini kemudian.
"Kami akan masuk ke dalam raga kuda itu." Ujung mulut kuda jantan menunjuk ke arah kuda yang menjadi penarik kereta.
Kemudian tanpa diperintah, sepasang kuda guriang ini berubah menjadi bayangan dan bergerak masuk ke dalam raga dua kuda penarik kereta. Sesaat dua kuda itu meringkik sambil menggerak-gerakkan tubuhnya.
"Bagus, kita dapat teman lagi!" ujar Padmasari. Sepasang guriang ini pun kembali menghilang.
"Apa di alam kalian juga ada rumput?" tanya Adijaya sambil tersenyum.
Yang terdengar hanya suara tawa Ki Santang dan Padmasari serta ringkikan dua kuda yang kini berubah warna kulitnya menjadi putih bersih.
Adijaya genggam dua tangan istrinya. "Dinda mau mandi lagi?" Dia terpikiran ingin melanjutkan kemesraan di dalam sungai.
Asmarini lemparkan senyumnya yang paling manis. Bibirnya lalu menyambar, menutup senyum mesra sang suami agak lama sebelum dilepas kembali.
"Cari kesempatan lain saja, aku malu dilihat dua kuda itu,"
Keduanya lalu tertawa mengekeh sebelum mereka naik ke kereta. Memang, masih banyak kesempatan untuk mereka berdua. Apalagi mereka bebas karena sudah terikat dalam tali pernikahan.
"Paman dan Bibi Kuda, kalian pasti bisa berjalan atau berlari tanpa dikendalikan tali kekang, bukan?" tanya Asmarini.
"Tentu saja Gusti Putri!"
"Baik, Gusti!"
Entah apa yang dirasakan sepasang pendekar muda ini. Bahagia atau bagaimana? Tidak menyangka takdir membawa mereka menemukan mahluk alam lain yang menjadi abdinya hanya dengan menolong.
Ada keterangan bahwa menolong orang lain sama saja dengan menolong diri sendiri. Sekarang mereka tidak perlu mengendalikan kuda lagi saat berjalan. Bisa bisa bebas di dalam ruangan sambil sesekali nongol ke jendela.
Beberapa lama setelah kereta kuda bergerak jauh, tiba-tiba Adijaya memanggil kembali kedua guriangnya.
Tring!
Padmasari dan Ki Santang sudah berada di antara mereka. Terlihat ada keseriusan di wajah majikan mereka.
"Sepertinya Juragan ada hal penting?" tanya Ki Santang.
"Ya, aku ingin meminta sesuatu pada kalian,"
"Katakan, Juragan. Kami siap memenuhi!" ujar Padmasari.
"Aku mendapat firasat akan menghadapi rintangan dari bangsa kalian,"
"Tenang saja, kami pasti akan turun tangan,"
__ADS_1
"Bukan begitu!" tukas Adijaya. "Pertama, aku ingin kalian jangan sampai terdeteksi berada di dekatku. Tapi sebenarnya tetap ada di dekatku, mengerti?"
Ki Santang dan Padmasari angguk-angguk mengerti lalu saling pandang. Mereka tahu sifat majikannya yang ingin menyelesaikan masalah sendiri tanpa bantuan mereka. Kecuali kalau sudah terdesak.
"Kedua, kalaupun nantinya kalian terdeteksi juga, maka sembunyikan jati diri kalian sebagai guriang bangsawan,"
Sepasang guriang kembali angguk-angguk kepala. "Kami selalu siap melaksanakan perintah Juragan!" ujar mereka berbarengan.
Mereka ingat dulu ada beberapa guriang pengikut Rangrang Geni yang ingin menaklukan mereka. Malah guriang-guriang itu minta tolong agar lepas dari jeratan buhul Rangrang Geni setelah tahu identitas mereka sebagai guriang bangsawan.
"Ada lagi yang ingin aku tanyakan,"
"Silakan, Juragan!"
"Bisakah manusia melawan guriang?"
Ki Santang tertawa mengekeh membuat Adijaya kerutkan dahi.
"Juragan lupa, dulu pernah melumpuhkan Birawayaksa. Manusia yang berubah menjadi siluman." Ki Santang mengingatkan.
Adijaya menghempaskan napas sambil menepuk jidatnya.
"Kalau begitu pertanyaannya aku ganti, di mana dan bagaimana caranya aku mendapatkan benda semacam Labu Penyedot Sukma?"
Ki Santang tampak berpikir begitu juga Padmasari yang ahli sihir mendadak memikirkan ilmunya, apakah ada yang semacam ini?
"Di alam kami, labu itu jumlahnya terbatas dan susah dicari," kata Ki Santang lalu dia memandang Padmasari. "Apa kau mau bekerja sama denganku?" tanyanya kepada guriang cantik itu.
"Dari awal bertemu kita sudah bekerja sama," sahut Padmasari. "Apa rencanamu?"
Ki Santang tersenyum lebar ke arah Adijaya. "Juragan, kami permisi dulu untuk melakukan sesuatu yang berkaitan dengan pertanyaan Juragan."
Adijaya hanya mengangguk sebelum dua guriang itu menghilang. Dia mengharap pengabdinya itu menemukan sesuatu yang diinginkannya.
Pendekar muda itu teringat kembali ucapan Eyang Batara ketika pertama kali bertemu. "Kekuatan besar tanggung jawab besar."
Waktu itu dia masih memiliki kekuatan yang berasal dari Lumut Ungu yang menjadi makanan ketika terjebak dalam goa. Sekarang kekuatannya berasal dari Melati Tunjung Sampurna.
"Apakah perjalanan kita masih jauh, Kakang?"
"Masih, semoga saja setelah sampai di sana semuanya sudah siap,"
"Sebenarnya apa tujuan Kakang kali ini?"
"Menumpas padepokan aliran hitam yang terkuat!"
Tiba-tiba kereta berhenti.
__ADS_1