Pendekar Payung Terbang

Pendekar Payung Terbang
Murid Angkuh


__ADS_3

Jumlah murid perempuan yang berhasil dikumpulkan hampir seratus orang. Selain dari murid langsung tiga nenek sakti, juga dari pencarian padepokan sendiri. Utamanya didatangkan dari desa atau kampung sekitar.


Kebanyakan yang sudah sebatang kara, tapi ada juga yang masih punya orang tua. Mereka ini yang berasal dari kampung sekitar. Anaknya punya kemauan belajar silat, orang tuanya mendukung.


Sejak bergabung dengan padepokan Karang Bolong, yang dulunya hanya murid satu nenek, kini statusnya berubah menjadi murid padepokan. Bukan lagi siapa murid siapa. Semuanya membaur menjadi satu.


Di tempat latihan murid perempuan. Semua murid duduk emok di pinggir lapangan. Di tengah-tengah tampak salah satu murid sedang memperagakan sebuah jurus.


Namanya Sitaweni, gadis berumur delapan belas tahun. Berkulit sawo matang dengan bentuk tubuh ideal yang menggoda iman para lelaki. Tinggi badannya biasa saja ukuran wanita pada umumnya.


Wajahnya lumayan cantik dengan bentuk sedikit lonjong. Rambutnya bergelombang. Hidung bangir dan bibirnya tidak terlalu tipis. Dia adalah murid bawaan Nyai Parasuri, juga murid andalannya.


Beberapa hari yang lalu Sitaweni diberikan satu kalimat awal oleh gurunya yang didapat dari Adijaya. Nyai Parasuri memilihnya karena dia murid paling cerdas. Sekarang setelah tiga hari terbukti Sitaweni bisa menciptakan sebuah jurus.


Semua bertepuk tangan setelah Sitaweni selesai menunjukkan hasil pemikirannya. Selanjutnya giliran murid Nyai Rengganis yang bernama Wandira. Dia juga dianggap murid paling pintar.


Wandira adalah wanita dewasa yang sudah berumur dua puluh tujuh tahun. Dia seorang janda dan belum memiliki keturunan. Walaupun begitu penampilannya masih menarik. Lekuk tubuh wanita dewasa yang begitu sintal dan masih padat.


Mukanya bulat telur dengan dagu dan garis pipi yang tegas. Wajahnya cantik seperti masih gadis dan rambut lurus berkibar tertiup angin karena dibiarkan tergerai tanpa ikatan.


Sementara murid andalan Nyai Sangga Manik juga seorang gadis yang masih belia. Umurnya paling muda di antara dua wanita sebelumnya. Masih enam belas tahun, tapi dia juga cukup cerdas sehingga dipilih oleh gurunya untuk mempelajari satu kalimat yang sama dengan yang lainnya.


Citrawati, di umurnya yang masih belia dia memiliki tubuh bongsor sehingga tampak dua tahun lebih tua. Perawakannya sama seperti Sitaweni. Hanya bentuk mukanya agak kotak dengan dagu lancip, bibir tipis, mata dan hidung mungil. Tambah cantik dengan kulit kuning langsat.


Setelah semuanya tampil memperagakan hasil pemikiran masing-masing. Nyai Sangga Manik melangkah ke tengah-tengah.


"Perlu kalian ketahui, tiga jurus yang diperagakan tadi berasal dari satu kalimat yang sama. Tiga teman kalian tadi sungguh cerdas, dan semoga kalian juga bisa meniru kecerdasannya.


"Sekarang, supaya tidak dibilang pilih kasih. Maka aku juga akan memberikan hal yang sama kepada kalian. Yaitu satu kalimat yang apabila dipahami maka akan bisa menciptakan sebuah jurus seperti mereka.

__ADS_1


"Namun, bagi yang tidak bisa memahaminya jangan berkecil hati. Kalian juga akan diajari jurus yang sudah jadi. Jadi enak, kan? Tinggal menguasai tidak perlu mikir, hihihi...!"


Kemudian Nyai Sangga Manik mengucapkan kalimat yang di maksud dengan jelas dan pelan supaya mudah diingat. Bahkan bila perlu sambil di catat.


"Nah, aku beri kalian waktu tiga hari. Selanjutnya untuk hari ini, Sitaweni, Wandira dan Citrawati akan mengajarkan jurus baru tadi kepada kalian!"


Nyai Sangga Manik kembali ke tempatnya bersama dua nenek lainnya. Mereka memantau semua kegiatan itu.


***


Anggota Dewan Kehormatan jumlahnya ada lima puluh orang. Mereka dikumpulkan di salah satu lapangan latihan. Sambil menunggu Tajimeta datang, Ki Manguntara menyuruh Anjasmara menunjukkan hasil pemikirannya di hadapan anak buahnya.


Setelah selesai memperagakan, barulah Tajimeta tiba dengan langkah angkuh dan pandangan penuh permusuhan kepada Dewan Kehormatan. Tajimeta adalah murid biasa, tapi kemampuannya lumayan bagus.


"Bagaimana, kau sudah membuahkan pikiranmu?" tagih Ki Manguntara.


"Aku rasa Mahaguru telah membohongiku!" sahut Tajimeta. Nada suaranya membuat anggota Dewan Kehormatan tampak mengepalkan tangan menahan ledakan dalam dadanya.


Tajimeta mendengkus. "Aku memang tidak bisa membuktikan, tapi dari kalimat mahaguru yang tempo hari diberikan kepadaku saja itu sudah cukup. Bagaimana bisa sebuah kalimat bisa menciptakan satu atau beberapa jurus?"


"Bisa!" sanggah Anjasmara. "Aku buktinya!"


"Dusta!" seru Tajimeta. "Kalian bersekongkol. Ketahuilah, Mahaguru telah pilih kasih, diam-diam melatih Anjasmara!" Tajimeta berusaha memprovokasi.


Namun, tidak ada yang menanggapi. Ini membuatnya semakin kesal dan menduga-duga hal yang buruk.


"Kalau menurutmu setiap jurus itu berasal dari kitab yang di dalamnya berisi tulisan dan gambar gerakan jurus, berarti otakmu masih dangkal!" sembur salah satu anggota Dewan Kehormatan.


Tajimeta katupkan bibir sehingga rahangnya mengeras. Dia tidak terima dengan penghinaan ini.

__ADS_1


"Dengar semua!" kata Ki Manguntara. "Aku menjadikan Anjasmara sebagai percobaan saja. Selanjutnya aku akan memilih siapa saja baik anggota Dewan Kehormatan atau murid biasa yang bisa meniru Anjasmara, maka mereka akan diangkat menjadi anggota Dewan Kehormatan dan juga pelatih. Termasuk juga kau, Tajimeta!"


Namun, Tajimeta tetap pada pendiriannya. Dia menganggap ucapan Ki Manguntara hanya omong kosong belaka.


"Aku tetap tidak terima diperlakukan tidak adil!"


Terdengar bisikan-bisikan anggota Dewan Kehormatan yang tidak senang atas sikap Tajimeta. Seandainya ada perintah untuk meringkusnya, maka tidak akan basa-basi lagi langsung menyergapnya.


"Baiklah, jika tuduhanmu itu benar, lantas apa yang kau inginkan?"


"Jadi Mahaguru mengakuinya?" cecar Tajimeta.


"Tentu saja tidak, itukan hanya seandainya!" tukas mahaguru.


"Otak dungu menuntut keadilan, memangnya kau merasa paling pintar, hah!" Teriakan itu berasal dari Nyai Sangga Manik dari kejauhan sebelum akhirnya hadir di antara mereka.


Ucapan nenek ini tentu saja ditujukan kepada Tajimeta. Membuat pemuda ini semakin geram. Entah kenapa tidak ada satupun yang membelanya.


"Asal kau tahu, muridku yang masih enam belas tahun mampu menciptakan jurus dari kalimat yang sama," lanjut Nyai Sangga Manik. "Kalau otakmu tak mampu, jangan sok pintar!"


"Kalian semua telah bersekongkol!" teriak Tajimeta sambil menunjuk-nunjuk. "Aku sudah tidak betah di sini, lebih baik aku keluar. Cari guru yang lebih hebat. Dan tunggu, suatu saat aku akan buat perhitungan dengan Karang Bolong!"


Tajimeta berbalik dan meninggalkan tempat itu. Meninggalkan padepokan. Seketika banyak prasangka, dia sengaja buat masalah agar bisa keluar dari padepokan karena tidak betah atau alasan lainnya.


"Mahaguru, bagaimana, apakah ilmunya harus dilenyapkan?" tanya Anjasmara.


"Biarkan saja aku ingin lihat dia membuktikan ancamannya!"


Kemudian Ki Manguntara merealisasikan ucapannya tadi. Dia mengumpulkan semua murid dan memberikan satu kalimat awal kitab Hyang Sajati. Barang siapa dalam tiga hari mampu menciptakan jurus dari kalimat itu, maka dia akan dimasukkan jadi anggota Dewan Kehormatan dan juga pelatih.

__ADS_1


______


Apa yang direncanakan Tajimeta?


__ADS_2