Pendekar Payung Terbang

Pendekar Payung Terbang
Isi Hati Nyi Warsih


__ADS_3

Nyi Warsih dan sepuluh anak buahnya mengurung Adijaya.


"Siapa kau, anak muda?"


"Saya hanya ingin bicara empat mata,"


"Kenapa menyusup?"


"Saya tidak menyusup, anak buah Nyai yang mulai duluan,"


"Wajar saja karena kau datang di pagi buta jadi mereka curiga,"


"Tapi setidaknya jangan langsung menyerang, tanya-tanya dulu lah!" Adijaya garuk-garuk kepala.


"Ada keperluan apa?"


Nyi Warsih terus bersikap dingin. Adijaya melirik kanan kiri. Wanita ini mengerti maksudnya. Lalu berbalik melangkah masuk ke rumah. Adijaya mengikuti dari belakang. Sepuluh anak buah Nyi Warih tak ada yang bergerak.


Waktu sudah Balebat lebih, mungkin sebentar lagi Carangcang Tihang. Di teras belakang rumah, Adijaya memperkenalkan dirinya.


"Dari mana kau tahu tentang aku?"


"Juragan Darma,"


Nyi Warsih terkejut, wajahnya yang cantik semakin dingin. Tatapannya tajam bagai elang hendak memangsa buruannya.


"Kau siapanya dia?" sentak Nyi Warsih hampir berteriak.


"Dulu saya pernah bekerja padanya, sekarang saya sedang bertamu..."


"Untuk apa kau datang kesini, kau disuruh dia?"


"Tidak! Saya datang atas kemauan sendiri,"


"Maksudnya apa? Pasti sedikitnya kau sudah tahu tentang aku dan dia!"


"Ya!" Adijaya mengangguk sambil senyum lebar. "Saya sudah dengar ceritanya dari juragan Darma. Tapi saya juga ingin mendengarnya dari Nyai,"


"Untuk apa aku harus bicara sama orang yang baru kukenal?"


"Untuk membongkar kebenaran tentang kematian Ki Bayan dan hilangnya kuda juragan,"


Nyi Warsih berdiri lalu menuding. "Kau pasti suruhan si Darma! Dua hal yang kau sebutkan tadi itu fitnah. Untuk apa aku melakukan hal serendah itu? Aku masih sanggup menantang dia satu lawan satu secara terbuka. Bukan bertindak pengecut seperti itu!"


Wajah Nyi Warsih merah padam. Amarahnya memuncak. Rasanya dia ingin menghajar anak muda itu, tapi mengingat dia kebal terhadap ajian Tapak Wisa. Wanita ini berpikir lebih jauh lagi.

__ADS_1


"Saya datang tanpa sepengetahuan juragan Darma," jelas Adijaya. "Saya merasa tertarik untuk ikut campur soal ini,"


"Untuk apa?"


"Menyatukan kembali dua hati yang saling mencintai," jawab Adijaya santai tanpa beban tanpa memikirkan apa yang akan terjadi.


Raut wajah Nyi Warsih berubah jadi cuma bersemu merah. Dadanya bergejolak, berdebar keras. Anak muda di hadapannya seperti bisa membaca pikirannya. Wanita ini perlahan duduk lagi. Mengatur perasaannya. Mulai bersikap tenang.


"Apa yang dia ceritakan itu semuanya benar," kata Nyi Warsih pelan.


"Kenapa Nyai dendam kepada juragan?"


Nyi Warsih terdiam tidak segera menjawab. Jika dipikir-pikir memang benar pertanyaan itu. Untuk apa dia dendam. Keluarga Darma benar memutuskan secara sepihak rencana pernikahan mereka karena jelas ayahnya yang bersalah.


Setelah memecat ayahnya dan membatalkan pernikahan, keluarga Darma tidak pernah berurusan lagi dengan keluarganya. Tidak pernah menggubrisnya. Seperti tidak pernah saling kenal lagi.


"Mereka tidak meminta kembali hasil ladang yang dicuri ayah. Juga tidak membawa masalah ini ke kerajaan sehingga ayah tidak mendapat hukuman dari kerajaan. Hanya dipecat saja. Seterusnya mereka tidak mempedulikan keluargaku lagi," tutur Nyi Warsih.


"Nyai hanya dendam kepada warga desa," sambung Adijaya.


Benar, warga desa memandang sinis padanya. Mengucilkan, mencemooh, dan hal buruk lainnya karena ulah ayahnya juga.


"Aku sangat malu saat itu, rasanya ingin mengakhiri hidupku!"


Yang diucapkan Adijaya benar juga. Keluarga Darma hanya tidak mempedulikan lagi setelah ayahnya dipecat. Soal cemoohan warga desa itu hal lain lagi.


"Untuk apa Nyai selalu menghalangi wanita yang hendak dijadikan istri oleh juragan?"


"Agar sampai mati dia tidak pernah merasakan memiliki istri dan berkeluarga!"


"Bukan!" sanggah Adijaya.


Nyi Warsih hanya menatap penuh tanya. Tapi dia sudah menebak apa yang akan diucapkan pemuda yang baru kenal dan sudah bikin penasaran ini.


"Nyai masih mencintainya!"


Walaupun benar tetap saja wanita ini sempat tercekat dan berdebar hatinya.


"Jadi aku harus bagaimana?" tanya Nyi Warsih polos bagai remaja yang baru mengenal cinta.


"Ya... menikah sama juragan!" Adijaya tersenyum lebar saat mengucapkannya.


Nyi Warsih salah tingkah. Rasanya seperti kembali ke masa muda ketika Darma mencoba merayunya dengan pujian-pujian yang membikin hatinya melayang.


Sampai waktu Carangcang Tihang keduanya terdiam dalam pikiran masing-masing.

__ADS_1


Pemuda yang baru kenal, yang baru tahu kisahnya bersama Darma Koswara. Tapi mampu mendobrak kekerasan hati yang sudah dibangun sejak lama. Siapa pemuda sakti ini sebenarnya? Orang pertama yang selamat dari ajian Tapak Wisa. Dia ini manusia atau titisan dewa?


Salah seorang anak buah datang melapor.


"Darma datang, Nyai!"


Nyi Warsih bergegas ke depan diikuti Adijaya. Sampai di sana Darma Koswara sangat kaget melihat Adijaya sudah berada di rumah Nyi Warsih.


"Kau!" tuding Darma Koswara marah campur heran. "Kenapa berada di sini?"


Adijaya hanya tersenyum.


"Kau kenal dia rupanya!" tuding Darma Koswara kepada Nyi Warsih.


Wanita ini tidak menunjukan wajah angkuh seperti biasanya bila berjumpa dengan Darma Koswara atau warga desa yang lain. Raut wajahnya datar saja.


"Aku baru mengenalnya pagi ini, bukankah dia bekas anak buahmu?" suaranya juga datar.


"Ada apa ini?" Darma Koswara sendiri jadi bingung.


"Juragan kesini mau apa?" tanya Adijaya.


"Aku sudah bilang kemarin, mau menuntut balas kematian Ki Bayan!" seru Darma Koswara.


"Lupakan saja, Agan!"


"Apa maksudmu?"


"Agan tidak perlu bersembunyi lagi. Tidak perlu berpura-pura benci. Agan masih mencintai Nyi Warsih..."


"Lancang sekali kau!"


Darma Koswara hendak melabrak, tapi melihat Adijaya diam saja tak bergerak dia jadi ragu. Dia ingat Adijaya sekarang adalah pendekar digjaya.


"Juragan," kata Adijaya pelan, lalu menoleh ke Nyi Warsih. "Nyai, sudahi permusuhan ini. Tidak ada kata terlambat untuk merajut kembali benang yang putus. Dengan cara direnda maka jalinannya akan lebih indah. Tidak ada kebaikan yang tercipta dari permusuhan ini,"


Entah kenapa ucapan Adijaya seperti ucapan seorang resi yang membuat semua orang di situ bagai terkena sirep. Diam dan merenung. Pemuda ini sendiri tertawa dalam hati atas tingkahnya saat ini. "Apa aku punya keahlian baru?" pikirnya dalam hati. Dia menahan tawanya agar tidak sampai keluar.


Sikap Darma Koswara mulai melunak. Malu-malu dia memandang Nyi Warsih. Yang dipandang sedikit gugup. Ada garis senyum di bibir wanita itu walau tak kentara.


"Harus ku akui, kecantikannya memang belum pudar. Adijaya, bagaimana anak itu bisa jadi seperti ini? Kalau dia berbakat dalam ilmu silat seperti kata guru, itu tidak aneh. Banyak anak muda seperti dia. Namun, jarang yang memiliki kekuatan besar seperti dia. Tapi yang lebih aneh dia bisa membaca isi hati seseorang." begitulah ucapan batin Darma Koswara.


"Sekarang tidak ada yang menghalangi kalian lagi," ujar Adijaya.


"Ada"! satu suara menyahut membuat semua orang berpaling ke arah sumber suara.

__ADS_1


__ADS_2