Pendekar Payung Terbang

Pendekar Payung Terbang
Melati Tunjung Sampurna


__ADS_3

Dulu, ketika dia mendapatkan perlakuan tidak adil dari murid-murid padepokan hanya karena dia anak seorang perampok, dia tidak boleh belajar ilmu silat.


Dia hanya mengerjakan kebutuhan para murid dan guru. Tapi dia tidak dilarang untuk membaca kitab. Di ruang penyimpanan kitab dia sering banyak membaca.


Yang dibaca kebanyakan kitab tentang pengobatan. Pengetahuan tanaman obat-obatan dan tumbuhan ajaib pembangkit kekuatan batin atau tenaga dalam. Karena dulu dia tidak berminat pada ilmu silat.


Sekarang dia akan 'lelaku' sesuai petunjuk dalam kitab. Dalam membangkitkan tenaga dalam atau kekuatan batin, tidak hanya memakan racikan yang sudah dibuat. Tapi juga harus banyak semedi memusatkan pikiran. Mengolah tarikan nafas dan mengaturnya.


Satu hal lagi, Adijaya tidak secara langsung sekaligus melakukanya, tapi bertahap. Dia memakan ramuan, lalu semedi selama tujuh hari. Setelah tujuh hari dia kembali ke bawah untuk mengambil perbekalan yang ada di kereta kuda.


Tujuh hari pertama dia masih melihat Pendekar Pedang Bunga masih di sana sedang memantau muridnya. Asmarini sedang berlatih memainkan jurus-jurus pedang.


Gadis ini sadar dengan kehadiran Adijaya. Tapi dia tetap berlatih seolah tak peduli kepada pemuda itu. Tentu saja karena tatapan awas si nenek yang seperti mengancam.


Tujuh hari berikutnya, saat Adijaya turun kembali. Dia melihat Asmarini duduk sendirian di teras.


Gadis ini langsung menghambur mendekati Adijaya.


"Kau sudah baikan?" tanya Asmarini.


"Seperti yang kau lihat,"


"Syukurlah," Asmarini menunduk. "Maafkan aku,"


"Kenapa minta maaf?"


"Karena guruku, kamu jadi terluka,"


"Gurumu hanya ingin melindungimu,"


"Tapi dia keterlaluan,"


"Sudahlah, tidak apa-apa. Aku memakluminya. Lagi pula aku sudah sembuh,"


Sepasang muda-mudi ini saling tatap. Tatapan lembut. Sebenarnya Asmarini takut Adijaya akan berubah sikap karena ulah gurunya itu.


"Oh, ya. Kau tidur di mana? Aku lihat kereta kudamu juga kosong. Lalu orang bernama Ki Santang kemana?"


"Aku di lereng atas. Seperti yang aku bilang, aku sedang memulihkan kekuatan. Dan.. Ki Santang itu selalu kemana saja dia mau, tapi saat dibutuhkan dia selalu ada,"


Adijaya melempar senyum. Asmarini langsung membalas dengan senang. Ya, dia senang pemuda yang telah menawan hatinya ini tidak berubah sikap setelah peristiwa yang lalu.

__ADS_1


Gadis ini mengutarakan ke gurunya bahwa dia benar-benar menyukai Adijaya. Merasa cocok dengan sifatnya. Tapi sang guru masih belum percaya dengan pemuda itu walaupun tahu Adijaya adalah Pendekar Payung Terbang yang belum lama ini jadi perbincangan di dunia persilatan.


Tapi Nyai Gandalaras pergi juga dari rumah itu. Artinya dia tidak khawatir dengan keselamatan muridnya. Artinya juga, dia percaya Adijaya tidak akan berbuat macam-macam.


"Aku ke atas dulu," kata Adijaya kemudian sambil tetap menatap lembut.


"Baiklah, semoga berhasil!"


Adijaya membalik badan lalu melangkah meninggalkan Asmarini yang masih tersenyum. Senyum yang berbunga-bunga.


"Aku akan mengunjungimu, membawakan makanan!" teriak Asmarini setelah Adijaya hampir tak kelihatan.


Keesokan harinya benar saja Asmarini mengunjungi Adijaya. Gadis ini agak kesulitan saat mencari tempat keberadaan si pemuda. Hatinya begitu senang ketika berhasil menemukannya.


Asmarini membawakan masakan buatannya. Gadis ini melihat Adijaya sedang bersemedi dengan khusyuk. Kedua matanya terpejam. Tarikan nafasnya teratur.


Di udara bukit yang dingin ini Adijaya bersemedi dengan t3lanj*ng dada. Asmarini begitu terpana melihat bentuk dada yang bidang berotot menunjukan keperkasaan.


Si gadis tersenyum. "Aku bawakan makanan untukmu," serunya. Dia tahu Adijaya pasti merasakan kehadirannya.


Asmarini masih berdiri di tempatnya. Gadis ini merasa betah terus memandangi pemuda yang tengah bersemedi itu. Sesekali dia tersenyum. Entah apa yang dihayalkannya? Adijaya telah memikat hatinya.


Beberapa saat kemudian gadis itu kembali ke bawah. Dia tidak ingin mengganggu Adijaya.


Lebih dingin.


Malam pekat tanpa cahaya rembulan dan bintang-bintang terselimuti awan hitam. Kecuali di rumah yang ditempati Asmarini yang diterangi damar, keadaan di sekitar bukit gelap gulita.


Tepat pada saat malam mencapai puncaknya. Dalam dada Adijaya terasa bergemuruh. Awalnya kecil, lama-lama semakin besar dan membuat tubuhnya bergetar.


Aneh, badan pemuda ini berkeringat bahkan mengucur deras sepeti diguyur air. Kedua mata yang terpejam terasa panas dan perih memaksanya membuka kelopak mata.


Saat terbuka, angin dingin menyapu matanya. Seketika rasa panas dan perih hilang.


Tepat lurus di hadapannya agak ke bawah. Dalam jarak yang belum diperkirakan. Satu cahaya putih kecil berkilau seperti titik api kecil.


Seolah-olah ada yang menarik dirinya, Adijaya bangun lalu melangkah menuju cahaya kecil itu. Kakinya menerobos semak belukar yang tak kelihatan karena gelap. Tapi dia tak mempedulikannya.


Tanpa terasa langkahnya sudah sejauh lima belas tombak menuruni lereng yang miring. Adijaya berhenti di depan cahaya kecil yang mampu menerangi hanya sekitar tempat itu.


Tempat yang dipijak Adijaya tampak bersih dalam radius dua tombak. Di tengah-tengahnya tumbuh sebatang pohon bunga melati setinggi dada. Cahaya putih berkilau yang memancar itu berasal dari bunga melati yang sudah mekar dan satu-satunya di pohon itu.

__ADS_1


Semerbak harum melati terhirup oleh hidung. Harumnya menyegarkan. Merasuki ke seluruh bagian dalam tubuh. Mengalir pelan, hangat tapi sejuk.


Adijaya merasakan ada gelombang hawa halus dalam tubuhnya yang mengalir ke setiap nadi. Menyatu dengan darah.


Jika diperhatikan terus, kelopak bunga melati itu berwarna biru. Ini yang memancarkan cahaya. Tak henti-hentinya hati Adijaya berdebar kencang.


"Bunga apa ini? Melati tapi berwarna biru,"


"Melati Tunjung Sampurna!" satu suara menyahut. Sosok Ki Santang sudah berdiri di samping Adijaya.


"Aku belum pernah membacanya dalam kitab," Adijaya mengingat-ingat barang kali ada yang terlupakan. Tapi memang benar, dia baru mengetahuinya sekarang.


"Bagaimana bisa bunga ini ada di sini, padahal sebelumnya aku tidak pernah melihatnya. Bahkan pohonnya pun sebelumnya tidak ada?" tanya Adijaya kemudian.


"Bunga ini tumbuh dan mekar setiap seratus tahun sekali. Ditandai malam yang sangat pekat dan udara yang sangat dingin bagi manusia," Ki Santang mengatakan ini tentu saja karena dia mahluk guriang.


"Apa ada khasiatnya?"


"Tentu saja, juragan sangat beruntung menemukan bunga yang hanya muncul sekali dalam satu abad ini,"


"Seperti apa?"


"Lebih sakti dari lumut ungu. Juragan sudah merasakan, menghirup harumnya saja telah menyimpan kekuatan dalam tubuh,"


"Benar," Adijaya memang merasakannya. Walaupun tel*nj*ng dada, tapi tidak kedinginan seperti sebelumnya.


"Lalu bagaimana cara menggunakannya?"


Ki Santang memetik bunga melati biru itu. Diberikan kepada majikannya.


"Cukup dimakan saja,"


Adijaya memegang bunga yang memancarkan cahaya putih itu.


"Sekarang?"


"Lebih cepat lebih bagus, juragan akan memiliki kekuatan kembali seperti semula."


Adijaya berpikir sejenak lalu memasukan bunga itu ke dalam lipatan ikat pinggangnya. Suasana jadi gelap karena cahaya terhalangi ikat pinggang. Terasa ada sesuatu yang mengalir ke dalam tubuhnya saat bunga itu menyentuh perut yang terlilit ikat pinggang.


"Nanti saja secara bertahap. Aku ingin mengolah kekuatan yang berasal dari keharuman bunga ini dulu."

__ADS_1


Adijaya kembali ke tempatnya. Ki Santang sudah menghilang.


__ADS_2