
Sudah lima hari di dalam ruang bawah tanah, Adijaya hanya membaca isi kitab yang lumayan tebal itu. Ternyata semua isinya hanya berupa tulisan, tidak gambar atau bentuk lainnya. Awalnya dia heran sebenarnya kitab apa ini?
Dua hari pertama Adijaya mampu menuntaskan membaca seluruh isi kitab itu. Hari ke tiga mulai mncoba memahami kalimat demi kalimat. Dalam satu halaman terdapat sembilan baris kalimat. Setiap kalimat terdiri sedikitnya tiga kata, dan paling banyak sembilan kata.
Setelah berpikir agak lama akhirnya Adijaya paham dan menyimpulkan setiap baris kalimat bisa dikonversikan ke dalam beberapa gerakan. Bahkan bisa dijadikan rangkaian sebuah jurus.
"Beda orang yang mempelajari, maka beda lagi gerakan jurus yang tercipta. Namun, inti sarinya tetap sama," gumam Adijaya sambil angguk-angguk kepala dan pandangan yang menerawang.
"Jadi sebenarnya inti semua ilmu silat itu satu, tapi karena berbeda cara memahaminya sehingga terciptalah berbagai macam ilmu silat," lanjut Adijaya.
Hanya orang yang berotak cerdas saja yang mampu memahami isi kitab ini. Yang menulis kitab ini berarti sudah memahami semua ilmu silat di penjuru dunia lalu merangkumnya dalam bentuk tulisan.
Hebat. Adijaya tak bisa berhenti mengagumi kitab ini. Baginya kitab ini sangat sempurna. Yang lebih hebat tentu yang menulisnya.
Hari-hari selanjutnya Adijaya hanya menghapalkan setiap kalimat di dalam kitab Hyang Sajati. Tidak mencoba menciptakan sebuah jurus atau ilmu juga ajian. Dia merasa kalau sudah hapal, dia akan bisa langsung menciptakannya ketika bertarung.
Bukankah dia memiliki ajian Membalik Langit yang dapat meniru jurus lawan dalam sekejap bahkan menciptakan jurus pemecahannya. Dari satu kekuatan yang berasal dari sebuah bunga saja dia mampu menciptakan tiga ilmu yang sampai saat ini belum ada tandingannya.
Sekarang dia berjodoh dengan kitab yang luar biasa ini. Entah seperti apa kekuatannya nanti. Dahulu dia tidak ingin menjadi pendekar, sekarang malah sebaliknya. Inilah jalan kehidupan yang tak pernah disangka-sangka.
Targetnya sekarang adalah hapal sedetail mungkin. Kalimat ini ada di halaman berapa baris ke berapa. Begitulah Adijaya mengulang-ulang bacaannya. Tidak lupa dia menggunakan kekuatan Melati Tunjung Sampurna untuk memperkuat hapalannya.
***
Tekanan angin semakin kuat. Pedang Bunga semakin berat. Pertahanan Asmarini rasanya akan segera jebol. Seluruh ruangan goa batu karang bergetar hebat seakan-akan hendak runtuh. Bahkan pecahan serpihan batu karang tampak berjatuhan seperti hujan.
Pada saat hampir roboh itulah Asmarini menolakkan dua kaki ke tanah. Badannya meloncat setengah tombak. Dengan kekuatan penuh sepasang tangan Asmarini mengangkat pedang lalu membuat gerakan menebas.
Wugh! Wusssh! Braak!
__ADS_1
Dari tebasan Pedang Bunga ini memunculkan angin padat berbentuk pedang raksasa. Ini adalah hasil dari pengumpulan angin serangan dari Nini Kewuk. Pada saat menebas, tubuh Asmarini terhempas akibat dari tenaga yang menghantam balik hingga keluar goa.
Pada saat terhempas itu dia masih sempat melihat pedang angin yang tercipta menebas tubuh Nini Kewuk hingga terpotong jadi dua. Bahkan ruangan goa batu karang juga terbelah.
Terdengar jeritan mengerikan setinggi langit sebelum nyawa nenek itu melayang ke alam baka. Seluruh goa bergetar lalu runtuh mengubur jasad Nini Kewuk. Beruntung Asmarini sudah berada di luar.
Ini adalah cara yang sama ketika menghadapi Hanujara. Mengumpulkan dan mengembalikan serangan lawan. Sebuah cara yang mendadak saja muncul dalam pikiran.
Si mungil sempat jatuh berguling-guling. Masih untung juga pedangnya tergenggam erat di tangan. Dadanya terasa sesak dan panas seperti ada batu yang menghimpit. Segera saja dia mengatur napas dan memulihkan kondisi.
Bukit batu karang kini ambruk bagai bangunan runtuh tinggal puing-puing yang tidak berbentuk. Beberapa saat Asmarini memandangi reruntuhan batu karang ini setelah kondisinya pulih kembali.
Setelah pikirannya tenang, barulah Asmarini meninggalkan tempat itu. Sang surya terlihat sudah condong ke barat. Rupanya bertarung dengan Nini Kewuk cukup lama, sebab Asmarini datang ke tempatnya masih pagi.
Semakin berat lawan yang dihadapi, semakin bertambah pengalamannya, semakin banyak pula pelajaran yang dapat diambil.
"Membalik Langit!" Padmasari menjawab.
"Bukankah itu milik Kakang Adijaya?"
"Tidak apa-apa sama juga. Ada Membalik Langit laki-laki dan Membalik Langit wanita!"
"Kalau begitu aku harus meminta persetujuan Kakang dulu!"
Asmarini mempercepat langkahnya. Belum lama dia meninggalkan suaminya di ruang bawah tanah, tapi sudah merasakan rindu. Dia seolah baru saja mengenal Adijaya dan menjalin hubungan.
***
Di lereng gunung Salak sebelah barat. Ada satu tempat yang pepohonannya sangat rapat. Daun-daun memayungi tanah lereng hingga tak tersentuh cahaya matahari. Siang malam keadaanya selalu gelap.
__ADS_1
Namun, masih ada penerangan dari beberapa obor yang tertancap di setiap sudut. Keadaan tanahnya tampak datar dengan ukuran seluas lapangan. Anehnya di dalam tanah lapang itu tidak ditumbuhi pohon.
Tanah lapang itu seperti sebuah ruangan besar berdinding pepohonan dan beratap dedaunan. Di tengah-tengahnya terdapat sebuah dipan kayu. Di atas dipan itu terbujur kaku seorang wanita berpenampilan cantik mengenakan pakaian bangsawan.
Ada dua puluh satu orang tampak duduk bersila mengelilingi wanita yang terbaring di atas dipan. Semuanya lelaki yang rata-rata berumur tiga puluhan. Di lereng gunung yang sangat dingin ini mereka hanya mengenakan celana komprang hitam.
"Sebentar lagi hari kebangkitan kembali Gusti Ratu akan tiba," ucap salah seorang yang tampaknya menjadi pimpinan mereka.
Dia menyapukan pandangan ke seluruh yang hadir di situ. Terakhir memandang ke wanita di atas dipan dengan tajam. "Masa hukumannya akan berakhir, tapi kita membutuhkan tiga Mutiara Siluman Kerang yang ada di laut selatan. Agar kebangkitan Gusti Ratu berjalan sempurna."
"Benar, dengan mutiara itu Gusti Ratu akan hidup kembali dengan kekuatan yang lebih dahsyat dari sebelumnya," seseorang menyahuti.
"Kita harus mendapatkan mutiara itu sebelum hari kebangkitan Gusti Ratu tiba!"
"Lima orang berjaga di sini, yang lain turun gunung bersama-sama mengambil Mutiara Siluman Kerang."
Serentak enam belas orang sudah berdiri tanpa diaba-aba. Semuanya berwajah dingin. Keadaan mereka yang telanjang dada memperlihatkan bentuk tubuh yang sama kekar dan berotot.
"Tidak mudah merebut mutiara dari silluman kerang itu, lebih-lebih lagi kita menghadapinya di alam mereka. Kita harus bekerja sama dan harus berhasil!"
"Hidup Gusti Ratu!" Serentak lima belas orang lainnya menyeru bersama-sama. Suaranya menggema ke seantero tempat.
Kemudian mereka bergegas meninggalkan tempat itu. Keluar melalui celah-celah pohon yang cukup sempit, tapi dengan mudah menyelinap. Tubuh mereka lentur bagaikan karet.
Siapa lagi mereka? Siapa juga Gusti Ratu yang terbaring di atas dipan?
***
Terima kasih untuk yang sudah komen, komenmu inspirasiku, yeah!
__ADS_1