Pendekar Payung Terbang

Pendekar Payung Terbang
Kembali Ke Bukit Gajah Depa


__ADS_3

Pada malam harinya sesuai permintaan Adijaya, perjalanan akan melalui udara. Menjadi kereta hantu. Jarak yang harusnya ditempuh sampai empat belas hari ternyata bisa diselesaikan dalam semalam.


Selama perjalanan udara, Asmarini lebih banyak istirahat. Sehingga cukup kaget ketika terbangun, dia melihat rumah kayu besar yang tidak asing baginya.


Si cantik ini keluar dari kereta, memandang berkeliling dan menghirup udara bukit yang menyegarkan. Wajahnya begitu ceria. Mengingat masa-masa bersembunyi di rumah ini.


Asmarini terpaksa kabur karena tidak mau dijodohkan ayahnya yang waktu itu masih seorang patih di Wanagiri. Pelarian yang cukup jauh. Namun, dia selalu didampingi gurunya meski tidak setiap hari.


Inilah yang dia sesalkan, dia sama sekali tidak tahu kematian sang guru bersama saudara kembarnya di bukit Bedul. Karena waktu dia diculik Jerangkong Koneng dan dalam pengaruh gendam.


Di bukit ini dan di rumah ini dia pertama kali bertemu Adijaya yang akhirnya menjadi suaminya setelah melewati berbagai rintangan yang berat.


Beberapa saat kemudian sepasang suami istri ini membersihkan dan membereskan rumah yang telah lama ditinggalkan ini hingga tampak bagus dan rapi.


Setelah itu Adijaya membuat 'istal' (kandang kuda) di belakang rumah. Bukan tanpa alasan Adijaya membuatkan kandang untuk hewan itu. Dia meminta sepasang kuda guriang agar keluar dari jasad kuda biasa.


"Paman dan Bibi kuda tidak perlu bersemayam di tubuh kuda itu lagi," pinta Adijaya.


Setelah dimasukkan ke istal, sepasang kuda kembali ke warna asalnya. Pertanda sepasang guriang yang merasukinya telah keluar.


"Lalu kami bagaimana, Juragan?"


"Menjelmalah seperti manusia!"


"Oh, begitu!"


Tring!


Kini sepasang kuda guriang berubah menjadi sepasang kakek dan nenek.


"Kita akan tinggal di sini dalam waktu yang lama, mungkin akan menetap selamanya,"


"Baik, Juragan. Kami akan tetap melayani Gusti Putri, apalagi sekarang sedang mengandung,"


"Kita akan memiliki cucu, Aki!"


"Iya, Nini, hehehe....!"

__ADS_1


Selanjutnya Adijaya membuat perombakan pada rumahnya. Dia menjadikan kereta kuda seolah-olah menyatu dengan rumah. Dengan kamar paling depan yang berdampingan dengan ruang depan.


Tentu saja roda keretanya tidak dilepas, masih terpasang. Sehingga yang terlihat aneh karena dinding depan rumah ada rodanya. Pintu belakang kereta menjadi jendela samping kamar.


Sengaja dibuat seperti ini agar menjadi praktis terlebih lagi di dalam kereta ini ada ruang dimensi lain.


Selagi sang suami bekerja, Asmarini memasak di dapur dengan alat yang disediakan Padmasari dan bahan-bahan makanan yang didapat di sekitar bukit. Pekerjaan selesai makan pun siap.


Selesai makan tibalah saatnya Adijaya ingin mengutarakan sesuatu yang menurutnya penting agar kehidupan kedepannya menjadi tenang.


"Dinda, mengingat aku masih ada musuh yang mengincar nyawaku bahkan mungkin nyawa kita berdua. Maka aku akan membereskan masalah ini sampai tuntas. Sampai tak ada lagi orang atau makhluk lain yang mengganggu kehidupan kita,"


"Kakang hendak pergi?" Wajah Asmarini datar.


"Hanya sukmaku yang akan pergi." Adijaya menangkupkan telapak tangan di kedua pipi istrinya.


"Aku hanya bisa mendoakan." Asmarini berkaca-kaca.


"Dinda tenang saja, di sini ada temannya. Aku juga telah membuat pelindung gaib di sekeliling bukit ini untuk keamanan,"


"Apakah musuh Kakang kali ini lebih berat?"


"Kakang ingin mencegah kebangkitan Ganggasara?"


Adijaya mengangguk sambil kedipkan mata. Telapak tangannya masih memegang pipi mungil dan lembut milik istrinya. Wajah ini tetap mungil dan cantik seperti gadis belia. Padahal sebentar lagi menjadi ibu.


"Jika merasa tidak aman, masuklah ke kamar dimensi lain. Di sana pasti aman."


Sang suami mendekatkan bibirnya. Mengecup bibir tipis Asmarini dengan perlahan dan penuh kelembutan. Perempuan ini menikmati sentuhan lembut yang membuat jiwanya melayang.


Asmarini mendongak dengan mata terpejam dan menggigit bibir bawahnya ketika sentuhan hangat kini menjelajahi leher, bahu hingga bagian dada yang entah kapan sudah tanpa pelindung lagi.


Adijaya kini menghisap pucuk mungil yang mulai berwarna coklat serta bukitnya yang mengeras, tapi masih kenyal. Jari tangan kirinya memainkan kembaran pucuk yang di sebelahnya.


Suara erangan tertahan terdengar dari Asmarini yang kini posisinya sudah telentang tanpa sehelai benang karena tangan Adijaya yang begitu terampil dan cekatan.


Tangan Asmarini refleks menangkap ketika sebuah benda keras terasa menyodok di bagian bawah. Kemudian membimbing benda yang berdenyut cepat dan terasa panas itu agar lancar memasuki bagian sensitifnya.

__ADS_1


"Awh!"


Pekik Asmarini ketika sang suami mendorong tongkatnya hingga menghujam dalam sampai dasar. Walau sudah berulang kali, tapi tetap saja seperti baru pertama kali merasakannya.


Senjata kejantanan setiap lelaki ini terasa membesar dan memenuhi lubang mungil sampai terasa mengembang. Seandainya itu mulut, mungkin akan kesusahan bernapas.


Berikutnya Adijaya mulai memacu diri menuntaskan tugas untuk mencapai puncak. Dua tangannya menyelinap ke belakang punggung. Sungguh kulit yang sangat lembut.


Rasanya tidak pernah habis mengecap kenikmatan dari indahnya tubuh mungil ini. Setiap seluruh badan menyatu, sentuhan yang panas tapi lembut ini selalu membangkitkan gai rah.


Sementara Asmarini menyesuaikan ritme hentakan sang suami yang mengalun santai. Setiap terasa ada gesekan yang menyengat, rintihannya keluar tertahan.


Sang suami selalu mampu membuatnya melayang jauh. Tidak tergambarkan bagaimana rasa indah ini memuaskan batinnya. Kebahagiaan tergambar dari wajahnya yang kini dipenuhi peluh.


Bukan hanya di wajah, sekujur tubuh telah bermandikan keringat yang bercampur dengan keringat Adijaya. Perpaduan napas keduanga semakin memburu.


Asmarini dekap erat punggung suaminya meski licin karena meringat. Badannya mengejang. Sesuatu terasa mengalir cepat di bagian bawah. Bagai lahar gunung yang bergejolak.


"Kakaaang...!" jerit Asmarini.


Bersamaan dengan Adijaya juga yang mendekap erat dan menuntaskan hujaman terakhir hingga dalam. Tubuhnya juga mengejang. Lalu dia benamkan wajahnya di leher sang istri.


Keduanya mengerang beberapa saat. Merasakan aliran lahar panas yang menyembur kuat dari sumbernya masing-masing. Lalu sama-sama terhempas lemas dengan napas seperti habis berlari cepat.


Tiada keindahan lain selain apa yang dirasakan mereka sekarang. Meski sudah sering melakukannya, tapi tidak pernah bosan atau jenuh.


Kini mereka terlelap dalam keadaan menyatu bermandikan keringat hingga membasahi permadani yang selalu menjadi saksi kebahagiaan mereka.


***


Adijaya memilih salah satu kamar yang ada di ruang dimensi lain untuk menyimpan raga kasarnya. Dia akan melanglang buana menggunakan ajian Ngaraga Sukma.


"Dinda baik-baik di sini, jaga dan rawat si kecil dalam perutmu," pesan Adijaya.


"Semoga Kakang selalu diberikan keselamatan,"


Kemudian Adijaya mulai duduk bersila. Memejamkan sepasang mata. Memusatkan pikiran. Merapatkan bibir, karena dia mengucapkan mantera nya di dalam hati.

__ADS_1


Beberapa kejap selanjutnya tubuhnya sekarang tampak kaku bagai arca. Gerakan naik turun bahu pertanda bernapaspun tidak kelihatan. Lalu sesosok bayangan mirip Adijaya keluar dari dalam raga kasar itu.


Itulah sukmanya Adijaya.


__ADS_2