
Tangan sukma Gandara terangkat memegang wajah anaknya. Menatapnya penuh kelembutan dan kasih sayang. Kemudian sukma itu melayang perlahan ke atas dan lenyap menjadi serpihan angin.
Adijaya masih berlutut lama memandang kepergian ayahnya sampai Padmasari berada di dekatnya. Perasaanya begitu haru. Seolah-olah sang ayah masih hidup di alam fana.
"Mari kita lanjutkan, Juragan!"
Adijaya bangkit setelah mengendalikan perasaannya. Lalu berjalan masuk ke gerbang lima. Bersiap menghadapi keanehan apalagi yang merintangi mereka. Karena selalu begitu, setiap berhasil masuk ke gerbang, akan melewati ujian alam sebelum melawan penjaga gerbang berikutnya.
Yang harus dilewati Adijaya dan Padmasari sekarang adalah air terjun raksasa. Air ini seolah turun dari langit. Lebarnya sejauh mata memandang. Diperkirakan tebalnya juga tidak dapat diukur karena tidak bisa ditembus oleh pandangan.
Adijaya mematung sambil garuk-garuk hidung dengan satu jarinya. Bisakah dia menerobos air terjun dengan Payung Terbang sambil membawa Padmasari? Tekanan air ini pasti sangat luar biasa.
"Aku akan membuat terowongan, dan kau seperti biasa, pasang jembatan!" ucap Adijaya kepada Padmasari.
Guriang cantik ini hanya mengangguk.
Kemudian Adijaya menghimpun semua energi yang terasa di tempat itu. Dijadikannya sebuah benda tak kasat mata yang membuat air terjun terlubangi. Sebuah terowongan panjang bagai tak terhingga terbentuk.
Setelah itu giliran Padmasari yang menciptakan jembatan seperti sebelumnya.
"Ilusi yang nyata!" gumam Adijaya sambil angguk-angguk kepala. "Ilusi tapi nyata!"
Tanpa ragu Adijaya meniti langkah di jembatan sihir buatan Padmasari. Guriang cantik itu mengikutinya dengan setia. Suara gemuruh 'curug' raksasa terdengar cukup memekakkan telinga. Adijaya sampai mengalirkan hawa sakti agar tidak pecah gendang telinganya.
Seperti rintangan sebelumnya, air terjun raksasa ini bagaikan tak berujung. Setelah kesal berjalan dan berlari akhirnya menggunakan Ki Santang juga untuk melayang lebih cepat.
Makin dalam terowongan makin gelap. Selain di lembah Kasali, di sinilah Adijaya menemukan kegelapan. Padmasari menggelayut di pundaknya seperti sedang terlelap tidur.
Setelah cukup lama melewati terowongan, akhirnya sampai juga di ujung. Adijaya menemukan langit terang lagi. Di depan gerbang sesosok nenek bermuka seram telah siap menghadang.
"Siapa dia?" tanya Adijaya yang tidak kenal dengan sosok tersebut.
"Dialah Nini Kewuk!"
Seketika Adijaya ingat tentang salah satu murid padepokan Karang Bolong yang saking jatuh cintanga kepada istrinya sampai mendatangi Nini Kewuk untuk meminta sebuah ajian pelet.
__ADS_1
"Oh, jadi ini yang disebut Ratu Pelet?"
Seperti diceritakan jauh sebelumnya, Nini Kewuk tewas oleh Asmarini tertimpa reruntuhan goa di bukit batu. Ini menandakan pengetahuan Ganggasara tentang tokoh-tokoh sakti sangat luas.
Nini Kewuk tidak membawa tongkat, hanya memakai jubah hitam saja. Seperti Jerangkong Koneng, tapi entah apa yang akan digunakan si nenek sebagai senjata.
Si nenek angkat kedua tangan seperti orang berdoa, lalu terdengar mulutnya mengucap mantera.
"Loh, dia bisa bicara!" pekik Adijaya karena tadinya mengira si nenek sama saja dengan yang lain. Bisu.
"Jagatku jagat ayu
Badanku raga ayu
Kawahku kakang ayu
Baliku rayi ayu
Ing bumi deudeuh
Jaran goyang ing jaran goyang
Jaranku jaran goyang
Heuuuuh....!"
Mendengar mantera aji Jaran Goyang seketika kepala Adijaya terasa berat dan pusing. Pandangannya jadi kabur. Dunia seperti berputar-putar dan berguncang. Payung ditopangkan ke tanah menjaga tubuhnya agar tidak jatuh.
Tangan yang satunya memijit-mijit dahinya berusaha menghilangkan rasa pusing. Tak lupa dia kerahkan hawa sakti juga. Ternyata ini yang menjadi serangan si nenek.
Padmasari segera membantu sang majikan. Dia berdiri di belakang Adijaya sambil menempelkan sepasang telapak tangannya ke punggung sang pendekar.
"Tutup indera pendengaran, Juragan. Jangan sampai mendengar suaranya!"
Adijaya melakukan apa yang disarankan Padmasari. Ternyata benar, setelah tidak lagi mendengar mantera ajian Jaran Goyang, rasa pusingnya berangsur hilang. Kepalanya kembali ringan dan pandangannya jelas lagi.
__ADS_1
Tapi sang pendekar terkejut karena di depannya kini berdiri orang yang paling dicintainya sedang menatapnya tersenyum manis. Asmarini. Bagaimana bisa dia ada di sini?
"Jangan terkecoh, Juragan, itu hanya tipuan!"
"Bukan ilusi nyata?"
"Sudah pasti bukan. Dia Ratu Pelet, dia sedang memelet Juragan dengan ajian Jaran Goyang. Sebaiknya pusatkan pikiran. Heningkan perasaan sampai Juragan merasakan sedang sendirian baru buka mata!"
Kembali Adijaya mengikuti saran Padmasari. Pejamkan kedua mata, pusatkan pikiran. Mematikan semua indera. Sampai tidak merasakan apapun, hanya pikiran yang kosong.
Adijaya merasakan kehampaan, hening. Bagaikan berada di suatu titik paling jauh di alam semesta ini yang tidak ada apa-apa lagi selain keheningan dan kekosongan.
Setelah itu dia membuka matanya. Dia menemukan dirinya kembali di dalam wilayah Puri Iblis gerbang ke enam yang di jaga Nini Kewuk. Hanya saja dia tidak mendengar suara apapun.
Dia tidak melihat Asmarini lagi, melainkan hanya Nini Kewuk yang sedang komat-kamit, tapi tidak terdengar suaranya. Tidak ada suara lainnya juga yang terdengar. Padmasari sudah berada di sampingnya perlahan menjauh mengambil jarak.
Saat kembali menoleh ke arah Nini Kewuk, ternyata nenek itu sudah menerjang mengirimkan serangan berupa cakar kuku-kukunya yang panjang. Rupanya ajian Jaran Goyang gagal memeletnya.
Pada saat ini telinga Adijaya kembali normal, bisa mendengar semuanya. Termasuk suara kebutan tangan Nini Kewuk yang mengincar wajahnya. Karena si nenek tidak menggunakan senjata, maka Adijaya melemparkan payungnya ke Padmasari.
Pertarunganpun terjadi. Jurus cakaran Nini Kewuk langsung dapat dimengerti inti sarinya, sehingga Adijaya mudah membaca pola serangannya. Namun, dia tidak ingin mengutamakan tata gerak dalam pertarungan ini.
Tujuan Adijaya tetap ingin melepaskan buhul yang menjerat Nini Kewuk. Maka dia hanya cari kesempatan agar bisa meraih tengkuk si nenek. Namun, jurus cakaran Nini Kewuk sangat ganas.
Energi sayatan yang tercipta dari kibasan cakar si nenek terasa seperti sembilu yang menggores kulit. Mau tak mau Adijaya harus menciptakan jurus pemecahannya dahulu agar bisa mendesak balik.
Selain itu Adijaya juga mengubah energi yang memenuhi udara menjadi tameng pelapis agar kebal dari kuku tajam Nini Kewuk.
Setelah dirinya terlindungi energi dan mampu memecahkan jurus lawan, kini giliran Adijaya merangsek mendesak Nini Kewuk. Sepasang tangan Adijaya mengincar bahu dan leher, tapi dua cakar si nenek selalu menghalangi.
Tepp!
Akhirnya dia tangkap saja dua tangan Nini Kewuk. Lalu memutarkan tubuh nenek itu agar posisinya membelakangi. Baru dia tangkap leher si nenek.
Brett!
__ADS_1
Dengan gerakan cepat dicabutnya benda yang menempel di tengkuk Nini Kewuk. Si nenek terhuyung ke depan lalu jatuh berlutut. Kalau di alam fana mungkin Adijaya sudah menghela napas lega.
Seperti biasa jubah yang dikenakan berubah menjadi warna putih. Sukma Nini Kewuk perlahan melayang ke atas lalu sirna menjadi serpihan angin.