
Akhirnya Cakra Diwangsa bisa menarik napas selega-leganya. Setelah rintangan sihir yang mengaduk-aduk emosi, ternyata tidak ada lagi gangguan sampai tiba di kota raja.
Para penguntit yang dipimpin Dirga Prana juga menyebar ke berbagai pelosok untuk bergabung atau mencari kawan sekelompok agar menjalankan instruksi majikannya.
Rombongan Adijaya tiba di kota raja ketika hari menjelang senja. Cakra Diwangsa yakin di dalam kota raja tidak ada yang berani mengganggu lagi.
Dari dalam kereta yang jendelanya terbuka semua, Asmarini melihat suasana kota yang mulai sepi. Orang-orang sibuk dengan kegiatan menyambut malam. Para pedagang, petani dan pekerja lainnya berduyun-duyun pulang ke rumah masing-masing.
"Sekarang aku mengerti kenapa mereka melakukan segala cara untuk menyingkirkanmu, Adijaya!" kata Cakra Diwangsa.
Adijaya menanggapi hanya dengan tersenyum. Mungkin setelah berpikir keras akhirnya Cakra Diwangsa dapat menyimpulkan sesuatu.
"Mereka pasti para pejabat istana yang merasa terancam posisinya. Jabatan yang kamu peroleh nanti pastinya sangat menguntungkan. Dari jabatan itu akan banyak jalan untuk memperoleh pundi-pundi emas!"
"Kira-kira jabatan seperti apa itu?"
"Mangkubumi!"
Adijaya hampir tersedak ludah sendiri. Kenapa bukan jabatan yang berhubungan dengan keprajuritan, seperti Panglima atau Senapati? Lalu dia tersenyum sendiri begitu ingat dugaannya semula.
Hampir waktu 'sareupna' rombongan Adijaya sampai di gerbang utama istana Tarumanagara. Wilayah istana sangat luas. Kereta kuda masih berjalan cukup jauh hingga sampai di sebuah bangunan tempat penerimaan tamu yang disebut 'Bale Gede'.
Karena hari sudah gelap maka Adijaya langsung dibawa ke asrama tamu untuk istirahat. Sepanjang jalan menuju ke sana mereka disuguhi pemandangan indah. Baik itu bangunan yang megah juga taman-taman yang menghiasi pinggir jalan dan yang mengelilingi setiap bangunan.
***
Kembali ke masa dua purnama sebelumya. Tiga hari setelah Mangkubumi Gunadarma melaporkan kejanggalan tentang jumlah upeti yang selalu berkurang, pada saat pasewakan rutin maharaja mengumumkan suatu hal yang cukup mengejutkan.
"Kondisi kesehatan Mangkubumi Gunadarma semakin menurun. Beliau sudah menyarankan agar aku segera mencari penggantinya!"
Di antara para pejabat istana yang hadir, ada empat mantri bawahan mangkubumi yang tampak senang dengan kabar ini, tapi mereka menyembunyikan sikapnya. Mereke seolah-olah ikut merasa prihatian atas kondisi kesehatan sang mangkubumi.
Di sisi lain ada yang menganggap wajar saja mengingat usia sang mangkubumi sudah sepuh. Sementara dalam hati empat mantri bawahan itu bersorak gembira, karena salah satu dari mereka pasti akan diangkat sebagai penggantinya.
"Dan aku sudah mempunyai calon penggantinya!"
__ADS_1
Maharaja tidak melanjutkan bicaranya, dia ingin melihat reaksi para Nayakapraja yang terkumpul dalam pasewakan rutin ini. Semua pejabat harian istana hadir, kecuali yang sedang bertugas keluar istana.
Mangkubumi Gunadarma juga tidak tampak, seperti kata maharaja. Sang mangkubumi sedang sakit.
Suasana tampak hening, semua menanti sang maharaja melanjutkan ucapannya. Empat mantri mengatur perasaannya yang berdebar-debar. Mereka mengingat reputasi gemilang yang selalu ditunjukkan kepada atasannya.
"Dia salah satu temanku yang telah banyak jasanya kepada Tarumanagara, dia juga seorang pendekar pilih tanding yang namanya sudah tersohor di dunia persilatan,"
Keempat mantri kerutkan kening. Ucapan maharaja tidak sesuai dengan harapannya. Kenapa memilih seorang pendekar yang lebih suka berpetualang di luaran sana?
"Namanya Adijaya, Pendekar Payung Terbang. Aku akan segera mengirim orang untuk menjemputnya!"
Keputusan maharaja memilih Adijaya untuk menggantikan Gunadarma mengejutkan semua Nayakapraja. Terutama empat mantri bawahan mangkubumi. Selepas pertemuan rutin itu, empat mantri diam-diam melakukan pertemuan rahasia di suatu tempat di luar wilayah istana.
***
Kembali ke masa sekarang.
Maharaja Wisnuwarman meminta Adijaya menemuinya di ruang kerjanya. Dia telah menjelaskan tentang keresahan mangkubumi.
Sesuai dugaan Adijaya, maharaja menjadikan dirinya umpan agar para pejabat yang merasa terancam posisinya menampakkan wajah aslinya yang serakah.
Adijaya hanya menyimak dengan menunjukkan senyum ramah. Di manapun, selalu ada pejabat yang serakah sehingga memanfaatkan jabatannya untuk memperkaya diri sendiri.
"Semua kejadian yang merintangimu tidak pernah lepas dari pengawasanku. Aku sudah mendapatkan bukti-bukti mereka yang mendalangi segala hal yang menyulitkanmu itu,"
Tentu saja segala sesuatunya sudah dipersiapkan sejak memutuskan untuk mengganti Mangkubumi. Dimulai dari sang mangkubumi sendiri yang pura-pura sakit. Kemudian menyiapkan orang-orang yang akan mengawasi perjalanan Adijaya.
Ada juga tim yang bertugas mencari dan mengumpulkan bukti. Semuanya bekerja secara rahasia, bahkan tidak terendus oleh orang-orang yang bekerja untuk mantri-mantri yang jadi target maharaja.
"Maafkan aku karena telah melibatkanmu, tapi itu karena aku percaya kamu mampu mengatasinya. Dengan begitu aku jadi tahu siapa saja orang-orang atau pendekar-pendekar bayaran di negeri ini,"
"Hamba sama sekali tidak keberatan, Gusti. Apalagi untuk kelangsungan kerajaan. Karena di manapun pejabat seperti itu pasti ada, maka wajib diberantas,"
"Terima kasih, Adijaya. Dengan begini apa kau mau menjadi nayakapraja?"
__ADS_1
"Hamba bukan ahlinya, Paduka!" Adijaya langsung menunduk.
"Sudah kuduga, tapi aku akan tetap memberimu penghargaan!"
"Kalau boleh hamba memohon, berikan saja penghargaan kepada Raden Cakra Diwangsa, karena beliau yang sudah mati-matian menjaga keselamatan hamba,"
Sang maharaja tertawa lantang. Tentu saja dia tahu yang sebenarnya. Permintaan Adijaya hanya merupakan rasa hormat dan terima kasih kepada kawan.
"Kau memang rendah hati dan setia kawan!"
Sepulang bertemu maharaja, Adijaya menceritakan semuanya kepada istrinya dan juga pasangan Cakra Diwangsa tentang pembicaraannya dengan maharaja.
"Kiranya begitu, Gusti Maharaja ingin membersihkan istana dari pejabat korup," ujar Cakra Diwangsa sambil angguk-angguk kepala.
***
Sementara itu di tempat lain keempat mantri bawahan mangkubumi telah berkumpul kembali setelah semuanya gagal melenyapkan Adijaya. Bahkan salah satunya malah berbalik arah menjadi pelindung.
"Apa yang kau lakukan, posisi kita terancam, mengapa malah berubah halauan?"
"Ada yang belum terpikirkan oleh kalian!"
"Apa maksudmu?"
"Kalau kita tidak mampu menjadi lawan, maka jadilah penjilat!"
Tiga orang mantri lain tampak kerutkan dahi. Mencoba mencerna apa yang dikatakan teman yang membelot itu.
"Dia memang hebat dalam hal ilmu kanuragan, tapi dia tidak ada pengalaman sama sekali dalam ilmu ketatanegaraan. Kita dekati dia, buat dia percaya penuh kepada kita. Lalu kita yang mengendalikan segala tindakannya nanti!"
Setelah mencerna beberapa saat, akhirnya tiga mantri lain sunggingkan senyum penuh makna. Bagaimanapun juga walaupun secara status mereka bawahan, tapi mereka lebih senior dalam hal pekerjaan.
Sayangnya mereka tidak sadar bahwa itu semua adalah jebakan maharaja. Selama mereka melancarkan aksi untuk melenyapkan Adijaya, Gunadarma melancarkan aksinya mengumpulkan bukti-bukti penggelapan harta upeti.
###
__ADS_1
Kemarin Noveltoon tampaknya mengalami kendala, sehingga review dua bab yang saya update kena imbasnya. Lama lolosnya.
Semoga sekarang lancar lagi.