Pendekar Payung Terbang

Pendekar Payung Terbang
Pelipur Lara


__ADS_3

Secara gamblang Adijaya menceritakan jati diri dan perjalanan hidupnya. Tapi tidak semuanya diungkapkan. Tentunya ada beberapa yang dipendam saja yang menurutnya tidak perlu diceritakan.


"Oh, begitu!" sahut Asmarini setelah tahu semua tentang Adijaya.


"Kamu kenapa sembunyi di sini?"


Asmarini terperanjat. "Bagaimana kau tahu?"


"Untuk apa lagi kalau bukan sembunyi dari orang yang mengejarmu, siapa dia?"


Asmarini menahan nafas. Haruskah dia ceritakan nasibnya kepada orang yang baru kenal?


"Jangan ragu, ceritakan saja. Kan giliran kamu yang cerita," bujuk Adijaya dengan senyum nakal. Dia seperti lupa akan nasib yang menimpanya.


"Cerita dongeng!" sungut Asmarini.


Terlihat semakin lucu wajahnya saat cemberut seperti itu. Dan Adijaya menyukainya. Melihat gadis ini bagaikan pelipur di saat duka lara.


"Aku kabur dari rumah," Asmarini mulai cerita.


"Sama, aku juga dulu kabur!" Adijaya memotong.


"Ih, kamu! Mau dengar, tidak?"


"Oh, iya, iya. Teruskan nona manis!"


"Huh! Dasar gombal!" Asmarini acungkan kepalan tangannya.


Adijaya hanya tersenyum melihatnya. Gadis ini begitu menghibur hatinya.


"Kenapa kau kabur?"


"Aku tidak mau dijodohkan ayahku. Aku tidak menyukai bahkan tidak mencintai orang yang mau dijadikan suamiku. Lagi pula aku belum siap untuk menikah. Aku masih ingin berpetualang menjadi pendekar pembela kebenaran sesuai pesan guru.


"Oh, ya. Guruku bernama Nyai Gandalaras. Orang-orang dunia persilatan menjulukinya Pendekar Pedang Bunga. Digelari seperti itu karena senjata pedangnya apabila keluar dari warangkanya akan menebarkan harum seperti bunga.


"Seperti pedang yang aku miliki ini juga memancarkan bau harum. Tapi tidak setebal punya guru karena tenaga dalamku belum sebesar tenaga dalam guru.


"Oh, iya. Kau tahu siapa ayahku yang bersikeras ingin menjodohkan aku dengan lelaki pilihannya yang menurutnya bagus baik bibit bebet dan bobotnya?"


Adijaya melongo mendengar penuturan Asmarini yang 'neretel' seperti sedang membaca sebuah kitab dalam sekali tarikan nafas.


Bahkan saat gadis itu bertutur, Adijaya menahan nafasnya sampai gadis itu berhenti bicara. Baru dia menghembuskan nafas panjang.


Asmarini tampak heran melihat sikap Adijaya. Lalu seperti tersadarkan, dia tertawa kecil sambil menutupi mulut dengan punggung lengannya. Membuatnya menjadi semakin terlihat manis dan lucu.


"Siapa ayahmu?" tanya Adijaya pelan. Matanya hampir tak berkedip memandang pesona yang terpancar dari si gadis.


"Ayahku Ragadenta, patih dari kerajaan Wanagiri!"


Adijaya yang sedang minum langsung tersedak mendengarnya lalu batuk-batuk.

__ADS_1


"Patih, jadi kau putri bangsawan?" segera saja Adijaya menjura.


"Eh, eh! Tidak usah seperti itu! Justru aku merasa risih dengan adat istana seperti itu. Harus selalu bersikap sopan membuatku kaku. Kadang aku merasa menyesal lahir dari keluarga istana. Tidak bebas seperti burung yang bisa terbang kemana saja. Makanya aku ingin jadi pendekar yang bisa berkelana mendatangi setiap tempat,"


Adijaya menahan nafas lagi dan baru dilepaskan setelah Asmarini selesai bicara.


Melihat sikap Adijaya, kembali gadis ini tersipu malu. Lalu terdiam untuk beberapa saat.


Mereka hanya saling menatap lembut. Angin bukit menyeruak masuk ke dalam membawa kesejukan. Mengibarkan rambut mereka yang sama-sama panjang.


"Kau bilang sudah satu tahun lebih di sini. Bagaimana kau makan? Apa saja yang kau lakukan? Apakah gurumu sudah tahu keberadaanmu dan pernah mengunjungimu? Lantas apakah keluargamu belum bisa menemukanmu di sini? Apa..." Adijaya hentikan serbuan pertanyaan yang bermaksud membalas ketika gadis itu mengangkat tangannya.


Asmarini cemberut, tapi kejap berikutnya dia tertawa terbahak-bahak. Adijaya terbengong lagi.


"Kau tertular, ya?" ejek Asmarini.


Adijaya nyengir tanpa suara sambil garuk-garuk kepala.


"Aku mencari buah-buahan di sekitar sini. Kadang aku turun bukit mencari kedai. Aku juga bisa masak,"


Si pemuda tampan tadinya sudah siap-siap lagi kalau gadis itu akan berkata panjang. Tapi urung setelah mendengarnya.


"Guru sudah tahu keberadaanku, beliau mengunjungiku setiap satu purnama untuk melihat perkembangan ilmu silatku,"


Asmarini berhenti lagi. Dia minum air yang ada di gelas bambu. Dia tidak merasa risih dipandangi lelaki di hadapannya. Walau agak kikuk sedikit.


"Sementara keluargaku tidak ada yang tahu. Mungkin mereka masih mencari-cari, tapi sampai sekarang belum ada satu pun yang mengetahui keberadaanku,"


Menjumpai gadis seperti ini rasanya Adijaya ingin terus di dekatnya. Tapi dia adalah seorang putri bangsawan. Kedukaan hati karena cintanya yang kandas melintas lagi dalam pikirannya. Sekarang dia tidak mau berharap banyak.


Dia tidak ingin menyerempet soal asmara lagi. Apalagi Asmarini putri seorang patih.


"Kamu mau pulang, atau bagaimana?" tanya Adijaya memecah kesunyian.


"Aku ingin berkelana!"


"Tapi keluargamu, terutama ibumu pasti menghawatirkanmu,"


"Tidak apa-apa, aku sudah meminta guru untuk memberikan kabar kepada mereka. Tapi tentunya tidak akan memberitahu keberadaanku,"


"Lalu kapan kau akan pulang?"


"Kau mengusirku!"


"Bukan begitu maksudku, bahkan aku mau terus bersamamu..."


"Apa?" Asmarini membelalak.


Adijaya sendiri kaget dengan ucapannya.


"Bu... bu... bu... bukan, ini... ssse.... ah!" Adijaya sangat gugup. Wajahnya tampak merah. "Entahlah, aku tak bisa menjelaskannya. Terserah apa penilaianmu saja,"

__ADS_1


Keduanya terdiam lagi.


Asmarini juga sebenarnya berdebar saat mendengar perkataan Adijaya tadi. Apakah itu dari hati atau hanya spontan saja. Dipikir-pikir menyenangkan juga pemuda ini. Atau karena memang dia baru mengenal lelaki dari luar istana?


Lelaki yang sikapnya bebas tanpa aturan kesopanan dalam istana. Mendengar kisahnya tadi cukup seru juga. Berarti dia sudah punya pengalaman di dunia persilatan. Mungkin akan lebih baik kalau dijadikan teman berkelana.


Teman?


"Kenapa kamu pulang?" tanya Asmarini setelah beberapa saat.


"Aku mendapat musibah, tenaga saktiku hilang," jawan Adijaya jujur.


"Kenapa bisa hilang?"


"Aku malu menceritakannya, tidak apa-apa, kan kalau kamu tidak tahu?"


"Oh, ya sudah. Terus?"


"Aku hendak memulihkan kekuatanku lagi,"


"Kalau boleh tahu, siapa yang membuatmu begitu?"


"Namanya Ganggasara, dia seorang mentri kerajaan Agrabinta yang membelot membantu pemberontakan Cakrawarman," Adijaya merasa tak perlu disembunyikan tentang orang ini.


Asmarini hanya manggut-manggut sambil menopang dagu.


"Sekarang dia jadi musuh besarku!" desis Adijaya. Baru kali ini hatinya membara ketika menyebut nama Ganggasara. Apakah ini dendam?


Bukankah dia tidak pernah menanam dendam? Mengapa sekarang menjadi marah bila mengingat orang itu?


"Kau hendak menuntut balas?"


"Mungkin, setelah kekuatanku pulih!"


"Asyiiik..." Asmarini berseru senang.


Baru pertama kali melihat gadis ini tersenyum. Ternyata manis juga. Adijaya kembali melongo.


"Apa maksudmu?" tanya Adijaya.


"Aku bisa ikut berkelana bersamamu!"


"Hah!"


Entah kenapa Asmarini merasa seperti sudah kenal lama dengan Adijaya. Dia tidak malu lagi menunjukan sikap senangnya.


Sementara Adijaya tampak heran. "Hal seperti bikin dia senang bukan main. Memangnya berkelana di dunia persilatan itu cuma cari kesenangan?" umpatnya dalam hati.


Tiba-tiba terdengar suara teriakan dari luar.


"Pemuda hidung belang! Siapa kau berani-beraninya mendekati muridku!"

__ADS_1


Adijaya menoleh keluar. Ki Santang sudah menghilang. Lalu siapa yang berteriak?


__ADS_2