Pendekar Payung Terbang

Pendekar Payung Terbang
Tamu Teman Lama


__ADS_3

Perjalanan kembali ke padepokan Karang Bolong kali ini dengan cara normal saja bila di siang hari. Kendaraannya tidak lagi menjadi 'kereta hantu'.


Kereta kuda bisa terlihat oleh mata biasa. Dari luar terlihat ada guncangan-guncangan akibat melindas tonjolan batu atau cekungan tanah, tapi di dalam sama sekali tidak terganggu apapun.


Di dalam terasa datar saja, bagaikan sedang melayang di udara.


"Aku ingin mencari tempat menetap di luar padepokan," kata Adijaya membuka percakapan. "Tugasku sudah selesai, aku akan minta ijin kepada Ki Manguntara untuk meninggalkan Karang Bolong,"


"Bukankah beliau menginginkan Kakang jadi penerusnya?"


"Aku sudah menemukan gantinya,"


"Ganti, siapa?"


"Anjasmara, dia lebih berpengalaman dalam hal memimpin,"


"Katanya, yang berjodoh dengan kitab Hyang Sajati yang bisa?"


"Tidak juga, aku memang berjodoh dengan kitab itu, tapi bukan untuk jadi pemimpin,"


"Aku belum mengerti, Kakang!" Wajah Asmarini didekatkan ke wajah suaminya.


Adijaya menelan ludah menatap wajah cantik yang tak pernah bosan dipandang. Sorot mata sang istri begitu menggoda.


"Aku hanya sebagai jembatan saja. Kakek Manguntara bilang, walaupun aku menyalin kitab itu, tetap orang lain tak bisa membacanya.


"Lalu aku mencoba membacakan isinya dan mereka menulisnya. Ternyata bisa dibaca. Akhirnya, Dinda juga sudah tahu tempo hari,"


"Dan Kakang merasa tenang?"


"Ya, dengan begitu yang akan menjadi pemimpin padepokan selanjutnya adalah yang masih ada hubungannya dengan Mahaguru. Sedangkan aku tidak ada hubungan sama sekali, itulah yang membuat tak enak hati,"


"Oh, begitu!" Asmarini 'ngalendeh' ke bahu suaminya.


Jangankan padepokan Karang Bolong yang jauh dan tidak ada hubungan apapun kecuali berjodoh dengan kitab Hyang Sajati, di padepokan Linggapura pun yang sempat menjadi murid sebentar, Adijaya tidak berambisi menjadi pengurus atau hal serupa lainnya.


Apalagi di sana dia sudah banyak jasanya.


Begitu malam hari tiba, Adijaya meminta agar kereta menjadi hantu lagi. Dia ingin dalam semalam sudah sampai di padepokan Karang Bolong.


"Juragan dan Gusti Putri silakan istirahat saja, kami pastikan pada saat bangun nanti sudah berada di sana," kata kuda guriang jantan sebelum mengubah 'mode' ke kereta hantu.


Benar juga, ketika suara kokok ayam jantan bersahutan dan berpadu dengan suara burung-burung di pagi hari, kedua mata Adijaya terbuka perlahan.

__ADS_1


Yang pertama kali dia lihat adalah wajah Asmarini yang tengah tersenyum menatapnya begitu dekat. Posisi sang istri juga masih berbaring sambil memeluknya.


"Sudah berapa lama Dinda menatapku?"


"Tidak tahu, karena aku tidak pernah bosan memandang wajah Kakang walau seribu tahun lama... mmph!"


Asmarini tak bisa meneruskan kata-katanya karena bibirnya sudah dalam ******* sang suami. Beberapa saat mereka saling memagut sebelum bangun hendak membersihkan diri.


Ternyata kereta mereka sudah berada di samping rumah kecil milik Ki Manguntara.


Setelah keduanya membersihkan diri, segera mereka menemui Ki Manguntara di rumahnya. Sang mahaguru langsung menyambut dengan hangat. Sesudah berbasa-basi Adijaya mulai melaporkan hasil tugasnya.


"Tidak salah aku mempercayakanmu," ujar Ki Manguntara tersenyum puas. "Aku senang akhirnya dia bergabung lagi. Aku yakin padepokan ini akan semakin besar,"


"Kalau tidak keberatan, aku juga hendak pamit, Kek!" Adijaya mengutarakan niatnya.


"Kebetulan sejak kemarin ada tamu yang ingin bertemu kamu,"


"Tamu?" Adijaya dan Asmarini saling pandang. Menduga-duga siapa tamu yang di maksud.


"Mari aku antar, mereka ada di pondok Dewan Kehormatan,"


"Mereka?" Suami istri ini saling pandang lagi.


"Raden Cakra Diwangsa, Sekar Kusuma?"


Adijaya dan Asmarini menjura sebelum duduk di depan dua tamu yang sudah menanti dari kemarin itu.


"Kalian berdua...?" Pertanyaan Asmarini menggantung.


"Kami sudah menikah!" jawab Sekar Kusuma disertai senyum canggung. Bahkan Cakra Diwangsa tampak memerah mukanya.


"Akhirnya..." ujar Adijaya yang dari awal sudah tahu kalau Cakra Diwangsa memang menyukai Sekar Kusuma.


Beberapa saat mereka saling bertanya kabar masing-masing. Juga cerita Cakra Diwangsa yang berjuang mendapatkan hati Sekar Kusuma. Butuh tenaga dan pikiran yang kuat sampai jatuh bangun. Namun, akhirnya cintapun bersambut.


Tibalah saatnya Cakra Diwangsa mengutarakan tujuannya mencari Adijaya.


"Sebenarnya aku ditugaskan oleh Gusti Maharaja Wisnuwarman untuk menjemput kalian,"


"Maharaja? Untuk apa?"


"Beliau hendak menganugerahkan sebuah jabatan untukmu,"

__ADS_1


Adijaya dan istrinya saling pandang.


"Raden juga tahu, aku kurang berbakat dalam soal jabatan. Dulu juga Gusti Maharaja pernah menawarkan, tapi aku menolak,"


Memang benar, Maharaja Wisnuwarman pernah menawarkan jabatan ketika berhasil membongkar kasus fitnah yang menimpa Prabu Satyaguna raja Cupunagara bawahan Tarumanagara.


"Kalau soal itu biar nanti kau saja yang bicara langsung dengan Gusti Maharaja," lanjut Cakra Diwangsa.


"Jadi mau tak mau kalian harus kami boyong ke kota raja Tarumanagara," sambung Sekar Kusuma.


Ini memang kebetulan seperti kata mahaguru tadi. Saat dirinya meminta ijin pergi ternyata ada yang menjemput. Mau tak mau, ya seperti kata Sekar Kusuma tadi.


"Kalau begitu kamu sekalian ijin pamit, Mahaguru!" kata Adijaya kepada Ki Manguntara.


"Aku hanya bisa mendoakan semoga kalian selalu dalam ke-rahayu-an. Juga anak yang akan lahir nanti menjadi anak yang hebat seperti kedua orang tuanya,"


Mendengar ucapan terakhir ini, Cakra Diwangsa dan Sekar Kusuma tampak kaget, tapi juga senang.


"Wah, kalian sudah mau jadi ayah ibu!" ujar Sekar Kusuma tersenyum lebar.


Asmarini hanya tersipu.


Kemudian hari itu juga sepasang pendekar muda akhirnya meninggalkan padepokan. Ki Manguntara bersama beberapa murid termasuk Anjasmara dan Citrawati mengantar kepergian dua orang yang telah berjasa kepada padepokan Karang Bolong.


Tiga nenek sakti dan murid andalannya juga ada di sana.


"Adijaya, kalau kau sudah siap mengambil selir, datanglah ke sini!" teriak Nyai Rengganis disambut tawa dua nenek lainnya.


Asmarini yang mendengarnya tampak merah mukanya. Adijaya segera merangkul istrinya sambil berbisik, "Tidak usah diambil hati, Dinda sudah tahu isi hatiku, kan!"


Beberapa saat kemudian kereta kuda mewah beroda empat yang ditarik sepasang kuda putih mulai melaju. Cakra Diwangsa dan Sekar Kusuma bertugas menjadi kusir.


Setelah kereta tak terlihat lagi, barulah para penghuni padepokan Karang Bolong kembali dengan kegiatan rutinnya.


Perjalanan kali ini tidak bisa lagi menjadi 'kereta hantu' atau 'kereta terbang' karena dikawal dua orang yang belum tahu banyak tentang guriang yang mendampingi Adijaya dan Asmarini.


Tidak perlu bertanya bagaimana caranya Cakra Diwangsa dan istrinya mencari keterangan tentang keberadaan Adijaya dan Asmarini. Guru mereka, Ki Brajaseti yang cukup sakti mungkin bisa menerawang.


Dulu waktu kasus hilangnya Nyai Mandita saja, pembantunya mendapatkan keterangan dari Cakra Diwangsa yang kebetulan masih sahabatnya.


Bagaimana petualangan Adijaya dan Asmarini selanjutnya?


Tunggu saja!

__ADS_1


__ADS_2