
"Tuan Adijaya calon orang besar, jadi kami merasa perlu melayani beliau. Karena hari sebentar lagi malam, kami persilakan Tuan-tuan beristirahat di tempat kami,"
Cakra Diwangsa memandang ke Adijaya. Meminta persetujuan. Bagaimanapun juga dia tetap curiga karena tak mengenali orang-orang ini satupun. Apalagi ujug-ujug langsung bersikap ramah.
Dan, dari mana mereka tahu kalau yang di dalam kereta adalah Adijaya. Juga kabar tentang Adijaya hendak diangkat jadi pejabat ternyata tersebar luas. Itulah yang berputar-putar dalam pikiran Cakra Diwangsa.
Adijaya memberi isyarat agar menerima pelayanan orang-orang itu. Kemudian kereta kuda 'diparkir' di samping sebuah rumah besar yang tak jauh dari jalan.
Rombongan Adijaya dibawa masuk langsung ditunjukan ke kamar yang telah disediakan. Masing-masing pasangan menempati satu kamar. Mereka dipersilakan untuk membersihkan badan terlebih dahulu sebelum nanti ada perjamuan makan malam.
Jika Adijaya dan Asmarini selalu bersikap tenang dan santai. Lain halnya dengan Cakra Diwangsa yang tidak dapat menyembunyikan ketegangan. Namun, Sekar Kusuma sepertinya bisa mengatasi perasaannya. Dia menggenggam tangan suaminya agar bersikap tenang.
"Kalau kita tidak bersikap tenang, maka mereka akan menganggap kita penakut dan berani menekan kita," kata Sekar Kusuma setelah berada di dalam kamar.
Cakra Diwangsa mencoba mengatur napas setenang mungkin. Seharusnya memang begitu karena yang jadi sasaran utama adalah Adijaya. Jadi jangan sampai dia menjadi beban dan kelemahan Adijaya.
Lewat Sareupna mereka diundang jamuan makan malam di ruang depan. Ternyata di sana hanya ada seorang lelaki berumur tiga puluhan berpakaian bagus seperti bangsawan. Wajah ramah yang dihiasi kumis tipis tersenyum menyambut mereka.
"Silakan!" sapanya menyilakan duduk.
Di lantai kayu yang mengkilap sudah terjejer beberapa hidangan, dari masakan hingga buah-buahan. Dua pasangan suami istri duduk bersila melingkari hidangan itu.
"Saya Dirga Prana, hanya Mantri bawahan yang ingin kenal lebih dekat dengan tuan Adijaya." Si kumis tipis memperkenalkan diri lalu menyilakan agar semuanya mulai menyantap hidangan.
"Supaya nanti saat di istana, kita tidak canggung lagi," lanjut Dirga Prana diakhiri tawa pelan yang dipaksakan.
"Terima kasih atas sambutannya," ucap Adijaya. "Saya tidak menyangka belum juga sampai di kota raja, tapi sudah disambut seramah ini!"
Selanjutnya kelima orang ini menyantap hidangan yang masih hangat itu. Tidak banyak pembicaraan pada saat bersantap, hanya basa-basi kecil saja.
Cakra Diwangsa sudah terlihat lebih tenang. Dia menyantap tanpa beban atau takut diracuni. Adijaya dan istrinya berilmu lebih tinggi darinya. Kalau ada sesuatu hak buruk terjadi, mereka pasti bisa mengatasinya.
Setelah makan selesai dan mengobrol beberapa lama ternyata tidak terjadi sesuatu yang dikhawatirkan. Bahkan Dirga Prana benar-benar seperti pejabat yang hanya cari muka saja.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian semuanya kembali ke kamar masing-masing untuk istirahat. Dirga Prana bahkan mengantarkan Adijaya sampai ke depan pintu kamarnya.
"Tuan, saya ingin bicara empat mata!" kata Dirga Prana pelan ketika Adijaya hendak masuk.
Adijaya menoleh ke istrinya. Asmarini hanya mengedipkan mata pertanda setuju.
"Baiklah!" Adijaya menyuruh sang istri menunggu di dalam. Lalu dia mengikuti Dirga Prana yang melangkah ke luar rumah.
Adijaya dibawa ke rumah yang lebih kecil di belakang rumah tempat dia istirahat. Di depan rumah kecil ini di jaga empat orang. Setelah masuk, ternyata di dalam sudah ada satu peti kecil berisi setumpuk emas batangan.
Dua orang berjaga di dekat peti itu.
"Itu untuk Tuan!" tunjuk Dirga Prana ke arah peti berisi emas.
"Untuk saya?" Adijaya pura-pura bingung. Padahal dia sudah tahu niat orang ini. Dia juga tahu Dirga Prana hanya kepanjangan tangan dari orang yang berada di belakangnya.
"Iya, saya rasa itu cukup untuk hidup Tuan beberapa tahun,"
"Apa yang Anda inginkan?" tanya Adijaya walau sudah tahu.
Dugaan Adijaya benar. Sepertinya jabatan yang akan dia dapatkan merupakan posisi penting yang diincar banyak orang. Dia mulai memahami rencana maharaja.
"Tuan tidak bisa menolak permintaan saya!" ujar Dirga Prana kemudian.
"Kenapa begitu?" Adijaya memasang muka seperti ketakutan.
"Hidangan yang kalian santap telah dibubuhi racun." Suara Dirga Prana pelan tapi menekan dan terdengar sinis. Wajahnya pun tak menunjukkan keramahan lagi.
Adijaya terkejut. Di ruangan yang remang-remang itu wajahnya terlihat pucat.
"Racun?"
"Ya, racun itu akan bekerja besok pas tengah hari dan saya tidak membawa penawarnya!"
__ADS_1
"Di mana penawarnya?"
"Penawarnya akan Tuan dapatkan jika mengabulkan permintaan saya. Seharusnya saya tidak perlu mengorbankan harta sebanyak itu, cukup dengan racun saja. Tapi majikan saya yang menginginkannya!"
"Jadi saya harus bagaimana?"
"Saya sudah jelaskan tadi. Silakan ambil emas itu, batalkan ke kota raja lalu besok pagi segera berbalik arah. Pas tengah hari akan ada orang yang mengantarkan penawarnya!"
Dirga Prana meniggalkan Adijaya yang tampak seperti ketakutan. Dua penjaga juga keluar mengikuti majikannya. Begitu pun empat orang yang berada di depan.
"Yang menjadi pertanyaan, mengapa Maharaja melibatkan aku?" gumam Adijaya sambil melangkah meninggalkan rumah itu tanpa membawa peti berisi batangan emas itu.
Dia sudah punya peti yang lebih besar, mau disogok dengan yang kecil! Mana bisa!
Adijaya tidak masuk ke kamarnya melainkan ke kamar yang ditempati Cakra Diwangsa. Di sana sudah Asmarini yang sedang memberikan penawar racun.
Tentu saja ini tidak lepas dari peran Padmasari. Pada saat makan tadi, begitu Asmarini mendeteksi adanya racun dalam makanan, dia segera memerintahkan Padmasari agar mencuri penawarnya.
Sebelumnya Cakra Diwangsa cukup kaget ketika Asmarini meminta masuk ke kamarnya. Si cantik mungil itu menjelaskan kalau makanan tadi ada racunnya. Lalu dia mengeluarkan obat penawar yang didapatkan dari Padmasari.
"Aku selalu membawa ini, untuk menawarkan segala jenis racun!" katanya berdusta. Lalu menyuruh pasangan suami istri itu segera menelan obatnya.
Lalu datang Adijaya langsung memberitahukan tentang pertemuan empat mata tadi. Cakra Diwangsa saling pandang dengan istrinya.
"Aku jadi merasa bersalah," kata Cakra Diwangsa. "Kalian menjadi buruan orang-orang sekarang!"
Adijaya hanya tersenyum menanggapinya. "Nanti Raden akan tahu sebenarnya,"
"Kalau sekarang kita lolos dari maut, maka kedepannya pasti masih banyak halangan lagi," duga Cakra Diwangsa.
"Akan kita hadapi seberat apapun halangannya!" ujar Adijaya.
Besoknya Dirga Prana dibuat terkejut. Rombongan Adijaya sudah tidak ada di kamarnya. Kereta kuda pun sudah tidak ada, tapi peti berisi emas masih tergeletak di tempatnya.
__ADS_1
Dirga Prana memandangi sebuah 'Carang Awi' (cabang bambu) yang berisi penawar racun. Dia tidak tahu kalau Asmarini selamat dari racun sewaktu makan di kenai.
Berarti dia tidak satu komplotan dengan penyerang di kedai. Segera dia perintahkan anak buahnya untuk menyelidiki.