
"Nini Bedul!" seru Nyi Rengganis dan Ki Dipasara bersamaan.
"Siapa lagi dia?" batin Adijaya. Sepertinya mereka agak segan terhadap nenek bungkuk bermuka seram itu.
"Apa urusanmu mengganggu kami?" tanya Nyi Rengganis.
Nini Bedul melotot ke arah wanita itu. Wajahnya semakin menyeramkan. Orang biasa yang melihatnya akan bergidik ketakutan.
"Aku yang tanya, apa urusan kalian mengacau di wilayah kekuasaanku?" balik tanya Nini Bedul dengan membentak.
Seketika semua orang seperti tersadarkan. Mereka tengak-tengok memperhatikan tempat sekitar. Tempat yang mereka pijak adalah kaki bukit Bedul dan Nini Bedul bersemayam di puncaknya.
Semua orang juga tahu bahwa nenek bungkuk itu tidak pernah keluar dari wilayah kekuasaannya.
"Oh, rupanya si pembunuh ini berlindung kepada Nini Bedul," ujar Jantaka. "Jangan-jangan dia sudah menjadi murid nenek siluman ini!"
"Lancang sekali mulutmu!" Sekali mengibas tangan Nini Bedul menghasilkan angin yang menghantam Jantaka.
Wuss! Bukk!
Tubuh Jantaka terpental dan jatuh bergulingan. Beruntung lelaki ini masih hidup. Begitu bangun langsung lari terbirit-birit. Melihat hal itu, Ki Dipasara dan Nyi Rengganis tidak mau berbuat banyak lagi.
Mereka merasa bukan tandingan Nini Bedul meski dilawan berdua, maka mereka memutuskan meninggalkan tempat itu. Tinggal Adijaya yang masih ada di sana.
"Kenapa kau belum juga pergi!" bentak si nenek. Sifatnya hampir sama dengan Nyai Gandalaras, selalu marah-marah.
"Aku hendak mengobati gadis itu," jawab Adijaya. "Apa benar dia muridmu?"
"Cih, kenal juga tidak, bagaimana bisa jadi muridku!"
Berarti Jantaka hanya membuat isu, agar semua orang mengira demikian. Siapa sebenarnya laki-laki itu?
Adijaya mendekati Puspasari yang kini sudah tak sadarkan diri. Lalu menggendongnya.
"Sepertinya kau tidak mengenal gadis ini, kenapa kau mau menolongnya, apa karena dia cantik?" tanya Nini Bedul kali ini tidak terlalu kasar.
Pemuda ini sempat tersentak. "Kau benar, Nek. Aku paling tidak tega melihat gadis cantik terluka. Kiranya kau sudi memberikan aku tempat untuk mengobati dia,"
"Asal jangan naik ke puncak!" sentak Nini Bedul sambil berkelebat lenyap.
Aneh juga, orang-orang tadi tampak segan malah takut. Seolah-olah Nini Bedul itu mahluk menakutkan yang membawa malapetaka. Tapi dari percakapan yang sebentar tadi, kesan si nenek biasa saja bagi Adijaya.
__ADS_1
Kadang orang memang selalu berlebihan dalam menceritakan.
Kemudian Adijaya menaiki lereng bukit sambil menggendong Puspasari. Mencari tempat yang aman. Sampai menemukan sebuah batu besar yang permukaannya rata. Bagian bawah dan sebagian sisinya tertanam ke tanah bukit yang kemiringannya hampir tegak.
Puspasari dibaringkan di atas batu. Kemudian Adijaya mencari beberapa tumbuhan obat. Diracik lalu di tempelkan ke luka-luka si gadis yang masih pingsan.
Beberapa saat kemudian Puspasari membuka kedua matanya. Cahaya matahari sore menyilaukan matanya. Gadis ini bangun. Dia melihat keadaan tubuhnya yang banyak dibalur dengan tumbukan daun.
Mengingat kejadian sebelumnya, dia merasa hidupnya telah berakhir ketika dua pedang lawannya menghujam tubuhnya lalu tak tahu lagi apa yang terjadi. Tapi sekarang dia terbangun dengan ramuan obat di sekujur tubuh menutupi luka-lukanya.
Ketika mengitarkan matanya, pandangannya terpentok pada seorang pemuda yang duduk bersandar ke batang pohon. Pemuda ini membelakanginya.
"Apa kau yang menolongku?"
Suara lembut si gadis membuat Adijaya menoleh lalu bangun menghampiri. "Kau sudah bangun rupanya,"
Puspasari sempat terpana melihat sosok Adijaya yang gagah dan tampan. Gadis ini baru pertama kali melihat Adijaya. Dari mana pemuda ini berasal? Yang pasti bukan dari desa tempat tinggalnya.
"Terima kasih!" ucap Puspasari. Dia merapikan pakaiannya. Luka-lukanya sudah terasa kering dan tidak perih lagi.
"Bukan aku yang menyelamatkan nyawamu, tapi penguasa bukit ini, Nini Bedul!"
"Tidak usah takut, Nini Bedul mengijinkan aku mengobati lukamu di sini,"
"Kau siapa?" tanya Puspasari menatap bola mata Adijaya. Tapi segera memalingkan wajah. Dia tidak kuat menatap si pemuda yang membuat jantungnya berdetak lebih cepat.
"Adijaya, kau Puspasari, benar, kan?"
"Dari mana kau tahu namaku?" Si gadis tak berani beradu pandang dengan Adijaya.
"Dari orang-orang desa yang mengejarmu," Adijaya menceritakan bahwa dia ikut mengejar bersama Ki Dipasara dan Nyi Rengganis.
"Aku tidak mengerti kenapa mereka mencariku!"
Walaupun sudah menduga si gadis akan berkata seperti ini, Adijaya tetap kerutkan kening mendengarnya.
"Bukankah kau telah membunuh anak-anak mereka?" pancing Adijaya.
"Mereka memang pantas mati, tapi aku tidak membunuh mereka!"
"Mereka ditemukan tewas dengan luka bekas tusukan Pedang Ular Hitam, milikmu,"
__ADS_1
Sorot mata Puspasari tampak menerawang. Beberapa saat dia terdiam. Sementara diam-diam Adijaya menikmati kecantikan wajah si gadis. Wajah yang lebih dewasa, yang telah banyak merasakan tempaan hidup.
"Pedangku hilang," kata si gadis setelah lama terdiam. "Aku tidak ingat kapan itu terjadi,"
Benarlah dugaan Adijaya, ada orang yang memfitnah Puspasari dengan memanfaatkan pedang miliknya. Orang ini pasti ada hubungannya dengan Jantaka.
"Karena kau telah ditolong Nini Bedul, sekarang orang-orang menyangka kau adalah murid nenek itu,"
Puspasari terkejut lagi lalu menghela napas panjang, seperti menyesali sesuatu.
"Sebenarnya siapa Nini Bedul itu, sepertinya orang-orang pada takut?"
"Nini Bedul dikenal sebagai tukang teluh, santet dan gendam. Dia tidak pernah keluar dari daerah kekuasaannya. Dia melayani pesanan orang yang ingin meneluh atau menyantet orang lain.
"Tapi warga desa yang dekat dengan bukit ini tidak ada yang mau menggunakan jasa Nini Bedul. Hanya orang-orang dari jauh saja yang meminta bantuannya,"
Adijaya angguk-angguk setelah tahu siapa nenek bungkuk berwajah seram itu.
"Kalau diperbolehkan aku ingin membantumu," tawar Adijaya.
"Maksudmu?" walaupun bertanya seperti itu tapi hatinya girang mendengar tawaran itu. Kesan pertama melihat Adijaya, si gadis menyimpulkan bahwa pemuda itu orang baik.
Tapi, apa tidak ada maksud lain dibalik tawarannya? Biasanya ada pamrih yang diharapkan.
"Nyawamu terancam karena dituduh telah membunuh Rana dan Lesmana, namamu juga tercoreng sebagai murid Nini Bedul,"
"Lalu bagaimana?"
"Aku punya rencana agar namamu bersih kembali,"
Dua pasang mata saling pandang. Bola mata Adijaya memancarkan kesungguhan niatnya. Puspasari tak kuat menatap lebih lama akhirnya menunduk.
"Kalian berdua, naiklah ke atas!"
Terdengar satu teriakan menggema. Suaranya serak bikin bulu kuduk merinding. Itu suara Nini Bedul. Sepasang pemuda saling pandang. Wajah Puspasari berubah ketakutan.
"Tenang saja, kita tidak menyinggung beliau. Dia tidak akan menurunkan tangan jahat," Adijaya mengerti yang dipikirkan si gadis.
Lalu pemuda ini menarik tangan si gadis, membawanya menaiki bukit hingga ke puncak yang katanya menjadi tempat tinggal Nini Bedul. Entah kenapa Puspasari pasrah saja. Malah pegangan tangan si pemuda terasa kokoh bagai melindungi.
\#Dukung terus author dengan like, vote, rate dan tips. Supaya terus semangat menulis. Terima kasih.
__ADS_1