Pendekar Payung Terbang

Pendekar Payung Terbang
Syair Kerinduan


__ADS_3

Yang lebih terkejut lagi adalah Adijaya. Dia merasa menyesal, pedang itu telah merenggut nyawa. Entah dia lupa atau bagaimana, padahal dengan mencabut 'kehendaknya' pedang itu bisa balik lagi ke tangannya.


Tapi dia tidak melakukannya, ini yang sangat disesalinya. Bagaimanapun juga dia tidak ingin membunuh. Maka segera saja dia tarik balik pedang Guntur.


Karena saat itu orang berjuluk Tangkurak Merah sedang mengacungkan pedang hendak menikam dirinya sendiri.


Destawana lega ketika tiba-tiba saja pedang itu lepas dari tangannya lalu tergenggam sendiri di tangan Adijaya.


"Orang tua, apa kau mau melanjutkan pertarungan?" tanya Adijaya. Kini Pedang Guntur sudah berada dalam warangkanya lagi.


Destawana alias Tangkurak Merah tak bisa berkata apa-apa lagi. Tak disangka nasibnya akan seperti ini. Bertemu seorang pendekar berilmu aneh dan mengerikan. Padahal dia sendiri sering disebut mengerikan oleh orang lain.


Akhirnya daripada mati konyol dia memilih kabur. Tapi nasib buruk tampaknya belum berlalu darinya. Karena saking takutnya tak sengaja saat berlari kakinya tersandung akar pohon.


Jeduk!


Prak!


Tubuhnya meluncur, kepalanya menghantam batang pohon dan pecah. Berakhirlah riwayat Si Tangkurak Merah.


"Waduuh!" sesal Adijaya tiada terkira.


Dua nyawa melayang karena pedang Guntur. Walaupun tidak membunuh mereka secara langsung. Tetap saja dia menyesal. Lalu dia memanggil Payung Terbang. Payung itu dilempar pelan ke atas.


Tring!


Payung menjelma menjadi sosok raksasa berkulit biru. Mahluk guriang yang menjadi abdinya. Sudah lama Adijaya tak melihat payungnya dalam wujud asli.


"Sembah kapihatur, kaulanun!" Mahluk guriang menjura. "Ada apa juragan memanggil saya?"


"Akui ingin menyimpan pedang ini di alammu, bisa?"


"Tentu saja, juragan. Pedang ini juga bisa dipanggil kapan saja, seperti memanggil Payung Terbang,"


"Terima kasih!"


Adijaya memberikan pedang Guntur. Setelah di terima, sosok guriang lenyap kembali.


Tring!


Adijaya melanjutkan perjalanan. Sang penerang jagat telah condong ke barat. Setelah beberapa lama akhirnya Adijaya menemukan sebuah desa kecil.


Disebut kecil karena jumlah rumah yang ada di desa itu hanya sedikit. Tidak sampai dua puluh rumah. Letak desa ini terpencil, jauh dari desa yang lainnya.

__ADS_1


Tadinya Adijaya merasa lega ketika sampai di sana karena bisa mencari kedai dan tempat menginap. Tapi dia melihat keanehan di desa itu.


Sepi.


Tidak ada orang yang terlihat. Rumah-rumah juga terlihat kosong. Tidak mungkin tidak ditinggali, karena terlihat masih ada perabotan yang terawat.


Dia terus melangkah memasuki desa yang sebenarnya lebih cocok disebut Dusun atau kampung. Rumah-rumah tampak kosong. Seperti baru saja ditinggalkan semua penghuninya. Kemana mereka?


Adijaya terus menelusuri jalan desa hingga sampai ke sebuah rumah yang tampak paling besar dari yang lainnya. Mungkin rumah lurah atau kepala desa. Di situlah pemuda ini terkejut.


Dia melihat mayat bergelimpangan di halaman depan rumah besar itu. Bahkan sampai ke dalam rumah juga. Dari keadaannya mayat-mayat ini belum lama tewas. Kira-kira tadi siang.


Sepertinya semua mayat ini para penduduk di sini. Siapa yang melakukan pembantaian keji ini? Adijaya yang tidak mau membunuh orang, harus menyaksikan hal yang mengerikan ini.


Pemuda ini lanjutkan langkahnya masuk ke rumah besar. Barangkali saja ada salah satu yang masih hidup. Di dalam rumah dia menemukan orang yang pakaiannya tampak lebih bagus walau berlumur darah.


Tampaknya orang itu kepala desanya.


Adijaya berdebar ketika matanya yang tajam melihat jasad orang itu sedikit bergerak. Segera saja dia mendekatinya. Mengangkat dan menyandarkan di tiang rumah.


"Ki Sanak, masih dengar saya?"


Lelaki itu mengangguk pelan karena kepalanya terasa berat sehingga terus menunduk.


"Katakan sesuatu!"


"Dewi... Kembang... Kuning...!" Terbata-bata orang ini mengucapkan kalimat itu sebelum akhirnya terkulai untuk selamanya.


Adijaya mengingat-ingat nama yang sepertinya seorang perempuan itu. Perempuan siapa yang begitu sadis membantai warga satu desa?


Karena tidak mungkin lagi untuk menginap di desa itu, maka Adijaya melanjutnya perjalanan walau hari sudah gelap. Dia melesat dari pohon ke pohon dengan ilmu meringankan tubuhnya yang dinamai 'Lumpat Ngapung' (Lari Terbang).


Dia harus secepatnya menemukan desa lain. Dia sengaja tidak menggunakan Payung Terbang untuk melesat lebih cepat. Dia ingin mencoba ilmu meringankan tubuh ciptaannya.


Adijaya tidak mempedulikan rasa lapar yang mengganggu di perutnya. Akhirnya sebelum tengah malam dia sampai di sebuah desa. Walaupun penduduknya sudah pada tidur, setidaknya dia bisa mencari tempat istirahat.


Pemuda ini terus masuk ke dalam wilayah desa, karena di dekat gapura masuk tidak ada gubuk tempat ronda. Dia menemukan gubuk di perempatan jalan. Tampaknya gubuk ini tempat istirahat orang-orang yang dalam perjalanan.


Gubuk ini kosong, maka segara saja Adijaya meluruskan punggung, melepas lelah. Melupakan rasa laparnya sampai pagi. Karena malam-malam begini pasti tidak ada kedai yang masih buka.


Suasana sangat sepi. Apakah tidak ada yang meronda? Udara malam juga terasa menusuk tulang. Adijaya mengalirkan hawa saktinya untuk menghangatkan badan.


Seandainya dia membawa kereta kuda, tentunya tidak harus repot-repot mencari tempat istirahat. Ingat kereta kuda, ingat Asmarini. Lalu terpikirkan manusia berjuluk Jerangkong Koneng.

__ADS_1


Lalu dia juga ingat nama Dewi Bunga Kuning. Apakah ada hubungannya dengan Jerangkong Koneng?


Asmarini. Bagaimana nasib gadis itu sekarang? Adijaya selalu mengharapkan hal yang baik terhadap gadis itu. Walaupun pernah dihina oleh orang tuanya, tapi rasa cinta terhadap Asmarini tidak pudar begitu saja.


Karena tahu waktu itu Asmarini dalam keadaan terkena pengaruh gendam, sehingga menurut saja ketika dinikahkan dengan lelaki pilihan ayahnya yang gila kedudukan dan serakah harta.


Lalu bagaimana dengan nasib ayah gadis itu yang konon katanya dipecat dan 'dimiskinkan' oleh maharaja langsung? Di mana mereka tinggal sekarang?


Tapi Adijaya tidak memikirkan mereka lebih jauh. Asmarini lebih penting. Karena kerinduan yang besar kepada gadis itu, tak sengaja bibirnya mengucapkan syair dengan suara pelan.


Satu nama tersimpan


Karena telah menawan


Bukan karena rupawan


Tapi budi serta iman


Kemudian digurat dalam angan


Disebut dalam harapan


Diujung malam yang nyaman


Mudahkan jalan


Jika memang suratan


Satukan


Dengan restu Hyang yang di atas awan


Kuatkan


Dengan iman


Dan bertahan


Dalam lurusnya jalan


Kemudian alam mimpi menyambutnya dengan ramah. Adijaya terpejam dengan hayalan indah. Seindah harapan dan tekadnya untuk mencari kekasih hatinya.


Pagi harinya Adijaya terbangun bukan karena suara ayam jantan atau sentuhan hangat sinar mentari pagi. Tapi karena suara kegaduhan dari kejauhan.

__ADS_1


Adijaya tenangkan diri dan pusatkan pikiran agar bisa mencerna lebih jelas apa yang sedang terjadi. Suara teriakan menyayat hati. Suara tawa bengis dan kejam.


Apa yang terjadi di desa ini?


__ADS_2