Pendekar Payung Terbang

Pendekar Payung Terbang
Kasmaran


__ADS_3

Sambil menunggu guriang pengabdinya yang sedang mencari Labu Penyedot Sukma di alamnya, Adijaya kembali tinggal di padepokan. Bagaimanapun juga urusan Komara harus dituntaskan. Siluman yang merasuki badan Komara harus dikeluarkan.


Sampai di sini Adijaya kepikiran, apakah Labu Penyedot Sukma itu ada banyak atau cuma beberapa atau malah cuma satu? Sebab, biasanya barang pusaka selalu terbatas jumlahnya. Dia memikirkannya karena akan digunakan pula untuk menangkap Birawayaksa yang entah ada di mana sekarang. Ingat tugas ini, ingat pula sama Eyang Batara.


Di suatu pagi. Adijaya berjalan menuju sungai hendak membersihkan diri. Dia ingat masa lalu ketika menunaikan tugasnya. Mencari dan mengumpulkan kayu bakar. Naik turun jalan setapak pegunungan. Dia selalu semangat dan juga kuat saat memikul tumpukan kayu bakar. Walaupun beratnya semakin bertambah, tapi dia selalu kuat.


Baru terpikirkan keanehan itu semalam. Belakangan diketahui ternyata Arya Sentana-lah yang membuatnya kuat sedemikian rupa. Pendekar Tinju Dewa itu mengungkapkan kejujurannya bahwa diam-diam dia melatihnya. Sehingga badannya bertambah kuat. Bahkan sesekali pamannya itu menyalurkan tenaga dalam ke tubuhnya.


Rasa terima kasih tak terkira Adijaya haturkan semalam sampai berurai air matanya karena terharu. Dia akan benar-benar menganggap Arya Sentana seperti orang tua sendiri.


Karena pikirannya melayang, tak sengaja Adijaya menabrak sesuatu yang terasa lembut.


"Aduh!" seseorang mengaduh. Suara perempuan.


Perempuan yang kelihatan masih muda. Dia hampir terpeleset kalau tidak segera memegang ke sebuah pohon. Untung bakul berisi pakaian yang baru dicucinya masih terpegang kokoh di tangan satunya. Rupanya sesuatu yang lembut itu adalah kulit perempuan ini yang terasa halus.


"Maaf! Maaf...!" ucap Adijaya.


Dadanya berdebar kencang. Ini pertama kali melihat perempuan dari jarak dekat. Wajahnya lonjong dengan dagu lancip. Matanya lentik, hidung mungil lancip dan bibir tipis. Secara keseluruhan wajahnya cukup cantik dengan warna kulit sawo matang.


Makin berdebar ketika perempuan itu balas menatapnya. Tatapan lembut tapi tajam bagai mata panah yang hendak menikam jantung.


"Saya... tidak sengaja, tadi saya melamun," kenapa begitu gugup? Adijaya merutuk dirinya sendiri. Ada perasaan aneh dalam dirinya.


"Tidak apa-apa," ucap perempuan ini. Suaranya begitu lembut yang membuat si pemuda semakin berdebar.


Ada apa ini? Kenapa perasaan ini begitu aneh?


"Saya baru melihat, akang murid baru di sini?" tanya si perempuan kemudian.


Adijaya terperangah. Kaget. Sikap kagetnya ini membuat perempuan itu sedikit tertawa sambil menutup bibirnya. Ini membuatnya semakin terlihat mempesona.


"I.. iya...!" hanya itu yang keluar dari mulut Adijaya karena saking gugupnya.


"Sa... saya... permisi dulu!" tak mau gugup lebih lama lagi, Adijaya segera berlalu meninggalkan perempuan itu.


Setalah melangkah jauh dan tak melihat perempuan tadi di belakangnya, Adijaya berhenti sejenak. Dia garuk-garuk kepala yang tak gatal.


"Akang?" gumamnya. "Aku dipanggil akang."

__ADS_1


Pemuda ini senyum-senyum sendiri sambil melanjutkan langkahnya. Rupanya itu yang membuat dia terperangah tadi. Mengingat umurnya yang belum genap dua puluh, sedangkan menurut Arya Sentana murid perempuan yang paling muda umurnya dua puluh tiga.


Sesampainya di sungai, dia tidak segera mandi. Tapi berkaca dulu ke air. Melihat tampangnya.


"Apa aku sudah kelihatan tua?" gumamnya.


Bentuk tubuhnya terbilang bongsor. Sehingga di usianya sekarang terlihat seperti orang dewasa. Dia ingat, pertama kali keluar dari goa juga bercermin ke air melihat keadaan dirinya. Kenapa sekarang seperti baru sadar?


"Aah! Kenapa aku lupa menanyakan namanya?" sesal Adijaya mengingat perempuan tadi.


Mungkin saking gugupnya pertama kali berpapasan dengan perempuan.


***


Begitu juga dengan si perempuan. Dia tampak menyesal tidak menanyakan nama pemuda itu. Dia senyum-senyum sendiri membayangkan sosok Adijaya yang tampan dan gagah. Sampai satu suara menegornya.


"Ada apa nih? Kok, senyum-senyum sendiri?"


Perempuan ini terkejut. Rupanya dia sudah sampai di padepokan.


"Eh, Teteh Arum!" perempuan ini tersipu malu.


"Ada apa, Kinasih?" tanya perempuan yang disebut teteh Arum yang tidak lain adalah Praba Arum alias Pendekar Kipas Perak.


"Itu, tadi saya berpapasan dengan murid baru itu," jawab perempuan yang ternyata bernama Kinasih.


"Murid baru?"


"Ya, saya baru melihatnya sekarang,"


Praba Arum mengerutkan kening. Lalu dia tersadar. "Oh, itu Adijaya. Dia murid lama yang menghilang, kini telah kembali," begitu yang dia ketahui dari suaminya, Arya Sentana.


"Oh," Kinasih angguk-angguk. "Tapi, kok dia aneh?"


"Aneh kenapa?"


"Saya panggil akang, dia kaget,"


Praba Arum tertawa geli. Kinasih kerutkan kening.

__ADS_1


"Ya, jelas. Dia umurnya belum juga dua puluh. Masih 'budak' hihihi...!"


"Hah!" Kinasih melongo antara percaya atau tidak. Percaya karena wajah polos Adijaya masih seperti remaja. Tidak percaya karena tubuh lelaki itu yang seperti orang dewasa.


"Cuma badannya bongsor," ujar Praba Arum kemudian.


Kinasih kembali tersipu. Dialah murid perempuan yang termuda itu. Tapi sosoknya masih seperti gadis. Karena dia seorang janda muda. Suaminya tewas diterkam harimau saat berburu di hutan. Saat itu baru dua tahun menjalani pernikahan dan belum dikaruniai anak. Selain itu baik dirinya juga suaminya sudah 'Budak Pahatu Lalis' (anak yatim piatu). Kemudian dia ditemukan oleh Praba Arum lalu dibawa ke padepokan.


"Saya permisi dulu, Teh!" pamit Kinasih.


Praba Arum menyilakan sambil tersenyum penuh arti. Banyak murid laki-laki yang suka kepada Kinasih. Tapi sepertinya perempuan itu acuh-acuh saja. Namun, ada perubahan sikap setelah bertemu Adijaya. Apakah ini...? Praba Arum menggantung pikirannya. Segera dia menemui suaminya.


***


Ketika murid-murid mulai berlatih. Adijaya berada dihalaman belakang yang berdekatan dengan dapur. Dia memilih memotong dan membelah kayu bakar. Kembali terkenang masa-masa dulu. Sekarang baru tahu, gerakan memotong dan membelah ini adalah bagian dari gerakan jurus. Lalu teringat dengan jurus ciptaannya yang sampai saat ini belum diberi nama. Justru dirinya malah yang mendapat julukan.


"Namanya Kinasih!"


Satu suara mengagetkan Adijaya.


"Siapa Kinasih, Paman?"


"Perempuan yang kau temui tadi pagi,"


Adijaya kerutkan kening. "Dari mana Paman tahu?"


"Kinasih menanyakan kamu ke Dinda Arum,"


Sekelumit senyum nampak di bibir Adijaya. Pandangannya menerawang. Perempuan itu menanyakan dirinya kepada Bibi Arum?


"Kamu suka, ya?" goda Arya Sentana.


Adijaya 'nyureng', keningnya semakin mengerut. Sesekali melihat ke arah pamannya, tapi lebih banyak membuang muka. Wajahnya merona merah.


"Kalau diam berarti iya," ujar Arya Sentana. Lalu dia menceritakan asal usul Kinasih yang didapat dari istrinya.


Diam-diam Adijaya menyimaknya. Benarkah ini rasa suka terhadap lawan jenis? Atau sudah disebut jatuh cinta. Rasanya tak karuan. Wajah Kinasih selalu terbayang di pelupuk matanya.


Pluk!

__ADS_1


Kapak pemotong di tangannya terjatuh. Lalu terdengar suara tawa Arya Sentana sambil berlalu meninggalkannya.


Adijaya garuk-garuk kepala.


__ADS_2