
Asmarini hinggap di atap terakhir rumah yang paling dekat dengan rumah Ki Lurah. Dia memperhatikan sekeliling tempat itu terutama rumah Ki Wardana. Udara dingin karena berada di atas tidak mengganggunya.
Ternyata penjagaannya sangat ketat. Sebenarnya tadi dia menunggu seseorang entah itu siapa atau lebih bagus ayahnya Raksana datang menuntut balas lagi. Tapi tidak muncul juga setelah beberapa lama. Tidak seperti waktu kedatangan Raksana.
"Aku tidak akan terpancing, aku tahu mereka tidak menuntut balas agar aku menyangka mereka takut padaku. Sehingga aku dengan terang-terangan akan mendatangi mereka ke sini, terus menjebakku!"
Tapi Asmarini datang secara sembunyi-sembunyi. Dia datang bukan untuk menyerang. Gadis ini kembali mengitarkan pandangan. Jarak dari tempatnya ke atap tertinggi rumah Ki Wardana cukup jauh. Untuk sampai ke sana membutuhkan dua kali lompatan.
Di depannya hanya ada pohon besar yang bisa dijadikan pijakan untuk lompatan berikutnya. Tapi dia khawatir akan ketahuan, anak buah Raksana banyak berkumpul di sana. Keadaannya juga diterangi banyak damar.
Walaupun bisa mengatasinya, tapi dia tidak ingin ada bentrokan. Dia hanya ingin datang dan pergi lagi dengan selamat menjalankan misinya kali ini.
"Sepertinya harus memutar, aku lihat di bagian belakang tidak terlalu terang!"
Asmarini memilih memutar. Dia melompat ke atap-atap rumah sebelah kanan yang keadaannya lebih gelap. Sampailah gadis ini di atap rumah yang letaknya di belakang rumah Ki Wardana.
Jarak dari sini hanya butuh satu lompatan untuk mencapai ke sana. Ternyata di belakang tidak ada penjagaan. Jelas mereka memang sedang menunggunya datang terang-terangan dari depan.
Sekali lompat dia sudah berada di atap rumah Ki Wardana. Dengan tenang gadis ini mengecek setiap ruangan dengan cara melubangi atapnya. Walaupun sudah diberi keterangan oleh Parwati, mungkin saja orang yang dia cari berada di tempat lain.
Asmarini kemudian berhenti di atas kamar yang di dalamnya terdapat seorang gadis yang diikat di atas tempat tidur. Kondisinya sangat mengenaskan. Dia melihat Raksana juga tengah berbaring di sebelahnya.
Melihat kondisi si gadis, Asmarini tahu apa yang telah diperbuat manusia bejat ini. Dia mendengkus sambil geleng-geleng kepala.
"Binatang laknat!" umpatnya dalam hati.
Lalu gadis ini injak atap sampai jebol. Tubuhnya meluncur ke bawah. Mendarat tanpa menimbulkan suara. Raksana terkejut bukan main begitu melihat Asmarini sudah berdiri di dekatnya.
Belum sempat keluar suara gadis mungil ini keburu menotok leher bagian tenggorokan sehingga Raksana tersedak tak bisa bersuara. Tidak selesai sampai di situ saja, karena Asmarini melepaskan tendangan sangat keras.
__ADS_1
Dukk!
Keadaannya yang tidak beruntung membuat tidak bisa menghindari tendangan itu. Dia terpental sampai jatuh ke lantai.
Raksana benar-benar tak bisa berteriak ketika 'Benda Keramat' di antara kedua pahanya pecah akibat tendangan itu. Darah menetes ke telapak tangan yang reflek memegangnya. Kedua mata pemuda ini melotot penuh dendam kesumat.
"Itu hadiah untukmu yang berotak bejat!"
Sekejap kemudian Raksana tak sadarkan diri. Asmarini segera melepas tali yang mengikat tubuh Utari. Kakaknya Parwati ini masih dalam keadaan tidak sadar. Tubuhnya tampak kurus. Ada pendarahan di antara kedua pahanya.
Asmarini memanggul tubuh Utari di pundaknya. Tidak terlalu berat, masih bisa dibawa dengan ilmu meringankan tubuh.
Beberapa saat kemudian Asmarini sudah kembali melesat dari satu atap ke atap lain menuju tempat kereta kuda berada.
...***...
Parwati tak bisa menahan tangisnya begitu melihat kondisi kakaknya yang mengenaskan. Dia memeluk erat Utari yang belum juga sadar.
"Apa Kakang bisa mengobatinya?" tanya Asmarini.
"Aku tidak bisa mencari bahan obat di malam gelap begini,"
"Kalau begitu besok saja, setidaknya Utari selamat. Tidak mendapat perlakuan keji lagi dari si bejat itu!" Asmarini menerangkan kalau dia sudah membuat pemuda itu mandul. Bahkan tidak bisa menggunakan benda keramatnya lagi.
Adijaya tersedak mendengarnya. Melihat keadaan Utari yang malang begini, wajar saja kalau istrinya emosi lalu melampiaskan dengan cara seperti itu. Tak terbayangkan seandainya dirinya yang mengalami seperti itu.
Tiba-tiba di luar kereta ada suara memanggil. Adijaya membuka pintu. Walau gelap tapi masih bisa melihat dua orang berdiri. Kantadalu dan yang satunya sudah pernah melihat, mungkin kakaknya Parwati.
"Akhirnya kutemukan juga!" ujar Kantadalu.
__ADS_1
Sementara Sudaliwa terheran-heran karena sebelumnya dia juga pernah melihat kereta kuda ini.
Parwati keluar setelah mendengar suara kekasihnya. "Kakang Liwa, Kakang Dalu, kebetulan!" Gadis ini langsung turun.
Parwati langsung mengerti sikap kakaknya yang agak bingung. Dia segera menjelaskan, waktu itu dia sembunyi di dalam kereta. Dan Asmarini membohonginya.
"Teteh Utari dalam keadaan gawat, bisakah Kakang berdua membawanya ke tabib terdekat?"
"Utari!" Sudaliwa terkejut.
Parwati menjelaskan bahwa Asmarini baru saja berhasil membawa kakak perempuannya ke sini. Dua lelaki ini saling pandang. Sendirian menerobos kandang musuh dan berhasil membawa targetnya dengan selamat. Seberapa besar nyali dan kekuatan si gadis?
Kalau bukan adiknya yang bicara mungkin dia tidak akan percaya. Walau dirinya mempunyai ilmu silat, tapi hanya sebatas untuk membela diri. Dia tidak merasa menjadi seorang pendekar dengan kepandaiannya yang seuprit.
Pemilik kereta kuda ini pasti pasangan pendekar yang sudah berkelana di dunia persilatan. Kalau begitu sangat beruntung jika pasangan ini membantu masalah yang menimpa desa Rancawangi.
"Kalau begitu baiklah, biar aku yang membawanya!" Sudaliwa langsung setuju.
Utari pun digotong keluar kemudian dipanggul oleh Sudaliwa. Dia sangat terpukul melihat keadaannya. Sementara Kantadalu juga tampak geram.
"Jika ada yang ingin dibicarakan, besok pagi saja ke sini lagi!" pesan Parwati sebelum kakak dan kekasihnya pergi membawa Utari ke rumah tabib.
Sebelumnya Kantadalu kebingungan karena kereta kuda Adijaya sudah tidak berada di tempat semula. Dia datang bersama Sudaliwa. Lalu dia menanyakan ke pemilik kedai yang sudah menutup kedainya sebelum hari gelap.
Mengikuti keterangan pemilik kedai akhirnya mereka menemukan keberadaan kereta kuda yang dicari. Mereka bermaksud mengutarakan rencana yang telah disusun bersama rekan-rekan yang lain.
Namun, ternyata ada yang lebih penting untuk segera dikerjakan yaitu membawa Utari yang sudah kritis ke tabib terdekat.
Sementara itu di rumah Ki Lurah tejadi kegemparan yang membuat semua anak buah Raksana merasa tegang karena juragan besarnya sangat murka.
__ADS_1
Ki Somara sendiri yang menemukan anaknya bersimbah darah di kamar yang digunakan untuk menyekap Utari. Gadis itu juga hilang. Dia melihat atap yang jebol. Yang bikin dia sangat murka adalah kondisi anaknya.
Saking marahnya, pintu kamar telah hancur berkeping-keping karena tinjunya.