
Dalam semalam pergerakan senyap kelompok bentukan Sudaliwa telah melenyapkan hampir setengah anak buah Ki Somara. Tidak ingin terlihat mencolok, mereka menyudahi aksinya saat hari masih gelap. Mereka kembali ke markas.
Sementara itu dua wanita bertopeng kain sebelumnya telah berhasil masuk ke bangunan balai desa dari pintu belakang.
Tanpa menghadapi rintangan berat mereka berhasil membawa kabur Ki Wardana dan istrinya keluar. Ki Somara terlena dengan penyiksaan yang dilakukannya terhadap gadis mungil.
Pada saat membawa Ki Wardana dan istrinya sambil tetap menghindari orang-orangnya Raksana, ternyata keadaan sudah lebih aman. Karena di beberapa tempat mereka melihat bergelimpangan mayat anak buah Raksana.
Sehingga perjalanan mereka tidak mengalami hambatan lagi. Mereka lebih cepat sampai ke tempat di mana beradanya kereta kuda Adijaya.
Dua wanita yang wajahnya di tutupi kain ini adalah Asmarini dan Parwati.
Keadaan Ki Wardana cukup buruk. Badannya lemas kekurangan tenaga. Dia dirawat di dalam tenda yang didirikan dekat kereta kuda. Sedangkan sang istri tidak mengalami hal yang serius jadi bisa merawat suaminya.
"Sepertinya kelompok Kakang Sudaliwa sudah bergerak," Parwati menceritakan apa yang dia lihat tadi.
Bagi Adijaya yang menghindari pembunuhan merasa ngeri walau cuma mendengarkan. Asmarini memperhatikan raut wajah suaminya dengan senyum kecil.
Mereka duduk mengelilingi api unggun kecil.
"Aku rasa Raksana sudah tidak ada di sana," Asmarini mengeluarkan dugaannya..
"Benar, Ki Somara diam-diam membawa anaknya pulang saat pagi-pagi buta," sahut Adijaya.
"Kakang sudah tahu?" Asmarini seperti kaget.
"Ya," angguk Adijaya sambil senyum. Dia tahu maksud istrinya kenapa tidak memberitahu sejak siang?
Adijaya memeluk istrinya lalu berkata pelan. "Aku juga dikasih tahu Ki Santang,"
Sebagai istri sekarang Asmarini sudah tahu tentang dua mahluk guriang yang selalu mendampingi suaminya. Dulu dia tahunya Ki Santang hanya pembantunya Adijaya.
Sekarang dia tahu Ki Santang adalah guriang yang sering menjelma jadi Payung Terbang. Dulu saat mengalami keanehan ketika bermasalah dengan Rangrang Geni, dia belum mengerti sepenuhnya.
Tapi masih ada sedikit kekhawatiran, entahlah dua mahluk itu apakah akan membawa kebaikan bagi hubungan suami istrinya atau tidak. Namun, Adijaya sudah menjelaskan bahwa mereka tidak bisa sepenuhnya mencampuri urusan manusia.
Lagi pula status mereka adalah pengabdi yang akan selalu mengikuti perintah majikannya. Jika tidak dibutuhkan, tidak akan muncul. Kecuali dalam keadaan gawat.
Sekarang Asmarini sedang membayangkan bagaimana wajah Ki Somara ketika mengetahui bahwa gadis yang disiksanya bukan dirinya, melainkan ilmu sihirnya Padmasari.
__ADS_1
"Kenapa kau senyum-senyum?" Suara lembut Adijaya membuyarkan lamunannya.
"Apa Ki Somara tidak merasa aneh begitu mudahnya menangkap aku yang palsu?"
"Dia dirasuki dendam kesumat, jadi pikirannya tidak akan sampai ke sana,"
Tidak ingin mengganggu kemesraan sepasang suami istri ini, Parwati memilih masuk ke tenda menemani orang tuanya.
"Apa lagi yang sudah kakang ketahui?" tanya Asmarini mengira suaminya masih menyimpan keterangan.
Adijaya tersenyum lembut. Dia melihat tatapan istrinya penuh selidik. Tidak segera menjawab, Asmarini malah menggelayut manja meminta suaminya segera bicara.
"Di sana ada gurunya Raksana, dan Dinda harus ke sana segera. Biar aku temani nanti,"
"Memangnya ada apa?"
"Nanti juga Dinda tahu!" Adijaya mencubit hidung lancip istrinya.
Mereka saling tatap mesra. Udara dingin telah membangkitkan gejolak asmara dalam hati masing-masing. Mereka terhitung masih pengantin baru, jadi masih semangat gai rahnya dalam menyelami indahnya lautan cinta.
Adijaya menggendong istrinya. Dibawa masuk ke dalam kereta kuda. Terdengar suara dengusan kuda seolah mengerti perasaan mereka yang berbunga-bunga.
"Kita kapan, Nyai?" tanya Ki Santang di alam lain.
Padmasari tampak bersemu merah wajahnya. Bibirnya terbuka, tapi tak keluar sepatah katapun. Ki Santang tersenyum mesra. Wajahnya mendekat ke wajah guriang cantik itu.
"Mahluk seperti kita juga mempunyai aturan," Telunjuk Padmasari menahan wajah Ki Santang. Walau dalam hati sebenarnya menginginkan. "Jangan sampai mengundang malapetaka!"
Ki Santang tarik lagi wajahnya. "Baiklah, aku akan cari penghulu!"
***
Kegegeran terjadi di balai desa saat hari masih balebat. Ki Somara mengamuk. Dinding-dinding bangunan jebol. Pintu-pintu juga hampir tak berbentuk lagi. Anak buahnya hanya menunduk lesu penuh ketakutan.
Ki Wardana dan istrinya yang dikurung di dalam kamar khusus diketahui hilang. Tidak ada atap yang jebol. Berarti melarikan diri lewat pintu belakang.
Yang paling membuatnya marah adalah, gadis bertubuh mungil telah berubah menjadi orang-orangan yang terbuat dari batang pohon pisang.
Bagaimana dia bisa tertipu mentah-mentah? Hatinya begitu dongkol. Rasanya dia ingin mencabik-cabik orang yang telah menipunya. Geram, geregetan. Akibatnya kerusakan menimpa bangunan itu.
__ADS_1
Sekelumit dalan pikirannya dia ingin melampiaskan kemarahannya kepada penduduk desa. Tapi itu baru rencana. Dia ingin kembali menemui gurunya di rumah. Ki Somara penasaran dengan ilmu sihir yang menimpanya.
Urusan warga desa dia serahkan sementara kepada Kupra, pemimpin anak buahnya. Lelaki paruh baya ini kembali ke rumahnya. Kali ini dia tidak sembunyi-sembunyi.
Kemarahannya semakin memuncak ketika di jalan dia menemukam banyak anak buahnya terkapar tak bernyawa. Yang melakukan semua ini pasti sudah terencana dengan baik.
Ki Somara jadi ingat ketika betapa mudahnya dia menaklukkan gadis bertubuh mungil. Lalu dia terlena atas kepuasannya menyiksa gadis itu. Rupanya sihir itu telah membuatnya lengah.
"Aku tahu mereka hanya sekelompok kecil, tapi taktiknya boleh juga!" geramnya.
Dia berencana setelah kepulangannya kali ini, dia tidak akan menunggu lawan datang. Tapi akan mencarinya dengan segala cara. Mereka pasti tidak jauh dari wilayah desa. Bila perlu, sisir habis desa-desa yang bertetangga.
Kemdian Ki Somara menggunakan ilmu meringankan tubuh agar lebih cepat. Sampai di rumah dia langsung ke kamar khusus gurunya.
"Aku tahu kau menghadapi sihir!" sambut sang guru langsung mengetahui permasalahannya.
"Apakah salah satu dari mereka memiliki ilmu semacam itu?"
"Aku tidak bisa merabanya,"
Ki Somara tampak lesu mendengar jawabannya. Dia mengerti kemampuan gurunya. Kalau sudah berkata begitu berarti lawannya kali ini tidak bisa diterawang seberapa besar kekuatannya.
"Bukan hanya kau yang terkejut, tapi aku juga tak menyangka mereka akan bermain sihir. Sayangnya keahlian itu tidak dipelajari di padepokanku. Padahal itu sangat berguna bagi golongan kami,"
Suasana jadi sunyi. Sempat berpikir dia akan menarik diri saja dari desa Rancawangi. Tapi selama sepasang suami istri itu masih berada di sana, maka dirinya masih dalam ancaman.
Dia tidak pernah merasa gentar apalagi takut semacam ini sebelumnya. Siapa sebenarnya suami istri itu. Kenapa mereka begitu kebetulan ada saat dia ingin menguasai desa Rancawangi?
"Kalau saja tidak bermain sihir!" desis Ki Somara.
"Apa kau takut?"
"Apa guru juga takut?"
Sang guru berubah wajahnya. Tapi wajar kalau muridnya menanyakan seperti itu, mengingat keterangan yang dia berikan tadi telah membuatnya berkesan seolah dia tak mampu menghadapi calon lawannya.
"Mereka dari aliran lurus, pasti akan berbuat jujur dalam pertarungan satu lawan satu. Kenapa harus takut. Sedangkan aku kapan saja bisa berlaku licik!"
"Apa tidak ada cara lain, misalnya meminta bantuan kepada yang lebih ahli?"
__ADS_1
"Sementara tidak ada, kita lihat situasinya. Aku merasakan mereka akan datang kemari sekarang. Jadi kau tetap di sini dulu!"