
Rangrang Geni menjerit setinggi langit. Seluruh organ dalam tubuhnya seperti tersedot keluar. Tubuhnya semakin melemah, kekuatannya hilang karena tersedot ke dalam tubuh Adijaya.
Penampilan pemuda ini berubah drastis. Wajahnya tidak lagi muda dan tampan, tapi berkeriput dan agak tua. Rambut yang tadinya kurus kini keriting agak memerah seperti terbakar matahari. Kulitnya pucat bagai tanpa darah.
"Tidak ada jalan lain, kau harus kembali menjadi manusia biasa!" Ucapan terakhir Adijaya sebelum mendorong tubuh Rangrang Geni hingga jatuh terkulai tanpa daya.
Bersamaan dengan itu, sesuatu yang membelit leher semua pengikut Rangrang Geni hilang. Mereka merasakan pengaruh yang selama ini menekan jiwanya lenyap begitu saja.
Mereka telah bebas dari jeratan. Inilah rencana Adijaya yang dipikirkan semalam. Dia tidak ingin melibatkan banyak orang, karena ingin membebaskan pengikut Rangrang Geni yang kebanyakan aslinya tidak berwatak jahat.
Merasa dirinya telah bebas, serta merta Ki Tanujiwa melesat ke arah Rangrang Geni lalu bertubi-tubi menendang sosok yang telah lemah itu. Adijaya hendak melerai, tapi beberapa orang lain mengikuti tindakan Ki Tanujiwa.
"Jangan, hentikan!"
Tapi tidak ada yang menghiraukan. Melenyapkan manusia durjana ini tidak perlu memandang aturan dunia persilatan. Kira-kira begitu yang ada dalam pikiran mereka.
Adijaya tak bisa mencegah kemarahan orang-orang yang kini sedang menyiksa Rangrang Geni sampai akhirnya tak bernyawa lagi. Adijaya menarik napas setidaknya bukan dia yang membunuhnya.
Bekas pengikut Rangrang Geni akhirnya membubarkan diri. Sebagian mereka ada yang menyampaikan permohonan maaf. Tidak ada pertumpahan darah terjadi. Padepokan juga terselamatkan. Semua merasa lega.
Adijaya menghampiri Asmarini yang menyambutnya dengan senyum mesra. Sepasang pemuda ini saling berpegangan tangan.
"Walaupun aku tahu, Kakang memiliki ilmu yang dahsyat, tapi aku tetap mencemaskanmu!"
"Tentu saja aku akan tetap hidup demi Dinda!"
Karena keadaan sudah aman, maka murid-murid yang tadinya hendak bertarung hidup mati kini kembali berlatih. Adijaya melihat ada beberapa murid wanita yang sedang menggendong anak.
Dia juga melihat Kinasih tengah hamil besar. Wanita tetap kelihatan cantik. Namun, memandangnya membuat hatinya tergores lagi. Segera saja dia eratkan pegangan tangannya. Asmarini sedikit kaget dengan sikap Adijaya.
Sepasang kekasih ini dikagetkan dengan kabar Praba Arum yang tiba-tiba saja muntah-muntah. Arya Sentana langsung panik. Segera dia memanggil murid wanita yang ahli pengobatan.
Adijaya dan Asmarini segera menuju bilik kesehatan. Tampak Pendekar Tinju Dewa tengah gelisah menunggu di luar.
"Bibi kenapa, Paman?
"Entahlah, sepertinya keracunan makanan,"
"Bukan karena serangan suatu ilmu, kan?"
Ketika hendak menjawab, seorang wanita keluar dengan senyum mengembang di wajahnya.
__ADS_1
"Ada apa?" Arya Sentana malah heran.
"Selamat, Paman Guru akan menjadi seorang ayah!"
Wajah gelisah Arya Sentana seketika berubah jadi sumringah. Dia segera menghambur ke dalam lalu memeluk istrinya dengan perasaan bahagia.
Adijaya saling pandang. Perasaannya ikut bahagia mendengar kabar ini. Asmarini kerutkan kening ketika melihat pandangan Adijaya tampak nakal.
Gadis mungil ini hanya mencubit perut lelakinya sebelum berbalik pergi. Adijaya langsung mengejarnya.
***
Adijaya tampak berjalan sendirian meninggalkan padepokan. Dia hendak mengunjungi Ki Brajaseti di tempat tinggalnya. Selain memberitahu tentang meninggalnya Ki Ranggasura dia juga akan meminta kakek itu menjadi penghulu nikahnya dengan Asmarini.
Tadinya gadis mungil itu bersikukuh ingin ikut bersamanya. Tapi Praba Arum membujuknya agar tetap di padepokan. Keberadaannya dibutuhkan karena beberapa murid wanita ada yang sedang hamil besar. Sedikit banyaknya pasti akan membutuhkan bantuannya.
Belum lagi Sekar Kusuma yang masih merasa asing di situ. Dia merasa tidak mempunyai teman. Setidaknya ada Asmarini yang sama-sama orang baru di padepokan sebagai temannya.
Akhirnya Asmarini menyerah dan membiarkan Adijaya pergi sendiri. Walaupun dirinya sangat ingin menikmati petualangan bersama kekasihnya selama di perjalanan. Bukankah sifatnya ingin selalu berpetualang? Tapi sekarang harus ditahan.
Adijaya tidak menggunakan kereta kudanya. Dia menyarankan Asmarini untuk mendiami kereta itu sambil memperkuat ilmu tenaga dalamnya. Setidaknya tidak ada yang mengganggu kalau di dalam kereta kuda.
"Apa kamu punya ajian atau mantera untuk menekan hasrat bercinta yang menggebu-gebu?" tanya Ki Santang.
"Untuk apa?"
"Juragan kita dulu pernah tertimpa malapetaka karena tak bisa menahan gejolak birahinya, sehingga seluruh kekuatannya hilang!"
Ki Santang menceritakan tentang seorang gadis pembunuh bayaran yang malah jatuh cinta kepada Adijaya setelah gagal membunuhnya. Sebenarnya Adijaya tidak mudah jatuh cinta. Hanya saja dia tidak bisa melewatkan kecantikan dan keindahan tubuh gadis itu.
"Namun, malang menimpa Juragan. Beliau tidak mampu menahan hasratnya sehingga terjadilah hal itu!"
"Kenapa kamu tidak mencegahnya?" tukas Padmasari.
"Itulah masalahnya. Ternyata di dalam tubuh gadis itu sudah diisi semacam ajian penyedot kekuatan oleh musuh besar juragan waktu itu. Ketika Juragan sudah tidak terkontrol, beliau tidak mendengar teriakanku!"
"Jadi mungkin ini salah satu alasan kenapa Juragan tidak membawa serta calon istrinya?"
"Betul, jadi bagaimana, ada?"
Padmasari malah tertawa mengikik sambil menutup mulutnya.
__ADS_1
"Kenapa malah tertawa?"
"Ternyata Juragan kita sudah tidak perjaka, hihihi...!"
"Hus, lancang kamu!"
Adijaya sendiri tersenyum mendengarnya. Memang, dia bukan suci seperti pandhita atau resi. Dia adalah anak perampok yang tentunya jauh dari ajaran agama. Mungkin orang menganggapnya pendekar baik dan budiman.
Tapi mereka tidak tahu sisi buruknya sebagai lelaki normal. Dan ini adalah kelemahannya.
"Kamu tidak tahu, setiap dekat dengan seorang gadis, Juragan selalu menderita menahan dan mengendalikan nafsunya,"
"Kalau begitu usulanku bagus, dong!"
"Kamu usul apa?"
"Juragan beristri lebih dari satu, hihihi...!"
"Ngawur, kamu!"
"Aku tidak punya mantera atau ajian semacam itu. Tapi sebenarnya bisa diatasi dengan sering bersemedi khusus!"
"Semedi khusus?" Adijaya keluar tanya.
"Semedi untuk mengingat Sang Hyang Widhi, Sang Hyang Rumuhun yang Maha Tunggal. Merenungkan dosa-dosa kita dan memohon ampunan-Nya."
Mendengarnya membuat hati Adijaya seperti terbangun dari pingsan yang lama. Benar, dia belum pernah melakukan yang namanya pemujaan atau sembah Hyang kepada Sang Maha Pencipta. Bahkan tidak tahu caranya.
"Terima kasih, kau sudah mengingatkan!"
"Tumben bicaramu seperti resi, Padmasari!" ujar Ki Santang.
Lalu untuk beberapa saat terasa sepi.
Tiba-tiba pendengaran Adijaya yang tajam menangkap suara yang aneh di kejauhan. Pemuda ini percepat langkah, mencari sumber suara.
Suara perkelahian dibarengi sabetan senjata. Bahkan mencium aroma pembunuhan. Di samping kanan jalan ada hutan kecil, suara itu dari sana datangnya.
Sekali kelebat Adijaya menemukan lima orang sudah tergeletak tanpa nyawa. Hampir semuanya karena terluka di leher yang menganga lebar. Agak jauh dari lima orang ini, ada satu orang lagi yang bersimbah darah sedang menyandar ke sebuah pohon.
Orang ini masih hidup, banyak luka sayatan di badannya. Segera saja Adijaya menolongnya dengan menotok beberapa tempat untuk menghentikan pendarahan.
__ADS_1