Pendekar Payung Terbang

Pendekar Payung Terbang
Mengejar Pembunuh


__ADS_3

Lesmana adalah nama pemuda yang diikat dan ditusuk si gadis dengan pedang pendek. Dia masih satu desa dengan Rana. Hanya rumahnya berjauhan. Lesmana anak kedua Ki Dipasara.


Menurut keterangan Jantaka yang mengaku menyaksikan Lesmana yang masih rendah ilmu silatnya disergap dan diculik seorang gadis berkepandaian tinggi. Lalu dia melapor kepada Ki Dipasara.


Ki Dipasara bersama Jantaka segera mengejar. Namun, mereka terlambat, Lesmana telah tewas. Dari luka di dadanya menandakan pemuda itu ditusuk Pedang Ular Hitam.


Tuduhan kepada Puspasari tak bisa dibantah lagi. Apalagi dulu Lesmana juga pernah berjanji akan menikahinya. Tetapi si pemuda mengingkari, malah hendak menikah dengan gadis lain.


Rencananya besok adalah hari pernikahan Lesmana. Namun, naas pemuda ini tewas duluan.


Puspasari sebagai tersangka memang masuk akal. Dia balas dendam kepada Rana dan Lesmana karena mengingkari janjinya. Tapi bagi Adijaya 'kasus' ini ada yang janggal.


Adijaya memikirkan kejanggalan ini sambil minum kopi di sebuah kedai. Lho, dia punya kepeng?


Tentu saja karena butuh untuk kehidupannya, Adijaya terpaksa mendatangi kerajaan Wanagiri untuk mengambil hartanya. Dengan cara yang menakjubkan, memukau semua orang dia memasuki istana.


Dengan Payung Terbang Adijaya melayang memasuki istana. Maksudnya agar raja percaya bahwa dia Pendekar Payung Terbang. Beruntung lagi ada beberapa prajurit yang mengenalinya ketika pertama kali datang bersama Asmarini.


Adijaya tidak membawa keretanya, dia hanya membawa sekantong kepeng emas. Dia tidak mau membawa beban yang banyak. Dia ingin bergerak dengan leluasa.


Itulah ceritanya kenapa sekarang Adijaya bisa ngopi di kedai.


"Dari dua kejadian itu, Ki Jantaka selalu menjadi saksi awal," gumam Adijaya. "Terus seperti mengarahkan bahwa korban ditusuk Pedang Ular Hitam,"


Pedang Ular Hitam, menurut orang-orang hanya Puspasari yang memilikinya. Di kedai ini juga ramai orang-orang membicarakan dua kejadian yang telah memakan nyawa, Rana dan Lesmana.


"Ki Sanak, saya mau tanya," sapa Adijaya kepada seseorang yang di dekatnya.


"Silahkan," orang itu membalas dengan senyum ramah.


"Selain Rana dan Lesmana, apa Ki Sanak tahu siapa lagi yang pernah punya hubungan dengan Puspasari?"


Yang ditanya tampak tersedak karena sedang minum. Sepertinya dia menyadari sesuatu.


"Oh, iya ya!"


"Kenapa Ki Sanak?"

__ADS_1


"Ada satu lagi, masih warga desa sini, namanya Jatnika." Sambil menjawab, bola mata orang ini tampak menerawang.


***


Di desa ini tidak ada penginapan. Terpaksa Adijaya mencari tempat istirahat di atas pohon di suatu tempat yang terpencil. Dia telah mengetahui letak rumah Jatnika dari warga yang ia tanyai.


Menurut dugaannya, Jatnika kemungkinan akan menjadi korban Puspasari berikutnya. Dua peristiwa sebelumnya terjadi di siang hari.


Gadis bernama Puspasari itu juga ternyata sulit dicari. Gadis itu sudah hidup sebatang kara. Tidak mempunyai sanak saudara lagi. Rumah yang dulu ditinggalinya kini kosong.


Orang-orang juga tidak tahu dari mana Puspasari mempunyai kepandaian silat dan juga senjata yang bernama Pedang Ular Hitam itu.


"Dulu Neng Puspa menjadi pendekar wanita muda yang melindungi desa ini dari orang-orang yang berniat jahat." begitu cerita orang yang jadi teman ngobrolnya sewaktu di kedai.


"Namun, kisah cintanya selalu berakhir kandas. Sejak gagal menikah dengan Jatnika, gadis itu menghilang entah kemana."


Tiba-tiba lamunan Adijaya dikejutkan dengan berkelebatnya satu sosok di bawahnya. Sosok perempuan.


"Kejar dia!"


Agak jauh di belakangnya beberapa orang berlari mengejar. Ki Dipasara dan Nyi Rengganis berada di paling depan. Tampak sangat bernapsu sambil menggenggam senjata.


Disusul setelah mereka, Ki Jantaka dan beberapa warga desa.


Dapat dipastikan perempuan yang berkelebat tadi adalah Puspasari. Adijaya segera melayang turun lalu ikut berlari bersama rombongan pengejar.


Ki Dipasara dan Nyi Rengganis yang ilmu silatnya cukup tinggi bergerak sangat ringan. Dalam beberapa saat mampu mendekati si gadis yang terus menggunakan peringan tubuhnya.


Tapi karena kedua pengejarnya semakin dekat, Puspasari memutar badan sambil mengibaskan tangan. Melepaskan pukulan tenaga dalam.


Wuss!


Ki Dipasara dan Nyi Rengganis melompat mundur. Nyaris saja mereka terkena hantaman angin tenaga dalam si gadis.


Di depan sana Puspasari sudah siap dengan kuda-kudanya. Ternyata gadis ini bertubuh lebih tinggi dari gadis biasa. Parasnya anggun, sorot matanya tajam.


Tapi ada yang aneh yang dapat dilihat oleh Adijaya. Puspasari tidak membawa pedang atau senjata lain, baik di genggaman tangannya atau di tubuhnya. Dia tidak membawa apa-apa.

__ADS_1


"Kau tidak bisa lari lagi, pembunuh!" seru Nyi Rengganis mengacungkan pedang.


"Saatnya kau terima pembalasan!" timpal Ki Dipasara.


"Anak-anak kalian memang pantas mati!" sentak Puspasari.


Ki Dipasara dan Nyi Rengganis tak mau bicara banyak lagi. Mereka langsung menyerang Puspasari dengan ganas. Sementara Jantaka dan yang lain sudah mengepung.


Adijaya hanya melihat dari jarak agak jauh. Dia melihat Jantaka berteriak-teriak memanasi dan menekan Puspasari.


Gadis bernama Puspasari cukup gesit juga gerakannya. Tanpa senjata dia mampu menghindari sabetan pedang dua lawannya. Di mana dia menyimpan Pedang Ular Hitam? Atau mungkin kebetulan saja dia tidak sedang membawa pedang itu.


Tapi mana mungkin dia tidak membawa senjatanya, sedangkan dia telah menjadi incaran dua orang penyerangnya. Dia pasti akan berjaga-jaga.


Jurus-jurus yang diperagakan Puspasari tampak indah. Meliuk, meloncat, berjingkrak bagai burung. Sampai dua puluh jurus, kedua penyerangnya belum juga berhasil menyentuhnya.


Seandainya gadis itu menggenggam senjata, mungkin dia akan cepat mendesak lawannya. Adijaya dibuat kagum melihatnya. Tapi kekagumannya buyar ketika melihat Jantaka melemparkan sesuatu ke arah Puspasari.


Si gadis sempat tertahan gerakannya. Hal ini membuatnya lengah. Akibatnya satu sabetan pedang Nyi Rengganis menggores lengannya. Disusul tusukan pedang Ki Dipasara sedikit melukai bahunya.


Puspasari segera berjumpalitan mundur menghindari serangan susulan. Gadis ini mulai terdesak. Sampai keadaan seperti ini, dia belum juga mengeluarkan senjatanya. Sedangkan untuk membunuh Rana dan Lesmana dia langsung menggunakan pedangnya.


Ada apa ini? Kenapa juga Jantaka membokong?


Si gadis jangkung semakin terdesak. Beberapa sayatan telah mendarat di kulitnya yang halus. Lalu satu tendangan Ki Dipasara berhasil membuatnya roboh.


Duk! Brugh!


Puspasari sudah tak berdaya lagi. Saat itu Adijaya hendak menolong. Dia menduga gadis itu hanya korban fitnah, tapi satu kejadian mengurungkan niatnya.


Ketika Ki Dipasara dan Nyi Rengganis hendak menghujamkan pedang, tiba-tiba angin bertiup kencang menghempaskan mereka ke belakang hampir jatuh kalau tidak segera menyeimbangkan diri.


Semua orang termasuk Adijaya memandang ke depan. Di dekat Puspasari yang tergeletak tak berdaya telah berdiri seseorang berwajah angker. Wajah yang mengingatkan Adijaya kepada Nyai Gandalaras.


Tapi sosok ini bukan dia. Dia memang seorang nenek tua, tapi badannya agak bungkuk. Rambutnya hitam legam acak-acakan.


"Siapa yang bikin masalah di tempatku!" semprot si nenek suaranya serak menyeramkan.

__ADS_1


__ADS_2