Pendekar Payung Terbang

Pendekar Payung Terbang
Rahasia Gudang Harta


__ADS_3

Dengan menggunakan Payung Terbang, Adijaya terbang lebih tinggi setengah tombak dari pucuk pohon. Dia melayang di udara luar di atas hutan. Walaupun agak rimbun, tapi masih bisa melihat jelas ke dalamnya.


Hutan Gintung cukup luas. Tiga bangunan tadi ternyata bukan tepat di tengah-tengah hutan yang memanjang dari timur ke barat. Adijaya melayang perlahan ke arah barat sambil terus menyapukan pandangan ke setiap pelosok.


Merasa masih kurang jelas pengamatannya, Adijaya angkat tubuh semakin tinggi sampai puluhan tombak. Angin di atas bertiup lebih kencang. Benar kata pepatah, semakin tinggi pohon semakin besar angin yang menerpa. Namun, ini dalam arti yang sebenarnya.


Memandang ke bawah, semuanya terlihat kecil. Hutan Gintung menghampar bagaikan pemadani. Dari sini Adijaya bisa melihat ada bangunan lain selain tiga bangunan sebelumnya. Dia langsung meluncur turun mendekatinya.


Adijaya hinggap di dahan pohon yang jaraknya sepuluh tombak menuju bangunan yang ternyata sebuah rumah kayu yang cukup besar. Anehnya, rumah ini dijaga belasan orang yang warna pakaiannya seragam. Merah darah.


Hari masih menunjukan 'Kalangkang Satangtung' (pukul 14.00) masih lama menunggu malam. Kalau Adijaya menyusup ke rumah itu sekarang, pasti mudah dipergoki.


"Tempat itu dijaga ketat, berarti di dalamnya terdapat sesuatu yang berharga," gumam Adijaya. Dia memutuskan untuk mengawasi saja. Barangkali ada orang masuk atau keluar dari rumah besar itu.


Benar saja, dari arah timur terlihat pemuda yang berpakaian resi itu tengah menuntun kuda milik Bayunata yang di pinggang hewan itu tergantung peti kecil berisi harta. Sudah pasti pemuda itu menuju rumah besar.


Sekali lihat saja Adijaya berkesimpulan, rumah itu pasti tempat menyimpan harta-harta pengikut resi Danuranda.


"Berarti harta itu tidak dibagi-bagikan seperti yang digembar-gemborkan. Tapi ditmbun!" duga Adijaya.


Selanjutnya dia harus menyelidiki untuk apa harta-harta itu? Mungkinkan kecurigaan Wirapati benar, bahwa resi Danuranda hanya kedok saja?


Adijaya melihat pemuda itu dengan leluasa masuk ke dalam rumah besar. Bahkan bersama dengan kudanya. Setelah beberapa lama pemuda resi itu keluar lagi tanpa membawa apa-apa. Benar, dia menyimpan harta milik Bayunata termasuk hewan tunggangannya juga.


Tiba-tiba Adijaya menepuk jidatnya sendiri. "Ah, ternyata aku masih manusia yang bisa lupa. Aku kan, bisa Ngaraga Sukma!"


Setelah pemuda resi itu lewat dan tak kelihatan lagi, Adijaya ambil posisi duduk bersila di atas dahan besar yang melintang, dan mulai menghimpun hawa sakti sambil merapalkan mantera ajian Ngaraga Sukma. Tubuh Adijaya menjadi kaku bagai patung.


Lalu sesosok bayangan menyerupai dirinya menyeruak keluar dari dalam tubuhnya. Itulah sukmanya Adijaya. Sosoknya melayang turun ke bawah, selanjutnya berjalan menuju rumah besar.

__ADS_1


Adijaya bisa merasakan para penjaga rumah ini memiliki kepandaian yang lumayan tinggi. Tentu saja mereka tidak bisa melihat raga halus Adijaya yang begitu tenangnya memasuki rumah tanpa membuka pintu.


"Hmh, aku jadi jurig sekarang!" gumam Adijaya sambil senyum-senyum.


Di dalam rumah terlihat bertumpuk-tumpuk peti harta memenuhi setiap sudut ruangan. Benar, harta ini ditimbun. Pasti untuk suatu tujuan besar. Ternyata rumah ini hanya ada satu kamar di sudut kanan belakang.


Adijaya mematung di depan pintu kamar itu. Dia merasakan ada orang di dalamnya. Dua orang. Pemuda ini memutuskan untuk berdiri saja di sana. Dia bisa mendengar percakapan orang di dalam.


Adijaya mendengarkan mereka sedang membahas dirinya yang datang tanpa undangan. Pemuda resi itu pasti yang menyampaikannya.


"Mereka wajib dicurigai. Tidak ada orang yang tertarik dengan sendirinya tanpa wejangan yang mengandung gendam darimu, Danuranda!"


"Kemungkinan besar mereka keluarganya Nyai Mandita, karena hanya wanita itu yang menjadi pengikutku dengan cara menghilang tiba-tiba,"


"Kenapa kau kurang hati-hati?"


"Ampun, Tuanku. Seperti kepada yang lainnya, saya juga mewanti-wanti dia agar berpamitan kepada orang terdekatnya. Apa mungkin karena dia hanya mempunyai seorang pembantu, jadi langsung meninggalkannya begitu saja,"


"Baik, Tuanku!"


"Beberapa hari lagi kita mulai bergerak. Keadaan kita cukup kuat untuk merebut tahta Salakanagara. Setelah itu, kita kembalikan kejayaan Salakanagara menjadi penguasa di tatar Sunda."


Percakapan mereka terhenti. Lalu keluarlah seorang kakek berpakaian resi dari dalam kamar. Adijaya langsung menduga orang ini pasti resi Danuranda. Sang resi tampak mematung sejenak di dekat Adijaya berdiri.


Bola mata resi Danuranda bergerak-gerak seperti sedang mencari sesuatu. Wajahnya menunjukan kecemasan. Kini dia tengak-tengok ke segala arah. Sepertinya dia merasakan kehadiran seseorang.


"Aneh, sepertinya ada jurig menyusup. Tapi untuk apa?" Resi Danuranda mendesah lalu melangkah keluar. Ternyata dia cukup peka juga. Tapi hanya sekadar peka tidak mampu mendeteksi lebih jauh.


Adijaya tersenyum memandangi punggung sang resi. "Aku memang jurig, tapi cuma sementara, resi gadungan!"

__ADS_1


Jelaslah sekarang tujuan semua ini. Kalau dulu ada Ganggasara yang hendak membangun kerajaan baru. Kini, entah siapa orang yang dipanggil Tuanku itu, dia merencanakan penggulingan tahta kerajaan Salakanagara.


Dahulu kala, sebelum Tarumanagara sekarang berjaya sebagai penguasa dari puluhan kerajaan kecil yang menjadi bawahannya. Salakanagara adalah kerajaan penguasa yang pertama.


Setelah raja ke delapan Salakanagara yang bergelar Dewawarman ke Delapan mewariskan tahta ke menantunya yang bernama Jayasinghawarman, Salakanagara hanya dijadikan kerajaan bawahan. Karena Jayasinghawarman memindahkan ibukota dan menjadikan Tarumanagara sebagai penguasa tertinggi.


Wisnuwarman adalah maharaja yang ke empat Tarumanagara.


Begitulah sedikit gambaran tentang Salakanagara yang diperoleh Adijaya dari keterangan Padmasari. Jadi kalau cuma merebut tahta tidak memerlukan biaya sebanyak ini. Ambisi ingin berkuasa memang tidak pernah hilang dari sifat manusia.


"Apa ada mantera yang bisa menyadarkan pengikut resi gadungan itu?" tanya Adijaya kepada Padmasari.


"Mantera yang biasa saja juga bisa. Itu bukan gendam yang bebahaya."


"Baiklah, aku akan melakukan tindakan selanjutnya!"


Adijaya kembali ke raga kasarnya. Sampai di sana pemuda ini terkejut karena resi Danuranda berdiri mematung di bawah pohon di mana raga kasarnya berada. Wajahnya tampak mendongak ke atas.


"Rupanya penyusupnya ada di sini!" seru resi Danuranda. Tangan kanannya menyentak ke atas kirimkan pukulan jarak jauh.


Wussh!


Segulung bola api melesat ke arah raga kasar Adijaya yang masih mematung di tempatnya.


Blarr!


Ledakan kecil terjadi mematahkan dahan tempat Adijaya duduk. Beruntung sukma Pendekar Payung Terbang lebih cepat kembali masuk ke raga kasarnya sehingga dia bisa melompat turun menghindari ledakan.


Resi Danuranda segera berbalik karena sosok Adijaya sudah berdiri di belakangnya dengan tersenyum. Sang resi terkejut karena serangannya bisa dihindari dengan mudah. Padahal sebelumnya tidak ada yang mampu menyelamatkan diri dari ajian Brajageni miliknya.

__ADS_1


"Resi gadungan, sekarang sudah terbongkar topengmu!" maki Adijaya.


Resi Danuranda tertawa lebar. "Anak ingusan macam kau punya kemampuan apa!" hardiknya, dia lupa tadi pukulan saktinya tidak mengenai sasaran.


__ADS_2